"Leona-kun." Sambil berdiri, Leona menoleh ke Rook yang mengulurkan tangannya. "Kembalikan magic pen-ku."
Hah. Padahal Leona sudah berencana menjadikannya souvenir. Apa boleh buat. Singa itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan pen malang itu dari sana. Ia mengayunkannya sesaat di depan wajah Rook, sebelum dikembalikan ke pemiliknya. Tak lupa Leona mencuri kesempatan lainnya dengan membiarkan jarinya mengelus bagian tengah telapak tangan Rook. Sontak hal itu membuat Rook tersentak kaget.
"Jangan lagi dibuat menulis yang tidak-tidak," ujar Leona sambil berusaha melempar beberapa kode dengan kerlingan. Tanpa banyak berkata-kata lagi, Leona langsung turun dan pergi keluar kelas, meninggalkan Rook yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Hei, Hunt. Kami duluan, ya," seru salah seorang teman sekelasnya yang tengah bersama beberapa teman yang lain. "Jangan kebanyakan bengong, nanti kerasukan," lanjutnya lagi yang langsung dibalas tawa oleh teman-temannya. Orang itu pun ikut pergi dan membiarkan Rook sendiri dengan tawa canggung kecilnya.
"… Memang ada yang tidak beres," ia bergumam sebelum akhirnya bergegas menenteng tasnya dan berlari keluar kelas.
…
Jam makan siang keesokan harinya, ganti Rook yang menunggu Leona datang ke kantin. Di kelas pagi tadi, Leona lagi-lagi tidak masuk. Ya, itu memang yang sudah biasa terjadi, tetapi niatnya Rook ingin mencari tahu apa maksud sikap Leona kemarin. Sejujurnya dia sudah punya tebakan, hanya saja Rook tidak ingin langsung memercayainya. Karena Leona tidak masuk di kelas pagi, maka kesempatannya tersisa jam makan siang dan kelas sains setelah ini.
Mulai gelisah karena makanannya mendingin, Rook celingukan mencari sang pangeran kedua. Ia mengambil duduk di tempat yang cukup jauh dari keramaian dan sudah meminta izin agar bisa memisahkan diri dari Vil. Belum lagi ia juga sudah membawa uang lebih, berjaga-jaga jika Leona butuh untuk dipancing dengan makanan. Namun sepertinya singa muda itu memang sedang tak ada niatan untuk keluar dari kamar asramanya hari ini.
Rook menghela nafas dan mencoba untuk tetap tersenyum. "… Apa aku memang harus berhenti mencemaskan ini?"
"Mencemaskan apa?"
Klontang!
Merupakan sesuatu yang langka bahkan hampir tidak mungkin terjadi dalam hidup seorang pemburu seperti Rook Hunt. Ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang menghampiri, hingga membuatnya terkejut dan menjatuhkan sendok yang sudah siap menyuap kuah sup ke mulutnya. Sambil terus mengatur nafasnya yang mendadak tidak teratur, Rook mengambil sendok yang jatuh ke lantai sekaligus melempar senyum pada orang yang sudah mengejutkannya barusan. Orang itu langsung duduk berseberangan dengannya dan tidak kunjung melepaskan tatapan tajamnya dari Rook.
"Bonjour, Roi du Leon! Tidak kusangka kau akan datang untuk makan siang!" sapa Rook sembari mengelap sendoknya dengan tisu. Rupanya orang itu adalah Leona Kingscholar yang ditunggu-tunggu sejak tadi. "Aku tidak melihatmu di kelas pagi tadi, jadi kupikir kau tidak akan datang untuk makan siang juga."
"Siapa yang akan menolak makanan memangnya?" balas si singa santai. Matanya beralih pada makanan Rook yang nyaris tidak ada lagi aromanya itu dan menopang dagunya dengan satu tangan. "Makananmu sudah tidak enak sepertinya, terutama supnya," ia berkomentar kemudian.
Rook tertawa kecil sambil memasukkan suapan pertama sup itu ke mulutnya. "Ya, itu benar. Kenikmatannya sedikit berkurang karena tidak ada lagi kehangatan yang menyelimuti. Namun, sup ini tetap enak! Sayurannya dimasak dengan sempurna, apalagi suwiran daging ayamnya yang terasa lembut di mulut. Bumbunya juga sangat pas. Dingin pun tetap enak!"
