Taehyung bertemu Jungkook pertama kali di acara pertunangan adiknya, Namjoon.
Rambut pirang jagungnya dikuncir satu, helai-helai rambutnya menjuntai menggoda menyapu lehernya yang jenjang dan putih. Taehyung menatapnya tanpa berkedip. Postur tubuh Jungkook terbungkus ketat dengan seragam pelayan yang mereka kenakan hari itu, kemeja putih, vest merah darah, dan celana panjang hitam, serta sepatu flat senada celana.
Ketika pemuda itu berbalik, nafas Taehyung tertarik keluar dengan kasar. Sepasang mata coklat bersinar pada wajah berbentuk hati yang sempurna. Sementara bibir tipisnya yang berlapis lipgloss tipis tak henti-hentinya mengembangkan senyum.
Pemuda itu memiliki semua bakat sang dewi penggoda, namun tampaknya dia tak menyadarinya. Kepolosan murni jelas-jelas terpapar jelas memancar dari dirinya. Terserlah, seperti kilau sampanye yang dihidangkannya. Dan hal itu menjadi afrodisiak bagi Taehyung. Tak ada hal yang membangkitkan gairahnya dengan begitu cepat, selain pemuda polos nan murni untuk menjadi mainan barunya.
Terlebih, hanya dengan sekali pandang, Taehyung tahu pemuda itu hidup dikelilingi dengan kehangatan, cinta, kasih dan tetek bengek sentimentil lainnya. Taehyung bisa merasakan kepuasan yang akan hadir saat membayangkan tetesan air mata serta wajah penuh kehancuran saat dia menghadirkan hal-hal "baru" yang tentunya tak pernah dirasakan pemuda muda nan murni itu di dalam zona amannya.
Pusat perhatian Taehyung sepenuhnya terpaku pada Jungkook yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Dengan tekun dia mencatat pesanan kustomer yang jelas menaruh perhatian lebih padanya. Berharap jika dia juga bisa memesan Jungkook untuk menemani malam mereka.
Taehyung duduk beberapa meja dari tempat Jungkook berada. Hari ini lelaki itu tampak sederhana, dengan memakai sweater rajut berwarna cokelat muda dan celana jins pudar. Namun itu semua tetap tak bisa menghindarkan Taehyung dari tatapan lapar wanita dan pemuda yang berada di sana. Dia tidak mengacuhkan mereka, dia sudah memiliki mangsa. Taehyung tak membutuhkan mereka untuk melepaskan hasrat yang begitu menggebu-gebu pada dirinya. Terkecuali pemuda pirang berkuncir itu.
"Ada yang bisa kubantu, sir?"
Suara itu terdengar bersemangat, Taehyung mendongak lambat. Dia menatap pelayan wanita itu dengan senyum khasnya, membuat wanita di hadapannya berdiri gelisah karena gugup.
Taehyung sangat tampan, dan pria itu memanfaatkan setiap keuntungan yang dimilikinya.
"Yah... yah... Tentu saja kau bisa membantuku, dear..." Taehyung mengulur-ulur suara seksinya dan menatap pelayan itu.
"Apapun, sir!"
Taehyung menyilangkan tangan dan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, agak tak nyaman.
"Aku ada urusan dengan Jungkook, bisa kau beri tahu dia?"
Wanita itu menatap bergantian pada Taehyung lalu Jungkook yang masih berbicara dengan kustomernya.
"Dan anda adalah?"
"Teman... Aku temannya..." Taehyung nyengir dan mengedipkan mata.
"Ah... Aku mengerti." Ada nada kecewa di balik suara wanita itu.
"Dan tentu saja kau bisa membawakanku air mineral, serta mengambil alih kustomer Jungkook agar dia cepat menemuiku, kan? Please, hun?" Taehyung tersenyum nakal. Menelusupkan tangannya di balik telapak tangan wanita itu, memberikan tip sebanyak yang wanita itu hasilkan selama bekerja seminggu.
