Petrichor
Dari jendela, lautan itu jelajah taman yang basah di guyur hujan. Lalu, di satu hari, lautan itu tanpa sengaja bertemu dengan obsidian yang punya jurang tanpa dasar di dalamnya.
A/N: Hunter x Hunter hanya milik Togashi-Sensei, saya pinjam karakter saja. Modern!AU, beberapa nama kota sama seperti di manga/anime. Alur fiksi dan tidak ada sangkut pautnya dengan cerita asli. Kinda OOC. Saran dan kritik diterima dengan terbuka
Pairing: M/F ; Kuroro/Fem!Kurapika
Selamat membaca!
01-Kesan
.
.
.
Sudah hampir 2 minggu berlalu sejak kunjungan pertamanya ke 'taman rahasia' di belakang perpustakaan sekolah, dan, sejak saat itulah ia belum kesana lagi. Mungkin hal ini yang membuat Kurapika dalam mood buruk beberapa waktu terakhir. Belum lagi dengan alarm pengingat yang ditujukan padanya benar-benar berisik, sebab, mereka akan terus berkicau dan tak diam layaknya radio rusak. Misal: "Kurapika, jangan telat rapat di kelas sebelah ya! Oh iya, ke ruang guru juga! Bu Bisuke menunggu mu." Ujar Neon, mengingatkan nya untuk ke-dua kalinya. Atau, "Kurapika, hari ini jangan lupa ke klub musik ya! Nona Senritsu ingin meminta tolong padamu." Nah, mungkin juga begini: "Kurapika, besok tolong bawa catatan mu ya! Bu Pakunoda ingin melakukan sesuatu." Yang ini jelas agak mencurigakan.
Semua ini membuat Kurapika ingin berteriak "Ya. Aku paham. Jangan bicara lagi atau ku potong habis lidah kalian." Dan mengamuk semaunya. Tapi, ia adalah orang yang peduli pada penampilan dan menjaga kesan nya di mata orang lain. Juga, ia memiliki harga diri yang setinggi langit.
"Sialan untuk Dewi Fortuna karena semua agenda seminggu ini. Dan, semoga harimu buruk, Kuroro Lucilfer." Belum sampai di situ, ia bahkan menyumpah-serapahi beberapa orang lain.
Mungkin, ini akan menjadi seminggu yang brutal bagi Kurapika—dan para teman dekatnya, tentu saja.
"Oh ya, Kuroro Lucilfer. Nama yang dapat mendatangkan marabahaya bila disebut sembarangan, tapi, tenang saja. Ini tidak ada sangkut-pautnya pada hal mistis atau legenda-legenda lama yang mengerikan. Menurut beberapa saksi mata, bila kamu menyebut nama ini di hadapan seorang gadis pirang sebahu, maka, ia tak akan ragu untuk memelototi mu atau bahkan membentak mu. Lebih buruk nya lagi, kau akan dapat tinju atau tamparan kuat yang luar biasa menyakitkan. Jadi, berhati-hatilah."
"Killua, kalo gini kesannya Kurapika kayak orang jahat..." Ucap Gon, menanggapi 'peringatan' Killua yang cukup panjang.
"Ayolah, ini berguna. Seenggaknya sampe dia udah tenang dikit, bayangin, besok yang di tinju dia pak Kepsek. Wuish, di DO beneran gak tuh." Candanya.
"Nah, aku tidak akan melakukannya." Tiba-tiba terdengar suara oknum yang sibuk diperbincangkan mengudara lewati gendang telinga mereka.
"UWAHH!" Teriak keduanya. Kurapika berikan death glare sebagai ucapan selamat pagi dan itu membuat Gon serta Killua mengalihkan pandangnya ke arah lain. Takut.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Kurapika, senyum tipis mengembang di bibir pucatnya.
"Ah, tidak apa-apa." Jawab Gon cepat-cepat, sedangkan Killua menahan agar dirinya tidak kelepasan bicara. "Harusnya gua sama Gon yang harus tanya 'lo kenapa kok senyum cerah banget? soalnya ini agak ngeri. Demi Tuhan, gua takut!" Teriak batin Killua.
"Kurapika, maaf kalau tersinggung tapi sebaiknya kau jangan tersenyum dulu." Ucap Leorio. Pemuda itu dengan terengah-engah membenarkan letak dasi dan ikat pinggangnya.
