Petrichor

Dari jendela, lautan itu jelajah taman yang basah di guyur hujan. Lalu, di satu hari, lautan itu tanpa sengaja bertemu dengan obsidian yang punya jurang tanpa dasar di dalamnya.


A/N: Hunter x Hunter hanya milik Togashi-Sensei, saya pinjam karakter saja. Modern!AU, beberapa nama kota sama seperti di manga/anime. Alur fiksi dan tidak ada sangkut pautnya dengan cerita asli. Kinda OOC. Saran dan kritik diterima dengan terbuka.

Pairing: M/F ; Kuroro/Fem!Kurapika

P.S: Fanfic pertama, harap maklum jika bahasa dan alur nggak karuan. Selamat membaca!


02-Hujan dan Blazer

.

.

.

[ Cerita sebelumnya ]

"Tergantung. Kau memberikan aku kesan pertama yang buruk, jadi itu sikapku untukmu." Kuroro lagi-lagi tersenyum mendengar jawabannya. Sisanya hanyalah obrolan tidak penting karena isinya hanyalah godaan Kuroro yang selalu membuat jengkel gadis Kuruta. Tanpa sadar jam menunjukkan pukul 14.55, satu-persatu penghuni kelas kembali termasuk Neon, Ponzu dan Shizuku. Murid-murid lain pun bermunculan, mereka kembali ke tempat masing-masing atau malah membuat keributan bersama teman mereka. Kurapika merasa ia sudah bisa melanjutkan kegiatannya, tapi..

"Baiklah, aku akan mengubah kesanmu. Tunggu saja." Setelah mengatakan hal konyol itu (menurut Kurapika), Kuroro mengembalikan bangkunya ke ke tempat semula. Kurapika memandangnya heran. Pemuda itu duduk di tempatnya, membuka sebuah novel dan mulai membaca isinya. Sang mata biru laut menganga, tapi cepat-cepat ia menutup mulutnya dan memperbaiki penampilannya.

"Nee.. Kurapika, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Neon penasaran.

"Tidak penting." Ketusnya.

"Tapi... kenapa muka mu memerah?" Tanya Ponzu, tersirat nada jahil disana. Kurapika menggeleng dan mulai membuka buku-buku di mejanya lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena pembicaraan tadi. "Terkutuklah kau Kuroro Lucilfer dan senyumnya!" Teriaknya dalam hati.

Dari belakang, Kuroro tertawa puas dalam hati.


"Sepertinya kau dalam suasana hati yang cukup baik akhir-akhir ini, Kurapika."

"Oh, benarkah?"

"Ya, lebih baik dari sebelumnya."

Sekarang adalah saat istirahat siang, setelah jam pelajaran yang cukup menyiksa, akhirnya para murid bernafas lega. Sejarah wajib di jam siang selalu sukses membuat 1 sampai 2 atau bahkan 3 lebih murid tertidur, tentu saja karena penjelasannya yang cukup panjang dan itu membuatnya terasa seperti dongeng indah sebelum tidur. Sebagian besar menghabiskan waktu mereka untuk melanjutkan tidur siang, sisanya menyantap makanan yang sengaja atau tidak sengaja di sisakan di jam istirahat pertama pagi tadi. Tapi Kurapika, Shizuku, dan Neon (terpaksa) tengah mengerjakan tugas mereka.

"Tau gini mendingan Kurapika bad mood!" Gerutu Neon, Shizuku mencubit pipinya. "APA SIH?" Protes, setelah itu mereka beradu tangan. Kurapika dan Senritsu hanya menghela nafas.

DRTT! DRTT!

"Shizuku, ponsel mu bunyi tuh!" Ujar Kurapika, gadis berkacamata itu menghentikan balasan Neon dengan menyentil jidatnya hingga memerah. Sementara Neon mengaduh, Shizuku tersenyum puas melihat layar ponselnya. Ia menoleh ke belakangatau lebih tepatnya ke arah bangku Kuroro. Saat melihat sang pemilik bangku berdecak kesal dengan ponsel digenggamnya, gadis manis itu tertawa.

"Hah?" Tanya Kuroro, tetap dengan wajah datarnya. Tapi ia sedang kesal.

"Kali ini mau kabur kemana, Kuroro?" Tanya Shizuku.

"Panggil gua pake 'kak', gua lebih tua 4 bulan dari lo. Dan, untuk buat apa gua harus ngasih tau ke elo?"

"Ck, si payah ini banyak alasan. Udah, bilang aja. Nggak bakalan juga gua aduin ke bibi."

"Omong doang."

Sementara 2 orang sibuk berdebat tentang hal yang tak diketahui kecuali memang bersangkutan, seluruh penghuni kelas menonton perdebatan mereka. Kuroro mengabaikan sebagian besar pertanyaan dan desakan Shizuku, ia hanya menjawab jika pertanyaan itu mengganggu atau bersifat personal. Diantara penonton, mulai banyak yang menebak-nebak hubungan kedua bintang pertunjukan, antara lain: pacaran, atau mereka itu sepupu.

