R18
…
Genangan yang ditemuinya kemarin mungkin memang petunjuk kalau kolam air yang sesungguhnya sudah dekat. Namun, sudah ada tiga kolam yang dilihatnya siang ini dan ketiganya masih lah fatamorgana.
Tidak ada yang asli. Semua bayangan. Di titik ini pun Leona jadi mempertanyakannya: apa benar ada kolam air di tengah gurun pasir seperti ini? Terlebih jika kolam itu seindah yang ada dalam cerita rakyat.
Seperti yang tengah dilihatnya sekarang. Di ujung sana, terdapat bayang-bayang pepohonan rindang dan rerumputan yang seperti mengelilingi sesuatu. Ini kali keempat ia melihat bayangan seperti itu, dan tiga sebelumnya adalah fatamorgana. Maka, untuk yang kali ini, Leona tidak berharap banyak dan mulai berhati-hati dengan perasaannya supaya tidak merasakan kekecewaan.
"Aku tidak ingin berharap banyak, tapi semoga yang kali ini …."
…
Tak dapat Leona lupakan. Bagaimana cahaya hijaunya memancar dari jendela, serta lampu kamar yang membuat Leona bisa melihat dengan jelas piyama seperti apa yang tengah dikenakan. Belum lagi ketika akhirnya orang itu datang dan membukakan pintu untuknya. Sosoknya tampak sedikit lebih pendek dan entah bagaimana, orang itu tidak terlihat sekuat biasanya. Penuh rasa lengah juga keingintahuan.
Ah, betapa Leona ingin sekali langsung memberinya pelukan. Sebuah pelukan erat dan hangat, dan ia juga berpikiran untuk langsung membawa orang itu pergi dari sana. Ke mana pun, yang penting hanya berdua.
Sayangnya tidak bisa. Leona tidak bisa menuruti semua kata hatinya begitu saja dengan gegabah, apalagi kalau tindakannya nanti bisa membuat sang lawan ketakutan.
Dia tidak bisa. Dia tidak mau itu terjadi.
Itulah kenapa Leona harus berhati-hati jika ingin orang itu jatuh ke dekapannya suatu hari nanti. Maka, bisa sampai bergenggam tangan, beradu pandang, bahkan mengendus aromanya saja sudah lebih dari cukup. Setidaknya untuk hari ini, Leona bisa merasa puas, walau memang tak dapat dipungkiri kalau ia inginkan lebih. Ia sudah berhasil membuka jalan dalam dua hari ini, dan secara mengejutkan, Rook tampak "menerimanya". Ia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan yang sudah datang.
Aaah, betapa manisnya Rook Hunt. Leona sampai tak sanggup menghentikan pergerakan tangannya pada benda yang sudah berdiri itu.
Ya. Dia melakukannya lagi.
Aroma Rook yang ditangkap hidungnya dari setengah jam lalu masih sangat melekat kuat. Ia bisa mengingat dengan teramat jelas betapa manisnya aroma sang pemburu.
Manis. Manis sekali.
Penampilannya pun tak kalah manis. Apa-apaan dengan dress itu? Leona kira Rook bukanlah tipe yang suka memakai piyama ala Vil Schoenheit. Oh, mungkinkah dia memakai itu karena Vil yang meminta? Dan haruskah Leona kembali berterima kasih pada sang kepala asrama Pomefiore jika itu benar?
"Heh … sialan." Leona kian menambah kecepatan. Tanpa kenal lelah, tangannya terus memberikan gerakan naik turun, mempersilakan kepalanya untuk membayangkan semua yang diinginkan terhadap sosok Rook yang baru didapatnya tadi.
Sorot mata itu. Bibir ranum tipisnya. Hidung mancung dengan sedikit semburat merah yang menjalar ke pipi. Aroma manisnya yang entah secara pasti berasal dari mana. Tangan kuat seorang pemburu yang tanpa disangka cukup lembut, bak anak yang selalu main di dalam rumah.
Oh, Tuhan … betapa Leona Kingscholar ingin memburu dan memangsanya segera.
"Ugh …!" Hari lainnya bersama bayangan, akhirnya selesai. Rasanya Leona jadi semakin gila, tapi dia dengan ajaibnya bisa menikmati ini semua.
