SURVIVOR

.

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

Happy reading!


7

Sekalipun tidak banyak yang tahu, ketimbang putih tulang yang tampak pucat dan menyesakkan, Hinata lebih suka warna hijau.

Hijau adalah warna kebebasan—warna yang sama dengan daun pada pohon yang rindang, rumput pada padang sejauh mata memandang, dan lautan dimana ia pernah bersenang-senang. Kontras dengan putih yang kerap mengingatkannya pada pengekangan—empat dinding Hyuuga yang disebut rumah, gaun dan sehimpun perhiasan yang indah, serta secarik kertas renyuk di kaki merpati yang membawa kabar pertumpahan darah.

Bagusnya, dengan taman-taman paling indah di seantero negeri dan dinding-dinding berlapis tapestri, wastu Uchiha punya lebih banyak warna hijau dan lebih sedikit warna putih. Hal yang sekalipun belum mampu menyembuhkan trauma, tetapi paling tidak membuatnya tak lagi merana.

Ada satu taman yang paling Hinata suka, terletak di bagian tenggara dan menjadi suakanya kala gundah gulana. Taman itu bisa jadi bukan yang paling indah, bukan pula yang paling megah. Namun karena lokasinya yang tak terjamah, Hinata selalu menganggapnya sebagai jelmaan berkah.

Biasanya ia pergi kesana ketika senja, saat mentari tergantung rendah dan lembayung berada pada waktu paling indah. Satu-satunya celah dari serangkaian rutinitas seorang matriark yang tak punya jeda. Sebuah momen dimana ia bisa berkeluh kesah kendati bibir terbungkam dan tak bisa menyuara sumpah serapah.

Pada waktu dimana ia terjaga seorang diri sembari meresapi semilir udara sore hari, girah seakan bangkit dari sebidang tanah. Lenyap sudah seluruh lelah dan resahnya. Tidak ada distraksi yang mumpuni sebab realitanya lantas terdistorsi. Dan barang sejenak, ia kemudian berdiri pada pusat dunia yang dicipta seorang diri—berpretensi; ia telah menang dan bebas dan tidak pernah kalah.

Hinata pikir taman itu akan selalu tidak berpenghuni, secara eksklusif hanya didatangi oleh ia sendiri. Namun pada satu waktu ketika ia berusaha lari dari hiruk-pikuk kewajiban yang laun terasa seperti beban, ada entitas lain yang telah mendahuluinya. Seorang pria yang tengah larut dalam bentalanya sendiri, tidak terusik di antara demonstrasi gerakan yang jelas dibangun melalui serangkaian latihan dan disiplin berkepanjangan. Satu yang dari kejauhan bisa Hinata kenali bahkan tanpa harus menaruh asumsi—suaminya sendiri.

Hinata tentu tahu bahwa suaminya adalah seorang ahli pedang dan rutin berlatih dari waktu ke waktu. Namun ini adalah kali pertama ia melihat keahlian pria itu secara langsung. Kombinasi antara ketangkasan dan kekuatan yang mematikan, tetapi juga tampak elegan sekalipun tidak dimaksudkan. Sebuah atraksi yang menakjubkan.

Dan lantaran terbius oleh aksi sang suami, ia tak sadar bahwa kakinya bahkan tak mengambil jeda dan kerap mendekat—jauh terlalu dekat. Sebab ketika Sasuke kemudian berbalik dan memenjara tatapannya dengan waspada, tahu-tahu jarak di antara mereka hanya terpaut beberapa kaki saja.

Hinata bisa melihat bagaimana bahu Sasuke bergerak naik-turun dalam ritme yang lebih cepat, entah terengah karena latihan atau justru terperangah karena kehadiran sosok yang tidak ia nantikan. Bulir peluh meluncur dari pelipis sang suami ketika ia kemudian mengangkat sebelah alis guna bertanya tanpa suara. Mengalir ke sisi pipi, menuju leher, dan kemudian mengilang di balik kerah pakaiannya yang juga sudah basah oleh keringat. Pun cara jemari pria itu kerap mengendur dan mengerat pada gagang pedangnya seolah tengah menimang-nimang sesuatu. Kial kecil yang tidak signifikan tetapi juga tidak lantas luput dari pengamatan.

