Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Rated T
Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #NHMonth2021.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Gardening and Flowers—Bunga Matahari •
(Canon)
••••
Ketika mentari tengah tersenyum manis di atas lembayung biru; dengan burung-burung menyanyikan rapsodi; pun pelangi mengurva di bibir si wanita bermahkota nila. Naruto bersenandika bahwa segala terindah di dunia berada dalam sana.
Dersik menyapa telinga; tawa-tawa kecil yang terbawa ke dalam jiwa. Membuat si pria matahari tak bisa untuk tidak dapat bercahaya dalam senyum; pemimpin angkasa kecil tata surya ciptaan manusia merasa amat bahagia. Sebuah nirwana—rumah mereka.
Dilihatnya kembali wanita bak malam terang berbintang, maniknya kirana. Terdapat noda-noda kadru bercampur jerau di jemari, tetapi tak jua memudarkan cahaya dan kehangatan pada setiap sentuhan mereka. Atau bahkan dua sosok kecil bintang-bintang angkasa yang tengah bercengkrama bersama rembulan sang ibunda.
Tak luput juga dengan hijau-hijau permai mengelilingi, pun warna-warni yang selalu berhasil menarik atensi dari manik manusia.
Paling mencolok, sebuah bunga tinggi di sana. Berwarna serupa mahkota sang pria juga anak laki-laki nan segalanya.
Bunga matahari.
"Wah, lihat. Himawarinya juga cepat tumbuh, sama seperti Himawari!"
Secepat gerakan cahaya, Naruto tak dapat menahan hasrat untuk mencuri tubuh mungil putri kerajaannya nan manis ke dalam sebuah dekapan hangat pagi itu. Bayi manis yang baru berusia 365 hari di dunia ini tersenyum dan mengoceh girang. Sang baskara tak tahan untuk memberi lebih afeksi.
"Tou-chan balu bangun!" Kini tak luput pangerannya berada dalam dekapan sang raja. Boruto yang usianya dikali tiga dengan adik perempuannya.
Dan si ratu rembulan hati yang telah menyadari eksistensi sedari tadi hanya tertawa kecil. "Matahari sudah hampir meninggi, tetapi Sang Raja baru bangun dari mimpi."
"Hei, hei, Ratu Bulan. Kalian lah yang meninggalkanku dalam kesendirian ruang, tahu!"
Kehangatan itu masih terus berjalan, sebelum manik safir itu kembali dipaku pada keberadaan bunga nan namanya serupa dengan sang putri.
Hinata bangkit, menyirami "Namun, ya, bunga mataharinya benar-benar tumbuh bersama kalian. Boruto dan Himawari tambah besar, bunganya juga sama."
Langit siang juga rembulan kembali menatap menatap bunga itu dengan senyum bahagia di tubir.
Bunga nan selalu mengingatkan putaran angkasa terang dilimpahi cahaya mentari pada setiap jiwa di sana.
Kelopak sewarna dengan mahkota milik para laki-laki. Bunga yang sama-sama manis dan hangat bak bayi manis Himawari. Pula bunga nan setia bagai cinta rembulan menunggu matahari.