"Kayaknya enak banget," komentar Leona. Singa itu memajukan sedikit kepalanya dan menunjuk sup itu dengan telunjuk kanannya. "Mau coba. Suapin."
"… Eh?" Mata Rook berkedip sekali. Otaknya tidak bisa langsung memproses perkataan Leona dan saat sudah berhasil memahaminya, seolah digerakkan oleh tali-tali tak terlihat, tangan Rook bergerak sendiri. Ia menyendok sup dingin yang ada di mangkuknya dan menyodorkannya ke mulut Leona. Terlihat sekali betapa sang pangeran kurang bisa menerima sodoran itu karena terdapat dua potong wortel di atas sendok. Namun, secara mengejutkan, Leona tetap menerimanya. Ia membuka mulutnya dan membiarkan tangan Rook memasukkan sup itu ke mulutnya.
Selama beberapa saat, Rook masih tercengang dengan apa yang terjadi, hingga kesadarannya kembali saat melihat Leona mengelap ujung bibirnya dengan ibu jari. "… Apa enak?" tanyanya kemudian untuk memecah keheningan.
"Hm?" Entah hanya akting atau sungguhan, Leona tampak merasakan makanan yang barusan masuk ke mulutnya dengan mengecapnya beberapa kali. "Mmm … ya, lumayan, kecuali sayurnya," komentarnya setelah membiarkan Rook sendiri dalam kesunyian yang tak berlangsung lama. "Seleramu denganku sepertinya tidak terlalu berbeda."
"Oh … ahaha! Aku tersanjung mendengarnya." Rook berdeham dan berusaha untuk kembali ke dirinya yang biasa. Apa yang barusan terjadi itu biarkan saja berlalu. "Rakyat biasa sepertiku memiliki selera yang sama dengan pangeranku sendiri? Sungguh sebuah kehormatan. Rasa-rasanya lidahku setara dengan bangsawan."
"Aku rasa Hunt bukan 'rakyat biasa'," timpal Leona. "Lagipula, kau tidak perlu khawatir. You'll become one someday."
"Eh?"
"Rotimu itu ada isinya tidak?"
Rook teralih pada rotinya yang ada di atas nampan. Ia mengambil benda bulat itu dan menyerahkannya pada Leona. "Ada, dan kebetulan sekali isinya daging domba. Itu untukmu, Leona-kun! Kita bisa makan bersama!"
Leona menerima roti itu tanpa basa-basi dan menggigitnya dengan gigitan yang cukup besar. "Un." Namun ia menaruh roti itu kembali ke nampan Rook sebelum bangkit berdiri. "Aku beli sendiri saja. Tunggu sebentar, nanti aku kembali," katanya lalu berjalan ke barisan counter roti untuk membeli roti yang sama.
"Oke …." Rook memperhatikan punggung lebar itu dari tempatnya duduk. Ia tidak lagi ingat dengan makan siangnya karena kepalanya sekarang hanya berisi hal-hal yang sulit dicerna yang didapatnya sedari tadi.
Mana mungkin tebakannya itu benar, kan? Ya, kan?
…
Ini sudah ketiga kalinya Rook salah memasang kancing jaket labnya, dan di cobaan keempat barulah kancing-kancing itu terpasang dengan benar. Ia tidak paham lagi dengan hari ini. Semua terjadi begitu cepat hingga otaknya seketika tumpul dan tak mampu lagi digunakan dengan kecepatan yang biasanya.
Tidak, ini bukan hanya hari ini, tapi kemarin juga. Lebih tepatnya ini dimulai dari jam pelajaran terakhir milik Trein. Secara mengejutkan dan tak pernah bisa disangka, Leona Kingscholar yang itu sengaja mengambil duduk di sebelahnya. Tidak sampai di situ, Leona bahkan sampai berani "bermain" dengannya, sampai membuat Rook mengalah dengan permainannya itu.
