Chapter 3:

Suasana di atap sekolah sangat hening, jauh dari hiruk pikuk murid yang sedang beristirahat di bawah. Tak ada satu orang yang ada atap sekolah, kecuali Naruto dengan kunci cadangannya.

Guru Biologi itu dengan tenang menyantap kotak makan siangnya yang dibuat oleh Ichika. Makan siang sederhana dengan nasi, lalu ada telur gulung dan sosis goreng, serta beberapa sayur kecil seperti tomat ceri. Naruto tak protes saat dia diberi banyak sayur oleh Ichika, karena dia sendiri juga ingin mengatur pola makannya yang agak sembrono akhir-akhir ini.

Beruntung memang Naruto ada Ichika yang tinggal di apartemen miliknya.

Adapula wacana dari Ichika yang ingin kerja sampingan sebagai penjaga minimarket, namun Naruto melarang hal tersebut karena dia masih bersekolah, Naruto akan menanggung semua kebutuhan dari Ichika itu sendiri.

Well, Naruto sebenarnya tak ingin apapun dari Ichika, dia hanya ingin merawat gadis itu sampai dia lulus dari sekolah ini.

"Oh, ada Uzumaki-sensei disini."

Lamunan Naruto buyar, dia mendengar seorang gadis yang baru saja datang lewat pintu atap sekolah. Dia Ichika yang baru saja datang untuk makan siang.

"Ichika?"

"Selamat siang, sensei."

Sapaan hangat terlontar dari bibir Ichika, Iris biru itu melirik ke sebuah kantong plastik yang dibawa oleh Ichika. "Kenapa kau malah makan roti isi?" Ichika hanya tertawa kikuk mendengar perkataan Naruto barusan. "Seharusnya, kau juga membuat bekalmu sendiri, Ichika."

"U-um."

"Aku tak akan memarahiku kok," ujar Naruto. Dia kemudian memberikan bekalnya yang sudah habis setengah pada Ichika. "Isi tenagamu Ichika!"

"La-lalu sensei?" Ichika menerima bekal tersebut, dia kemudian menatap Naruto yang tengah duduk santai serta mengambil sebuah kaleng ocha.

"Aku sudah kenyang." Dia meminum ocha miliknya. "Makan juga rotimu itu."

Ichika mulai memakan bekal Naruto, kebetulan juga dia menggunakan sumpit aluminium yang digunakan Naruto. Kedua pipi Ichika merona, dia baru sadar jika sumpit itu milik Naruto, gadis itu menatap gurunya yang sedang duduk santai disebelahnya kemudian menatap bekal makanan yang tengah dia pegang.

Ciuman secara tak langsung.

Pikirannya kembali menerawang beberapa hal yang tengah dia pikirkan sampai sekarang, sebuah wacana dimana dia akan menggunakan tubuhnya untuk membalas budi seorang Naruto. Ichika rela memberikan tubuhnya pada Naruto, karena pemuda itu sudah memberikan tempat untuknya.

Serta memberikan kebutuhan yang dia butuhkan. Ichika benar-benar merasa bersalah setelah mengatakan jika dirinya keluar dari rumah setelah kedua orang tuanya bertengkar hebat, dia tak terlalu khawatir jika kedua orang tuanya tak menghiraukannya ataupun membuangnya, karena mereka sepertinya tak ingin memiliki anak seperti dirinya.

Sebuah hal yang membuat hati kecilnya sakit saat memikirkannya.

"Sensei, bagaimana jika aku memberikan tubuhku padamu?"

Naruto menoleh ke Ichika, suasana hening menyelimuti mereka berdua, tak ada suara sama sekali yang keluar dari mulut Naruto, dia diam tak memberikan tanggapan pada Ichika.

Gadis itu kemudian meletakkan kotak bekal Naruto di sebelahnya, dia kemudian mengubah posisi duduknya.

"Bagaimana sensei?"

"Kau benar ingin memberikan tubuhmu padaku?" Ichika tak langsung menjawabnya. "Kau masih gadis, aku tak ingin membuat masa depanmu hancur."

"Aku sudah hancur sensei, kehidupanku sudah hancur."

"Kau masih memiliki kedu--"

"Mereka hanyalah sekumpulan orang yang mementingkan ego mereka saja."