"Apa yang kalian lihat? Ayo kembali ke tempat duduk masing-masing!" Suara Ging, wali kelas mereka terdengar di pintu masuk. Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing, tentu saja dengan Kuroro dan Shizuku.

"Loh, pak Ging masih hidup?" Tanya Phinks, Ging terkekeh.

"Sopan dikit sama guru sendiri, dong."

"Dih, bapak aja jarang kesini buat ngajar."

"Ya sekali-kali kalo saya dateng disambut baik-baik lah."

"Gak janji, pak."

Seisi kelas tertawa mendengar pembicaraan Phinks dan wali kelas mereka. Yah, perihal tentang jarangnya Ging muncul di kelas itu memang benar. Entah apa yang dilakukan oleh pria itu hingga jarang terlihat baik di sekolah atau di rumahnya. Ada yang bilang kalau gurunya itu pengedar atau bagian dari duniah bawah, ada juga yang mengatakan kalau Ging memang hanyalah guru yang suka membolos seperti murid berandalan. "Ya ... jika kau mengatakan Ging berandalan maka perkataan mu itu tidak salah." Itu yang dikatakan kepala sekolah, kakek Netero.

"Sudahlah, jangan membahas apa yang kulakukan. Itu tidak penting." Setelah mengatakan itu, Ging membuka topik yang mereka bahas di jam pertama.

Kurapika bersyukur, ini bukan pelajaran. Jadi ia bisa mengistirahatkan kepalanya yang serasa akan meledak sewaktu-waktu.

.

.

.

"Kurapika!"

"Kuraa~ Pikaa~"

"Kurapikaa!"

"Nona Kuruta!"

Panggilan-panggilan itu tak membangunkan putri tidur yang terlelap dengan kepala berada di meja, wajah damainya dan dengkuran halus itu membuat beberapa orang terpana. "Shizuku, apa yang terjadi padanya?" Tanya Ging, Senritsu menghela nafas.

"Mungkin dia kelelahan, pak."

"Hmm ... baiklah kita biarkan si Kuruta ini tidur di tempatnya." Putus Ging setelah melihat kertas-kertas yang bertumpuk tak rapi di meja Kurapika.

"Hei, putri tidur, bangunlah. Atau kugendong kau ke UKS." Bisikan itu menyapa telinga si pirang. Dengan sedikit kaget, gadis itu membuka matanya dan mendapati Kuroro dan beberapa orang berada di sekitarnya. "Nah, dengan begini kau bisa ke UKS. Atau, mau ku antar?" Ucap si pemuda berkulit pucat.

"A- apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Kurapika was-was.

"Hei, aku hanya berbisik. Jangan memelototiku seperti orang yang habis melakukan kesalahan besar."

"Mukamu seperti orang yang patut disalahkan." Ketus Kurapika, gadis itu berjalan menjauh setelah berpamitan dengan wali kelasnya.

Setelah kepergian si pirang, seluruh kelas melayangkan protes pada Ging. Tapi tidak di gubris, malah, dia mengajukan tantangan gulat. Padahal, materi hari ini harusnya bahasa Jepang. Tapi sampai saat ini, pak Silva belum menampakkan batang hidungnya yang mancung itu. Baiklah, jadwal hari ini kacau lagi.


"Kita ini sebenarnya apa?!"

"Nona Cheadle, tolong jangan membuat ini terdengar seperti kisah cinta rumit remaja."

"Apa maksudmu, tuan Pariston?"

"Astaga, jangan bicara tentang indahnya cinta masa remaja dengannya. Satu-satunya hal yang menjadi kekasihnya hanyalah buku catatan dan alat tulis." Sahut Ging, tentu saja, mendapat tatapan tajam dari pihak yang disebut. Hei, yang kau sebut itu jumlahnya lebih dari 1 hal.

"Kita ini guru yang selalu mengajar dengan sungguh-sungguh."

"Tidak berlaku untuk Ging dan Pariston."

"HEY!" Dua pria dewasa itu melempar protes hingga seluruh penghuni ruangan itu dengar, dan, orang di pintu masuk mendengarnya.

Draakk! Pintu itu terbuka. Menampakkan dua murid kelas 11 dengan kardus bertumpuk berisi buku serta kertas yang digulung rapi dan dikareti agar mudah dibawa. Dua murid itu berasal dari kelas Ging, deskripsinya antara lain: si kanan berambut hitam sama seperti matanya, lalu memiliki tubuh tinggi dan kulit pucat; sedangkan di kiri berdiri gadis manis berambut pirang yang punya lautan di matanya. Oh, tampaknya manis senyum gadis itu tak ada sebab tatapan benci memenuhi setiap ruang bola matanya. Tatapan itu tentu saja dilayangkan pada pemuda yang berdiri di sampingnya.

