Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

Sacrifice and ConfessionPain

(Canon)

••••

Anyir, amis, seperti besi pula. Menusuk indra penciumannya.

Sakit, sakit, sakit.

Hancur, hancur, hancur.

Debu menusuk safir; pun besi hitam arang menghunjam titik pentingnya.

Naruto berusaha menulikan indra, berusaha tak dipengaruhi rasa perih di raga.

Rasa sakit.

Ingin bangkit.

Ada yang berteriak. Agar tak terpengaruh.

Namun, setitik kotoran dalam jiwa mengiyakan rasa sakit nan memang amat sangat. Makin sakit fisik maupun mental ketika melihat seekor katak terlempar. Meringis, si manusia yang senantiasa disebut baskara merasa tolol di hadapan hari akhir dunia.

Naruto sakit. Makin sakit.

"Dasar sialan!"

"Sudah waktunya kita pergi."

Sakit, hancur, sakit, han—

"Bala bantuan?"

"Aku takkan membiarkan kau menyentuh Naruto-kun seujung jari pun!"

Angin tak lagi membawa debu, dersik tak lagi hanya membunyikan rasa sakitnya.

Ada helai-helai nila cerah terpantul cahaya beterbangan, membawa setitik aroma lavendel bercampur sedikit vanili. Namun, ada debu juga tanah di sana. Tetap menenangkan. Bagai malam berbintang dengan ratu rembulan, hangat bagai didekap oleh orang yang dicinta. Berharap mentari muncul esok hari dengan seluruh keberuntungan. Mimpi konyol masa kecil si pemuda kuning yang kini tengah terpojok.

Sesosok gadis. Tubuhnya kecil, tampak rapuh—pun dengan debu yang mengotori wajah manis.

Kini, rasa takutlah yang mencumbui Naruto sampai mati.

"Apa yang kaulakukan di sini!?"
Takut, takut, takut. Naruto merasa lemas, dipencudangi rasa takut yang kini menguasai tanpa rasa mengasihi. "Pergilah! Kau bukan tandingannya!"

"Aku hanya ingin menjadi egois..."

Suaranya makin terdengar jernih. Namun, malah menyiksa Naruto makin-makin. Pemuda itu hampir sekarat. "Apa yang kaukatakan?! Apa yang kaulakukan di sini?!"

"Aku di sini karena kemauanku sendiri." Gadis itu menyuarakan seluruh hatinya. Tampak dirasuki oleh yang namanya keberanian pula percaya diri. Berbeda dari dalam memori pemuda selama ini, bagus—tetapi Naruto takut. Hinata tampaknya juga menulikan indra. "Aku selalu menangis dan menyerah sebelum mencoba, aku sering melangkah ke jalan yang salah, tapi kau menunjukkanku ke jalan yang benar."

Naruto membeku. Suara gadis itu makin jelas dan jernih. Si penyebar rasa sakit—Pain—pun tampak juga sengaja membuatnya terlena. Sial, dia tak boleh tertipu atau apa.

Namun, jiwa-raga Naruto merasa ditarik paksa oleh setitik rasa penasaran yang dapat membunuh dirinya sendiri.

"Ketika aku memperhatikanmu aku merasa sangat berani aku merasa bisa terus melangkah. Kau membuat kesalahan. Namun, karena kesalahan itu kau mendapatkan kekuatan untuk berdiri dan bangkit."

Rasa takut makin membara, dibakar oleh angin nan membawa debu-debu kehancuran.

Jangan dilanjutkan—

Naruto berusaha menekan dirinya agar tidak mati konyol dalam keingintahuan. Menekannya sampai sesak, kali ini mati karena kehabisan udara sumber nyawa.

"Aku ingin berjalan di sampingmu sepanjang waktu. Aku hanya ingin bersamamu yang telah mengubahku, senyummu nan menyelamatkanku."

Jangan, jangan—

Namun, gadis itu bersiap dengan mata unik dan kuda-kuda.

"Itulah mengapa aku tidak takut mati untuk melindungimu, karena aku mencintaimu."

Jangan, jangan, jangan.

Manik safir hampir keluar dari tempat yang diatur Sang Kuasa dalam diri sang pemuda bermahkota bak matahari ketika gadis nila itu menyerang si penghancur utama.

Dan si rasa sakit yang jelas lebih unggul, membalas menyakiti gadisnya yang kini dianggapnya paling berharga.

Naruto yang tidak siap akan pengorbanan (maupun pengakuan perasaan).

Amarah, amarah, amarah.

Naruto memilih kegelapan sejenak.