Lalu tadi siang. Bisa-bisanya seorang Rook Hunt kehilangan kekuatannya mendeteksi mangsa? Apakah ia lupa memasang unique magic-nya pada Leona? Bagaimana bisa ia tidak sadar kalau Leona sudah ada di dekatnya? Singa itu bahkan sudah sampai di hadapannya dengan santai, seakan memang dirinya yang membiarkannya lewat. Setelah itu … setelah itu dia dan Leona makan bersama, sampai suap-suapan pula—walau hanya beberapa kali.
Dan, tahukah kalian kalau tidak hanya sampai di situ? Karena …
"Crewel. Aku mau berpasangan dengan Rook."
… Leona kembali membuat "ulah", dan kali ini di kelas sains. Di kelas hari ini ada tugas yang harus dilakukan secara berpasangan. Rook dan Leona dipisahkan karena biasanya Leona akan menolak jika akan dipasangkan dengan Rook. Namun kali ini, pangeran singa itu justru secara langsung meminta Divus Crewel untuk memasangkannya dengan Rook Hunt.
Lengkap sudah. Dia memutuskan untuk menyerah terhadap keanehan Leona dan fokus pada pelajarannya. Kelas hari ini merupakan kelas terakhir untuk materi sebelum ujian semester. Minggu depan, kelas 3-A masih ada jadwal pertemuan dengan Crewel, tapi mereka akan lebih fokus membahas soal ujiannya, tidak lagi ada kelas. Maka dari itu, jika Rook memilih memikirkan Leona sekarang, materi terakhir yang akan disampaikan bisa saja terlewat.
Rook menarik nafasnya panjang, kemudian membuangnya perlahan. "Tenang, diriku, tenanglah. Fokus, fokus."
"Tidak usah tegang begitu," ujar Leona tiba-tiba dan dia sudah berdiri di sebelah Rook. Mata Crewel tampak mengawasi keduanya, tapi Leona tidak menghiraukan dan fokus pada buku catatan Rook yang terbuka lebar di hadapan. "… Ini catatanmu?"
"Uh? Ah, iya, itu catatanku." Rook mengambil buku itu dan menaruhnya di sisi yang lain. Tak tahu kenapa rasanya agak malu jika memperlihatkan hasil catatannya pada orang yang jauh lebih pintar dan berpengalaman seperti Leona. Bagaimanapun Leona dulu adalah kakak kelasnya, jadi perasaan canggung akan tetap ada walau sedikit.
Rook memamerkan senyum yang jelas dipaksakan. "Tidak pantas diperlihatkan pada Yang Mulia karena tulisan tangan saya berantakan," ujarnya.
"Hah? Padahal aku tidak bilang apa-apa." Leona mengambil kembali buku itu dan membacanya, mengabaikan Rook yang mulai panik dan juga Crewel yang memulai penjelasannya akan materi terakhir mereka. Mata Leona bergerak ke kanan dan kiri, seolah memindai setiap huruf yang berderet di atas tiap lembar buku catatan tersebut.
Fokus Rook terbagi dua antara penjelasan Crewel dan Leona yang masih saja membaca bukunya. Beberapa kali ia mencoba memberi kode pada Leona dengan mencolek lengannya, tetapi Leona tidak menggubris. Perasaannya makin tidak nyaman. Bukan hanya karena rasa malu yang dijelaskan sebelumnya, tapi juga karena Leona memegang barang yang bisa dibilang pribadi. Apalagi di awal tadi, dia sudah terang-terangan menolak Leona untuk melihatnya. Rook sampai menggertakkan gigi-giginya dengan gelisah.
"… Leona-kun?" Leona menjawab dengan gumaman. Rook mengambil kembali bukunya begitu Crewel selesai dengan penjelasannya. "Mohon maaf jika aku berbuat lancang. Hanya saja, ini bukuku. Tidak seharusnya—"
"Ada yang salah di situ."
"… Huh?"
Kembali Leona ambil alih kepemilikan buku itu. Ia membuka beberapa halaman dan menggerakkan magic pen miliknya dengan sihir. Magic pen itu dibiarkan menandai halaman-halaman yang sudah dibukanya dengan goresan-goresan tipis.
"Masih ada banyak sebenarnya," Buku itu Leona kembalikan ke tangan Rook dan akhirnya ia membiarkan si pemilik untuk melihat bukunya sendiri, "tapi aku tandai yang kira-kira berhubungan dengan materi hari ini. Sembari praktik, bisa kau catat ulang bagian-bagian yang sekiranya kurang. Nanti kau bisa tanya aku kalau ada yang kurang paham."
