Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Rated T
Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), bukan fanfiksi histori dengan riset segudang, dsb.
Untuk #NHMonth2021.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Samurai AU and Mission Together—Misi Sepanjang Sisa Usia •
(AU)
|•|•|•|•|
Tiap masa, pasti terdapat akhirnya pula. Walaupun bukan ujung dari waktu semesta. Namun siapa pun manusia takkan dapat menghindarinya.
Begitu pula dengan takdir dari Hyuuga.
Matahari memang tertulis akan terus menyinari manusia. Namun, semua makhluk juga tahu—seluruh kehidupan saat ini ialah fana. Tentu, seremeh era kebanggaan untuk menjadi pemuda bersenjatakan katana akan menjadi sebuah sejarah saja. Benar-benar mengukuhkan diri sebagai debu semesta.
Era samurai benar-benar berakhir, ketika kekaisaran kembali merebut tahta mereka. Mengakhiri seluruh semesta yang dibangun oleh keshogunan besar dari keluarga Tokugawa. Dimulailah pula Nihon sebagai negara berbudaya yang terbuka. Bagai matahari fana yang kembali mulai terbit dari timur dunia.
Reformasi besar-besaran bergema di seluruh penjuru negeri. Menghancurkan segala yang telah si puan bermahkota ketahui sejak dirinya kecil selama ini. Namun, setiap perubahan, apalagi yang sangat besar—terdapat pula banyak reaksi. Terbesar ialah modernisasi. Katana terganti dengan senapan, militer menggantikan nama pula jiwa samurai.
Era bernama Meiji.
Dan kini Hinata merasakan segala kebimbangan duniawi, setelah beberapa tahun perubahan telah Hyuuga lalui. Tepat saat sang gadis telah mekar, menjadi bunga berwarna-warni.
"Hyuuga masih diberikan sebuah keajaiban dari Sang Kuasa untuk menduduki kursi terhormat di negeri ini. Kali ini Hyuuga akan mempersembahkan segalanya untuk kekaisaran." Deham dan suara tersebut rasanya bagai sebuah gemuruh besar di tengah badai dahsyat malam itu. Hinata hanya dapat membisu. "Dan selain keajaiban dari Sang Kuasa pada kita semua, Hyuuga juga mendapatkan kembali sebuah tugas dari semesta."
Tak ada satu pun yang berani menyela. Hening, hanya suara serangga musim panas yang terdengar dari balik shōji hingga menembus telinga. Keheningan menghunjam tubir siapa pun nan berada di sana, tetapi pada akhirnya sebuah suara kembali dilantunkan oleh Hyuuga Hiashi selaku pemegang semesta klan mereka.
"Dan dalam pertemuan keluarga kali ini, saya juga akan memberikan sebuah berita. Jika salah satu dari gadis Hyuuga akan dipersunting oleh salah satu orang berambut cerah dari Barat. Kekaisaran pun setuju, sebagai langkah mempererat dan memajukan negeri."
Jemari gadis itu saling mengepal. Bulan purnama berpendar indah di langit sewarna nila bertabur bintang. Indah, tetapi tak seindah hati juga jiwa Hyuuga Hinata kala itu.
"Hyuuga Hinata, akan dipersunting oleh seorang serdadu berambut cerah dari Barat."
Hyuuga Hinata dan segala mimpi yang dipencudangi semesta. Masa nan takkan pernah mengunjunginya. Gadis yang harus mengayut bersama sesuatu realistis seperti takdirnya. Meninggalkan nagitana dengan segala kemungkinan bahwa takkan pernah disentuh kembali oleh sang empunya.
•
Yang mempersunting itu datang seminggu kemudian, tepat kala senja. Datang dari arah barat, dengan helai mahkota sewarna mentari nan akan turun tahta. Hinata mengira bahwa tengah bermimpi saat menemukan manik bak safir—gadis itu mengira lembayung biru cerahnya siang dicuri oleh sang pemuda.
Matanya, matanya. Hinata merasa jatuh cinta. Sang nila tak pernah mengira bahwa manik safir akan terlihat sangat indah dan berharga. Pun menyampaikan sebuah kemurnian dari sana.
Dimainkannya gugup tamoto dari furisode, menahan seluruh rasa yang muncul tiba-tiba.
Oh—tentunya, segala yang dilakukan oleh sang dara kini hanya dilakukan klandestin saja. Tak berani mendekat—hanya dapat mendengar lantunan suara. Aksen Jepang yang aneh, terkadang pula berbahasa asing nan baru dipelajari sebulan ini oleh Hinata. Semua terdengar dan terintip dari fusuma—pintu yang tak tertutup rapat sempurna pada tempatnya berada.
Namanya Nathan Wave.
Dan sang gadis berusaha mengingat dan menyebut nama itu tiap gelap si malam tiba. Nama yang mungkin akan diucapkan pada sepanjang sisa usia hidupnya.
Nama yang juga menjadi alasan untuk menanggalkan segala mimpinya nan lebih besar dari galaksi. Dari segala panggilan yang diinginkan Hinata; onna-bugeisha—seorang samurai. Namun gadis itu tahu kemampuan dan batas diri.
Hinata bukanlah bintang; tidak sekuat Neji dan secemerlang Hanabi.
Tak pernah pula Hinata mendapat kepercayaan Hiashi sang ayah untuk mendapatkan tugas—sebuah misi.
Nagitana yang akan selalu tersembunyi dalam lemari.
Lagi, Hinata hanya berusaha untuk menjadi manusia semesta yang tahu diri.
