Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Rated T
Warning(s): (semi) Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.
Untuk #NHMonth2021.
Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
• Hinata Birthday—Pertama •
(Canon)
|•|•|•|•|
Entah apa yang merasuki. Namun seperti takdir semesta, Naruto kala itu dapat menikmati pagi hari. Subuh, bahkan—saat kirana masih dapat dikenali, pun baskara yang belum terlalu meninggi. Dengan dersik nan memainkan anak-anak rambut—mahkota Naruto yang mulai memanjang, sesekali pula memperdengarkan telinga akan rapsodi. Memandang dari jendela nan terbuka pada ruang yang sepi.
Sejauh mata memandang, Konoha terlihat putih.
Ketika berbalik pun, terasa sama—ruang putih-putih dengan bau obat seakan-akan makin menusuk dalam kesendirian. Tindakan konyol Konoha yang menahan sang pemuda di dalam sana, tetapi tak kuasa untuk ditolak dan dibantahkan. Namun, Uzumaki Naruto ialah nama lain dari kenakalan.
Manik biru melirik kalender kecil yang tertera, tanggal 27—kebanyakan masih dalam menikmati hari-hari tanpa kerja. Bersama kawan maupun keluarga. Dan Naruto hanya di sini, dibunuh sunyi—setitik rasa iri menghiasi sang pemuda karena mengingatnya.
Meraih syal setengah harga asli yang dibeli Kakashi sang guru, Naruto melompati jendela—pergi. Menikmati dingin-dingin menusuk tulang dalam sensasi. Bertemu dan terkekeh akan gelengan beberapa Shinobi. Menyapa hangat para manusia-manusia lain pengais rezeki. Setidaknya hal ini jauh sang pemuda sukai, daripada terbunuh sepi.
Lagi, entah apa pula yang merasuki. Semakin jalan dan menyelusuri. Bagai ada tarikan kuat dari hati. Langkahnya malah membawa sang pemuda menuju gerbang Konoha nan sangat sepi. Dan melihat sesosok gadis yang sangat ia kenali.
Anak-anak mahkota nilanya sesekali terbawa angin, menebarkan bau-bau lavendel campur vanili.
Pundaknya yang tampak kecil, tetapi lebih kuat dari baja. Tubuhnya nan paling mungil, memiliki asa sedalam samudra. Segala-galanya yang membuat sang pemuda merasakan euforia.
"Hinata!"
Kata siapa pelangi tak akan muncul pada musim dingin tiba? Hinata membuktikan bahwa pelangi dapat datang kapan saja. Terutama pada tubir manisnya.
"N-Naruto-kun," Selalu rona-rona kemerahan di pipi itu tampak berharga. Dapatkah Naruto melihat itu selamanya?
"Mau ke mana?"
Manik kecubung itu cerah, bagai rembulan yang setia bersinar terang dini hari tadi. "Misi. Ini sedang menunggu Kiba-kun, Shino-kun, dan Akamaru-kun."
"Misi? Saat libur Rinne begini?"
Senyum masih mengurva, Hinata dan segala kebesaran hatinya. "Mau bagaimana lagi? Tugas kita sebagai Shinobi, bukan?"
Lagi dan lagi, Naruto merasa gembira. Menimbulkan sebuah kesan tersendiri dalam hati si Uzumaki, dengan doa-doa batin membumbung tinggi ke udara—supaya kebersamaan yang dirasakannya kini tak cepat berakhir dan sirna.
"Kalau begitu, semoga berhasil. Aku yakin Hinata akan menyelesaikannya tepat waktu." Naruto sungguh menikmati segala reaksi Hinata. Dari mulai tingkahnya yang aneh, pipinya nan memerah-merah, pun terkadang ucapan tersendat darinya.
"T-terima kasih..."
Keheningan sesaat mengudara. Sebelum akhirnya Naruto mengingat sesuatu—memori dari hari-hari nan pernah dilewatinya bersama sang gadis kembali datang ke dalam kepala.
Dua hari setelah festival Rinne, ingatan kecil tentang ucapan-ucapan selamat ketika berkumpul bersama kawan-kawan mereka—
—hari lahir Hinata! Tanggal 27 Desember tiap tahunnya.
"Ah, selamat hari lahir, Hinata!" Berseri-seri, Naruto dengan senang hati mengucapkannya. "Maaf, aku hampir melupakannya."
"E-eh?" Kembali tak bosan-bosan rona itu bertakhta di pipi sang puan. Dibalas dengan senyum tipis pula ketulusan. "Terima kasih lagi, Naruto-kun. Aku tidak menyangka kau mengingatnya."
"Aduh, mana aku lupa membawa hadiah lagi—"
"—tidak usah, kok." Gadis itu menggeleng, poni tebalnya ikut bergerak bak menari-nari lucu. "Diingat saja sudah membuatku senang. A-apalagi..."
Hinata memainkan ujung lengan jaketnya. "Apalagi, Naruto-kun menjadi orang pertama yang mengucapkannya padaku hari ini. Aku sudah merasa cukup."
"Benarkah?" Rasanya ada milyaran kupu-kupu menggelitik perut sang pemuda. Rasanya sungguh menyenangkan dan candu tak terkira. Ingin lagi-lagi merasakan itu selamanya.
Anggukan itu membuat segalanya terasa sempurna.
Dirinya yang pertama!
"Kalau begitu, bolehkah dari sekarang aku menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat hari lahirmu, Hinata?"
•
Masa demi masa. Segala yang terjadi pada semesta. Sebuah asa. Pun dengan seluruh dunia dan seisinya.
Rembulan masih bertakhta, walau kini tampak pudar—hampir tergantikan mentari sang surya. Entah, mungkin keduanya tengah bercinta di angkasa sana. Menikmati dan bercerita segala dari manusia.
Berada dalam dekapannya. Hangat-hangat, mengudara dalam awang-awang ruang mereka. Naruto yang tak ingin melepas untuk selamanya.
Lavendel bercampur vanili—euforia, euforia, dan euforia.
Dikecup-kecup tak puas helai-helai mahkota jingga yang kini memang jauh lebih pendek—demi menjaga bintang-bintang semesta mereka dengan leluasa. Menunggu si empunya membuka mata.
Ketika terbuka—
"—selamat hari lahir, istriku!"
Mungkin Naruto sejak dahulu bukanlah manusia peringkat utama, tetapi kini setidaknya sang pria menjadi selalu yang pertama. Teruntuk mengucapkan selamat pada hari kelahiran istrinya.
Dan semoga akan selalu begitu hingga akhir usia.