Dalam keheningan yang laun terasa canggung, waktu berlalu seakan tengah tergagu. Sasuke masih memandangnya dengan tanda tanya sekalipun enggan bersuara, sementara Hinata sendiri tengah kehilangan kata-kata.

Tadinya ia kira dengan menyaksikan kehadiran Sasuke yang tak biasa di suakanya sudah cukup mengejutkan, namun ternyata seuntai tassel* familiar yang menggantung pada pangkal pedang pria itu jauh lebih mengejutkan. Membawanya pada sekelebat memori masa lampau yang terasa satu kehidupan jauhnya—kepada sosok yang belakangan ini bahkan sulit ia kenali sekalipun hadir dalam mimpi.

Sepasang ametis Hinata memandang tassel itu dan wajah Sasuke secara bergantian. Lalu tanpa bisa ia cegah, sebuah bisikan yang kelewat pelan mengudara begitu saja.

"Itu pedangnya…"

Dari segala hal yang dapat Hinata ucapkan, ia menyesal telah mengangkat subjek itu. Sebab tubuhnya kemudian bergetar dengan samar, dan seketika segala hal terasa bergerak dalam laju yang kelewat lambat. Tumpul sudah indra dan nalarnya. Digelayuti kabut memori sampai kemudian suara Sasuke menariknya kembali.

"Hn." Dalam minim konversasi, tidak butuh menjadi seorang jenius untuk paham kepada siapa Hinata mengacu. Kemudian seraya memandang pedang dalam genggamannya lekat dari ujung pangkal sampai bilah, Sasuke mengklarifikasi, "Dahulu, ini miliknya."

Dahulu.

Sekalipun Hinata telah mencoba berdamai dengan kenyataan, namun agaknya segala hal yang mengacu pada masa lalu tetap akan terus membuatnya berjengit.

Menelan saliva guna menghilangkan cekat dalam kerongkongan, sang jelita menyahut lagi—masih tidak percaya dengan apa yang tampak di depan kedua matanya, "Aku kira adalah tradisi kalian untuk menguburkan ksatria dengan hal yang paling ia hargai—paling ia cintai."

"Kalau memang begitu, seharusnya kau berada enam kaki di bawah tanah saat ini."

Kalimat Sasuke mengudara tanpa keraguan sedikit pun. Seakan itu adalah fakta paling lumrah dan ia tidak mungkin salah. Kendati demikian, ada selintas ekspresi yang tak dapat Hinata baca dalam manik jelaga suaminya. Sesuatu yang gelap. Bisa jadi rasa kecewa atau justru semata-mata keengganan belaka.

Merasakan pipinya memanas lantaran malu, Hinata memilih untuk bungkam saja. Gemetarnya berangsur mereda, dan sesekali ia mencuri pandang kepada pedang yang Sasuke genggam. Namun lantaran tidak ada penjelasan lain yang pria itu tawarkan, dalam keengganan yang sama, Hinata memusatkan perhatian pada lembayung yang mulai tampak di balik punggung suaminya. Toh, ia memang datang untuk menenangkan pikiran dan menikmati pemandangan. Kendati yang demikian terasa lebih sulit ketika di saat yang sama ia juga harus mengabaikan ragam isi kepala dan bagaimana cahaya jingga menerpa kulit pucat pria di depannya. Suguhan hal tanpa korelasi, tetapi seakan dalam kooperasi untuk membuatnya gila.