"…" Tanpa sadar Rook membiarkan mulutnya menganga. Ia memang selalu menghargai setiap bantuan yang datang, terlebih jika bantuan itu diterimanya dengan cuma-cuma. Hanya saja, yang kali ini rasanya lebih … lebih ….
"Hunt. Kingscholar."
Rook langsung menegakkan kepalanya ketika mendengar namanya dan Leona dipanggil. Ia bertukar pandang dengan Crewel sebentar sebelum melihat Leona, seolah meminta izin darinya. Tentu singa itu akan membiarkannya pergi jika Rook yang mau mewakilkan mereka. Maka Rook berjalan menghampiri Crewel dengan isi kepala yang masih cukup carut marut.
Saat sudah di hadapan Crewel pun, Rook masih saja susah fokus. Pikirannya masih melayang, mencari-cari jawaban atas segala keanehan yang ada. Sayangnya, tak peduli sekeras apa ia memeras otaknya yang sudah lelah itu, jawaban yang dicari tetap tak kunjung ketemu. Jawaban yang nantinya bisa melawan tebakannya tak sanggup ia dapatkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak ingin memercayai firasatku yang satu ini.
…
Buku catatan kelas sains. Sudah 30 menit berlalu dan Rook tak kunjung menggerakkan tangannya untuk mengambil magic pen dan mulai memperbaiki semua kesalahan yang ada di catatannya. Padahal dia sudah dapat banyak arahan, bahkan Leona juga sudah siap membantu jika Rook butuh pencerahan lainnya.
Saat kelas sains selesai, Leona kembali mengingatkan Rook kalau dirinya siap diganggu. Kapan pun Rook butuh bantuan dalam belajar, sang pangeran akan datang untuk membantu. Mau itu tengah malam seperti sekarang pun, rasanya Leona akan memaksakan bangun untuk membantu Rook (jika dia sudah tidur).
Rook melihat jam di dinding dan, benar, sekarang sudah hampir tengah malam. Tinggal beberapa menit lagi dan jam besar di ruang baca asrama Pomefiore akan berdentang 12 kali. Dan di jam ini pula Rook sadar kalau dirinya masih tidak terlalu paham dengan penjelasan yang diberikan Crewel di kelas tadi. Bahkan bagian-bagian yang Leona sudah tandai pun ada beberapanya yang masih tidak dipahami.
Rook bukanlah tipe yang akan dengan mudahnya meminta teman satu asrama, Vil salah satunya, untuk membantu. Meminta tolong pada Trey Clover yang bisa dibilang teman dekatnya juga dia segan. Semua ini bukan tanpa alasan, tentu saja karena Rook merasa tidak biasa meminta. Biasanya orang-orang yang akan meminta padanya, bukan dirinya yang meminta pada orang lain.
Pemburu itu membuang nafasnya panjang. Tangannya mulai memijat pelipis yang berdenyut akibat otaknya terlalu keras dipakai memikirkan banyak hal. "… Haruskah?" ia bergumam dan matanya melirik ponsel yang tengah diisi dayadi sisi kanannya.
Cukup lama ia memperhatikan benda kotak itu hingga ia tak sanggup menahannya lagi. Dicabutnya kabel charge dari ponselnya dan ia mencari kontak seseorang.
Leona Kingscholar.
Saat nama itu muncul di hadapan, mendadak Rook tidak bisa bergerak. Ia justru terpaku, matanya tidak bisa lepas dari nama yang terdiri dari dua kata itu. Nama yang selalu terukir dalam hatinya sebagai nama yang dikagumi dan dihormati. Kini nama itu justru memenuhi kepalanya selama dua hari penuh tanpa jeda.
Tidak. Tidak hanya selama dua hari, tetapi sudah hampir tiga bulan ini Rook selalu memikirkan Leona.
Alasan kenapa Rook sudah memiliki tebakan, tapi ingin menolak tebakannya itu dan tidak ingin percaya pada dirinya sendiri, adalah karena, sejujurnya, Rook sudah mulai curiga dengan Leona. Ia tidak ingat kapan tepatnya dan tidak bisa memastikannya, tapi dirinya sudah merasakan mata hijau tajam Leona yang seringkali mengikutinya. Kalau ia tidak salah hitung, kurang lebih tiga bulan sudah Leona memperhatikannya.
