The Heirs Stories

:

:

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Story by Mel

Warning :

Typo(s), AU, Yaoi, DLDR, cover not mine, it's only fictitious

:

:

Putra mahkota rupawan itu berdiri di balik tembok benteng setinggi dadanya, dari sini ia dapat melihat pemandangan di luar sana.

Benteng yang dibangun berpuluh tahun yang lalu sejak kakek buyutnya berkuasa, berdiri tegak mengitari istana yang luasnya sekitar lima puluh lima hektar, tembok tebal dengan tinggi tiga puluh meter di atas tanah berdiri kokoh.

Tembok tebal ini yang memisahkan kehidupan dalam istana dengan masyarakat di luar sana. Banyak cerita yang tesimpan di dalam tembok tebal itu. Terkadang menjadi gosip di luar sana.

Kota yang gemerlap dengan lampu-lampu membuat suasana menjadi semarak. Bulan masih rendah, berarti malam pun belum larut.

Langkahnya hampir tak terdengar di setapak berupa koridor selebar lima meter, membuat para prajurit yang terkantuk-kantuk tidak terganggu, hanya saja membuatnya kesal, giginya berderit bagaimana mungkin menjaga keamanan bila kebanyakan prajuritnya tertidur begitu langit berganti warna.

Ia seringkali berjalan-jalan sendiri, menjelajah luas istananya. Menyusup ke mana pun ia mau. Hawa keberadaannya yang tipis membuatnya tidak mudah diketahui.

Seringkali ia menyambangi tempat-tempat yang terlarang dikunjungi seorang lelaki seperti dirinya. Seperti sekarang, ia berjalan pelan diantara kamar para selir raja yang kesemuanya cantik.

Wewangian bunga dan dupa menyapa penghidunya saat memasuki ruangan serupa bangunan megah, di sebuah aula tergelar karpet-karpet tebal, juga bantal-bantal besar berbalut satin keemasan.

Hadir di sana berpuluh wanita cantik yang tengah bergerombol, ada yang bermain musik, mengobrol, ada juga yang sedang dipijat para dayang istana, beberapa hanya menggunakan helaian tipis, mempertontonkan lekukan sintal.

Pria muda itu hanya menatap datar, tidak ada suara yang dikeluarkannya, bahkan hanya decakan lirih untuk mengagumi kemolekan para wanita milik raja pun, tidak. Apalagi siulan nakal karena melihat sosok-sosok yang menurut orang lain menggiurkan.

Yang ada hanya rasa miris, mereka berusaha merebut perhatian ayahandanya untuk didekati, dibelai, diberi hadiah, dan ditiduri. Hampir seluruh wanita itu ingin hadir di hati ayahnya, memberikan keturunan untuk memperkuat posisinya.

Kalau bisa - diantara wanita itu ada yang ingin menggantikan kedudukan bundanya. Tapi itu tak mungkin karena darah bundanya yang titisan dewi bulan tidak mungkin tergantikan, oleh siapa pun.

Ayahandanya sangat mencintai wanita yang dikenalnya sedari kecil. Kecantikannya tidak saja tampak dari sosoknya yang sempurna, tetapi dari jiwanya yang selalu mengasihi. Mata jernihnya selalu memancarkan rasa sayang kepada siapa pun.

Pun pada para wanita muda itu, hampir seluruhnya adalah persembahan. Ia tidak pernah menganggapnya sebagai saingan apalagi musuh.

Pangeran itu pernah sekali waktu mendengar ayahnya mengeluhkan kenapa ia harus mempunyai selir sebanyak itu, ia hanya ingin permaisurinya saja, dan tidak ingin ada wanita lain, dalam hidupnya.

"Mereka layak dicintai dan mempunyai suami yang menyayanginya," suara ayah terdengar dari balik kelambu.

Lalu bundanya berujar, "kau adalah suami mereka, yang mulia, saya yakin anata menyayangi semuanya," kekehan suara pria itu terdengar.

"Apakah aku terlihat seperti seorang suami, Tetsuna, bahkan aku tak pernah menyentuh mereka,"

"Temuilah mereka, anata -"

"Mungkin lain kali," memotong ucapan permaisuri. Dan sampai sekarang, pemuda itu tahu tak pernah semalam pun kamar bundanya ditinggalkan sang ayah.

Putra mahkota juga tahu, jika ayahnya tengah pusing dengan masalah kerajaan biasanya ia akan mengunjungi bundanya di istana permaisuri, raja yang bijak itu akan meletakan kepalanya di pangkuan sang ratu.

Maka meluncurlah keluh kesahnya, bebannya akan berkurang bila telah mengatakan seluruh hal yang mengganjal di pikirannya. Belum lagi elusan sayang pada helaian rambutnya yang sebagian sudah kelabu.

Hiburan dan saran sangat diperhatikan, sang raja tahu permaisurinya adalah salah satu orang bijak, selain penasehat kerajaan. Wanita cantik itu mempunyai pengetahuan yang sangat luas serta keluhuran budi yang tinggi.

Tidak sedikit saran atau perumpamaan yang sampaikan menjadi solusi kerumitan masalah yang dihadapi raja dan kerajaan.

Pangeran muda itu melangkah santai tidak terpengaruh sosok-sosok mulus berbalut kain tipis, sebagian auratnya nyata terlihat.

Istana para selir ini lebih dikenal dengan harem, untuk beberapa kalangan. Lokasi yang sangat terlarang bagi siapa pun.

Ia tidak pernah melihat bundanya dalam keadaan seperti mereka, wanita itu bagaimana pun sederhana pakaiannya, tidak pernah memperlihatkan mata kakinya, bahkan sikunya, semuanya selalu tertutup.