Tinggal sedikit lagi … tinggal sedikit lagi sampai ia berhasil menangkap pemburu lincah itu. Terhitung cepat memang, dan Leona juga agak kaget ketika ia bisa sampai ke tahap seperti itu dengan Rook tadi. Seolah Rook sendiri sudah tahu kalau hari dimana mereka akhirnya bersama akan tiba, atau setidaknya dia sudah tahu kalau Leona telah mengincarnya.
Yah, tapi Leona bisa apa? Dia justru merasa berterima kasih karena ternyata jalannya dipermudah. Kalau Rook sudah tahu atau menebak jalan pikirnya, bukankah dia jadi bisa dengan cepat mengungkapkan perasaannya?
Kemudian akhirnya bisa menyatukan mereka berdua?
Singa itu menyeringai. Ia membersihkan sisa-sisa ejakulasinya sambil bersiul kecil. "Akan kucium kau seharian jika waktunya tiba, Rook," ujarnya dengan suara rendah. Nadanya terdengar seduktif, seolah ada Rook di hadapan. "Tapi sebelum itu, belanja beberapa pakaian lucu sepertinya tidak buruk. Kau pasti akan terlihat lebih manis dari yang aku ingat, sayang."
…
"Rook."
Kertas-kertas dalam genggaman berhamburan. Seketika mata Rook membelalak dan dia langsung merapikannya kembali. Perasaan gugup yang sangat jarang datang, mendadak menghantuinya.
"… Kau baik-baik saja?" tanya Vil. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran melihat wakilnya yang bertingkah aneh sejak sarapan tadi. "Berikan laporan anak-anak padaku. Biar aku saja yang urus—"
"Tidak." Buru-buru Rook menolak dan menggelengkan kepalanya agar makin meyakinkan. Ia memaksakan senyum, berjaga-jaga kalau responsnya barusan tidak ditanggapi dengan baik oleh Vil. "Aku … hanya kurang tidur. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Santai saja, Vil. Pasti akan selesai sebelum jam pertama dimulai."
Vil tidak langsung menjawab. Manik kecubungnya menelusur, berharap dapatkan sesuatu dari gerak-gerik sang kawan yang mencurigakan. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Apanya?" Rook merapikan kertas-kertas itu di atas meja di sebelah Vil.
"Semalam," Tangannya menopang dagu, masih memperhatikan Rook dengan seksama, "Leona ke mari, kan? Lalu kau keluar untuk menemuinya. Tak kusangka kalian 'dekat' begitu, sampai Leona merelakan jam tidurnya untuk datang."
Cukup dari reaksi Rook yang membatu. Ya, itu cukup, lebih malah, karena sekarang Vil tahu kalau ada yang sedang tidak beres antara temannya dan ketua asrama Savanaclaw yang menyebalkan itu.
Sejauh yang ia tahu, Rook dan Leona berasal dari kampung halaman yang sama. Ya, sejauh itu saja. Makanya ia bingung kenapa bisa mereka jadi "sedekat" ini. Apalagi Leona yang datang duluan, tengah malam pula. Untuk apa? "Sepenting" itukah urusan keduanya sampai tidak bisa ditunda besok? Toh mereka sekelas.
"… Kau ingin camilan pagi, Vil?"
"Haah?" Sebelah alis Vil menukik tajam. Bisa ia rasakan urat di sekitar lehernya mengeras setelah mendengar kata camilan. "Kau pikir aku siapa? Menawariku camilan di pagi hari? Aku? Kau bercanda, Rook?"
"Haha! Ya, aku bercanda." Apa-apaan? Rook malah tertawa sambil menggaruk pipinya. Kenapa? Dia canggung, kah? "Kau juga sedang diet. Bodohnya aku mengatakan hal yang tidak masuk akal."
Vil manggut-manggut setuju. "Ya, bodohnya kau, dan bodohnya aku berharap kau mau cerita soal hubunganmu dengan Leona—"
"Oke, sebentar lagi bel masuk." Rook mengangkat kertas-kertas yang sudah dijadikan satu bundel. Digerakkan ke kanan dan kiri, seakan ia tengah berlambai dengan itu. "Aku duluan, ya, Vil? Kita lanjut diskusi nanti saat makan siang."
"What? Hei! Rook!" Percuma. Lari pemburu itu sama sekali bukan tandingannya. Tidak, Rook bahkan tidak berlari lagi, melainkan sudah terbang dengan sapu yang entah didapat dari mana. Ia melompat keluar jendela seperti itu hal yang biasa (dan memang biasa dia lakukan).