Di hari-hari awal setelah menyadari itu, Rook belum merasakan kalau Leona akan melancarkan serangan atau apa pun. Semua dirasanya normal dan Rook memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Namun, mata itu terus, terus, terus dan terus mengikutinya. Leona mungkin merasa kalau Rook tidak menyadarinya, tapi sayangnya Rook menyadari itu, dan tak dapat dipungkiri kalau itu cukup mengganggu.
Terutama beberapa hari belakangan ini. Mata itu semakin tidak lepas darinya dan Rook sampai bergadang karena memikirkannya. Dicoba untuk diabaikan seperti sebelumnya pun tidak berhasil karena Rook rasa apa yang Leona lakukan ini sudah semakin berani. Ia berencana untuk menegur Leona—walau rasanya seperti menentang pangeran sendiri, tapi sebelum itu terjadi, Leona justru melancarkan serangan dadakannya. Dan serangan itu dimulai dari kemarin hingga hari ini.
Rook menggigit bibir. Apabila sebelum ini dia dapat dengan mudah mendeteksi setiap pergerakan bahkan menebak isi kepala mangsanya, kali ini tidak. Akalnya tak sanggup membawanya ke ujung dari jalan yang berbelok dan hutan lebat yang menyesatkan.
"Tidak. Sebenarnya … sebenarnya aku tahu ini mengarah ke mana," Rook mencoba mematahkan isi kepalanya sendiri. "Kalau aku mencoba … memakai pemikiran yang tidak menggunakan kepala … alias perasaan, aku sudah tahu apa itu. Tapi … mana mungkin …."
Ya, itu benar. Mana mungkin? Mana mungkin yang dipikirkannya ini benar? Mana mungkin Leona bisa merasakan itu? Mana mungkin pula orang itu adalah Rook?
Mana mungkin Leona Kingscholar menyukai Rook Hunt?
Kriing, kriing
Rook sampai menahan nafas ketika suara nyaring itu terdengar. Ponselnya tiba-tiba berdering di tengah malam yang sunyi. Buru-buru ia mengangkatnya karena takut anak-anak yang lain terbangun, walau hatinya sudah merasa tidak enak setelah melihat nama si penelepon.
"… Halo?" Rook, dengan segala kekuatan yang tersisa, mencoba untuk terdengar tenang. Dia harus bisa menjadi Rook Hunt yang biasanya, meski agaknya mustahil.
"Hei." Ya, sepertinya memang mustahil.
Kenapa pula kau harus punya suara sebagus itu, Leona-kun?! Tak dapat Rook pungkiri kalau suara Leona memang berbeda dengan orang lain. Apalagi di tengah kesunyian yang ada, menambah "rasa" dari suaranya kian kuat.
Rook menelan ludahnya. Tak lupa ia juga menarik nafas yang cukup panjang sebelum menjawab, "… Ah, selamat malam, Roi du Leon. Jarang sekali kau menghubungiku, apalagi sudah larut begini. Ada apa?"
"Justru itu pertanyaanku," balas suara di seberang sana. "Untuk apa kau masih terjaga jam segini? Lampu kamarmu masih menyala begitu. Tidak tidur?"
"… Eh?" Langsung saja Rook berdiri dan berjalan cepat ke jendela. Korden putih yang menutupinya ia singkap dan apa yang ditangkap penglihatannya sontak membulatkan netra. "Leona-kun …?"
Sosok yang cukup tertutup bayang-bayang dari pepohonan di halaman asrama melambaikan tangan. Setelahnya, sosok itu tampak menunjuk ke arah pintu depan. "Turunlah. Aku lupa pakai sapu saat ke mari," katanya.
Sekali lagi Rook melihat jam di kamarnya. Jam 12 lewat lima menit. Kalau dia keluar kamar dan membiarkan anak dari asrama lain masuk di jam ini, jelas sekali melanggar kode etik. Belum lagi Vil bisa saja "terganggu" kemudian terbangun. Namun …
"Cepat turun, hei. Keburu aku ketahuan Vil."