"Permisi." Lalu keduanya berjalan ke arah Machi, guru prakarya.

Mereka berbincang-bincangatau lebih tepatnya Kurapika yang sibuk berbicara dengan guru berambut pink itu. Kadang, Kurapika akan melimpahkan barang bawaannya pada Kuroro dan mulai menjelaskan maksud perkataannya dengan kedua tangan layaknya menulis di papan. Semua orang disana tertarik dan menyimak permbicaraan itu, beberapa juga menaruh rasa simpati kepada Kuroro. Setelah hampir 40 menit berlalu, akhirnya Kurapika dan Kuroro menaruh bawaan mereka di samping meja bu Machi dan pamit.

"Kurasa ada yang lebih mengerikan dari potong gaji disini."

"Morel, kamu habis jatuh dimana?" Tanya Pariston heran.

"Yah, gadis itu lebih mengerikan. Apalagi jika dia adalah pasanganmu."

"Benar juga. Kasihan muridmu tadi, Ging. Walau tampak datar rautnya, mungkin dia tersiksa. Semangati dia."

"Kurasa mereka bukan sepasang kekasih." Jawab Ging, "Mengingat deklarasi perang yang diajukan oleh Kurapika tempo hari." Sambungnya dalam hati.

"Oh benarkah?" Tanya Pakunoda heran.

"Ya, tapi jika dilihat lagi mereka cukup serasi."

Dari membicarakan "apa yang mereka lakukan selama ini", topik berganti menjadi membicarakan dua remaja lalu meleber kemana-mana. Seperti; destinasi liburan, karyawisata, berita cuaca, hingga kencan buta. Setelah bel berbunyi, semua guru menuju kelas sesuai jadwal yang tertempel di papan utama. Tapi tidak dengan Ging, ia malah pergi entah ke belahan dunia mana.

.

.

.

Waktu berlalu, jam sibuk berdetak dengan jarumnya yang terus bergerak. Sekarang menunjukkan pukul 1 siang, dan hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Dan, itu buruk karena Kurapika dan Kuroro belum sampai ke kelas mereka sedangkan jam pelajaran terakhir sudah dimulai 30 menit yang lalu. Mereka diam kantin, berteduh.

"Ini sangat buruk! Harusnya aku minta tolong Hanzo dan Ponzu!" Rutuknya dalam hati.

Dengan atasan yang benar-benar basah, tubuhnya terekspos sempurna dan itu tentu membuatnya malu. Ia terus memeluk dirinya dengan harapan tubuhnya tertutup dan tidak akan dilihat orang lain, melihatnya, Kuroro menghela nafas. Pemuda itu berjalan keluar dari kantin dan menuju koperasi, tempat sekolah mereka menjual beberapa alat dan seragam.

"Apa yang dilakukannya?"

Kemudian, setelah 5 menit berlalu Kuroro keluar dari koperasi membawa handuk dan satu kresek yang berisi sesuatu. Gadis itu memasang raut wajah bingung setelah mendapat satu blazer terbungkus rapi dari si rambut hitam, "Dia beli seragam? Hah, berapa uang saku yang ia bawa?" Gumam nya dalam hati.

"Aku mengutang pada mereka." Ucapan Kuroro seolah menjawab pertanyaan Kurapika.

"Raut muka mu menjelaskan semuanya. Aku tahu kau meragukan ku."

"Maaf saja tapi raut mukamu seperti maling, jadi jangan heran kalau aku curiga!" Ketusnya.

"Hahh ... apa muka ku setampan itu sampai kau terus menyinggunggnya setiap kita bicara?"

"Bangun dari mimpimu, bodoh."

"Jangan panggil aku bodoh saat ranking ku selalu di urutan satu." Entah pamer atau tidak bermaksud apa-apa, yang jelas itu membuat Kurapika kesal tiba-tiba.

"Aku tidak tanya!" Ucapnya.

Kuroro terkekeh, ia tak membalas ucapan Kurapika. Setelah mengeringkan bagian atas dengan handuk, Kurapika memakai blazer sekolah nya. Sama dengan yang dilakukan Kuroro.

Hening menguasai keduanya, hanya suara kecipak air hujan yang terus berisik sendiri, tapi suaranya benar-benar menenangkan.

"Ini membuat ku teringat dengannya." Ujar Kurapika.

"Apa yang kau katakan?" Tanya Kuroro

"Hm? Tidak ada." Jawabnya.

Hujan semakin deras, dan sepertinya mereka akan benar-benar terjebak di kantin sampai jam pulang.

"Hei,"

"Ya?"

"Terimakasih untuk handuk dan blazer nya."

"Hn."

Kurapika tersenyum, lautan nya memandang langit mendung yang. "Tidak buruk."

.

.

.

.

-Bersambung