Sakura membanting pintu mobil Kakashi tanpa ampun. Ia tidak peduli dengan kakinya yang terbaret sana-sini karena sepatunya sudah terlempar entah kemana—ia juga tidak peduli akan pandangan orang-orang di sekitarnya. Tidak jauh di belakang, Kakashi berlari dengan napas terengah-engah, berusaha untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Sakura.

"Sakura—"

"Sudahlah! Aku sudah muak."

Ia menyentak tangan mereka hingga genggaman tadi terlepas.

"Apa kau puas, Kakashi? Mempermalukanku seperti itu?"

Kakashi tidak menjawab. Beberapa orang di sekitar mereka memutuskan untuk pergi, merasa tidak terlalu nyaman pada pertengkaran mereka dan mungkin takut melihat ekspresi menyala-nyala Sakura.

"Kalau memang kau membenciku sebegitu besarnya… kenapa sikapmu seolah-olah menunjukkan bahwa kau jatuh cinta setengah mati padaku?"

.

.

Sakura berjalan berkeliling untuk mencari Kakashi yang tiba-tiba saja menghilang. Lima belas menit sudah ia habiskan untuk duduk di meja sendirian, dan pandangan dari beberapa laki-laki membuatnya risih untuk belama-lama disana.

Ia mendapati Kakashi sedang berbicara dengan beberapa orang di ujung ruangan. Tangannya baru saja ingin melambai kalau saja beberapa orang dengan tidak sengaja mendorongnya maju—cukup dekat untuknya mendengar percakapan orang-orang itu.

"…takluk juga pada Haruno-san, eh? Bukankah sudah sejak awal masuk ia mengincarmu, Hatake?"

"Ha! Benar juga. Kau sendiri yang bilang kalau ia tidak ada bedanya dengan anak anjing—dia mengikutimu kemana saja, 'kan?"

Sakura merasakan sesuatu mencekik lehernya begitu kuat sampai-sampai ia susah bernapas. Ingin rasanya ia pergi dari situ, tetapi entah kenapa kakinya tidak mau bergerak.

"Bukan seperti itu." Terdengar suara Kakashi samar-samar. Pria itu terlihat sedang tertawa kecil.

"Bukan seperti itu bagaimana? Jelas-jelas kau selalu pergi bersamanya akhir-akhir ini. Jangan kira kami tidak tahu!" ujar Genma, ikut tertawa—tertawa geli. "Bukankah menyenangkan, Kakashi? Memiliki pacar cantik dan muda seperti Haruno—"

"Apa yang kau katakan? Dia bukan pacarku." Sergah Kakashi langsung. "Sama seperti dulu, aku tetap melihatnya seperti seekor anak anjing… Ia mengikutiku kemana saja dan sangat mudah bagiku untuk memintanya melakukan ini dan itu."

"Jahat sekali! Jangan bilang kau juga yang selalu memintanya untuk memberikan kopi kepada seluruh orang di lantai enam?"

Pria-pria tersebut tertawa cukup keras. Sakura merasakan sesuatu mencelos di dalam dirinya—barulah ia sadar bahwa dalam waktu empat bulan dirinya memang dekat dengan Kakashi, ia selalu melakukan segala tugas yang diberikan oleh Kakashi untuknya.

Sakura tiba-tiba saja merasa marah. Marah pada dirinya sendiri—bagaimana bisa ia tidak bisa melihat semua itu?

.

.

"Sakura."

Sakura menatap pintu apartment-nya dengan benci. Mendengar suara Kakashi sudah sukses membuatnya menjadi lebih jijik pada dirinya sendiri.

"Sakura, tidak bisakah kau dengarkan penjelasanku dulu?"

Sakura memilih untuk tidak menjawab. Ia berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya, mengunci pintu, dan memasang headset di kedua telinga.

.

.

"Selamat pagi, Haruno-san…"

Sakura tidak mengangkat kepalanya. Ia tahu yang menyapanya adalah Genma, salah satu orang yang berbicara dengan Kakashi kemarin malam di pesta akhir tahun kantor. Tangannya baru berhenti mengetik ketika dering telepon di sebelahnya terdengar.

"Haruno."

"Sakura, bisakah kau ke ruanganku sebentar?"