… tubuhnya tidak mau mendengarkan dan bergerak sendiri. Kaki-kakinya langsung melesat keluar kamar dan membawanya menuruni tangga, sebelum akhirnya ia sampai ke pintu depan dengan Leona yang sudah menanti di sebaliknya. Tangannya agak gemetar ketika menggenggam pegangan pintu, kemudian membukanya.
"Lama."
Sosok itu. Ia terlihat sedikit lebih tinggi sekarang. Apa karena Rook yang sedang tidak memakai sepatu boots-nya, sehingga itu membuat perbedaan tinggi mereka semakin terlihat? Mungkin memang seharusnya Rook memakai boots dengan sol yang tidak terlalu tebal. Jadi ketika dia harus berhadapan dengan Leona di saat seperti ini, dia tidak perlu lagi kaget akan perbedaan tinggi mereka.
Ah, apa-apaan, sih? Kenapa malah mempermasalahkan tinggi di saat seperti ini?
Rook menggelengkan kepalanya sejenak, kemudian melempar senyum. Ia berjalan keluar dan menutup kembali pintu di belakangnya. "Astaga, aku kaget. Kenapa kau datang ke mari, Roi du Leon? Merindukanku?" Diam-diam Rook mengutuk dirinya sendiri saat mengatakan yang terakhir.
Kenapa aku malah terkesan sedang memancingnya …?!
"Ya, sedikit."
"…"
Apa katanya?
"Nih." Tiba-tiba Leona menyodorkan sebuah buku tepat di depan wajahnya. Rupanya itu buku tulis dengan nama Leona tertulis di sampulnya. "Malas sekali sebenarnya aku mencatat setiap pelajaran, tapi untungnya aku masih mencatat sedikit dari pelajaran tahun lalu. Ada yang sudah kutambahkan juga setelah selesai kelas tadi. Aku pikir akan selesai setelah makan malam, rupanya malah jam segini. Jadi … maaf kalau agak telat."
Rook menerima buku itu dengan ragu-ragu. Matanya mengerjap berkali-kali, tanda kalau dia tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi. "… Ini maksudnya apa?"
"Hah?"
Rook melihat buku itu sekali lagi dan membuka beberapa halamannya dengan cepat. "Kenapa … kenapa kau memberiku catatanmu, Leona-kun?"
Leona tidak langsung menjawab dan menggaruk belakang kepalanya. "… Bukannya tadi aku sudah bilang? Kalau kau butuh bantuan, kau bisa memintanya—"
"Tapi aku tidak minta?" Rook memotong dan nadanya terdengar cukup tinggi. Sekarang ia sudah kembali melihat Leona dan menenteng buku itu dengan tangan kirinya. "Aku … aku senang kau memperhatikanku, Leona-kun. Senang sekali. Hanya saja, bukankah ini merepotkanmu? Apalagi sampai jam segini. Ini sudah lewat dari jam tidurmu, kan? Yah, jam tidurku juga, tapi—"
"Rook."
Seolah diberi sihir, Rook tidak bisa melepas matanya dari Leona. Tubuhnya kaku, bahkan ketika tangan kiri Leona menggenggam tangan kanannya saja ia tidak bisa menolak. Bukan, bukan karena tidak mau, tapi karena memang tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Mereka terus diam seperti itu entah untuk berapa lama. Sepertinya sebentar, tapi Rook merasa kalau itu lama sekali. Ia bisa merasakan elusan ibu jari Leona di punggung tangannya. Saat Leona melakukan itu barulah Rook sadar kalau keduanya sedang tidak memakai sarung tangan masing-masing. Itu berarti mereka bersentuhan secara langsung; kulit dengan kulit. Dan anehnya, itu membuatnya nyaman.
Mereka tak saling bicara dalam waktu yang lama. Sekarang barulah Rook yakin kalau yang kali ini tidak sebentar. Ini memang lama, dan yang mereka lakukan hanya sesekali saling pandang, mengendus aroma masing-masing,juga bertukar elusan di tangan. Tak bisa dipungkiri kalau, perlahan, Rook merasa ingin berhambur ke dada Leona dan membiarkannya semakin memberi afeksi. Apa yang mereka lakukan ini masih lah kurang.
Masih …. Rook butuh lebih, tapi dia tidak bisa mengatakannya.