Vil membuang nafasnya dengan kasar. Bahkan ia sampai nyaris melempar vas bunga di sampingnya jika tidak ingat kalau dia harus sabar. "Tidak. Usahakan untuk tidak terbawa emosi dan membuatmu stres. Tidak baik untuk kulit," ia merapalkan kalimat pengingat beberapa kali sampai dirinya berhasil tenang.
Ia mengambil ponsel dari sakunya untuk mengecek jam. Rupanya pemburu itu tidak berbohong. Memang sudah waktunya untuk bersiap ke kelas. "… Aku terjebak antara ingin memukulnya atau berterima kasih padanya." Kemudian Vil ikut bergegas keluar dari aula asrama. Urusan ini kesampingkan dulu. Ada hal lain yang lebih penting yang harus ia lakukan.
…
Leona berpikir sekarang. Apakah yang dilakukannya kemarin berlebihan? Karena saat ia tiba di kelas, Rook masih belum ada. Padahal dia juga sudah mengosongkan tempat duduk di sebelahnya, spesial untuk pemburu itu. Namun, ketika Rook datang dengan terlambat pun, lelaki itu menolak untuk duduk di sebelahnya. Bahkan dia juga menolak untuk melihat Leona—di saat Leona yakin kalau Rook tahu dia duduk di mana.
Apa yang dikatakan Trein di depan sana tidak ia dengar. Yah, peduli apa? Toh itu yang biasa dilakukannya setiap hari. Lagipula, perasaannya terhadap Rook Hunt adalah yang terpenting sekarang. Ia harus mengutamakan masalah pribadi ini ketimbang tugasnya. Sesuatu yang jelas terdengar terbalik, tapi persetan.
Ponsel dikeluarkan dari saku dan matanya sudah sepenuhnya fokus ke layar. Deretan huruf yang membentuk kata dan kalimat ia perhatikan sekali, dua kali, sebelum akhirnya ia menekan tombol send. Terserah orang yang dikiriminya pesan ini membacanya saat istirahat atau bahkan pulang nanti, yang penting Leona sudah mengirimkannya duluan—oh, tapi sepertinya orang itu sudah menyadari ada pesan baru yang masuk dan tengah membacanya.
Dengan tangan yang sedari tadi menopang dagu, Leona sedikit memanfaatkannya untuk menutupi mulut. Sesamar mungkin agar orang yang duduk cukup jauh di bawah sana tidak menyadari perubahan raut wajahnya. Maa, itu pun kalau dia berkenan melihat ke belakang.
Sementara itu, Rook, orang yang mendapat pesan dari Leona, mulai bergetar tangannya. Beruntung matanya tajam sehingga ia tidak perlu sampai mengangkat ponselnya atau bahkan menunduk dalam-dalam hanya agar bisa membaca pesan yang ia dapat. Dan apa yang matanya baca ini sama sekali bukan hal yang menyenangkan, setidaknya untuk di keadaan seperti ini.
Leona Kingscholar ingin menemuinya. Di tulisannya ia mengatakan kalau ada hal yang ingin disampaikan. Meskipun Rook sudah bisa menduga "hal" apa itu, tetap saja Rook tidak inginkan ini. Setidaknya untuk sekarang, Rook ingin menjauh dulu dari Leona. Perasaan dan pikirannya sedang tidak dalam kondisi prima, ditambah sebentar lagi ujian semester tiba. Kalau dia sampai ada kegagalan di ujian ini, maka dirinya akan dapat kesulitan di kelas empat nanti.
Real life adalah segalanya bagi Rook. Dia punya tanggung jawab untuk menjadi murid yang baik demi nama keluarga. Ya, itu yang selalu di pikirannya, dan itu yang ingin ia lakukan. Namun Rook tidak bisa memungkiri sisi lain dirinya yang ingin "meluruskan" persoalan ini.
Haruskah? Haruskah ia terima permintaan Leona dan menemuinya nanti? Apakah ini penting? Apakah masalah ini tidak akan berdampak pada kehidupannya, terutama belajarnya?
Akh, sakit sekali kepalanya sekarang. Dia tidak tahu lagi harus menurut sisinya yang mana. Namun, setelah beberapa menit berlalu, Rook akhirnya memutuskan untuk ikut salah satunya; dia tetap akan berusaha menghindari Leona dan mencoba melupakan masalah ini untuk sekarang.
Drrt, drrt
Sial. Pesan lainnya yang langsung Rook tebak dari Leona, dan sekarang Trein jadi meliriknya sesekali. Sudah jelas sekali kalau dia mendengar getaran ponselnya barusan, atau bahkan sejak yang pertama tadi.