Naruto kembali terdiam, dia memikirkan bagaimana orang yang sudah dewasa menjadi seorang anak kecil yang sedang bertengkar merebutkan sebuah permen. Dia mengganggap kedua orang tua Ichika itu seperti anak kecil, dia juga tak mengganggap dirinya paling dewasa, karena terkadang dia akan membeli suatu mainan yang sangat dia inginkan sejak kecil.

"Jadi kau mau melakukan hal itu?"

"Aku sudah siap untuk melakukannya sensei."

Naruto menatap arloji miliknya, istirahat hampir selesai, kebetulan juga dia tak ada pelajaran sampai pulang sekolah. "Katakan pada temanmu, jika kau sakit dan ada di ruang kesehatan. Kau membawa ponsel kan?" Ichika mengangguk kecil, gadis itu kemudian mengambil ponsel yang dia sembunyikan di dalam jas sekolah yang dia gunakan, kemudian dia mengirimkan pesan pada temannya.

"Sudah."

"Bagus," ujar Naruto, dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu atap sekolah, dia menguncinya dari luar supaya tak ada orang yang mengetahuinya. Naruto pun berbalik, dan menatap Ichika yang sudah berdiri di depannya.

Pemuda itu menarik Ichika dengan pelan ke dinding yang ada tak jauh dari mereka. Ichika menundukkan kepalanya dengan wajah cantiknya yang sudah merona, dia tak ingin menatap Naruto karena agak memalukan saat menatap wajah seorang laki-laki yang populer di sekolah.

Naruto pun mengangkat tangannya dan menyentuh pipi merah Ichika, dia mengarahkan pandangan gadis itu untuk menatap dirinya. Kedua iris biru itu saling bertemu, namun Ichika malah menutup kedua mata indahnya itu, dia masih terlalu malu untuk menatap Naruto.

Telapak tangan Naruto bergerak ke atas, dia menyentuh rambut Ichika, kemudian telinganya yang sudah memerah, lalu turun ke lehernya.

Tubuh Ichika merinding saat dia disentuh oleh Naruto, pemuda itu pun mendekatkan wajahnya ke leher Ichika, dia menciumi leher gadis itu, namun tak memberikan sebuah kissmark karena akan menimbulkan kecurigaan pada teman-teman Ichika. Tangan kanan Naruto semakin turun hingga dia menangkup payudara kiri Ichika, tubuhnya menegang saat itu juga, Ichika semakin memenjamkan kedua matanya saat payudaranya mulai diremas oleh Naruto.

Pemuda pirang itu kemudian menarik dasi kupu-kupu yang ada di bagian kerah seragam Ichika, setelah melepaskan dasi itu, Naruto kembali mencium leher Ichika. Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara aneh yang keluar dari bibirnya.

Kedua tangan Ichika meremas rok yang dia kenakan, perasaannya bercampur aduk sekarang setelah dia memberikan izin pada Naruto untuk menyetubuhi dirinya. Tak ada perasaan menyesal pada dirinya, dia dengan sukarela memberikan tubuhnya pada Naruto.

"Ichika..."

Napas memburu keluar dari bibir Ichika, wajahnya sudah sangat merona, darahnya berdesir dengan cepat di dalam tubuhnya membuat bulir keringat keluar dari pori-pori kulit putihnya.

"Sensei..."

Ichika berujar disertai desahan kecil saat Naruto meremas payudaranya. Tubuhnya merosot ke bawah karena tak kuat menahan berat badannya, dia mencoba untuk menarik napas sebanyak mungkin.

"Sensei... Cium aku..."

Naruto berlutut di depan Ichika, dia menyentuh dagu Ichika kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Ichika. Sebuah ciuman mesra diberikan Naruto pada Ichika, tangan kanan pemuda itu melepas satu persatu kancing seragam yang dikenakan Ichika, dia menyingkap seragam bagian kiri dan meremas payudara yang masih dibalut bra berwarna merah jambu itu.

Naruto menyingkap bra itu ke atas, puting susu Ichika yang ereksi itu terlihat. Naruto segera menarik dirinya, dan mulai memainkan payudara Ichika.

Seperti disengat oleh sesuatu, tubuh Ichika menegang saat putingnya disentuh oleh jemari Naruto. Gadis itu kembali dicium oleh Naruto dengan mesra, kali ini dia memasukkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu.

Lidah Naruto mengabsen deretan gigi putih Ichika sebelum dia menemukan lidah gadis itu, Naruto juga menghisap bibir bawah Ichika, serta memberikan ciuman yang tak akan pernah dilupakan oleh gadis itu.