Lihatlah, pemuda berkacamata ini. Begitu pemberani. Tiba-tiba datang tanpa mengucapkan salam atau "selamat pagi' dan langsung mengatakan hal itu secara langsung pada singa betina yang sedang dikuasai emosi buruk. "Semoga Tuhan menempatkan tempat terbaik untukmu, sang pemberani; Leorio Paladiknight." Entah karena apa atau memang mereka terhubung satu sama lain, Gon dan Killua mengatakan ini dengan benar-benar berharap agar keselamatan Leorio yang pemberani tidak terancam.
"Kau tahu, Leorio?" Kurapika menghela nafas. Leorio menelan ludahnya, berharap pada Tuhan agar menghilangkan semua koleksi majalah wanita berbikini yang ada di kamarnya. Yah, kau tahu lah. Dasar anak muda.
"Tersenyum membuat ku tetap waras, jadi aku melakukannya walau terpaksa." Lanjut Kurapika, tak lupa senyum manis itu masih bertengger indah, malah, semakin lebar. Oh, ini mengerikan! Pekik batin ketiga pemuda.
"Nah, kalau begitu sampai jumpa." Setelah berpamitan, si pirang beranjak dari tempatnya. Ia menuju ruang guru untuk menyelesaikan keperluannya.
"Leorio, kau harus menerima penghargaan manusia paing berani tahun ini."
"Aku tahu. Pagi ini saja aku hampir mengorbankan hidupku."
"Yah, begitulah."
Sekarang, waktu menunjukkan pukul 13.45 dan kelas mereka masuk istirahat siang. Seluruh penghuni kelas beramai-ramai meninggalkan kelas dan menikmati waktu istirahat serta jam kosong sampai jam pelajaran terakhir. Menyisakan 2 manusia yang masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri. Orang pertama adalah Kurapika dan yang kedua adalah seorang pemuda yang punyai rambut dan mata yang warnanya selaras dengan batu obsidian; Kuroro Lucilfer.
Gadis pirang itu tampak kacau dengan semua buku, kertas, dan pena yang berserakan di meja. Belum lagi kantung mata yang lumayan jelas melingkar di antara laut yang dibingkai oleh bulu mata lentiknya. Kurapika benar-benar kacau. Tapi situasi ini berkebalikan dengan milik Kuroro, benar-benar berkebalikan. Pemuda ini duduk santai di bangkunya dengan seragam rapi dan wajah datar tanpa ada kantung mata yang melingkar di sekitar obsidian miliknya. Tangannya menggenggam sebungkus permen mint dan matanya tak lepas dari punggung si pirang. Ia tampak baik-baik saja, sangat baik malah. Tapi karena kelakuannya itu, Kuroro menjadi salah satu sumber kesal Kurapika. Yah, dipandangi orang lain kadang membuat tidak nyaman.
"Hnetikan kegiatanmu itu atau ku congkel mata mu dan menggadaikan mereka ke pasar gelap." Ucap Kurapika kesal, dia sudah tak bisa menahannya.
"Memangnya apa kegiatan ku, nona Kuruta?" Jawaban itu malah terkesan menggodanya dan itu jelas memperparah emosinya.
"HUH! Terserah mu saja!" Mendengar itu, Kuroro terkekeh.
"Baiklah."
.
.
.
—Pagi, pukul 08.05 di jam pelajaran pertama...
"Kurapika, hey! Apa kau tahu?" Neon, gadis berambut biru itu menepuk bahu Kurapika.
"Tidak, tidak tahu. Jadi diamlah." Tegas si Kuruta.
"Hmmpp! Dasar cuek!" Kesal Neon, Kurapika tak menggubrisnya.
Setelah beberapa waktu, Kurapika melihat Neon sudah berpindah tempat. Sekarang putri semata wayang keluarga Nostrade itu sibuk mengobrol Bersama Shizuku dan Ponz. Kurapika menghela nafas lega, ia menghentikan aktivitasnya dan meregangkan otot-otot tangan yang kaku akibat terlalu lama di diamkan di posisi yang sama. Matanya beralih ke jendela, lautannya menatap lurus pada bunga yang mekar di taman sekolah.
"Hei hei! Katanya akan ada siswa laki-laki yang datang ke kelas ini, dari yang kudengar asalnya dari kelas pak Knov."
"Ada yang bilang dia orang yang tampan dan pintar!"
"Heehh... bukannya dia seorang kutu buku?"
"Ada yang bilang mukanya pucat, saat gelap orang-orang pernah mengira dia mayat hidup saat mati lampu."
"HAHAHAHAH!"
"Oh iya, kalau tidak salah namanya itu—"
DRAKK!