Rook menghela nafasnya lelah dan kembali menarik ponselnya keluar dari laci meja. Matanya mencuri-curi ketika ada kesempatan dan mendadak perasaan lega memenuhi dada. Rupanya itu bukan Leona, melainkan Vil. Sungguh sesuatu yang sangat jarang terjadi hingga rasanya Rook ingin mengabadikannya dalam bentuk screenshot. Namun bukan itu masalahnya sekarang.
Jika Vil Schoenheit sudah menyempatkan diri bahkan sampai melawan aturan sekolah dengan bermain ponsel di jam pelajaran, tandanya itu adalah sesuatu yang sangat penting. Lelaki itu tidak bisa menundanya lagi dan apa yang ada di kepalanya harus segera terlaksana. Salah satu contohnya tentu saja apa yang tengah terjadi pada Rook sekarang. Vil mengirimnya pesan dengan isi yang sangat memaksa Rook untuk menemuinya saat makan siang. Meski yakin 100% kalau Vil akan menanyainya ini dan itu, entah kenapa Rook lebih memilih bersama Vil daripada Leona.
Ponselnya ia matikan, menolak pesan-pesan lainnya—yang bisa saja dari Leona—setelah ini untuk datang. Rook sudah merasa lebih tenang dan seperti kembali berdiri di atas kedua kakinya.
Ia menghela nafas sekali lagi. "Tenang, you'll be okay, me. Tenang." Kepalanya ditegakkan, matanya kembali fokus pada Trein yang tampaknya sudah memaafkannya.
Leona, yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Rook, mendecakkan lidah. Air mukanya berantakan. Ia sungguh tidak senang akan respons Rook yang seakan menolaknya. Dan, ya, sepertinya dirinya memang tertolak.
…
Cepat. Cepat. Rook merasa terberkati karena kakinya merupakan aset yang berharga. Tak hanya berguna saat hendak berburu, tapi juga di saat-saat kabur dari kejaran orang seperti ini. Dengan lawan sekuat bangsawan pun, mereka bukan apa-apa jika harus berhadapan dengan kecepatan larinya.
"Singa memang cepat, tapi begitu juga kijang," gumamnya sembari memperhatikan betapa Leona yang masih mencoba mencari ke sana ke mari. Sayang sekali, Rook sendiri sudah tidak ada di tanah. Pemburu muda itu sudah naik ke atas pohon dan melompati satu demi satu pohon yang ada di perkarangan sekolahnya hingga membawanya sampai ke kantin.
Dalam sekali lompatan, Rook Hunt kembali memijak tanah. Kalau boleh jujur, berada di antara pepohonan rasanya berkali-kali lipat lebih aman. Namun tak dapat dipungkiri bahwa berdiri di atas tanah masih lah yang terbaik. Terkadang Rook berandai-andai kalau ia terlahir sebagai seekor burung.
Dadanya membusung tanpa disadari. Perasaan bangga mulai menyelimuti diri. "… Maafkan aku, Leona-kun, tapi ini memang bukan saatnya." Langsung Rook masuk ke dalam dan mencari di mana Vil berada. Syukurlah lelaki cantik itu masih di sana, menunggu di meja yang berbeda dua meja dekat counter makanan.
"Vil!" Rook menyapa begitu dirinya sampai di dekat sang ketua. Wakilnya itu bermandi keringat, tapi memamerkan senyum lebar dan cerah, membuatnya mengerutkan kening tanpa disadari. "Kenapa, Vil? Kau terlihat … bingung."
"Ya, tentu saja aku bingung," jawabnya cepat. Ia memberikan sebotol air mineral pada Rook yang langsung diterima wakilnya dengan senang hati. "Aku memang sudah terbiasa melihatmu mandi keringat begitu, tapi ini pertama kalinya aku melihat kau seperti dikejar-kejar. Apa lagi yang kau lakukan kali ini?"
"Oh, tidak. Tidak ada." Rook mengangkat botol di tangannya dengan senyum yang semakin lebar. "Terima kasih airnya. Kau sungguh perhatian dan baik hati, Vil. Sesuai yang diharapkan."
Vil memutar bola matanya. "Jadi?"
"Jadi?" Rook malah membalikkannya. Ia membuka tutup botol air itu dan menenggak isinya. "Wow. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan air putih setelah olahraga di siang hari, huh."
"Rook."
