Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): (semi) Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

Wedding Plan—Tentang Rasa •

(Canon)

|•|•|•|•|

Dari sejuta kemungkinan yang ada di semesta; mengapa bisa?

Benak yang bertanya tiap detik-detik nostalgia, hanya mendapatkan balasan lagi-lagi pun sebuah tanya. Perasaan tak pantas yang menggelora. Masih setia dicumbui rasa tak percaya.

Dipencudangi segala rasa pada malam itu, Hinata hanya dapat mendekam dalam kesendirian ruang pribadi semesta. Menekuk lutut, meletakkan kepala di atasnya. Mempertanyakan segala. Dengan jantung yang takkan pernah bosan berdebar dalam dada.

Keselurahan pesta pernikahannya telah tersedia; sandang, pangan, papan, bahkan seluruh manusia paling berharga. Segala rencana awal mereka berdua—Naruto dan Hinata—akan segera terlaksana. Namun, Hinata yang kini merasakan sebuah kurangnya jawaban dari segala tanya.

Mengapa Naruto memilihnya?

Mungkin pertanyaan yang sudah amat terlambat, tetapi tetap merasuk dalam jiwa.

Mengapa Naruto yakin memilihnya menjadi pendamping?

Paling utama;

Naruto benar-benar mencintainya, 'kan?

Karena sejak dahulu rembulan takkan pernah meminta mentari untuk membalas segala jasanya—memberikan cahaya kepada manusia kesayangan sang surya pada malam gulita dengan percuma. Dengan segala kisah yang berawal dari rasa kagum atas semangat baskara, hingga terus berkembang, dan menyadari bahwa dirinya mencinta. Tak pernah sekali pun Hinata memikirkan bahwa rasa di hatinya akan terbalas—cukup memendam dalam kesendirian; menujukkan rasa berterima kasih pada sang pemuda yang telah menunjukkan jalan lurus pada kehidupannya. Ingin berjalan beriringan dengan sang pemuda—karena melindungi cahayanya. Pun ketika tak sengaja mengungkap rasa; Hinata mengatakannya dengan parafrasa yang akan jauh diterima sang pemuda. Hanya mengungkap, tak berharap kembali rasa.

Pernikahannya dengan Naruto akan menjadi peristiwa terbesar bagi Konoha pada esok pagi, pada musim semi yang memekarkan seluruh bunga sakura. Mengikat janji bersama orang yang dicinta. Lagi dan lagi, Hinata meyakinkan bahwa segala persiapan pesta mereka telah sempurna. Rencana keduanya saat Naruto mengatakan ingin membangun galaksi pada malam penuh memori itu tinggal menunggu besok untuk terlaksana.

Segala rencana pernikahan mereka, impian mereka—pada esok hari akan terlaksana, dengan baik-baik saja. Akan ada banyak manusia saling bersukacita bersama, akan ada pesta dengan cuaca cerah, akan ada banyak makanan enak yang telah dipersiapkan, akan ada lagu-lagu gembira, dan keduanya nan akan benar-benar selalu bersama. Batin demi batin si gadis yang masih Hyuuga berusaha menghindar dari tanya tak terjawab yang makin menghunjam di dada.

Segala kencan yang telah dilewati keduanya; dari percakapan konyol sang pemuda masih berselimut kantuk nan tiba-tiba hadir saat subuh, saling menikmati pagi yang riang, menghindari siang cerah dengan terik bersama, menunggu senja cantik, dan duduk memperhatikan bulan juga bentuk dari bintang-bintang di angkasa. Semuanya adalah memori berharga. Nirwana bagi hatinya.

"Semuanya akan baik-baik saja."

Iya, 'kan?

"Aku akan bahagia bersama orang yang kucinta sejak lama."

Hinata dapat bahagia, 'kan?

Keduanya dapat bahagia, 'kan?

"Naruto-kun, mengatakan akan menghabiskan waktu sisa usia bersamaku. Jika dunia berakhir, orang yang ia inginkan untuk bersamanya juga aku."

