Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Rated T
Warning(s): Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), melokal Indonesia, dsb.
Untuk #NHMonth2021.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Around the World—Perpustakaan Nasional (Indonesia) •
(AU)
|•|•|•|•|
Rasanya makin dekat langit senja; jingga berpadu kemerahan yang cepat sirna. Pun dengan dersik melantunkan rapsodi menenangkan pada telinga. Atau mungkin makin terasa menenangkan karena aroma khas dari buku tua—bibliosmia.
Percakapan mengagumi keindahan semesta terdengar amat singkat, beberapa massa juga datang hanya untuk memotret momen dengan kamera—tetapi segala keseluruhan itu sungguh dinikmati oleh sang nila.
"Kau menikmatinya, Hinata?"
Namun, seluruh jiwa dan raga si dara kini menunjukan segala atensi pada sang pelantun tanya. Seorang pemuda, mahkotanya terang bagai mentari di angkasa. Maniknya sebiru langit kala siang nan fana. Aroma sitrus singkat yang menyapa penciuman Hinata.
"U-uhm," Berdeham singkat, menyiapkan segala jawaban untuk sang pemuda. "Ya, sejujurnya Perpusnas bagiku adalah penyembuh. Bukan sekadar tempat membaca buku atau mengerjakan tugas saja, menurutku juga di tempat ini seperti ada kekuatan magisnya."
"Magis? Perpusnas punya sihir?" Hinata tahu, jawabannya akan membuat Naruto—pemuda itu tergelak dalam geli. Namun sang gadis tak terlalu peduli. Lagi pula, jawabannya ini memang kata hati. "Kurasa kalau untuk sekadar mencari dan membaca buku, atau bahkan mengerjakan tugas—perpustakaan kampus kita juga tak kalah modern. Apa pemandangannya, ya? Yang membuatmu sangat tertarik. Ada Monas, walau UI juga tak kalah hijau."
Sebuah monumen tinggi bermahkotakan emas bak api menjilati tongkat ditatap, Monumen Nasional dan segala rupa Jakarta yang ditawarkannya. "Mungkin saja."
Akan tetapi bukan jawaban pamungkas dan utama.
"Terus apa?" Uzumaki Naruto dan segala rasa penasarannya lebih besar daripada galaksi. Hinata hanya dapat tersenyum tipis saat ini.
"Aku pun tak tahu."
Jawaban yang paling mengandung kebenaran. Gadis bak malam cerah ini tak mengetahui secara pasti seluruh alasan. Hinata yang sampai sekarang pun masih dihantui dirinya sendiri oleh penasaran.
Apakah karena setiap lantainya memiliki segala makna? Atau setiap rasa puas yang gadis itu rasakan tiap kali sampai ke sana? Atau bahkan rasa gemas sang gadis kala tiap seminggu sekali membaca cerita untuk anak-anak penuh tanya?
Entahlah. Namun, teruntuk khusus hari ini sihir perpusnas tampak jauh lebih kuat. Hinata tak ingin cepat kembali pada realitas UI dan seluruh rutinitas nan terkadang membawa segala kepenatan di Depok sana.
"Kau aneh."
Baru disadari pula oleh Hinata, magis tempat ini makin kuat karena magnet gaib yang dimiliki Naruto nan di sampingnya. Bertemu begitu saja dengan si pemuda bagai sebuah konspirasi semesta. Bak cerita pendek romansa dalam awang-awang pula. Di dalam sebuah kereta menuju ibu kota Jakarta.
Bertegur sapa sebagai kawan lama dengan tujuan serupa. Kembali saling berbicara setelah melewati tiga semester hampir tak pernah berjumpa, padahal berada dalam lingkup kawasan sama.
Keheningan membumbung tinggi ke udara. Sampai pada akhirnya kembali terlantunkan sebuah nada ajakan.
"Ya sudahlah, mungkin kau memang sebegitu sukanya dengan Perpusnas. Yuk, balik, Hin."
Tidak. "Yuk."
Hinata benci ketika tubirnya dipaksa semesta untuk denial. Namun tak kuasa juga untuk menahan sang pemuda tetap di sisinya—memang dirinya siapa?
Menghela napas panjang, berusaha mengeluarkan seluruh lara tanpa disadari sang pemuda. Keduanya kemudian berjalan bersama menuju kembali ke atas tanah dunia. Berjalan lagi secara beriringan menuju stasiun Gondangdia. Menunggu kereta membawa mereka menuju kembali pada realitas semesta para mahasiswa.
•
Secara terus mereka dibawa pergi dan berjalan, hingga sebuah masa tiba—keduanya berpisah di tengah rembulan nan berpendar pada angkasa.
"Kapan jadwalmu ke Perpusnas lagi?"
Lagi-lagi tanya. Dan sebelum perpisahan mereka. Tak pernah rasa bosan bertakhta pada jiwa juga raga sang nila.
"Tidak tentu, tapi biasanya jika ada mendongeng untuk anak-anak tiap Sabtu-Minggu."
"Kalau kau mau ke sana lagi, kabari, ya."
"Eh?"
Senyum itu terlukis. Rasanya aneh ketika sangat terang dan hangat bagai siang, padahal kini malam. Entah karena kirana sering bercumbu dengan baskara atau apa. "Menemanimu."
"Tapi kalau Naruto sibuk bagaimana?" tanya Hinata yang hanya tak ingin terlalu banyak berharap pada realita saja.
Seringai, tetapi sudah sangat melekat pada seorang Naruto. "Kan akhir pekan. Paling-paling hanya ada tugas, tapi kau juga mau membantuku 'kan?"
Keduanya pernah duduk di bangku SMA yang sama. Pernah pula berbagi napas pada satu ruang kelas nan lagi-lagi sama pula. Manusia-manusia mantan penganut dunia sosial sebagai jurusan ilmu mereka.
Gadis itu mengira; dirinya takkan lagi dapat berbicara dengan pemuda pemilik cinta pertama.
Cinta pertama. Milik Hinata. Hanya berisikan penyesalan karena tak mampu berbicara.
Langit cerah malam itu, sewarna mahkota si gadis Hyuuga. Rembulan ditemani bintang-bintang cilik, pengganti mentari cerah kala malam—pemberi petunjuk dan harapan bagi para manusia.
Hinata penikmat sastra. Mengambil jurusan sastra Rusia. Namun, Naruto adalah kejutan bagi manusia.
Siapa sangka bahwa pemuda urakan yang seringkali disebut gagal oleh para guru; mendapatkan universitas juga jurusan nan paling disegani—ekonomi?
Dan sebuah harapan yang muncul saat nilanya lembayung terpancar indah di atas mereka.
Sebuah asa.
Satu banding sejuta peristiwa di seluruh dunia; Hinata memilih berjuang pada kesempatan dalam semesta miliknya.
"Tentu saja." Dengan senyum percaya diri—hasil mencuri dari baskara. Sepulang dari perpustakaan nasional penyembuh jiwa sang Hyuuga. Hinata yang kembali memperjuangkan rasa di hatinya.