Yang dipanggil malah tertawa saat ia menutup kembali botol itu. "Maaf, Vil. Aku terlalu banyak bercanda sepertinya. Jadi? Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Masih sama dengan yang tadi pagi, tentu saja," mulai Vil yang kembali duduk di kursinya. Rook yang melihat itu juga ikut duduk, berseberangan dengan sang ketua. "Ya, mungkin agak dirombak saja pertanyaannya. Aku sudah mendapat bayangan ada apa di antara kau dan Leona, tapi aku hanya ingin tahu satu hal." Hunter green Rook dipaksa untuk bertemu dengan kecubungnya, dan untungnya pemburu itu tidak menolak. "Bagaimana kalian bisa bersama?"
"Aku tidak bersama dengannya," balas Rook diikuti dengan gelengan kepala. "Kalau yang kau maksud adalah hubungan yang ke arah 'sana', maka aku tidak ada apa-apa dengannya. Kami murni hanya teman sekelas yang berasal dari kampung halaman yang sama. Terlebih, dia pangeranku. Aku hanya rakyat biasa."
Apa yang dikatakannya memang masuk akal, tapi Vil tidak bisa percaya begitu saja. Bukan berarti dia mau mengganggu masalah asmara orang lain. Hanya saja, yang terlibat di sini adalah teman baiknya. Belum lagi "lawan" temannya ini adalah orang yang selalu masuk rekomendasi paling akhir di setiap kondisi, setidaknya menurut Vil. Rasanya akan jadi penyakit di kemudian hari kalau dari sekarang Vil tidak mengambil tindakan.
"… Kau tahu kalau dia bukan orang baik, kan, Rook?"
Terlihat raut tidak suka dari Rook sekarang. Ini sesuatu yang langka dan baru pertama kali Vil melihatnya. Rook tidak suka pembahasan ini dan ia mau menyudahinya. Namun Vil tidak mau.
Rook membuang nafasnya perlahan sebelum akhirnya berkata, "Sudah kuduga pilihanku ini bukan pilihan yang baik, tapi setidaknya aku hanya harus berurusan denganmu, Vil."
Kening Vil kembali berkerut. "Hah? Maksudmu?"
"HEI, PEMBURU ANEH! ROOK HUNT!"
Refleks Rook berdiri dari duduknya. Ia melihat Vil sekilas dan berujar rendah, "Aku harus pergi. Maaf, Vil, tapi terima kasih atas 'sarannya' tadi." Setelah itu, Rook langsung melesat meninggalkan kantin, melewati beberapa orang yang menutupi pintu yang mengarah ke gedung utama sekolah.
Tak lama, sosok lainnya muncul dari pintu tempat Rook tadi pertama kali datang. Vil menatap sosok itu dalam diam dan membiarkan manusia bertelinga singa itu datang menghampiri dengan geraman.
"Di mana dia?" tanyanya begitu sampai di hadapan sang model ternama.
Santai dan tanpa rasa takut, Vil melipat tangan di depan dada. Ia juga berani mengangkat dagu tanda menantang. "Kenapa kau sangat ingin bertemu dengannya? Aku tidak paham."
Nyaris Leona melempar puding buah yang kemungkinan besar milik Vil di atas meja. Lelaki itu berjalan menjauh sambil tidak melepaskan matanya dari sang putra Schoenheit. "Ini bukan urusanmu dan aku harap kau menjauh dari daging incaranku."
"Apa?" Namun, belum sampai ia bertanya lebih lanjut, sosok Leona sudah terlebih dulu bersatu dengan kerumunan orang. Ia pergi ke arah yang sama dengan Rook pergi tadi dan itu cukup membuat Vil membelalakkan mata.
"Haaah? Ada apa dengan semua orang, sih?!" teriaknya frustasi yang langsung menarik perhatian seluruh pengunjung kantin.
…
Seperti yang sudah biasa ia lalui, Rook memantau keadaan sekitar. Dia tahu kalau yang sedang dikejar di sini adalah dirinya, tapi rasanya kurang lebih sama dengan saat ia berburu di alam liar. Sama-sama membuat berdebar, nafas sulit diatur, bahkan ekspresinya saja sudah tidak bisa lagi diperintah. Bibirnya sejak tadi bergerak membentuk senyum semaunya, dan Rook tidak ada pilihan lain selain membiarkannya.
