Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

Blank Period and Rain—Pelangi dan Petrikor •

(Canon)

|•|•|•|•|

Lembayung menggelap, menurunkan butir-butir air nan turun beramai-ramai—menangis dari angkasa. Segera para anak manusia mencari kehangatan pada tempat—rumah mereka. Pun dengan Naruto dengan Hinata. Kini berada dalam kehangatan apartemen pemuda nan dicinta.

Nayanika langit siang yang cerah juga ceria ditatap klandestin oleh sang gadis Hyuuga. Mencari-cari pelangi dalam safir nan dicintainya. Selalu membuat si nila merasa segala bahagia di dunia menjadi miliknya.

"Hinata."

Segera sebuah pelangi terbentuk pada tubir. Mahkota pirang kuning itu tertutupi oleh kain pengering dan penghangat—Hinata dengan segala kesigapannya.

Membantu sang Uzumaki mengeringkan mahkota akibat sedikit basah akibat ditimpa air langit, Hinata berusaha menekan suara detak jantungnya sendiri. Ada rasa malu yang menggelora jika terdengar dengan amat jelas oleh pemuda nan namanya selalu berada di hati.

Rambut yang kini jauh lebih pendek daripada dalam ingatan sang puan selama ini berbau bak sitrus, entah mengapa terasa menenangkan segala kerisauan Hinata.

"Maaf, ya. Kita gagal kencan, dan malah merepotkanmu begini."

Kencan—Hinata merasa dicumbui oleh rona-rona merah pada wajah. Berapa kali pun, rasanya bagai mimpi pada malam hari ketika mendengar kata kencan pada bibir Naruto. Sematan teruntuk mereka berdua.

"U-uhm, tidak apa-apa, Naruto-kun. Lagi pula, hujan bukan kesalahan siapa pun."

Selesai. Rasanya meleleh ketika manik safir bak siang menatap langsung pada kecubung rembulan itu. "Terima kasih, ya."

"Sama-sama." Kembali hening sejenak. Dengan secangkir teh hangat pada genggaman. Dibuat oleh Hinata atas segala izin Naruto, masih segar pula dalam ingatan bahwa tempat ini juga menjadi angkasa kecil milik bulan dari matahari—tempat tinggal kedua.

Jendela yang terbuka menyuarakan bahwa hujan nan kini agak mereda senja kala itu, tetapi diam-diam dinikmati kedua anak manusia bak baskara dan kirana dengan senyuman dalam keheningan.

"Biasanya kalau hujan telah selesai," Naruto terkadang tidak berkorelasi dengan kata diam, tetapi Hinata telah memberikan segala jiwanya untuk itu. "Apa yang biasa kau tunggu, Hinata?"

Diletakkan oleh sang gadis cangkir yang tersisa setengah, sebelum akhirnya bersuara—menyatakan hal nan dicintainya ketika hujan reda. "Aku suka petrikor."

Senyum pada tubir pemuda itu selalu memberikan kehangatan tersendiri bagi gadis bernama serupa cahaya. "Sama, aku juga lebih suka menikmati bau yang menguar dari tanah ketika hujan reda. Dahulu, aku memang tidak terlalu memikirkan hal ini. Seperti orang-orang pada umumnya, aku lebih suka memandangi pelangi. Namun, akhir-akhir ini aku baru menyadari sesuatu yang penting."

"Sesuatu yang penting?" Pernyataan yang bernada tanya dari si rembulan berhasil membuat sang mentari kembali menguarkan seluruh hangat juga cahaya.

"Ya," Safir itu bersembunyi di balik kelopak sewarna sawo matang sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kata-kata yang akan selalu Hinata ingat. "Aku suka petrikor karena kamu."

"K-karena aku?"

"Karena sejak adanya dirimu, aku tak perlu lagi menunggu hujan untuk melihat pelangi. Hanya perlu melihat mata dan senyumanmu, tiap saatnya aku sudah menatap ujung pelangi yang katanya penuh harta." Jemari mereka perlahan saling tertaut satu sama lainnya. Tak luput pula dikecup buku-buku jemari sang dara oleh si jejaka.

"Aku lebih suka menunggu petrikor datang menguar tanpa terganggu. Namun, akhir-akhir ini aku juga menyadari bahwa terkadang petrikor itu adalah kamu. Sama-sama berbau menenangkan. Dan aku adalah penikmat setianya."

Hujan, milik mereka berdua. Membawa cerita manis tersendiri dalam memori mentari dan rembulan nan bercahaya.