Peluk (c) faihyuu

Naruto, Boruto (c) Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto

Rated K(plus)

Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Ficlet ini terinspirasi dari spoiler manga Boruto chapter 66. Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.


Isak tangis menusuk telinga. Hawa-hawa penuh lara dan nestapa. Getar-getar kesedihan nan terbawa oleh air mata. Menodai ruang dari semesta kecil Uzumaki oleh duka. Awang-awang yang mencekam sedih bagi jiwa.

Wanita bermahkotakan nila senantiasa tercumbui oleh sedih. Hinata masih bergetar, sungai nan setia menganak pada pipi, napas yang tersendat—hatinya bagai dihunjam senjata, perih. Pedih.

Terduduk di salah satu sofa pribadi yang berada di sana. Hinata mengingat bahwa Boruto senantiasa berada di sini—duduk entah main gim atau apa; selalu meninggalkan kesan hangat, selalu dapat wanita itu raih dalam afeksi menjadi seorang ibu nan sangat mencintai putranya. Namun kini, menyebut namanya saja Hinata sudah merasa kehilangan nyawa.

Uzumaki Boruto, putranya sekarang tengah bertarung dengan hidup dan mati. Entah siapa yang menang; jiwa kuat sang anak atau malaikat pencabut nyawa. Dan Hinata, ibu paling tidak berguna di dunia, hanya bisa menggelamkan diri dalam sesak.

Langkah kaki dan kehangatan—yang kini tak lagi sehangat nan diingat oleh Hinata. Seorang pria bermahkota bak sang Surya. Mendekat dengan wajah yang serupa. Kesedihan, tetapi pria itu menahan air matanya. Melihat segala yang dimiliki sosok itu, selalu dapat mengingatkan Hinata pada sang putra. Memang, semua yang dimilik Boruto memang berasal dari sang pria. "Hinata—"

Hinata berusaha menghentikan tangis, mengusap air mata—menghembuskan napas dalam-dalam. "A-aku Ibu yang buruk, bukan?"

Naruto mengalah pada kesedihan; yang senantiasa pria itu tahan sejak rangkaian peristiwa-peristiwa mengusik jiwa raga. Terduduk di lantai yang biasanya terlihat hangat, tetapi kali ini rasanya sedingin daripada salju apa pun di dunia. Menjatuhkan kepala—juga air mata pada pada kaki Hinata. Dibalas tangis yang malah hadir kembali pada sang wanita. "Maaf, Hinata. Maaf, maaf—"

"N-Naruto-kun—"

"A-aku yang paling buruk di sini," Pria itu tak kalah bergetar, terdengar jelas napasnya yang sesak. Pun seluruh kelemahan manusiawi. Naruto melepas segala kuat; menyerahkan diri pada seluruh emosi di hati. "Aku yang gagal jadi apa pun, Hinata. Aku yang gagal. Aku gagal menjadi suami yang baik untukmu, aku juga gagal menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak kita. Apakah aku bahkan pantas untuk kembali ke sini?"

Di lain sisi peristiwa dalam semesta, Naruto tak kalah merasa tak berguna. Pun dihantui oleh rasa tak pantas mendapat seluruh yang telah dimilikinya. Terutama keluarga.

Dirinya gagal menjadi suami yang baik bagi Hinata. Gagal pula menjadi ayah nan diimpikan bagi putra-putrinya.

"Naruto-kun," Suara Hinata yang selalu lembut dan hangat, membuat Naruto makin sesak karena kini terdengar sangat mengiris hati. Kepalanya merasa ditarik lembut ke atas—sentuhan jemari lembut tetapi sedikit hawa dingin menjelajahi pipi. Mencoba menghapus air mata, walau masih mengalir pula dari kecubung pucat dari wanita yang paling dicintai.

Hinata terdiam sejenak—keheningan yang membumbung tinggi ke udara, hanya memandang mata biru milik sang pria, entah dengan jelas atau memburam. Wanita itu mendekat membawa kening mengecup kening. Berbisik dengan nada paling putus asa yang pernah Naruto dengar.

"K-kita gagal..."

Naruto menangkup wajah Hinata. Mengecup ujung tubir, sebelum pada akhirnya membawa sang wanita ke dalam pelukan. Gelengan lemah dihadiahkan pria itu. "T-tidak, tidak. Kau tidak gagal, Boruto sangat-sangat menyayangimu. Aku yang gagal, Hinata."

Dihirup oleh Naruto dalam-dalam aroma lavendel bercampur setitik vanili sang istri, selalu dapat menenangkan—tetapi tak dapat penuh kala ini.

Kembali pada realitas dari seorang Hinata; wanita itu juga mencium dalam-dalam aroma suaminya. Sitrus—tetapi kini bercampur debu. Sedikit menenangkan, tetapi lagi-lagi masih tak dapat membuat dukanya pergi.

Bagaimanapun keduanya tengah merasakan luka yang serupa.

Pelukan itu berlangsung lama, mungkin saja memang selamanya. Belum sempat Hinata ingin kembali bersuara—sang wanita nila merasa berat akan massa.

Naruto yang melepaskan segala diri padanya.

"N-Naruto-kun. Boruto sangat-sangat menyayangimu..."

Sesak, sesak, dan sesak. Rembulan pada malam itu menjadi saksi pelukan kesedihan sepasang orang tua yang gagal; ayah mereka nan lemah—kehilangan kesadaran dalam dekapan sang bunda.

"B-Boruto, dia menyayangi seluruh dari kita."

Di luar ruang-ruang yang kini terasa mencekam; Kawaki menemukan dirinya sekarat—bersandar pada dinding nan dingin. Segala yang terjadi ialah kesalahannya.

Kesalahannya.

Anak laki-laki itu memeluk kaki—menenggelamkan wajahnya pada lutut.

Ada sesuatu yang Kawaki kira telah mengering untuk selamanya kembali hadir—air mata. Di tengah seluruh kesedihan, anak laki-laki itu menyadari bahwa ada yang ikut bersedih bersamanya.

Buram—tetapi Kawaki dapat menangkap helai-helai mahkota nila yang hampir serupa milik wanita nan berada di dalam sana.

"Aku yang membunuh Kakakmu,"

Tak terdengar sepatah kata pun, justru sebuah kehangatan didapati Kawaki.

Sebuah pelukan.

"Kalian kumpulan orang gila yang pernah kukenal." Entah dirasuki oleh apa pula, pelukan itu terbalas.

.

.

selesai sampai sini dahulu

.

.

Catatan: Hasil overthinking.