"Aku tahu aku tidak seharusnya lengah," Ia mengambil sebungkus roti dari balik jasnya dan mulai memakannya, "tapi perutku sudah menangis sejak tadi. Untungnya sempat ambil satu roti dan meninggalkan uangnya di counter." Senyumnya kian lebar ketika selai yang ada di dalam roti menyapa indra pengecap. "Mm, enak."
"Enak, ya?"
"Uhuk, uhuk!" Oh, Tuhan. Tinggal sedikit lagi tenggorokannya diisi satu gigitan besar roti. Kalau itu sampai terjadi, dalam hitungan detik ambulans akan langsung dipanggil ke NRC sepertinya.
Rook melihat ke bawah, dan ia tak kuasa menahan ekspresi lelah ketika ia melihat singa yang memburunya tengah berdiri sambil berkacak pinggang tepat di bawah pohonnya. Dia bisa saja langsung melompat ke pohon yang lain dan kembali melakukan misi melarikan diri, tapi sepertinya akan percuma. Singa itu sudah terlanjur tahu keberadaannya dan merupakan hal kecil jika hanya untuk naik ke atas pohon kemudian menangkapnya. Betapa sialnya ia hari ini.
Berusaha tetap tenang meski kentara jelas tidak bisa, Rook menggigit rotinya lagi dan tersenyum selebar mungkin. "Oh, bonjour, Leona-kun! Hari yang cerah untuk berburu, benar begitu?"
"Yeah, you're right." Leona balas tersenyum dan jelas rasanya berbeda dengan yang diberikan Rook. Singa ini tengah memilih tempat mana yang enak untuk mulai memangsa kijangnya. "Omong-omong, berkenan kau turun dari sana, Tuan Hunt? Aku ada sedikit masalah dengan peralatan berburuku."
"Begitu?" Leona mengangguk. Jelas sekali ini hanya basa-basi, tapi tidak tahu kenapa Rook jadi ingin meladeninya dan "bermain" dengannya sejenak. "Alat apa itu, kalau boleh tahu? Busur? Senapan? Atau mungkin kau ada masalah dengan pisau yang digunakan untuk menguliti mangsamu?"
Singa itu berjalan mendekat. Seringainya muncul, membuat Rook merinding sekujur badan. Dia sampai lupa dengan rotinya dan sepertinya dia sudah tidak berpikir untuk menghabiskannya.
"Alatnya ada di kamarku kalau kau mau lihat," ucap Leona kemudian. "Tapi, yah, sepertinya jangan. Belum saatnya aku perlihatkan karena niatnya aku ingin menghabiskan waktu, berdua, yang tenang, dengan mangsaku."
Gila sudah. Rook terjebak. Di sisi lain, ia ingin sekali tahu "rahasia" Leona (bisa masuk ke kamarnya itu terdengar seperti memenangkan lotre), tapi di sisi lain juga, dirinya tidak mau untuk turun dari pohon. Dia bukan kijang yang pemberani untuk sekarang, kalau boleh mengaku. Aneh, tapi Rook bisa merasakan gigi-gigi dingin singa itu menempel di kulit lehernya, bersiap merobeknya kapan saja.
"Rook." Di saat pikirannya sudah berlarian ke segala arah, ketika dirinya sudah dibuat takut seperti anak kecil bertemu hantu, justru suara lembut Leona yang menariknya kembali ke kenyataan. Singa itu tidak lagi terlihat garang. Dia sudah melunak dan tampaknya sangat jinak.
Rook menggaruk kulit pohon di sampingnya dengan kuku. Ia terus melihat Leona yang entah bagaimana sudah melebarkan tangan. Apa dia bermaksud menangkap Rook atau semacamnya?
"Rook," ia memanggil sekali lagi. Suaranya masih selembut sebelumnya, tapi kali ini terasa sedikit mendesak. "Turunlah," Sorot matanya meyakinkan, seketika menghilangkan segala keresahan dalam hati sang pemburu yang ketakutan, "aku akan menangkapmu. Tidak apa, kau tidak akan terluka."
"…" Rook masih tidak merespons. Namun, hanya dari matanya, Leona tahu kalau Rook sedang berpikir. Mungkin dia menimbang apakah sudah saatnya untuk menyerah? Apakah ini memang sudah waktunya? Haruskah ia menurut pada Leona pada akhirnya?
Dan seakan persetan dengan itu semua, dan seolah lupa kalau tadi dirinya tengah dilanda ketakutan tanpa henti, Rook lompat. Dia melompat, mempercayakan semuanya pada Leona, dan membuat singa itu harus menanggung beban tubuhnya yang ditarik gravitasi. Kaki sang singa sampai nyaris tumbang karena harus menahan bobot tubuhnya yang ternyata tidak seringan yang dikira.