Ketika cahaya jingga terakhir lenyap ditelan hamparan karpet malam, Hinata sudah bersiap untuk membungkuk dan pamit undur diri lebih dahulu. Tujuannya terpenuhi dan ia tidak punya alasan untuk berdiam disana lebih dari ini. Lagipula, keheningan di antara mereka terasa kelewat canggung hingga hampir menyesakkan. Ia tidak tahu apa yang tengah Sasuke pikirkan, dan pada saat yang tak beda, ia sendiri juga tidak dalam kondisi prima untuk bisa menyesuaikan keadaan. Sebab entah bagaimana, apapun itu di antara mereka berdua, kini terasa berbeda. Atmosfer yang melingkupi mereka pasca kepulangan dari ibukota anehnya terasa lebih intens, meski di saat yang sama juga tidak menentu dan sukar sekali untuk diprediksi. Hinata sendiri tidak cukup fasih untuk menerjemahkan semua itu ke dalam hal-hal sederhana agar segalanya dapat mudah dimengerti. Maka ketimbang harus mempersulit posisi satu sama lain, ia memilih untuk menepi.

Namun sebelum bibirnya menyuarakan salam dan berbalik meninggalkan Sasuke sendirian, pria itu mendahuluinya. Ia menyugar rambut dengan sebelah tangan yang bebas sambil menghela napas keras.

"Itachi memberikannya padaku." Ada kekalahan yang tidak bisa Hinata mengerti dalam nada suaranya. Lantas seraya mengangkat pedang dan menyodorkan sisi pangkalnya kepada Hinata, pria itu melanjutkan dengan sebuah tanya—seakan itu adalah satu-satunya hal paling masuk akal yang bisa ia pikirkan terkait konversasi singkat mereka, "Kau menginginkannya kembali?"

"Tidak, tentu tidak." Hinata menggelengkan kepala dan mengangkat tangannya dengan terburu-buru. Ia tidak punya hak atas apapun itu yang telah Itachi lakukan. Kendati demikian, pipinya terasa panas saat kemudian dengan ragu ia menambahkan, "Aku cuma terkejut. Tassel itu… aku yang membuatnya."

Seolah baru menyadari keberadaan tassel pada pangkal pedangnya, Sasuke membiarkan jemarinya menyusuri jalinan benang hitam dan perak itu dengan hati-hati. Irisnya menggelap lagi ketika ia bergumam, "Kukira kau bilang tidak mencintainya."

"Aku bilang, aku tidak mencintainya dengan cara yang ia inginkan." Hinata meluruskan. Meski sedikit-banyak ia tidak mengerti kemana percakapan mereka akan bermuara dan alasan Sasuke tiba-tiba mengungkitnya.

Janggal, sebab tiba-tiba Sasuke mengulum senyum. Dan masih seraya memainkan jalinan tassel di pangkal pedang serta keengganannya untuk memandang Hinata tepat di mata, lagi-lagi pria itu bertanya, "Dan cara seperti apa yang ia inginkan?"

"Cara seorang wanita mencintai kekasihnya." Hinata menegaskan, kini mulai putus asa di tengah kebingungan yang melanda. Inilah yang Hinata maksudkan tidak menentu; gantung pekat tensi yang teruk sekaligus perasaan yang samar tersaruk-saruk. Ia pikir percakapan ini telah lama sama mereka pahami, tetapi dengan pertanyaan Sasuke yang mewujud begitu saja dari udara kosong, rasanya ia menerima akusasi bertubi-tubi.

Sasuke tak lagi menyahut, sekadar membiarkan sudut bibirnya tertarik naik ke satu sisi dalam ekspresi yang tak bisa ditranslasi.

Dan di sela keheningan yang kini terasa benar mencekiknya dengan penghakiman tanpa suara, mau tak mau Hinata larut lagi dalam memori. Segala hal yang berusaha ia kubur dengan keras hati menudingnya dalam rupa orang mati tanpa iras yang bisa ia kenali. Dan seiring tubuhnya bergetar lagi bersama tetes air mata yang entah sejak kapan terbendung di luar kendali, sang jelita menarik napas dalam. Ia menggertakkan geliginya barang sejenak sebelum kemudian berupaya menegaskan posisinya dan menghardik, "Aku tidak—"

Sayangnya belum sempat kalimat itu utuh terlontar, bibir Sasuke sudah membungkamnya lebih dahulu. Tanpa aba-aba dan suar tanda bahaya. Dan dalam gerak penuh tuntutan, Hinata tidak tahu bagaimana kemudian jemari pria itu terjalin di antara surainya dan bersarang pada satu sisi wajahnya. Terasa basah dan dingin di saat yang sama, tapi juga penuh kehati-hatian seakan ia terbuat dari kaca.

