Beijing branch office. Monday: 07.21.

Itachi meletakkan satu gelas kopi ke meja Sasuke. Sasuke terlalu sibuk dengan kertas-kertas yang disortirnya sampai Itachi meletakkan benda itu, dan dia tersentak.

Itachi meminum kopinya dengan santai. "Pagi ini juga aku kembali ke Tokyo."

"Hmm."

"Tidak mau ikut?"

"Aku mau lihat hasil rapat siang ini di sini, baru bisa kutinggalkan."

"Serius tidak mau pulang hari ini juga?" Itachi mengangkat alisnya. Sasuke mengernyit. Isyarat Itachi yang seperti ini selalu berarti sesuatu. "Kudengar Nona Haruno mulai masuk kerja hari ini."

Sasuke berhenti menyortir sebentar. "Masa training-nya di New York cuma dua bulan? Kukira tiga."

"Aturan itu bukannya kau yang merevisi?"

Sasuke menunduk, pura-pura sibuk dengan pekerjaannya lagi. "Lupa."

Itachi terkekeh. "Padahal kau yang sering mengataiku Orang Tua."

"Hnnnn, ya." Sasuke meletakkan kertas terakhir di tumpukan paling atas dengan sedikit berisik. "Aku pulang pagi ini. Aku mau lihat dia di hari pertamanya bekerja."


Tokyo branch office. Monday: 15.29.

Sasuke menemukan bahwa pintu konektor di sudut ruangannya sekarang sudah dibuka kuncinya. Sebelumnya, ruangan di sebelah tidak difungsikan sama sekali. Awalnya diperuntukkan untuk tamu-tamunya, tetapi Sasuke tidak memerlukannya, sofa di ruangannya ini baginya sudah cukup dan dia tidak suka menjamu tamu lama-lama, terlebih menjamu banyak orang sekaligus. Ruangan itu pun tidak jadi dipakai, dan ditutup. Sampai akhirnya mereka butuh seseorang yang baru, dan Sakura pun jelas akan menempati ruangan itu. Apalagi Itachi bilang mereka akan bekerja sama seperti ketua dan wakil.

Sasuke mendorong pintu itu.

"Lain kali, di kesempatan yang bagus, coba bilang pada bosmu. Penggunaan kertas yang begini adalah pemborosan. Tidak baik untuk prinsip baru perusahaan. Pelan-pelan didigitalisasi, tapi pakai perhitungan seperlunya saja. Nanti kuajari. You know, carbon footprints ..."

"Baiklah, Haruno-san. Kupikir juga perlu. Bagian pengarsipan selalu mengeluh setiap kali mengurus berkas-berkas yang berangkap-rangkap begini."

"Bosmu itu juga belum lama berada di sini ya, katanya?"

"Bos yang mana yang kalian bicarakan?"

Staf di depannya langsung terkesiap, wajahnya menampakkan ekspresi horor. Sementara itu Sakura terperangah, tetapi lekas-lekas menegakkan pose berdirinya dan menunduk halus. "Selamat siang, Uchiha-san. Mohon maaf atas yang barusan kaudengar."

Sasuke menatap mereka bergantian. Si staf langsung buru-buru mengumpulkan berkas yang ia bawa, kemudian membungkuk dan mengucap permisi dengan gugup. Ia meninggalkan Sasuke dan Sakura bertatap-tatapan dengan canggung.

"Jadi ... Uchiha-san, salam kenal." Sakura membungkuk. "Terima kasih sudah menerima saya di sini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya. Saya senang sekali bisa mendapat posisi yang cocok dengan minat saya ini."

"Sasuke saja."

"Eh?"

"Terlalu banyak Uchiha di sini. Aku tidak ingin terjadi miskomunikasi atau kesalahpahaman." Sasuke mengangkat bahu. "Kau akan bekerja sama dengan paling tidak tiga Uchiha di sekitar ini. Aku, kakakku Itachi, dan sepupu kami Shisui. Belum terhitung yang di divisi lain."

"Ah, ya, baiklah Sasuke-san. Saya mengerti."

Sasuke memasukkan tangannya ke saku celana. "Jadi, apa yang kaupikirkan soal pemborosan kertas, carbon footprints barusan?" Dia menatap Sakura sambil menelengkan kepala. "Buat kata-katamu sendiri, siapkan presentasi tentang itu untuk dibawakan pada para atasan di morning report besok pagi pukul sembilan. Perlihatkan padaku setengah jam sebelumnya. Kutunggu."

Sebelum Sasuke menutup pintu penghubung tersebut, dia mendengar Sakura nyaris memekik, "Eeeh?"


Home. Monday: 23.41.

Itachi menahan tawanya sambil menggeleng-geleng. "Itu namanya mengerjai, Sasuke."

Sasuke mendengkus. "Dia sendiri yang terlalu idealis."

"Namanya juga masih fresh." Itachi tersenyum, "Kita semua begitu saat memulai karir, kan? Meskipun dia punya pengalaman bekerja sebelumnya, tampaknya cuma di sini dia bisa benar-benar menyalurkan hasratnya." Itachi menekan-nekan remote untuk memilih film tanpa tujuan yang jelas. Kepalanya bertumpu pada tangannya di lengan sofa, dan dia bisa mendengar Sasuke mendengkus lagi dari posisinya yang menumpukan dagu dari arah belakang sofa.