"… Kau berat."
Rook tertawa seraya mengeratkan pelukannya pada leher Leona. Tak ketinggalan ia melingkari sang singa dengan kedua kakinya, membuat tubuhnya menempel seperti koala. "Tapi kau menangkapku. Marvelous, Leona-kun!"
Mendengar tawa Rook yang sepertinya masih membutuhkan beberapa saat lagi untuk mereda, Leona jadi tak kuasa menahan senyum. Ia mencoba mencari posisi nyaman selama aksi menggendong ini. Yang diutamakan, tentu saja, orang yang ada dalam dekapannya. Jangan sampai jatuh dan membuatnya terluka adalah prioritas. Sekalian dia bisa mencuri-curi sedikit ketika harus menyentuh bokong itu.
"Aaah, empuknya."
"Apa yang empuk, Leona-kun?"
Leona buru-buru menggeleng ketika Rook menarik diri dan melihatnya dengan tatapan penuh tanya. "Rotimu. Ya, rotimu. Kelihatannya empuk," katanya beralasan.
Walau masih belum paham apa yang terjadi, Rook menyodorkan rotinya yang tinggal setengah ke depan wajah Leona. "Untung aku tidak sampai menjatuhkannya tadi. Kau mau coba?"
"… Ya." Leona menggigit roti itu dan tidak melepaskan matanya dari Rook barang sedetik. "Um, stroberi."
"Ya! Stroberi!" Rook tampak polos, membuat Leona tak sanggup lagi menahan diri. Langsung saja ia menyambar pipi putih itu dan meninggalkan sebuah kecupan di sana. Tentu apa yang dilakukannya itu akan membuat si penerima terkejut. Namun Leona puas karena akhirnya ia bisa melakukannya.
Awalnya Leona sempat mengira Rook akan marah lalu memaksa turun dari gendongan, tapi rupanya tidak. Dia justru balik mengejutkan Leona. Tiba-tiba saja pemburu itu memajukan wajahnya, kemudian membalas ciuman Leona tepat di bibir.
…
Jaraknya dengan kolam air yang dikira bayangan tersisa kurang dari tiga meter. Leona mencoba membuka kedua matanya lebar-lebar. Di tengah cahaya matahari yang kapan saja sanggup membakar matanya, ia tetap tidak peduli dan ingin memastikan kalau apa yang ada di hadapannya ini bukan lagi bayangan atau ilusi.
"Ini … apa memang senyata ini yang namanya fatamorgana itu?"
…
Manis, dan ada rasa stroberinya juga. Apa rasa manis ini jadi pertanda kalau "rencana" Leona berhasil? Apa dia akhirnya berhasil membuat orang yang tadinya hanya bayangan di setiap "mimpinya", kini jadi kenyataan? Atau hanya rasa manis dari roti yang dimakannya tadi dan sekarang ia hanya menghubung-hubungkannya dengan perasaannya? Cinta terkadang memang bisa membuat setiap orang tidak waras.
"Mm … Leona-kun …." Leona menurunkan Rook, tapi dia tidak melepaskannya. Melihat bagaimana berkabutnya Rook sekarang, Leona tidak mungkin mundur lagi.
Bibir mereka kembali bertemu. Perlahan namun pasti, tubuh si pemuda pirang didorong hingga punggungnya bertemu dengan pohon yang tadi menjadi tempat ia bersembunyi. Roti dalam genggaman jatuh entah ke mana, sama halnya dengan topinya yang justru sudah jatuh sejak dia berlarian tadi. Namun Rook tidak memikirkannya lagi.
Leona … hanya Leona yang ada di kepalanya. Bagaimana singa itu menciumnya, bagaimana sentuhannya, hingga bagaimana ia merespons pada setiap desah yang keluar dari mulutnya. Aaah, Rook sangat menyukainya. Seketika ia berharap kalau Leona hanya menunjukkan ini pada dirinya seorang.
"Mmh … ah! Ah … Leo—ngh!" Berikutnya adalah gigitan di leher, kah. Seksi … sangat seksi. Rook juga menyukainya. Ia mendekap kepala sang singa, tak rela melepasnya kecuali lehernya sudah dipenuhi dengan berbagai macam tanda.