Kalau begitu, Naruto—mencintainya, 'kan?

Iya, 'kan?

Di tengah kesendirian dan seluruh retoris gumam dalam batin, Hinata yang berusaha bertumpu pada takdir semesta saja. Semoga, semoga—walau terkadang kekecewaan selalu tiba saat manusia beranjak dewasa.

Pun ketika dirinya memutuskan akan memejamkan mata, mengistirahatkan jiwa dan raga—sebuah suara menyapa dari arah jendela. Familier—bukan ancaman nyata. Justru daripada waspada, Hinata kembali bertanya-tanya;

Mengapa?

Didekatinya sumber atensi, dibukanya perlahan gorden jendela kayu—sebelum pada akhirnya menemukan sepasang manik cerah berwarna langit siang di sana.

"A-aku gugup, Hinata!"

Pemuda itu menangkap halus kedua pipinya, membawa mata lebih dekat dengan mata. "Apa kau gugup?"

Oh, Naruto dengan segala ketidakpekaannya.

"Y-ya—"

"—yang pertama nanti kita akan dibawa ke altar, kita akan bertemu pendeta kuil untuk upacara pengikatan, dan terakhir kita akan menyeruput sake dengan cangkir khusus kemarin masing-masing tiga kali, dari tiga cangkir—sampai totalnya sembilan kali, kan? Iya, 'kan?"

Potongan rambut pendek itu memang tampak meninggalkan kesan dewasa yang makin memperlihatkan pula ketampanan—hanya saja dengan segala ucapan agak konyol yang keluar dari tubir sang pemuda. Tak pernah berhenti membuat Hinata merasa nyaman dan dilimpahi tawa.

"Iya, Naruto-kun," Kecubung pucat bak rembulan yang kini berpendar di angkasa menangkap sebuah kelopak bunga sakura dari kepala Naruto—tak disadari eksistensinya oleh sang pemuda. Mungkin karena terlalu gugup, pada upacara esok hari—seperti yang dikatakan sebelumnya. Dengan perlahan kelopak itu disingkirkan oleh si gadis nila. Hinata mulai merangkai kata-kata jua dalam jiwa raga. "S-semuanya..."

Sang gadis sedikit berbisik ketika melanjutkannya. "...akan baik-baik saja."

Semoga, semoga.

"Ya," Naruto menangkap telapak tangannya—membawanya ke pipi sang pemuda. Hinata yang kembali dijerat nostalgia duka, tetapi hanya sesaat saja. Menghilang ketika Naruto mulai mengecupi buku-buku jemarinya. "Semuanya akan baik-baik saja."

Hening menguar ke dalam ruang Hinata.

"Ya, semuanya akan baik-baik saja."

Naruto tersenyum, baskara yang selalu mampu menjadi pemimpin seluruh planet dalam tata surya. Menenangkan sejenak hati Hinata. Sebelum pada akhirnya, sang pemuda yang bersahabat baik dengan tubir yang selalu bergerak untuk berbicara kembali melantukan tanya. Sebuah tanya yang sempat menghantui sang gadis juga.

"Hinata, kau benar-benar mencintaiku, 'kan?"

Kembali hening sejenak, manik bak rembulan menatap mata biru yang tampak jernih dan dapat dibacanya. Ada sedikit keraguan—hanya sedikit; banyaknya rasa harap; dan didominasi oleh cinta di sana. Hinata pada akhirnya mengangguk dengan senyum di bibir sang gadis nila.

"A-aku mencintai Naruto-kun. Apakah Naruto-kun juga mencintaiku?"

Lagi, jemarinya dikecup—mata saling memandang—Hinata hampir merasa terhisap olehnya. "Ya, ya. Aku sangat mencintaimu, Ratu Bulanku. Aku ingin menghabiskan segala sisa usia bersamamu. Menciptakan galaksi yang bercahaya, membuat banyak bintang-bintang. Ingin melindungi segalanya."