Meskipun wanita itu kecewa tak mendapatkan apa yang menjadi tujuan utamanya -Taehyung, tentu saja- menerima uang sebanyak itu membuat moodnya membaik. Dia terkikik menjijikkan dan mengedipkan mata pada Taehyung.
wanita itu mendekati Jungkook dan berbisik padanya, menunjuk pada Taehyung. Lalu Jungkook menoleh dan jelas sekali rasa tidak suka muncul di wajahnya. Pria tampan itu memberikan salute yang dibalas Jungkook dengan cibiran.
Sebuah kemajuan, pikir Taehyung. Setidaknya dia memberikan reaksi, tak seperti dulu, berkedippun Jungkook enggan.
Langkah Jungkook dihentak-hentakkan saat menghampiri Taehyung. Kuncir kudanya bergoyang hebat, membuat Taehyung bertanya-tanya bagaimana rasanya menarik kuncir itu saat dia memasuki tubuh Jungkook yang indah dan padat.
"Aku tak tahu jika kau juga seorang stalker!" bentak Jungkook, wajahnya memerah karena marah, dia membenci pria di hadapannya. Sangat!
Pria arogan, sok tampan, walaupun dia memang tampan. Mungkin lebih tepatnya dia sangat tahu dia sangat tampan dan jelas-jelas mengeksploitasinya. Dengan gaya sombong menyebalkan, dia mencoba merayu Jungkook pada acara pertunangan adiknya hampir sebulan lalu. Saat Jungkook disewa menjadi salah satu pelayan di acara itu.
Taehyung bisa dikatakan melakukan pelecehan seksual kepadanya. Meraba-raba bokong Jungkook seakan dia berhak. Mengajaknya untuk pergi bahkan sebelum acara selesai untuk bersenang-senang. Pria brengsek.
"Bagaimana kau tahu aku bekerja disini?"
Taehyung mengangkat bahu. "Aku memiliki koneksi."
"UGH!"
"Jam berapa kau free?" Tanya Taehyung mengabaikan geraman Jungkook. Dia semakin menikmati hal ini. Mangsa yang susah diraih lebih memacu semangat Taehyung untuk menghancurkan mereka lebih parah. Hasil akhirnya biasanya lebih memuaskannya.
Jungkook menarik nafas kesal dan tersenyum sopan dipaksakan.
"Tuan, jika anda hanya ingin duduk-duduk di sini dan tak memesan apapun, lebih baik anda pergi karena banyak pelanggan lain yang menunggu untuk mendapatkan meja." Ujar Jungkook dengan nada sopan dan resmi, namun sarat dengan sarkasme. Pemuda itu hendak berbalik pergi meninggalkannya, tetapi kalah cepat dengan Taehyung yang menarik tangannya.
"Ayolah, Jungkook! Kencanlah sekali saja denganku. Kau tak akan menyesal! Aku bisa memberi apapun untukmu. Termasuk kepuasan yang tak bisa kau dapatkan dimana-mana selain di ranjangku. Impian terliarmu akan terwujud denganku." Janji Taehyung dengan senyum serta maskulinitas yang mempesona. Tak ada yang tak meleleh dengan senyuman itu. Janji kenikmatan terpancar, sanggup memenuhi pembuluh darah kaum adam dan hawa hingga bergairah padanya.
Tapi bagi Jungkook, senyum itu benar-benar tak bermakna. Mata pemilik senyum itu tak menampakkan adanya kehangatan. Mata itu begitu dingin hingga yang Jungkook rasakan hanyalah kehampaan. Dia menepis tangan Taehyung dan mengamati sosok sempurnanya. Dia menghela nafas, menyampaikan isyarat bahwa dia benar-benar terganggu.
"Kau lihat temanku itu," Jungkook menunjuk wanita yang melayani Taehyung tadi. "Dia sangat amat tertarik padamu. Kenapa kau tidak mengajaknya saja? Aku tidak berminat. Jadi, berhenti membuntutiku seperti psikopat gila dan cari orang lain. Semoga hari anda menyenangkan, sir."
Dan Jungkook berlari menjauh dari Taehyung.
Dia mendengar kekehan ringan dibalik bahunya. Kurang ajar!
"Dimana kau bertemu kekasih tampanmu itu?"
Jungkook membanting loker usang di depannya. Dia menjumput ujung kaos abu-abu seragam kafe yang dikenakannya, menarik lolos keluar dari kepalanya. Wajah bosannya menghadap pada Lisa, teman sesama pelayan.