Tangan Naruto yang lain pun tak mau ketinggalan, dia melepas seragam Ichika sehingga gadis itu telanjang dada. Naruto juga tak lupa melepas bra Ichika yang pengaitnya ada di bagian depan. Dia meletakkan kedua pakaian itu sebelah Ichika, kemudian memainkan kedua payudara besar itu dengan kedua tangannya.

Naruto juga tak lupa mencubit puting susu Ichika, gadis itu mendongak saat merasakan putingnya dicubit oleh Naruto, napasnya tersengal-sengal seolah dia sedang berlari marathon ratusan kilometer.

Naruto pun menarik diriny, dia menatap Ichika yang sedang mengambil napas sebanyak mungkin, gadis itu menarik celana dalamnya yang sudah basah akan cairannya, dia meletakkannya di atas seragam miliknya.

Ichika melebarkan pahanya, kemudian menatap Naruto dengan senyuman menggodanya. "Sensei..." Gumam Ichika memanggil Naruto, membuat pemuda itu melepas celana panjangnya serta mengeluarkan kejantanannya yang sudah ereksi berat. Gadis itu mendekati Naruto, dia merangkak hingga sampai pada kejantanan itu.

Ichika mulai menyentuh benda yang sudah berdiri tegap seolah marah karena diganggu tidurnya, gadis itu tersenyum kecil kemudian menggenggam kejantanan Naruto. Dia menggerakkan tangannya maju mundur dengan perlahan, serta mencoba mengatur ritme pergerakan tangannya, ini adalah pertama kali bagi Ichika memberikan sebuah kenikmatan pada seorang lelaki.

Naruto sendiri menikmati apa yang dilakukan Ichika saat ini, dia memenjamkan kedua matanya untuk merasakan lembutnya telapak tangan muridnya itu. Sesekali dia mendesis nikmat saat tangan itu tak sengaja menyentuh bagian bawah kejantanannya.

Naruto menghentikan kegiatan Ichika, dia kemudian duduk di sebelah gadis itu serta melepas celana panjangnya. "Kau yakin?"

Ichika menundukkan kepalanya malu. "Aku sudah membulatkan hatiku, sensei."

"Baiklah, mari kita lakukan. Duduklah disini!" Naruto memerintahkan Ichika untuk duduk di atas pahanya. Gadis itu menurut, dia kemudian beranjak dari duduknya dan melebarkan kedua kakinya. Ichika saat ini tengah berdiri tepat di atas paha Naruto. "Ini akan sedikit sakit."

Ichika mengangguk kecil, dia kemudian menurunkan pinggulnya hingga kewanitaannya hanya berjarak beberapa centi dengan kejantanan Naruto. Ichika meneguk ludahnya dalam-dalam, dia sudah membulatkan tekadnya untuk memberikan keperawanannya pada Naruto.

Gadis itu pun mengarahkan kejantanan Naruto yang sudah ereksi itu untuk memasuki tubuhnya, pinggul Ichika mulai turun dengan pelan, sementara Naruto menyangga pantat sintal Ichika saat tubuh gadis itu mulai turun.

Kedua tangan Ichika mencengkram bahu Naruto dengan erat, ia merasakan benda besar itu mulai masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sesak dirasakan Ichika saat benda itu mulai masuk hingga menyentuh selaput daranya, Ichika menggigit bibir bawahnya saat merasakan sakit di bagian bawahnya.

"Akh!"

Tubuh Ichika pun lemas setelah selaput daranya diterobos oleh kejantanan Naruto, sedikit air mata keluar dari pelupuk matanya. Dia memeluk Naruto dan menenggelamkan wajahnya pada dada gurunya itu.

Naruto yang melihat itu pun mengelus kepala Ichika dengan lembut, sembari menciumi rambut Ichika, dia membiarkan Ichika memeluk dirinya sembari menunggu rasa sakit yang tengah dirasakan gadis itu.

"Sensei..." Ichika bergumam, dia kemudian menggerakkan pinggulnya naik turun dengan tempo pelan, Ichika mencoba untuk beradaptasi dengan kejantanan Naruto yang ada di dalam tubuhnya. Dia masih sedikit merasakan sakit saat dia menggerakkan pinggulnya.

Sementara, Naruto sendiri merasakan sempit di dalam kewanitaan Ichika, kedua tangannya turun hingga sampai pada kedua pantat Ichika. Dia meremasnya pelan, dan membantu gerakan pinggul Ichika.