Sakura menghela napas. Ia tidak menjawab—langsung mematikan sambungan begitu saja dan berjalan ke ruangan Kakashi. Ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan laki-laki itu. Sekilas, Sakura menoleh ke arah kubikel kerjanya dan memandang beberapa boks yang tertumpuk disana.

Mata mereka bertemu selama beberapa detik sebelum akhirnya Sakura menutup pintu ruangan dari dalam. Berbeda dari biasanya, ia tidak langsung duduk dan menopang dagu, memandangi Kakashi. Kali ini dia hanya berdiri tegap di depan pintu, dengan kedua tangan tergantung manis di kedua sisi.

"Aku tidak bisa menerima ini." kata Kakashi, mengacungkan surat pengunduran diri Sakura. "Hanya karena kemarin malam kau memilih untuk mengundurkan diri?"

"Mengundurkan diri atau tidak adalah hakku." Ujar Sakura ketus.

Kakashi menghela napas. "Kumohon, Sakura. Pikirkan lagi."

"Kenapa? Kau takut tidak akan ada yang bisa kau suruh untuk membeli kopi lagi saat jam makan siang?" Tanya Sakura pelan. "Ada tiga karyawan magang yang baru bergabung bulan ini. Kau bisa memanfaatkan mereka—kau tahu, seminggu untuk satu orang."

Sakura mati-matian menahan tangannya agar tidak melempar sepatu yang dipakainya ke arah Kakashi. Laki-laki sialan—siapa dia bisa membuatku merasa seperti sampah begini?

"Aku minta maaf, Sakura."

"Kau tidak melakukan apa-apa."

"Tidak, aku—aku benar-benar minta maaf."

"Baiiklah, aku memaafkanmu. Apakah aku bisa keluar sekarang?"

.

.

Kakashi memandang Sakura yang berdiri di depannya dengan pandangan kalut. Kalau saja mereka bertengkar seminggu sebelumnya, Kakashi bisa dengan mudah membelikannya sepotong kue stroberi kesukaan Sakura dan gadis itu akan langsung memaafkannya. Sebaliknya, sepertinya sekarang Sakura akan tetap membencinya sekalipun ia memberikan seluruh kue yang ada di Jepang untuknya.

"Apa yang akan kau lakukan setelah berhenti?"

Sakura tersenyum kecil. "Hmm... itu... bukan urusanmu?"

Kakashi sadar bahwa segalanya sudah rusak. Sakura tidak lagi terlihat bahagia ketika berada di dekatnya—ia terlihat tidak nyaman dan ingin cepat-cepat pergi. Pandangannya pun berubah—tidak lagi hangat dan penuh kekaguman, hanya kekecewaan dan rasa benci yang teramat sangat yang terlihat.

"Mejaku akan bersih setelah makan siang. Aku permisi dulu."

"Sakura—"

Tapi gadis itu sudah menghilang di balik pintu.

.

.

Sakura benar-benar menjadi anti-Kakashi setelahnya. Ia menolak seluruh kontak yang berusaha dibuat oleh dirinya sendiri—ia bahkan cepat-cepat mengalihkan pikirannya setiap kali ia teringat Kakashi.

Bulan ketiga, Sakura mendapati Kakashi berdiri di depan pintu apartment-nya, setengah tertidur meskipun ia sedang berdiri, bersandar pada dinding. Sakura menghela napas dan berjalan melewati pria itu tanpa berniat untuk menyapanya.

Kakashi tersadar dan cepat-cepat menyelipkan satu tangan ke pintu saat Sakura tanpa ampun langsung menutupnya begitu saja.

"Akh!"

Jeritan Kakashi membuat keduanya terkejut. Sakura membuka pintu kembali sesegera mungkin dan menatap Kakashi dengan kesal.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?!"

"Sampai kapan kau mau mengacuhkanku?"

"Ugh… laki-laki bodoh."

Sakura menarik Kakashi masuk dan mendorongnya duduk ke atas sofa. Dengan langkah panik, ia meraih wadah es batu dari kulkas dan sebuah handuk kecil.

"Apa lihat-lihat? Obati lukamu sendiri."