Benaknya membumbung bebas, dan seketika cuma ada mereka. Seluruh kebingungan dan kemarahan dan kesedihan yang menggunung di balik bahu, luruh tak ubahnya debu. Lengannya lalu terangkat, berusaha menggapai sisi tubuh Sasuke sebagaimana pria itu menyentuhnya seolah takut kehilangan pijakan. Bertengger pada lengan kokoh yang terasa lembab sebelum kemudian melingkar di leher yang begitu kuat.

Barulah ketika geram Sasuke menyapa gendang telinga dan mereka kehabisan udara, realita datang menerpa.

Jeda, lagi-lagi jeda.

Hinata tidak punya cukup kekuatan untuk bicara dan menyuarakan tanya. Sementara Sasuke terengah dengan wajah merah padam hanya sejengkal jauhnya. Penampilan yang tampak absurd lantaran pada sepasang manik obsidiannya terdapat bayang kegigihan.

"Maaf," kata Sasuke sejurus kemudian. Jemarinya beralih dan menyentuh belah bibir Hinata bak besuta, meninggalkan kulit sisi wajah sang jelita tanpa peringatan. "Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan itu setelah seluruh pergulatan ini."

Hinata tidak mengerti apapun itu yang Sasuke lontarkan, tetapi ia mengerti arti tatapan yang suaminya berikan. Itachi pernah memandangnya dengan cara yang sama. Dengan kelembutan dan penuh pengharapan. Hanya saja untuk kali ini, alih-alih mendambakan kebebasan dengan menukar satu belenggu dengan belenggu lainnya, Hinata merasa bisa bernapas untuk kali pertama.

Sasuke menurunkan wajahnya, membiarkan dahinya menyentuh dahi Hinata. Lalu ia memejamkan mata dalam hela napas penuh rasa bersalah. Tidak ada kata-kata. Hanya saja dalam sepi, perlahan-lahan Hinata bisa mengerti. Dengan jemarinya yang merambat guna utuh menangkup wajah sang suami, kini segala hal seakan telah berada pada tempat yang semestinya.

Bibirnya mendarat tepat di atas bibir Sasuke dalam keterkejutan yang menyenangkan. Ia tidak tahu bagaimana kemudian keduanya terasa tepat untuk satu sama lain, tetapi hanya satu yang bisa ia jelaskan pada satu waktu; bersama Sasuke, ia bukan lagi sebatas makhluk tanpa suara yang terpenjara dalam belenggu hingga sedemikian rupa mendamba untuk lantas merdeka. Ia sudah merdeka. Dan kebebasan kadang kala cuma satu realisasi jauhnya.

Dan selepas itu, mereka bertukar kata. Terlalu banyak kata. Tentang situasi dan isi hati. Tentang orang mati dan apa arti semua ini. Tentang miskonsepsi dan seluruh duri. Pun juga tentang memulai semua dari awal lagi.

Hiasan pada pedang usang terlupakan. Teronggok di sisi kaki dan tak dihiraukan. Kendati demikian, satu masa pernah berjasa. Sebab karenanya, kini preferensi Hinata telah beralih. Hijau bisa jadi warna kebebasan, tetapi hitam adalah satu yang membawanya jauh kesini. Hitam yang ia maksudkan tentu bukan jalinan benang yang pernah ia cipta. Melainkan sepasang iris suaminya—yang kala itu memandangnya penuh cinta seolah ia adalah entitas paling berharga di seluruh dunia.


*Sword knot/sword strap/tassel adalah tali penyandang yang biasanya dari kulit, anyaman emas/perak, atau lebih sering renda metalik yang dilingkarkan di sekitar pangkal untuk mencegah pedang hilang jika terjatuh. Meski memiliki fungsi praktis seperti membantu mengatur berat pedang dan meningkatkan keseimbangan, tassel seringkali hanya memiliki tujuan dekoratif dan menunjukkan prestis serta kelancaran penggunaan pedang.


((three more chapters to go. see you.))