Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), etc.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

Training Together—Tinju Singa Kembar •

(Canon)

|•|•|•|•|

Dersik menghasilkan rapsodi yang menyapa telinga. Rona-rona kemerahan mulai terlihat di cakrawala. Pun dengan matahari nan hampir turun dari takhta. Sudah senja.

Namun itu semua tak menghentikan sepasang anak manusia yang tengah berdansa. Berdansa melawan satu sama lainnya. Tak peduli juga akan peluh yang sedari tadi telah menetes di sekujur tubuh mereka. Masih menari ke sana kemari dengan sepercik warna, bak mengikuti awang-awang ruang di sana.

Sesosok pemuda berambut secerah baskara di atas sana. Dengan seorang gadis bermahkotakan malam terang, nila.

"Jūho Soshiken!"

Dari segala gaya pertarungan nan dikuasai sang gadis bak rembulan, si pemuda mentari memiliki atensi lebih pada jutsu ini. Si baskara selalu terkesima akan cahaya berkepala singa yang menyelimuti kedua tangan mungil Hinata, terkadang biru, terkadang pula ungu. Kali ini, warna kedua.

Banyak pula memori yang tersimpan dalam benak ketika melihatnya; Naruto mengingat pengorbanan akan cinta.

Pelangi di tubir mengurva dengan cerah, seluruh dunia tahu—pemuda itu memiliki nama nan jauh dari kata menyerah.

Sekejap pula warna jingga bak langit kini muncul di kedua kepalan tangan.

.

Lebih dari ribuan hari telah berlalu, dengan segala perang juga damai. Si baskara tak menyangka bahwa sesosok lubang hitam akan kembali hadir dalam angkasa ini. Maka, dengan segala upaya, bahkan bertaruh nyawa—matahari menyelamatkan bintang-bintang, terutama memang miliknya.

Bertaruh nyawa.

Naruto agak terpojok, tetapi dengan segala asam garam tindakan cepat dalam pertarungan—sebuah cahaya jingga muncul di kedua kepalan tangan, kini bak api. Ketika menatap kembali lawan, pria itu teringat akan sang istri dan segala latihan yang mereka lewati.

Ini bukan Jūho Soshiken.

Namun dengan menggunakan hal yang agak serupa setelah puluhan latihan bersama kekasih, si mentari kembali mengingat perjuangan rembulan melawan rasa sakit.

Pengorbanan.

Tentu, kerelaan sudah merajai hati. Ketakutan telah dipecundangi.

Karena baskara sudah mencintai segala hal yang berada di jalur susu, terutama sampai mati untuk kirana juga bintang kecil milik mereka berdua.