Kakashi tidak melontarkan protes apapun dan mengompres tangannya yang memerah dengan es batu. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Sakura memperhatikannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, tidak tertarik.

"Aku akan mengantarmu pulang." Ujar gadis itu pelan. "Setelah kau selesai mengobati lukamu, aku akan langsung mengantarmu pulang."

.

.

Mereka duduk di dalam mobil tanpa suara. Sakura hafal jalan menuju ke apartment Kakashi di luar kepala karena mereka memang menghabiskan waktu beberapa kali disana.

"Kau masih membenciku, Sakura?"

Sakura tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menggeleng.

"Tidak."

Kakashi tersenyum kecil mendengarnya.

"Aku tidak merasakan apa-apa lagi… padamu… sekarang." Lanjut Sakura. "Sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Kau adalah orang asing bagiku."

Senyuman Kakashi berangsur-angsur menghilang. "Benarkah?"

Sakura tidak menjawab. Entah ia memang tidak mendengar atau memilih untuk tidak mendengar, Kakashi tidak bisa membedakannya.

Mobil Kakashi berhenti di parkiran apartment dan Sakura menghela napasnya.

"Cepat sembuh." Ujarnya, tersenyum, dan bergerak untuk keluar.

Tangan Kakashi menahannya.

"Aku merindukanmu..."

.

.

Sakura merasakan jantungnya berdebar tidak karuan. Tidak, Kakashi bukanlah orang asing baginya. Tidak, ia bukannya tidak merasakan apa-apa lagi padanya sekarang.

Dan apa maksudnya kata-kata aku merindukanmu itu? Apa yang sebenarnya Kakashi coba katakan padanya?

"Mungkin maksudmu, kau membohongiku."

Kakashi terlihat putus asa.

"Sakura…"

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Kakashi?" Tanya Sakura kesal. "Kau ingin minta maaf lagi? Sudah kubilang, aku memaafkanmu!"

"Aku memang seorang pengecut, Sakura."

Sakura menoleh pelan. Ia cepat-cepat menunduk kembali, menghindari tatapan tajam Kakashi yang terarah kepadanya.

"Aku terlalu pengecut sampai-sampai aku tidak bisa jujur pada orang lain dan malah menjadikanmu kambing hitam." Ujarnya pelan. "Kau juga benar, aku memang seorang pembohong."

"Aku tidak pernah memikirkanmu setelah kau menghilang begitu saja. Aku tidak pernah sulit tertidur karena ingin sekali mendengar suaramu. Aku juga tidak merindukanmu sampai-sampai melihat wajahmu adalah satu-satunya hal yang ingin kulakukan." Lanjutnya.

Sakura terdiam mendengar perkataan Kakashi. Nadanya tenang, namun ada sesuatu yang tajam yang menusuknya berkali-kali setiap kata demi kata keluar dari bibir pria itu.

"Itu adalah kebohongan terakhirku, Sakura. Aku bersumpah, kalaupun aku berbohong lagi, hanyalah bahwa aku bisa… hidup tanpa melihatmu setiap harinya."

Gadis itu menoleh dan memandangi Kakashi selama beberapa saat. Ia berdecak ketika mendapati hanya ada ketulusan di kedua mata pria itu. Dengan kesal, ia memukul tangan kanan Kakashi yang terlihat bengkak dan merah di atas dasbor.

"Hei!" ujar Kakashi tidak terima.

"Apa?!"

Kakashi menghela napas dan tidak menanggapi. Tangannya berdenyut hebat sekarang.

Sakura masih berusaha untuk mengatur emosinya dengan susah payah. Ia meraih tangan Kakashi yang makin memerah lalu mengecupnya sekilas.

"Maafkan aku." Gumam Sakura pelan.

Kakashi tersenyum kecil. "Aku pantas mendapatkannya."

Ia mengusap pipi Sakura dan menutup jarak diantara mereka. Hatinya terasa penuh—seakan-akan sebuah tali yang mengikat dadanya selama ini terlepas begitu saja.

"Apa semua yang kau katakan tadi bohong?" Tanya Sakura pelan.

Kakashi mengangguk. "Ya." Ujarnya lirih. "Tapi aku tidak akan berbohong lagi… aku benar-benar, jatuh cinta padamu, Sakura."