Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): (semi) Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

Red Thread Day—Rajut dan Merajut Asa •

(Canon)

|•|•|•|•|

Kala senja tiba. Baskara turun dari takhta, dan tergantikan oleh si menawan kirana. Naruto dengan seluruh pelangi-pelangi dalam diri, melangkahkan kaki ke arah tempat yang kini akan selalu menjadi tujuan segala dunia sang pria. Rumahnya. Rumah Naruto dan Hinata.

Mungkin tak sempurna. Hanya sepetak apartemen di tengah Konoha—disewa dengan harga murah, belum mampu membangun sebuah istana. Setidaknya, selalu mampu membuat si Uzumaki bahagia.

Dibukanya pintu—ada getaran-getaran hawa manis yang sejak dahulu selalu hadir di mimpinya.

"Aku pulang."

"Selamat datang, Naruto-kun."

Selalu ada euforia ketika Naruto mendengarnya. Bahagia, bahagia, dan bahagia. Mungkin dahulu tak terlalu mulus, sedikit terdapat duka ketika pertama kali merasakan pahit manis jatuh cinta pada istrinya. Namun tak mengapa, toh, Hinata kini bersamanya.

Hingga akhir usia mereka. Pun mungkin menemani hingga akhir semesta tiba jika nyawa masih pada raga.

"Halo, Ratu Bulanku," Dikecupnya tak puas wajah sang wanita. Menciumi lavendel bercampur setitik vanili—unik, tetapi selalu berhasil menenangkan hati si pria. Sedikit pula membungkuk untuk mengecupi perut Hinata—belum terlalu membesar memang, tetapi jelas sudah terdapat sebuah nyawa di dalamnya.

Bintang mereka. "Hai, Bintang Kecil. Apa saja yang kaulakukan bersama Kaa-san hari ini?"

"Halo, Raja Matahari," Oh, Naruto selalu cinta dengan segala perubahan warna di pipi, merona-rona—kini bak merah mirip langit senja di atas sana. "Bintang Kecil siang tadi menjadi anak yang paling manis. Membaca buku dan makan siang dengan baik, lalu tertidur. Kembali bangun saat Tou-sannya datang."

Keduanya tertawa. Hangat, hangat, dan hangat.

"Omong-omong, adakah yang Raja Matahari inginkan untuk makan malam nanti?"

"Ayolah," Sang pria bermahkota pirang kuning bak mentari duduk sejenak pada genkan, melepas alas kakinya. Sebelum menggandeng belahan jiwanya kembali ke ruang tengah—kecil, kalau dilihat secara kasatmata. Namun terlihat besar dan menyenangkan jika dilihat dari semesta mereka. "Aku selalu suka segala masakanmu."

"Lebih dari Ramen Ichiraku?"

Sebuah keterkejutan. Hinata sudah pandai bercanda rupanya. Jahil, tak menyurutkan kehangatan pada wajah sang wanita. "Bercanda."

"Aku tahu," Naruto melepas segala lelah dan penat kepala sejenak setelah mempelajari hukum, politik—seluruh macam yang diperlukan untuk menggapai salah satu mimpinya. Terduduk di sebelah kotatsu, baru dibeli Minggu kemarin, persiapan menghadapi musim dingin yang akan menjadi puncak dalam sepuluh tahun lamanya. Di atas meja berkaki rendah di sana—terdapat camilan, teh hijau hangat, jarum besar rajut, dan sebuah gulungan benang wol berukuran besar; tampak hangat, berserat, dan menghunjam segala memori. "Kau akan merajut lagi?"

"Huum, persiapan musim dingin." Hinata ikut duduk di hadapannya. Rambut nilanya yang ditimpa cahaya senja dari jendela bagai mahkota. "Untukku, Naruto-kun lagi, atau bahkan Bintang Kecil."

Buku-buku jemari Naruto menyentuh gulungan wol merah itu; seluruh rasa nostalgia dan dipenuhi oleh cinta. Pun ketika menangkap syal yang belum sempurna di depan mata. Walaupun satu banding satu triliun, hanya sehelai benang merah yang mengikat di antara jutaan rajutan belum selesai syal istrinya.

Naruto menghargai segalanya.

"Lanjutkan saja kalau begitu," Kini sang pria memilih untuk mengecupi jemari wanitanya. Ada magnet yang kuatnya hampir melebihi semesta untuk saling mengikat mereka. Euforia tak terkatakan yang meledak dalam dada.

Karena dalam tiap rajutan milik Hinata mengandung segala cinta. Asa. Benang-benang wol merah bak takdir cinta kehidupan mereka.

Hari demi hari terlewati, pun tahun yang mulai tergantikan oleh masa. Dua sosok anak kecil sedang tertawa-tawa di atas salju, musim dingin yang hampir membekukan Konoha. Dengan syal merah menghangatkan leher mungil mereka.

Merah-merah—kumpulan benang yang menyatukan segala cinta. Merajut segala asa. Seperti pendahulu mereka.