"Aku yakin, kau pasti Hyuuga Hinata."
Terdengar asing, tetapi berhasil mengembalikan segala jiwa dalam raga semesta. Suara pertama kali menyebut namanya itu akan selalu diingat seumur hidup oleh Hinata.
Pemuda yang tadi berada di zashiki bersama dengan para tetua dan beberapa orang asing pula—kini tengah menghampirinya. Ikut duduk bersama di hadapan sang gadis pada sebuah washitsu yang sengaja disediakan oleh Hyuuga untuk mereka.
Segalanya pula telah Hinata pelajari. Bagaimana menyambut tamu, terlebih calon suami. Dengan dandanan cantik dan sanggulan rambut yang sengaja dilekatkan pada Hinata untuk menarik hati.
Gadis nila mengangguk halus. "Y-ya, saya Hyuuga Hinata."
"Kau sungguh cantik."
Kirana dihantam cahaya dari baskara untuk bersinar di malam gulita manusia. Begitu juga dengan Hinata, tetapi rasanya juga panas—hingga merona. Tak siap diserang secara brutal dengan tiba-tiba. "T-terima kasih..."
Canggung, sang dara nila mengutuk diri karena tak tahu harus berbuat apa. Namun—rupanya, pemuda di hadapannya ini tidak dapat berdamai dengan hening di sana. "Aku tahu, ini akan terasa aneh. Tapi, mohon bantuannya."
Pemuda itu sedikit membungkuk, menyerahkan kepalanya dengan hormat. Hinata hampir menjerit karena terkejut.
"Webu-san, t-tidak usah—"
"Tidak, tidak. Aku harus." Kalau tadi Hinata mengarahkan seluruh atensi pada manik, kini sang gadis terfokus pada tubir—tergambar sebuah pelangi. Unik—menggambarkan pemuda itu, manis bagai rubah dengan tiga garis asing di pipi. Hinata kembali merasa jatuh hati. "Omong-omong kau boleh memanggil nama asliku."
"N-Natan-san—"
"—Naruto. Kau bisa memanggilku begitu. Dan bolehkah aku memanggilmu Hinata?"
Pemuda itu—
—pemuda itu tampaknya tidak nyaman akan formalitas pun segala berbau penyambutan belaka. Hinata memang telah melihat setitik rasa terpaksa dari manik safirnya.
Pemuda ini—lebih menyukai langsung ke inti.
Namun, gilanya, Hinata menyukai.
Si gadis malam hanya dapat mengangguk pada sang pemuda bak siang. "N-Naruto-san..."
Naruto—artinya pusaran, pusaran air.
Dan segala diri Hinata merasakan bahwa jiwa dan hatinya terbawa oleh pusaran perasaan sang pemuda. Tanpa persiapan apa-apa. Jika Hinata adalah laut, maka sudah terdapat pula gelombang angin badai yang akan menghantam segala.
"Aku tahu, aku mungkin tak begitu baik berinteraksi dengan gadis. Tulisanku pun jelek. Yah, segalanya dariku memang tidak bagus. Namun, kuharap kau mau menerima dan membaca sebelum tidur nanti."
"T-terima kasih."
Sebuah gulungan kertas disodorkan, diterima sang gadis dengan hati-hati. Sang siang jika menyamar menjadi pemuda yang kemudian kembali bersuara. "Maaf, aku tak dapat berbicara denganmu lebih lama lagi—walau sebenarnya aku sangat menginginkannya. Kami ada undangan dari Kaisar untuk berkunjung malam ini pula."
Hinata hanya terdiam bagai rembulan yang takkan pernah mengatakan apa pun. Ketika matahari mendekati dan membuat gerhana menggetarkan dalam diri. Berbisik pula sesuatu nan akan selalu diingat semesta dan sepanjang masa.
[ malam cerah
tawanya bulan bintang
matamu indah ]
Sepotong haiku.
•
Pun ketika manik serupa rembulan di angkasa membaca sebuah gulungan dari sang pemuda—dirasa pipi dan seluruh wajahnya kembali merona.
Mungkin, goresan tinta itu tak secantik miliknya. Namun—yang tertulis di atas selembar kertas itu menjadi segala atensi sang dara.
•••
Rembulan selalu paham akan malam; segalanya teruntuk bumi-manusia
Kirana pula pendamping sejati baskara bagi kehidupan fana
Pendamping misi; aku memerlukannya
Hai, Hinataku yang manis, dengan manik bulan yang kaucuri dari angkasa—maukah kau menemaniku mencari bintang?
Misi sekali jalan, takkan lebih dari itu
Menjelajahi segala semesta juga masa
Jadi, sekali lagi, maukah kau menjalani misi manis bersama sepanjang sisa usia bersamaku?
•••
Misi. Segalanya ternyata ialah misi. Hinata takkan dapat menolak jika begini.
.
.
*Nagitana: Senjata khusus bagi para samurai. Biasanya digunakan bagi para samurai wanita.
*Onna-bugeisha: Samurai wanita.
*Washitsu: Ruangan khas tradisional Jepang dengan lantai beralaskan tatami. Dari sejumlah washitsu yang ada di dalam rumah tradisional terdapat satu nan utama disebut zashiki. Zashiki sendiri biasa digunakan untuk menerima tamu.
*Webu: Wave dalam penyebutan Jepang. Wave sendiri artinya gelombang—terinspirasi dari nama belakang Namikaze. Namikaze sendiri artinya gelombang angin.
*Natan: Dimaksudkan untuk memanggil nama Nathan.
*Haiku: Puisi pendek khas Jepang.
