Naruto, Hinata, NaruHina (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T

Warning(s): (semi) Canon, AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2021.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

Sun and Moon (not) Deities—Belahan Jiwa •

(Canon)

|•|•|•|•|

Dari seluruh realitas di semesta nan luas tak terkira, Naruto hanya berharap agar selalu dipertemukan Hinata. Tak peduli segala rupa, masa—asalkan tetap bertahan dalam satu kata; cinta. Pria itu manusia. Hanya dapat berharap saja. Berdoa merintih tiap harinya agar restu dan takdir Sang Kuasa memang bersama mereka.

Naruto kini menyukai segala waktu, selalu dan selalu mengingatkannya akan sang cinta.

Sang pria suka akan subuh. Waktu di mana malam dan pagi bercumbu peluh. Mentari bertemu rembulan dengan segala hati nan penuh.

Pria itu mendamba pagi. Kirana turun takhta, baskara datang ditemani dersik akan rapsodi.

Naruto juga mencintai siang; mentari yang tersenyum dengan hangat di langit biru sana. Mengingatkannya akan sang wanita nan namanya serupa. Pun dengan manik yang selalu dicintai oleh Hinata.

Si Uzumaki pun tetap cinta akan senja. Sesosok nila yang pipinya senang memerah—mirip dengan langit kala waktu nan disukainya. Senja di mana mentari yang dianggap seluruh agung memberikan segalanya untuk sang rembulan; tahta, peran, jiwa—terutama hatinya.

Tak luput Naruto mencinta dan mendamba malam tiba. Kirana yang berpendar di angkasa. Lembayung nila cantik memesona. Bintang-bintang nan memberi harapan pada manusia.

Jika Hinata ialah rembulan, maka Naruto adalah mentari paling bangga. Membantu memberi pendaran cahaya pada seseorang yang paling-paling dalam semesta. Mencipta bintang-bintang manis dan penuh harap dari segala galaksi yang ada.

Nila bagai langit malam cerah; manik bak cahaya. Apa pun darinya, Naruto terlanjur jatuh cinta pada segala.

Jatuh cinta yang kini berada dalam dekapan. Berbau lavendel bercampur vanili nan menenangkan. Sesekali mengecupi wajah sang puan.

Dan rembulan pada manik terbuka. Memancarkan segala apa yang Naruto inginkan dalam hidupnya.

"Jangan terlalu cepat bangun," Hangat, hangat, dan hangat. "Matahari bahkan belum menuju takhta."

"Namun matahariku sudah bangun terlebih dahulu." Pelangi mengurva pada wajah manis istrinya. Dalam tatapan biru itu—mengandung segala euforia.

Naruto tak tahan untuk mengecup tubir sang istri. "Kini rembulan juga masih bersinar di angkasaku. Mengingatkan waktu manusia untuk bermimpi. Walau segala mimpi sudah ada dalam dekapku. Begitu juga bintang-bintang semesta yang menghiasi rumah kita."

Kembali rona yang hadir di pipi, memang tak lekang oleh waktu.

Keduanya bangun terlambat pagi itu, mencipta segala rusuh sejenak bagi para bintang kecil mereka. Namun tak luput sebuah senyum selalu muncul (entah tipis, kecil, pun lebar) pada tubir ketiganya.

Ya, ya, ya. Entah mentari atau rembulan angkasa. Arunika atau swastamita. Keduanya selalu berharap cinta bersama mereka. Bersama—sebagai belahan jiwa.

Bagai Dewa Matahari yang memberi segala afeksi pada si Dewi cantik Rembulan—katanya.

Ya, mereka memang bukan Dewa, hanya manusia biasa. Namun memangnya harus menjadi Dewa untuk memiliki segala romansa baskara dan kirana dalam galaksi semesta?