Mata Lisa berbinar, "bisa kau kenalkan satu untukku? Aku yakin teman-temannya tak akan kalah tampan darinya! Aku sudah lama tak berkencan! Satu malam pun aku tak masalah."
Ya Tuhan! Jungkook ingin sekali merendam kepala Lisa. Apa wanita itu tidak punya harga diri? Jungkook tak pernah mengerti dengan wanita bebas seperti Lisa. Dia menganut sistem yang kolot karena neneknya. Berhubungan seks dilakukan setelah menikah. Pada usianya yang ke 24 tahun, dia masih sang perawan suci. Ciuman? Dia pernah melakukannya. Setidaknya dua kali, lumayan. Lebih dari itu Jungkook tak pernah memikirkannya.
Taehyung jelas penjahat kelamin. Di keningnya sudah tertulis kata SEKS dengan lampu berpijar-pijar terang benderang. Tentu saja Jungkook tak ingin dekat-dekat dengan pria yang jelas-jelas memperlakukan orang seperti tisu sekali pakai.
"Jika kau mau, kau boleh mengambilnya. Dia bukan kekasihku! Aku bahkan tak mengenalnya."
Jungkook memakai kaos dan jaket denimnya. Dia melepas kuncirnya, rambutnya bergumpal dan terasa kasar di tangannya. Dia harus keramas hari ini.
"Kau yakin?" tanya Lisa, kesan mendamba terdengar di dalam suaranya.
Yang benar saja! Apa berhubungan seks dengan pria sebrengsek Taehyung begitu indahnya?
"Dengan senang hati, darling! Aku bahkan sudah memberitahunya jika kau tertarik padanya. Aku akan mengenalkanmu langsung padanya jika dia datang lagi!"
Yang dia harap tidak akan pernah terjadi.
Jika Taehyung datang lagi, Jungkook akan bersembunyi di toilet.
Kemana dia harus bersembunyi?
Pria sialan itu menunggunya di parkiran depan kafenya. Menyandarkan bokongnya yang padat dan berisi di atas kap mobil sport sejenis Ferrari, mungkin. Jungkook tak tahu jelas jenis mobil, dia hanya menebak.
Dia tersenyum seakan dia adalah kekasih Jungkook dan sedang menunggu pemuda itu untuk mengantarnya pulang.
"Hai, babe..."
Jungkook tak menanggapi. Dia melewati Taehyung begitu saja.
"Apa kau butuh tumpangan?" Tanya Taehyung menjajari Jungkook dan mengikuti ritme langkah pemuda itu.
"Tidak, terima kasih." Katanya ketus.
Jungkook berjalan cepat. Berlari agar tak ketinggalan lampu hijau, dia butuh menyeberang. Dia tak heran saat langkah berat Taehyung membuntutinya di belakang. Otaknya memerintahkan kakinya untuk berjalan lebih cepat, dia harus melepaskan diri dari lelaki ini.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri." ucapnya. Dia berbelok memasuki gang sempit yang diapit dua bangunan bata bertingkat dua.
"Aku tahu kau sudah dewasa. Aku bisa melihatnya," Jungkook merinding, suara Taehyung sangat mesum. Kenapa pria itu tak pergi-pergi? Pinggiran kota seperti ini tak menerima pria sekaya dia.
Jungkook menghentikan langkahnya. Dia mengetuk-ngetuk ujung kakinya ke aspal becek yang disebabkan oleh air kotor mengalir dari kontainer sampah di dekat mereka. Bau menyengat dan udara lembab, seakan tak disadari Taehyung atau dia sengaja pura-pura agar Jungkook terkesan.
"Sudah cukup! Kau tak pantas berada di sini!"
"Kenapa?"
"Lihat dirimu dan lihat sekelilingmu. Habitatmu bukan di sini, sir!"
"Lalu dimanakah habitatku itu, sayang?"
Neraka, mungkin? Pikir Jungkook kesal. Dia menahan diri untuk tidak muntah. Wajah Taehyung begitu angkuh! Dia pikir dia bisa merayu Jungkook?