Desahan pelan terdengar oleh Naruto, dia tahu jika Ichika mulai menikmati pergumulan tersebut. "Ichika..." Pemuda itu bergumam memanggil nama depan Ichika, dia pun mendorong pelan bahu Ichika. Kedua mata birunya menatap Ichika yang tengah mengambil napasnya, tubuhnya kembali bergerak naik turun dengan tempo pelan. Naruto menyentuh pipi Ichika, kemudian dia mendekatkan wajahnya.

Bibir ranum Ichika kembali dicium oleh Naruto sembari tubuh gadis itu terus bergerak naik turun, ciuman itu meredam desahan yang dikeluarkan Ichika. Kedua tangan Naruto bermain-main dengan payudara Ichika, dia meremasnya dengan lembut serta kembali mencubit puting susunya.

Tubuh Ichika menegang, gerakannya mulai tak karuan saat ini. "Sensei aku..." Gadis itu menarik ciumannya, dia memeluk leher Naruto serta meletakkan dagunya pada bahu pemuda itu.

"Keluarkan!"

Tubuh Ichika menegang, cairan cintanya keluar membasahi penis serta perut Naruto.

-o0o-

"Sensei, ini memalukan..."

Ichika saat ini benar-benar telanjang bulat dengan Naruto yang berada di belakang disertai dengan kejantanannya yang masih ereksi. "Apa kita akan menyudahinya?"

"Ti-tidak, sensei belum keluar, jadi..."

"Baiklah kalau begitu." Naruto mengarahkan kejantanannya ke area sensitif Ichika, dia mendorongnya pelan untuk memasukkan benda itu ke dalam tubuh Ichika.

Kedua kaki gadis itu mulai bergetar menahan rasa nikmat saat kejantanan Naruto mulai menusuk masuk ke dalam tubuhnya. Ichika menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang sekali lagi ingin keluar dari mulutnya.

Naruto menggenggam pinggul Ichika, dia sedikit meremas pinggul itu. "Pinggulmu mulai berlemak Ichika."

"Sensei tak sopan sama sekali."

Kedua tangan Naruto merambat ke payudara Ichika, dia mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Tapi sensei suka dengan ini," bisik Naruto, suara serak itu membuat pipi Ichika kembali merona. Pemuda itu menjilati permukaan kulit Ichika, gadis itu sudah sangat pasrah saat Naruto kembali mendorong pinggulnya serta menjilati lehernya.

Kedua tangan Ichika bertumpu di dinding pintu masuk ke atap sekolah, kedua tangan Naruto juga merambat ke ujung payudara Ichika, dia menarik kecil puting susu Ichika sembari terus mendorong pinggulnya dengan tempo sedang.

"Kau mau keluar?" Ichika hanya memberikan sebuah anggukan kecil pada Naruto. "Di dalam atau di luar?"

"..."

"Kita tak pakai kondom, aku akan mengeluarkan cairan itu di luar."

Ichika tak menjawab sama sekali, dia hanya pasrah saat Naruto menarik diri dan mempercepat tempo gerakan pinggulnya.

Gerakan itu semakin dipercepat oleh Naruto, membuat Ichika terpaksa mendesah nikmat sembari memanggil nama Naruto.

"Se-sensei, le-lebih cepat! Ahhh!"

Naruto semakin mempercepat gerakannya hingga dia menancapkan dalam-dalam kejantanannya di dalam tubuh Ichika. Dia mengeluarkan cairan putih hingga cairan itu meluber keluar dari kewanitaan Ichika.

Naruto baru sadar akan suatu hal. "Astaga! Aku mengeluarkannya di dalam!"

Wajah Ichika langsung membiru saat itu juga. "Se-sensei?! Kau tak bercanda kan?!"

"Maafkan aku, tapi aku memasukkannya di dalam." Tubuh Ichika langsung merosot lemas. "Tapi jangan khawatir, kau bisa meminum obat kontrasepsi."

"Obat kontrasepsi?"

"Aku akan membelikannya untukmu."

Rasa khawatir Ichika pun mulai hilang setelah Naruto akan membelikan obat anti hamil untuknya.

Naruto sendiri menarik tubuh Ichika dengan pelan, kemudian memeluk gadis itu. "Jangan khawatir Ichika."

Hati Ichika mulai menghangat saat dia di peluk oleh gurunya itu, sebuah perasaan yang tak pernah dia rasakan sampai sekarang.

"Sensei... Bagaimana jika aku mulai menyukaimu?"

...

..

.

TBC!