"Rook." Suara itu memanggil namanya lagi, membuat matanya tak sanggup menolak untuk kembali bertatapan dengan miliknya. Warna hijau yang lebih terang darinya, dan Rook melihat ada kilatan yang muncul dari sana. Entah itu perasaannya saja atau bukan, Rook tetap yakin kalau ia melihat kilatannya.
Dengan lembut Leona mempertemukan keningnya dengan Rook. Tatapan keduanya semakin dalam, kian senyapkan sekitar. Hanya gemerisik dedaunan yang sesekali mereka dengar. Tak ada yang berani membuka mulut, pun memisahkan diri. Seolah mereka saling membutuhkan dan enggan berhadapan dengan realita.
Tidak. Belum.
"…" Huh? Sepertinya Leona ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya terbuka, walau masih tak ada suara yang keluar. Sedang Rook tetap diam, menunggu apa yang sekiranya ingin Leona katakan. Dia akan mendengarkannya, apa pun itu.
Apa pun.
Sayang sekali. Sudah hampir lima menit berlalu dan kata-kata yang ditunggu tak kunjung tiba. Mau tak mau Rook harus menerima kenyataan Leona yang menolak untuk bicara. Yah, meski rasanya agak mengganjal dan dia ingin menagihnya, Rook diam-diam bersyukur juga karena waktu tenang mereka tidak jadi terganggu.
Setelah yang terjadi barusan, Leona memajukan wajahnya. Rook seperti tahu apa yang akan terjadi, dan hatinya inginkan itu. Ia tidak mau menolak dan mau menerimanya dengan tangan terbuka. Namun sisi lain dirinya beranggapan berbeda, sehingga membuatnya menjauh dan menolak itu. Secara tak langsung, Rook telah menolak apa yang ingin Leona lakukan, dan juga apa yang hatinya inginkan.
"… M-maaf." Rook melepaskan genggaman tangan Leona dan berjalan mundur ke pintu. "Ini ... ini sudah semakin larut. Aku takut kalau lebih lama dari ini, Vil akan bangun dan … dan melihatmu. Um … a-aku rasa …."
Tampak jelas raut kekecewaan di wajah Leona. Meski begitu, singa itu mengangguk paham. "Ya … kau benar."
Ragu-ragu, Rook ikut menganggukkan kepala dan menarik kenop pintu. "… W-we call it night, then?"
Leona ikut mundur dan mempersilakan Rook untuk masuk. Jika pemburu itu memang ingin segera meninggalkannya, maka Leona tidak bisa memaksa. "Cepat masuk kalau memang mengkhawatirkan Vil."
"… Ah, ya." Rook membungkukkan tubuhnya untuk yang terakhir sebelum benar-benar masuk, membiarkan Leona sendiri di luar sana. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kayu besar itu, kemudian tubuh itu perlahan turun hingga ia sepenuhnya menyentuh lantai. Piyama kesukaan pemberian Vil yang sangat dijaga dari segala macam kotoran, tak lagi ia hiraukan apabila ada debu yang nantinya menempel di sana.
Rook tak lagi peduli. Kepalanya sudah kosong, sangat kosong dan isinya tinggal Leona Kingscholar. Rambut itu, mata itu, bibir itu … semuanya. Tak pernah terpikirkan, sekalipun dalam hidupnya, bahwa ia akan selemah ini bila sang pangeran telah "bekerja".
Yang benar saja? Firasat dan tebakannya tepat sasaran? Ia mencoba memakai akal sehatnya untuk mencerna apa yang terjadi tadi …
… tapi, tidak. Jelas-jelas yang tadi itu tidak bisa dijelaskan dengan akal pikiran. Mana ada seseorang yang menatap orang lain dengan tatapan seperti itu? Apabila Leona mangsanya, tatapan itu bukan yang seharusnya Rook terima. Tak pernah ia dapat mangsa yang melihatnya seperti itu. Genggaman tangannya tadi juga terasa berbeda. Setiap elusan yang diberikannya bahkan sampai membuat Rook membalasnya secara tanpa sadar. Belum lagi apa yang ingin Leona lakukan di akhir tadi.
Ya Tuhan ….
Yang benar saja ….
"Huh … aku harus apa …?"