"Kau seharusnya berada di penthouse atau kondominium mewah milikmu. Mengendarai mobilmu itu dan menghambur-hamburkan uang dengan pemuda dan wanita cantik. Bukannya berperilaku seperti kriminal yang membuntutiku sampai-sampai berjalan kaki ke gang kumuh seperti ini," papar Jungkook.
Kesabaran Jungkook sudah menipis dan pria mesum itu bukannya merasa tak enak, dia malah tertawa. Tepat di depan wajah Jungkook tanpa malu.
"Benar-benar ada yang salah dengan isi otakmu, Tuan!" sentaknya galak, berlari lagi.
Pria itu sudah membuatnya berlari tiga kali. Di malam pesta dia melecehkan Jungkook. Di kafe tempat kerjanya, lalu sekarang di gang menuju rumahnya. Pria itu mau membuat Jungkook berlari berapa kali?
"Jangan ganggu aku lagi!" teriak Jungkook.
"Oh, Jungkook! Dia datang lagi!"
Jungkook mendengar teriakan Lisa ketika pintu kafe menutup.
Keinginan membunuhnya jadi meningkat berkali lipat, karena dia tahu siapa yang dimaksudkan oleh Lisa. "Kau boleh melayaninya." Sahutnya galak. Dia mengambil teko dan berkeliling menawarkan tambahan kopi kepada beberapa kustomer. Berusaha mengambil jarak terjauh dari radar mata mesum lelaki itu.
Taehyung mengedipkan mata kepada Lisa dan duduk di tempat kemarin dia datang. Hari ini dia mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam, membungkus pas pada tubuhnya. Otot lengan, kaki dan otot perutnya tersajikan seperti makanan penutup mewah. Beberapa pasang mata meliriknya penuh harap, cekikikan dan mendesah. Semua mengagumi dirinya.
Taehyung mengaitkan jemarinya dan menyandarkan dagu di atas tangannya. Sejurus kemudian Lisa datang seperti semut menemukan gula. Pantatnya bergoyang dengan goyangan yang berlebihan. Dari sudut matanya, Jungkook bisa melihat semua adegan menggelikan itu, yang membuatnya hendak tertawa geli.
"Hai dear..." Sapa Taehyung.
Lisa menarik nafas, hampir terlonjak kesetanan. Taehyung sangat tampan hari ini. Rambut gelap kecoklatannya ditata naik ke atas. Lisa memberikan nilai sempurna untuk penampilannya.
"Selamat siang, sir. Anda ingin pesan apa? Kami punya menu spesial hari ini. Dan khusus untuk anda, saya termasuk di dalam menu tersebut." Celoteh Lisa dengan wajah genit. Dia benar-benar berusaha keras menarik perhatian Taehyung, bahkan dua kancing teratas kemejanya terlepas. Lisa sebisa mungkin memperlihatkan asset menggiurkan miliknya.
Taehyung menyamarkan dengusannya dengan tawa kecil. Dia membuka menu dan memilih seadanya. "Kurasa aku ingin tuna asap, mocktail spesial hari ini dan senyum manismu."
Lisa berbinar, dia memekik kepalang kegirangan.
"Anda akan mendapatkannya, sir! Ada lagi?"
Please tanyakan nomor handphoneku, doa Lisa.
"Tidak, cukup itu saja, hun. Oh, dan tentu saja tolong sampaikan salamku untuk Jungkook." Kata Taehyung manis dan Lisa tak jadi marah karena menerima senyum dari pria setampan itu. Dia mengangguk seperti puppet yang lepas kendali.
Lisa masih tersenyum memamerkan giginya ketika dia bergegas menyampaikan pesanan Taehyung pada dapur. Dia lalu mendekati Jungkook yang sedang merapikan serbet di konter sembari duduk bersandar.
"Sang pangeran tampan memintaku menyampaikan salamnya untukmu. Tuhan, dia benar-benar menginginkanmu." Ucap Lisa iri. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding seperti Jungkook dan melirik Taehyung.
"Dia bisa terus bermimpi." Rutuk Jungkook menyilangkan tangan.
Wajahnya mengeras karena kesal.
"Kenapa tidak kau terima saja dia? Dia sempurna! Dan jelas dia hanya menginginkan dirimu. Dia bahkan tak sedikitpun melirik dadaku!" Lisa membusungkan dada suburnya yang nampaknya hendak melarikan diri dari kemejanya yang dua ukuran lebih kecil.