"Hmm, kau wangi, Rook. Wangi sekali," adalah apa yang dikatakan Leona, dan itu membuat Rook senang.
Pemuda yang tengah "diserang" itu tersenyum. "Fufu, terima kasih. Aku tersanjung—nnh! Ta-tanganmu, Leona-kun …!"
"Apa?" Mulut Leona beralih ke telinganya. Suara dalam dan beratnya terdengar dengan sangat jelas. "Aku hanya memastikan apakah adikmu bangun atau tidak, dan ternyata bangun, ya. Maaf, adik kecil. Kau pasti terganggu dengan suara berisik kami."
Rook menundukkan kepala. Tangannya berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan pergerakan tangan Leona yang semakin menjadi. Meski masih di balik celana, tetap saja ide yang buruk untuk menyentuhnya sekarang. Apalagi di tempat umum seperti ini. Kalau ada yang lihat bagaimana …?!
"Uh-nnh … Le-Leona …-kun … angh! Jangan teling—ah!"
Leona bertarung dengan dirinya sendiri. Memangnya Rook sesensitif ini? Dia tidak berhenti mendesah sejak tadi bibirnya menyentuh kulit leher dan sekarang telinga. Atau karena Leona juga sedang menggoda barangnya sehingga itu membuat Rook semakin panas? Ah, apa pun itu, Leona sudah menantikan ini dari lama.
Akhirnya ….
"Ugh … Rook." Dagu itu diraihnya, membawa sepasang hunter green bertemu dengan miliknya. "Keberatan kalau … aku bawa ke kamarku?"
Ingin Rook langsung mengangguk, tapi fokusnya sempat teralihkan pada keributan anak-anak yang samar-samar terdengar. Jam makan siang sudah habis tampaknya. Kalau ia menurut dan membiarkan Leona membawanya ke kamarnya, apa itu berarti mereka akan membolos? Leona mungkin tidak jadi masalah karena dia sudah biasa, tapi Rook? Bukan berarti dia tidak pernah membolos. Hanya saja ….
"Kalau kau ragu, aku … aku bisa tahan."
"Eh?"
Leona membawa tangan Rook untuk menyentuh bagian bawahnya. Rook sedikit tersentak ketika tahu betapa besar dan kerasnya benda itu. Terhalang celana, memang, tapi Rook bisa rasakan panasnya membakar telapak tangan.
"Sudah hampir mustahil sebenarnya," lirih Leona yang kemudian melepaskan erangan kecil. "Tapi … tapi aku akan mencoba bertahan. Aku tidak mau memaksamu. Tidak …."
"…" Rook diam, dan itu membuat Leona juga ikut diam. Mereka diam selama hampir semenit, hingga Rook menarik kepala Leona mendekat. Sesekali Rook mengelus telinga berbulu itu saat berkata, "Itu manis sekali, Leona-kun, tapi kau jadi seperti bukan dirimu. Leona Kingscholar yang kukenal adalah orang yang penuh ambisi dan tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang diinginkan. Menahan diri karena tidak mau memaksaku? Peduli apa? Kau bisa lakukan apa pun yang kau mau. Anggap saja hadiah karena kau telah cukup menahan selama ini."
…
Kolam air di tengah padang pasir. Seperti yang sebelum-sebelumnya, Leona ragu kalau yang kali ini sungguhan. Pasti ini hanya ilusi semata karena rasa panas dan haus yang menerpa. Namun, entah bagaimana air di kolam yang kali ini tampak lebih nyata. Maka, dengan bermodal kenekatan, Leona melangkah.
Ia maju, terus, terus, terus … hingga akhirnya ia berada tepat di depan kolam air yang dikelilingi rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Ini … ini terlihat nyata. Namun apakah ini nyata?
Leona mencelupkan jari jemarinya, dan hal berikutnya yang ia dapatkan adalah rasa segar yang tiada tandingannya di dunia.
Kolam air di depannya kini adalah nyata.
"Ini bukan fatamorgana?!"
…
Leona menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat ketika ia kembali membawa Rook dalam gendongan. Kedua kaki pemburu itu ia lingkarkan lagi, mengelilingi tubuhnya. Gigi-gigi gatalnya berhenti menggigit bibir, dan beralih ke leher putih itu lagi.
"Grrr … ini kau yang minta, sialan," ujarnya. Nafasnya sangat berat dan Rook bisa merasakannya dengan teramat jelas. "Akan kubuat kau menangis dan meraung … memanggil namaku … tanpa henti …."