Semua percakapan itu berhenti tepat ketika pintu masuk kelas terbuka, menampakkan sosok pak Ging—wali kelas mereka dan satu pemuda berbadan tegap dan berkulit pucat, serta kedua mata yang gelap seolah tatapannya tak berdasar. "Mungkin itulah sosok yang dibicarakan mereka tadi. Eh?! Bukannya..." Gumaman Kurapika terhenti ketika ia sadar bahwa sosok itu adalah Kuroro Lucilfer, sosok yang menenggelamkan 3 laporan penting miliknya tadi pagi di samping selokan sekolah. Saat ingin membuka mulut dan mengeluarkan suara, tatapannya bertemu dengan jurang obsidian itu.
"Kita bertemu lagi, nona terburu-buru." Ucap Kuroro, ia pun tersenyum sangat tipis. Kurapika menahan amarahnya.
Kurapika terdiam saat semua penghuni kelas memandanginya. "Nona terburu-buru? Apa maksud—" Sebelum ia selesai dengan protesnya, tiba-tiba sebuah flashback singkat terputar di kepalanya. Mukanya memerah, "Aku punya nama!" Kesalnya.
Setelah itu, Kuroro mengenalkan diri secara singkat dan memilih tempat duduk. Sial bagi Kurapika dan mungkin beruntung untuk Kuroro, sebab, satu-satunya tempat duduk kosong yang tersisa tepat berada di belakang gadis itu.
.
.
.
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Huh, seperti apa?"
Kurapika menanggapi basa-basi Kuroro. Jujur, itu agak mengejutkan baginya. "Kukira kau akan membentakku." Jawabnya.
"Aku bisa melakukannya jika kau tidak menyampaikan maksud dari pertanyaanmu atau kau memang ingin kubentak secara sukarela." Jawabnya.
"Hahaha, aku merasa terhormat." Mendengar itu Kurapika hanya menghela nafas.
"Jadi, apa maksudmu?" Tanya Kurapika, kembali ke topik awal.
"Baiklah-baiklah, kau ini memang tidk suka basa-basi ya." Kurapika menaikkan sebelah alisnya, ia agak keberatan dengan perkataan Kuroro, sedangkan pemuda itu tengah mengubah posisinya, ia mendekatkan bangkunya pada bangku Kurapika. "Jadi, nona Kuruta. Apa kau selalu bersikap kurang ramah pada orang yang baru kau kenal?" Oh, Kurapika tahu kemana arah pembicaraan ini
"Tergantung. Kau memberikan aku kesan pertama yang buruk, jadi itu sikapku untukmu." Kuroro lagi-lagi tersenyum mendengar jawabannya. Sisanya hanyalah obrolan tidak penting karena isinya hanyalah godaan Kuroro yang selalu membuat jengkel gadis Kuruta. Tanpa sadar jam menunjukkan pukul 14.55, satu-persatu penghuni kelas kembali termasuk Neon, Senritsu, Ponzu dan Shizuku. Murid-murid lain pun bermunculan, mereka kembali ke tempat masing-masing atau malah membuat keributan bersama teman mereka. Kurapika merasa ia sudah bisa melanjutkan kegiatannya, tapi..
"Baiklah, aku akan mengubah kesanmu. Tunggu saja." Setelah mengatakan hal konyol itu (menurut Kurapika), Kuroro mengembalikan bangkunya ke ke tempat semula. Kurapika memandangnya heran. Pemuda itu duduk di tempatnya, membuka sebuah novel dan mulai membaca isinya. Sang mata biru laut menganga, tapi cepat-cepat ia menutup mulutnya dan memperbaiki penampilannya.
"Nee.. Kurapika, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Neon penasaran.
"Tidak penting." Ketusnya.
"Tapi... kenapa muka mu memerah?" Tanya Senritsu, tersirat nada jahil disana. Kurapika menggeleng dan mulai membuka buku-buku di mejanya lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena pembicaraan tadi. "Terkutuklah kau Kuroro Lucilfer dan senyumnya!" Teriaknya dalam hati.
Dari belakang, Kuroro tertawa puas dalam hati.
.
.
.
.
-Bersambung
HUAAA maaf kalau judul chapter nya nggak sesuai sama isi (lagi), btw alurnya kayak klise gitu ya? Semoga nggak ngebosenin T_T oh iya, karena Aish nggak pinter bikin yang romantis gitu, jadi... mohon maaf kalau nggak ada romantisnya hehe
Dan, selamat natal bagi yang merayakan!
Aish, Sabtu 25-12-2021