"Aku tak suka pria mesum."
Lisa terkekeh.
"Semua pria itu mesum!"
"Mesum itu memiliki tingkatan, asal kau tahu saja Lisa. Dan yang satu ini levelnya sudah mencapai level teratas. Dia seorang monster mesum."
Lisa tertawa keras, menarik perhatian Taehyung. Pria itu menoleh, alis kirinya naik penuh tanya.
"Kenapa kau bilang begitu?"
Jungkook mengusap keringat di keningnya.
"Kau ingat acara pertunangan sebulan lalu?"
"Yang di mansion megah seperti kastil itu?"
Jungkook mengangguk. "Dia kakak dari pihak prianya, Kim Taehyung. Dia merayuku di sana, meraba-raba bokongku dan mengajakku pergi bersenang-senang. Aku bukan pelacur, demi Tuhan! Dasar pria brengsek! Dia sangat arogan, merasa dunia ada di bawah kakinya. Ugh!" cecar Jungkook muak.
Mulut Lisa membulat. "Wow. Tampan dan kaya! Dan sekarang dia membuntutimu?"
"Sepertinya begitu."
Lisa mendesah keras. "Kau beruntung!"
Jungkook tersentak. Dia menatap garang ke Lisa. "Kau gila? Apanya yang beruntung? Pria itu kutukan."
"Bagiku itu keberuntungan! Ck, memang sulit berhadapan dengan seorang perawan suci sepertimu." Geleng Lisa putus asa.
Bibir Jungkook mengerucut.
"Apa salahnya menjadi perawan?"
Lisa terkekeh. "Kau tak bisa menyicipi banyak pria di luar sana!"
"Aku tak peduli. Aku ingin berhubungan seks dengan satu pria saja seumur hidupku."
Lisa menggeleng takjub. "Kau spesies langka."
"Terima kasih, kurasa?" ujar Jungkook sarkastik.
"Jadi kau akan menolaknya?"
"Tentu saja! Dia lebih baik segera sadar jika pengejarannya tak akan membuahkan hasil."
"Kau yakin?"
"10.000 persen yakin atau namaku bukan Jeon Jungkook."
Taehyung memandang dari balik kaca jendela lounge area VIP-nya di klub. Dia menyapu manusia dengan tatapannya, mencari-cari sesuatu untuk mengurangi penat. Kelelahan bekerja dan semangatnya untuk mendapatkan Jungkook harus disalurkannya keluar, agar dia bisa beristirahat tenang hari ini. Lalu dalam proses pencariannya, matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata coklat yang mirip dengannya. Dia mengangguk, melambai pelan pada adik bungsunya, Yoongi yang tengah duduk di meja bar. Adiknya itu bergerak, menepuk pundak pria yang duduk di sebelahnya dan meninggalkannya.
Taehyung menutup tirai. Dia menyilangkan kaki dan menuang anggur merah, menunggu sang adik masuk ke sarangnya. Kemudian dia membuat gerak tos ke udara ketika melihat Yoongi membuka pintu dan perlahan memasuki ruangan temaram, berdinding beludru merah yang di sewanya.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Taehyung menegak anggurnya. "Apa kekasihmu sudah membuatmu bosan?" hinanya.
Yoongi mengabaikannya dan duduk di seberang Taehyung. Dia membalik gelas, menuangkan anggur untuk dirinya sendiri.
"Aku menemani rekan bisnisku." Kata Yoongi singkat. Tak merasa tersinggung karena hinaan kakaknya. Taehyung memang seperti itu.
"Aku kira kau ingin mencari kekasih baru." Pancing Taehyung. "Setidaknya aku sedang mencari. Aku membutuhkannya."
Yoongi mengangkat bahu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Taehyung, menyerah memancing adiknya.
"Tak pernah sebaik ini."
Taehyung mendengus.
Adik-adiknya semua menjadi banci payah.
Untunglah dia tidak tertular.
"Aku senang mendengarnya." Suara Taehyung datar. Mata dinginnya mengamati Yoongi.
Adiknya berubah. Dan itu meresahkannya.