Dengan berani Hinata memajukan lagi wajahnya, mengecup singkat ujung tubir sang pemuda. "Sama. Kita sama. Sebenarnya aku juga gugup dan bertanya-tanya sedari tadi, hingga aku pun belum tertidur. Pertanyaanku sama persis seperti tadi—apakah Naruto-kun mencintaiku?"

"Pertanyaan itu agak konyol. Tentu aku mencintaimu. Sudah kukatan tadi, bukan?"

Senyum lagi-lagi mengembang pada bibir Hinata. "Kalau begitu pertanyaan Naruto-kun tadi juga konyol. Tentu aku sangat mencintaimu."

"Lalu, kenapa kau memilihku?" Kembali safir bertemu dengan kecubung pucat, lantunan tanya kembali terlantunkan sang pemuda.

"K-karena—" Hinata mengambil napas dalam-dalam. "—aku mencintaimu, sama yang sudah seperti kukatakan tadi. Aku ingin berjalan beriringan bersamamu. Aku sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi pada kita nantinya, mau suka ataupun duka."

"Aku pun sama. Persis sepertimu."

"Y-ya, kita akan menjalaninya."

Naruto menghela napas, membawa kembali wajah mereka untuk mendekat—saling menatap dalam tatapan sayu karena cinta. "Besok, besok akan ada banyak orang yang bersenang-senang bersama kita, 'kan? Ada banyak makanan yang lezat, dan yang paling utama—kita akan saling terikat. Iya, 'kan?"

"Iya, akan ada banyak tamu. Semuanya ikut bersenang-senang bersama kita. Ada zenzai—oshiruko sebagai camilan nantinya." Sepertinya senyum memang tak luput dari keduanya. Kehadiran Naruto memang mendominasi rasa di benak Hinata untuk selalu mengukir senyum pada tubirnya.

"Akan ada kue besar cantik untuk Choji sekeluarga." Naruto menyeringai bahagia.

"Huum, kita akan bersukacita."

"Dan akhirnya Hinata jadi istriku."

Pipi gembil itu kembali kemerahan—Hinata yang selalu merona. "D-dan Naruto-kun akan menjadi suamiku."

"Yap, segalanya akan sesuai rencana."

"Dengan baik-baik saja, sesuai rencana."

Dengan tiba-tiba, sang pemuda mengecup ujung bibir Hinata—sebagai balasan yang tadi telah terlewati masa. "Kita akan menjadi keluarga. Menciptakan bintang-bintang."

"M-menjadi galaksi yang bercahaya."

"Saling menemani dan menghabiskan waktu sampai sisa usia. Sampai akhir dunia bahkan."

Benar kata orang dahulu—dari segala rencana, persiapan, dan bincang-bincang manis masa depan sepasang kekasih nan akan menikah; ada satu titik tanya dalam batiniah yang dapat mengguncang segala. Namun, hal itu ialah cobaan bagi keduanya. Jurus ampuh nan jitu menaklukkannya; bicara dan saling terbuka. Saling siap menghadapi segala yang ada di depan sana, menghargai rencana-rencana mimpi keduanya untuk saling mengikat cinta.

Naruto kembali ke huniannya tak lama setelah mendapat jawaban dari segala tanya tentang rasa, pun Hinata nan merasakan hal serupa. Keduanya tertidur, masih dengan sedikit gugup—bagaimanapun besok hari paling penting dalam semesta dan masa bagi keduanya.

Ketika tidur, dalam mimpi Hinata melihat banyak romansa dan kegembiraan di Konoha pada hari pernikahannya. Sama seperti rencana mereka berdua.

Dan kirana cantik nan muncul pada malam itu bak tersenyum geli melihat tingkah keduanya, tak luput pula sedikit bercerita juga tertawa bersama sang baskara saat subuh tiba. Namun, yang pasti—segala rencana dan impian mereka akan terlaksana. Seperti yang tertulis dalam sejarah Naruto dan Hinata.