Itulah mengapa semua pria tidak diijinkan untuk sekedar mendekati tembok pembatas istana selir. Kecuali para dayang, pelayan, serta kasim yang sudah disumpah sebelumnya.

Langkahnya kini membawa tubuhnya keluar dari istana berwarna merah muda, akan tetapi gerbang akses keluar terkunci, bila hanya dijaga sih ia masih bisa menyusup, menyelinap, tetapi kali ini pintu itu rapat tidak menyisakan celah. Daun telinganya ia tempelkan di lembar kayu, tidak terdengar suara apapun. Sepertinya tidak ada penjaga yang biasa berdiri di kiri kanan gerbang itu.

"Aah tidak ada jalan lain kecuali melompatinya," ucapnya. Ia memasang kuda-kuda, berlari, dan huup! Dengan gerakan salto, berputar sekali, maka ia pun mendarat di pelataran depan gerbang di luar istana merah muda.

Namun naas, tubuhnya menimpa sesuatu yang empuk, secepat kilat ia berdiri. Bersiap melarikan diri.

"Kenapa kau menerjangku, apa kau kurang kerjaan, atau kau seorang lelaki mesum yang ketahuan mengintip selir-selir milik raja?" suaranya terdengar dingin, pria muda itu berdiri, menepuk pakaiannya beberapa kali. "Aku bertanya padamu, kau penyusup tak tahu diri, aku akan menangkapmu!" suara rendah seolah membekukan suasana.

Sreet, suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya terdengar. Wajah orang itu tidak terlihat karena gelap, sinar bulan tidak sampai menyentuh raut wajahnya.

Seketika pedang sudah terhunus, sang putra mahkota terdesak, punggungnya menyentuh tembok di samping gerbang kayu.

Wajah penyerangnya mendekat, bahkan hanya sepuluh senti dari wajahnya.

Mata bulat tampak membiaskan kemarahan, siapa yang berani memperlakukannya seperti ini?

"Siapa kau?" Tanya pangeran muda itu, tanpa menunjukkan rasa takut - kenapa juga harus takut ini istananya, tempat tinggalnya. Walaupun bagian tajam pedang perak hampir menempel di lehernya yang tertutup kerah haori.

"Tidak usah banyak bicara, aku akan membawamu pada petugas jaga di sana!" Ucap orang itu masih dengan nada sinis. Sejurus kemudian tangan sang pangeran sudah ditelikung.

"A aw aaww...sakit!" serunya, tapi orang itu tak melonggarkan cekalannya. Mendorong tubuh mungil dari belakang ke arah pos terdekat, ia tidak bisa melarikan diri, cekalannya malah semakin menyakitkan.

"Petugas..."

"Yang mulia pangeran, putra mahkota..." serentak tiga orang penjaga berseragam itu berlutut. Tidak berani mengangkat wajah.

"Hmm..." cekalan dilepaskan, lalu pria tak dikenal itu berdiri di depannya menatap tak percaya pada sosok pria bertubuh lebih pendek darinya. Matanya membulat.

"Kau pangeran? Putra mahkota Seirin?" ucapnya ada rasa tidak percaya, apa pria kecil ini, punya pribadi mesum mengintipi para selir yang - bagaimanapun - cantik dan masing-masing masih berusia muda.

"Apa kau mengenaliku?" sosok kecil itu balas menatap pria di depannya. Rasanya ia ingin sekali menghajar wajah tampan di depannya. Membuatnya kesal dan sakit pada pergelangan tangannya.

"Maafkan aku pangeran!" kemudian ia segera merendahkan dirinya, membungkuk.

"Haaah, sudahlah kalian semua berdiri!" titahnya. Ia berbalik meninggalkan prajurit yang masih berlutut.

"Pangeran, maafkan aku, tapi tidak aman anda berjalan-jalan di malam hari seperti ini sendirian," suara itu terdengar dari belakangnya. "Biarkan aku menemanimu," ucapnya lebih ramah.

Tapi sang pangeran hanya mendengus, "tidak usah, aku hanya berkeliling di istanaku saja, apa bahayanya?" langkahnya tidak juga melambat.

Namun tangannya ditarik - lagi.

"Kumohon, pangeran kau harus ditemani, jangan berjalan sendirian, lingkungan tidak selalu tampak seperti ini, banyak niat jahat yang tersembunyi."

Pria muda itu menghela nafas, lalu menatap lurus pemuda yang berdiri di depannya, berpakaian bangsawan kelas satu, kepalanya menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Siapa kau? Apa kau salah satu petinggi istana?" suaranya terdengar datar.

Wajah itu diangkat menunjukkan raut tampan dengan iris rubi indah yang hangat.

"Saya, saya hanya kerabat jauh kerajaan," ucapnya, menatap lekat mata biru seindah safir di depannya. Seakan saling menilik, menyelami satu sama lain.

Iris biru memutus tatap, membalikkan tubuhnya lalu berjalan kembali. Ada senyum usil tersemat di wajahnya, pada belokan pertama ia gunakan missdirection, mengecoh pemuda yang mengekorinya, lalu secepat kilat ia berlari.

Sejenak pemuda yang lebih tinggi dari sang pangeran tertegun, sosok kecil itu telah hilang dari jarak pandangnya. Tapi sebuah seringai muncul di wajah tampannya.

"Sepertinya ini akan menjadi menarik, betul kan, putra mahkota atau kau kupanggil Kuroko Tetsuya..." rubinya berkilat-kilat.

:

:

tbc

:

:

Hello readers...

Kangen dengan fandom di ffn, jadi saia publish cerita ini, saia tidak berharap terlalu banyak tapi setidaknya saya masih ada di sini.

Sincere,

Mel~