Dulu mereka memiliki jarak, bukan karena mereka tak dekat. Tapi jarak yang memisahkan kehidupan pribadi, saling menghormati, tak memasuki wilayah masing-masing. Saling mengerti. Hidup damai tak mempermasalahkan kelakuan mereka yang semena-mena terhadap wanita dan pemuda cantik. Dan ini pertama kalinya dia bertatap muka lagi dengan Yoongi setelah tahu adiknya berhubungan serius dengan pemuda rakyat jelata yang dikencaninya.
Taehyung menghindari Yoongi seperti pembawa wabah.
Yoongi seakan-akan ingin masuk ke dalam hatinya. Ingin mencampuri kehidupan pribadinya. Taehyung tak membutuhkannya. Dan datang dari Yoongi itu rasanya aneh. Jika itu Namjoon dia masih bisa mengerti. Adiknya yang itu memang baik, peduli, serta tulus, bahkan terkadang polos. Tapi Yoongi? Itu janggal.
Taehyung tak menyukainya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Yoongi.
Taehyung mengedikkan bahu, "sama, seperti biasa."
Tatapan Yoongi membuat Taehyung marah. Begitu penuh rasa iba. Bukan Taehyung yang seharusnya mendapatkan tatapan seperti itu, tapi kedua adiknya! Dia bebas! Tak ada yang mengikat dirinya.
Mata Yoongi yang dulu semulanya dingin sama seperti matanya, kini menjadi hangat. Berhadapan dengan Yoongi, dia tak pernah merasa ditelanjangi seperti ini. Taehyung tak nyaman.
Mereka biasa bertemu di tempat seperti ini. Saling menyapa beberapa menit dan meninggalkan satu sama lain dengan urusannya masing-masing.
Tapi pertemuan kali ini sepertinya akan berbeda.
"Aku ing-"
"Stop! Don't speak!" Taehyung menyela kasar, mengangkat tangan mengisyaratkan adiknya untuk tak melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu apa yang kau pikirkan! Jangan membuang-buang waktu dan tenagamu, adikku sayang. Kembalilah pada kekasihmu."
Yoongi menjalin tangannya.
Dia memang tak sedekat itu hingga berani mencampuri urusan pribadi kakaknya. Mereka memiliki toleransi tinggi terhadap kehidupan masing-masing. Tapi setelah dia dan Namjoon menemukan kebahagiaan dan cinta, dia merasa memiliki kewajiban untuk menarik kakaknya dari kotak yang memenjarakannya.
"Aku hanya ingin kau tahu, jika kaupun bisa bahagia! Kita jarang bertemu. Jarang memiliki waktu. Aku ingin menyampaikan beberapa hal."
Taehyung memutar bola matanya dan mencibir.
"Apa kau sekarang ingin mengajariku?"
"Tidak! Aku hanya ingin-"
"Aku tahu... Yah, yah aku tahu!"
"Taehyung hyung..."
"Cukup Yoongi, kau tahu aturannya!"
"Setidaknya cobalah meraih tangan yang terulur padamu! Kau tak akan menyangka betapa itu akan merubah segalanya. Ke arah yang lebih baik."
Taehyung tertawa mengejek.
"Oh-oh my beloved brother. Why are you change so badly? Aku sampai tidak bisa mengenalimu. Kemana adik misteriusku? Yang Namjoon beri julukan Pangeran Es. Heh? Kemana dia? Kau menyembunyikannya dimana?"
Yoongi menggeleng lemah, dia menghela nafas.
Setidaknya dia sudah mencoba, hanya saja Taehyung memanglah keras kepala.
"Aku mengerti." Sahut Yoongi
Taehyung mengangguk-angguk. "Bagus, aku sedang malas memberikanmu kuliah."
Yoongi menghabiskan anggurnya, "aku akan pergi. Kita bertemu di mansion dua minggu lagi?"
"Entahlah. Aku belum melihat jadwalku."
Yoongi berdiri. Dia mengangguk sekilas, dan meninggalkan ruangan.
Taehyung menghempaskan gelasnya. Tak ada yang lebih menjengkelkan dari orang-orang yang merasa lebih tahu dari dirinya. Orang-orang yang merasa butuh mengajarinya. Fuck that people!
bersambung...
