Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

The Last—Kawan Ketika Dunia Berakhir •

(Canon)

|•|•|•|•|

Sejak baskara melihat hati cantik milik kirana, membalas dengan memberinya segala pula—benak pemuda semesta itu makin sering bertanya-tanya.

Tentang apa pun yang ada di dunia.

Si siang membicarakan segala pada si malam nila. Dari percakapan singkat menggoda; pertanyaan bodoh tentang mengapa langit berubah warna; pun mengapa bulan bersedia menemani manusia pada malam dari angkasa. Semua dibalas sang gadis dengan jawaban masuk akal dengan pelangi tubir semanis gula. Selalu membuat Naruto kembali lagi-lagi jatuh dalam cinta.

Kini ketika keduanya bersama; setelah menuntaskan segala derita bumi, bulan, dan manusia. Para orang yang berkumpul, bersukacita. Tak dihiraukan dinginnya musim ini, semua terlarut dalam euforia.

Naruto mengambil sebuah kertas, bersih tanpa noda—diberikan oleh Sai, gambaran polosnya manusia.

"N-Naruto-kun—"

Rembulan masih malu-malu, tersisa sedikit merah merona. Naruto menyeringai, padahal bibir itu telah dikecup malam ini; matahari yang mengecup bulan dengan cahaya untuk menjadi penerang malam manusia.

Dituliskan oleh pemuda sebuah nama di sana; Hyuuga Hinata.

"Kalau tadi aku hanya berbicara, kali ini aku akan membalas tulisanmu saat akademi. Jika dunia berakhir, aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu!"

.

Belasan musim dingin telah mereka lewati bersama; matahari dan bulan—kini ditemani bintang-bintang cinta mereka.

Ketika si kirana bermahkota nila menemukan baskara si cinta, pria itu sedang menulis sesuatu. Di tengah malam nan cerah. Secerah hati penghuni angkasa kala itu.

Mentari pulang lebih cepat, membawa banyak cinta—untuk batin maupun lubang hitam milik manusia—perut. Membawa beberapa makanan kecil penutup manis, semanis Boruto, Himawari, dan Kawaki. Bintang-bintang yang saling bercanda ria dengan ayah mereka; membuat hati Hinata menghangat. Sehangat namanya.

Apalagi dengan kehadiran bintang baru yang mulai berani menunjukkan sinar di antara mereka, dianggap matahari dan bulan sebagai bagian Uzumaki.

"Anata, kau sedang menulis apa?"

Si pria bak rubah menyeringai, menunjukkan sebuah kertas yang kini terisi nama-nama.

Uzumaki Hinata, Uzumaki Boruto, Uzumaki Himawari, (Uzumaki) Kawaki.

"Jangan cemburu, ya, Nyonya Bulan. Aku menambahkan nama-nama lain untuk ikut bersamaku menghabiskan hari terakhir dunia."

Rona merah bak senja menyapa pipi pualam. Namun, si rembulan tersenyum. "Jangan cemburu juga Tuan Matahari, aku sudah menambahkan Bintang-bintang kecil kita terlebih dahulu dalam daftarku sebagai kawan ketika dunia berakhir."

Karena takdir kirana selain menjadi pendamping baskara dalam menyinari manusia ialah mencintai bintang-bintang dengan sepenuh hati sampai angkasa lenyap dalam kegelapan abadi.