Itachi menambahkan lagi. "Terlebih, Sasuke, aku yakin Ayah turun tangan langsung melatihnya di New York. Dia adalah tipikal yang diinginkan Ayah. Dengan inovasi GHRM yang berhasil di New York, dia pasti ingin buru-buru hal serupa juga dilakukan di sini—dan yang seperti Sakura sangat cocok dengan kualifikasi yang dicarinya."

"Hm."

"Anak itu pasti sedang begadang menyiapkan apa yang kauperintahkan." Itachi akhirnya berhenti di sebuah pilihan judul film action berbumbu spionase. "Ingat ya, Sasuke, kalian itu bekerja sama, bukan atasan-bawahan."

"Tahu, kok."

"Green human resources management adalah bagian dari manajemen sumber daya manusia. Bukan divisi di bawahnya secara struktural, begitu yang diinginkan Ayah."

"Kurasa sebaiknya kau ke rumah Sakura saja sekarang, Kak. Bantu dia menyusun bahan."

Itachi tergelak, "Sudah Sakura sekarang? Bukan Haruno?"

"... Diamlah."


Tokyo branch office. Tuesday: 09.17.

Sasuke mempersilakan Sakura menuju ke depan untuk presentasi yang dia minta. Ia diberikan waktu maksimal tiga puluh menit, dan Sasuke pikir itu cukup. Dia sudah melihat seberapa banyak slide yang dibuat Sakura, dan isinya yang simpel tetapi cukup padat dia rasa cukup.

Perempuan itu maju dengan punggung tegak, dagu terangkat dan wajah yang optimis. Sasuke yakin dia melihat beberapa orang atasan mengamati caranya berjalan, dari pinggang ke bawah. Dasar mata keranjang, dengkus Sasuke.

Meskipun terlihat percaya diri, Sasuke bisa melihat bibirnya sedikit gemetar saat buka suara, dan Sakura terlihat kurang nyaman memosisikan tangannya. Gesturnya agak kurang hati-hati, begitu dia menyebut istilahnya. Kalaupun perempuan itu punya penyakit demam panggung, itu tidak terlalu buruk.

"... Saya yakin Anda semua sudah mengetahui konsep green human resource management, dan bukan posisi saya untuk kembali menjelaskan konsep dasarnya kepada Anda semua ..."

Sakura pasti berpengalaman di organisasi, pikir Sasuke. Perempuan ini bukan perempuan sembarangan. Sasuke melihat riwayat organisasinya dan kelihatannya ia sudah wara-wiri sejak ia masih SMA.

"... sebagai bagian dari divisi yang benar-benar baru, saya tahu saya tidak bisa mengubah semua hal dalam waktu singkat, apalagi konsep green human resource management adalah sesuatu yang memerlukan perubahan dari akar, kebiasaan sehari-hari, dan jalannya kegiatan perkantoran setiap harinya ..."

Sakura selalu memakai bando, Sasuke baru menyadarinya. Sejak wawancara, dia selalu melihatnya mengenakan aksesoris rambut tersebut. Ada berapa warna yang ia punya? Seingat Sasuke, bentuknya berbeda dari yang dia lihat saat wawancara waktu itu.

Sasuke melihat ke arah Itachi yang tampak santai tetapi matanya terpaku pada infografis yang diperlihatkan Sakura. Angka-angka record mengenai limbah kertas dan lain-lain dari sektor industri dan perkantoran.

"... Kita bisa mengurangi penggunaan kertas dengan digitalisasi dokumen, yang mana, saya sudah berkomunikasi dengan bagian pengarsipan, lebih dari lima puluh persen data sudah tersimpan pada sistem cloud ..."

Sakura terlihat mungil, tetapi Sasuke ingat, ketika berdiri di sampingnya, Sakura tidak begitu kecil. Tubuhnya tinggi dan firm, mungkin ia rajin olahraga. Sepatu hak tingginya selalu membantu.

"... Akan tetapi, digitalisasi juga hadir ke kita bukannya tanpa efek samping ..."

Sasuke mengerjap. Sakura sedang melihat ke arahnya, tetapi buru-buru dialihkannya ketika matanya berkedip. Oh, keningnya lebar, Sasuke juga menyadarinya. Dia pernah mendengar mitos, orang dengan kening lebar biasanya cerdas. Well, mungkin tidak salah juga.

"... Digitalisasi data, streaming video, penggunaan peramban web, surel, mesin pencari, semuanya mengonsumsi energi seperti angka dari hasil penelitian yang saya tampilkan di layar ..."

Sasuke mengangkat alisnya. Itachi berubah menjadi serius di sudut lain meja. Shisui yang tadinya hanya memainkan pensil tabletnya sekarang meletakkan pensil tersebut.

"... Memang kita tidak bisa secara langsung menangani efek samping carbon footprint tersebut, karena yang paling bertanggung jawab adalah perusahaan yang bergerak di sektor Information and Communication Technology ini. Namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan tindakan. Salah satu hal paling sederhana adalah menghapus surel-surel junk atau yang tidak diperlukan lagi untuk mengurangi beban server, sehingga gas buang dan energi yang dipakai untuk pendinginan server dapat dihemat sedikit demi sedikit. Saya bersedia bekerja sama dengan Divisi IT jika divisi yang bersangkutan ingin menindaklanjuti usulan saya."

Sasuke juga bisa melihat para atasan yang tadinya cuma mengamati wajah Sakura sekarang berkonsentrasi ke arah presentasi yang dibuatnya.

Sakura menampilkan lagi infografis tambahan tentang penghematan-penghematan lain dari keseharian seperti cara commute para karyawan, kebiasaan gelas plastik dalam konsumsi kopi, dan cara pengolahan limbah kantor.

"... Saya menyinggung hal-hal di luar konteks green human resource management yang saya tangani, saya mohon maaf. Saya hanya memberi sedikit insight yang berguna bagi individu—karena ranah saya adalah manajemen sumber daya manusia, sehingga perubahan mindset dari karyawan untuk visi dan misi inovasi baru yang dibuat Uchiha Fugaku-san adalah tanggung jawab saya ..."

Sasuke bertanya-tanya: seberapa jauh ayahnya menangani perempuan ini? Dugaan Itachi tidak salah.

"... Jadi, terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya, mohon maaf atas kekurangan saya, selamat pagi."

Presentasinya mendapat sambutan yang Sasuke pikir tidak pernah dia dengar semenjak dia pindah ke kantor Tokyo. Apa perempuan ini sudah diterima dengan baik? Tampaknya begitu. Sasuke sedikit lega bahwa Sakura diterima bukan cuma karena penampilannya. Orang-orang di atas (atau sejajar dengannya) seringkali antusias setiap kali ada karyawan perempuan baru, tetapi semua itu cuma karena gaya dan penampilan mereka. Jarang sekali ada perempuan yang berani berbicara dengan cara seperti Sakura di tengah-tengah kantor yang tiga perempatnya diisi laki-laki.


"Haruno Sakura, hm? Aku Shisui. Santai saja ya, anggap kita rekan kerja biasa."

"Oh, ya, Shisui-san. Itachi-san sudah cerita sedikit tentangmu."

"Sebelumnya kau bekerja di mana?"

"Satu tahun sebelumnya aku di organisasi non-pemerintah. Tapi pengalaman korporasiku sebelumnya lagi, aku di Senju Corporation tiga tahun."

Sasuke mengekori mereka di koridor. Dia santai tapi setengah waspada. Shisui orang baik, selain Itachi di perusahaan ini orang nomor dua yang bisa Sasuke percayai sepenuhnya adalah orang ini. Namun berbeda dengan Itachi yang 'anak baik', Shisui punya reputasi berbeda di urusan wanita.

"Oh, wow. Medi-tech, ya."

"Benar. Makanya aku punya, ehm, sedikit pengalaman dan pengetahuan di bidang medis."

"I see. Tidak heran Sasuke memilihmu." Shisui menoleh sebentar sambil menyeringai tipis. Sasuke buang muka. Orang itu sadar dia membuntuti mereka. "Di New York, Paman Fugaku yang melatihmu langsung?"

"Bukan secara langsung, sebenarnya. Mentorku adalah Tuan Kim dan Tuan Stevenson, tapi Fugaku-san mengawasi secara langsung."

"Hm, begitu. Caramu bicara dan membuat presentasi membuatku ingat pada ayah Sasuke." Dia mengedikkan kepalanya ke arah Sasuke lagi sambil tersenyum kecil. "Bagaimana kantor New York?"

"Bagus sekali, aku senang interiornya yang sederhana tapi, hmm, bagaimana menyebutnya ya? Futuristik? Aku mengerti mengapa Fugaku-san begitu menginginkan konsep green human resource management ini. Di sana kantornya sudah serba hijau, ya? Kebun vertikalnya keren."

"Oh, kebun vertikalnya sudah selesai? Saat aku magang di sana, kebunnya masih dalam proses perencanaan. Sudah bagus rupanya."

Mereka memasuki lift. Sasuke masih mengekor seperti anak kucing. Dia bertaruh Shisui pasti diam-diam menertawakannya di dalam hati. Dia merasa seperti ajudan Shisui.

"Shisui-san sudah berapa lama di kantor ini?"

"Ini tahun keempat. Sebelumnya aku magang di New York, ditempatkan di Beijing, tapi sempat juga melatih di sister company di Bangkok."

Pintu lift terbuka ke lantai tempat kantor mereka berada. Shisui menunjuk dengan ibu jarinya ke arah kanan. "Ruanganku di sana, omong-omong." Dia pun mengangguk pada Sakura. "Kerja bagus hari ini. Aku sebagai perwakilan dari tim IT akan dengan senang hati menerima idemu, tapi aku harus membicarakannya dengan stafku dulu. Nanti kita bisa bicara lagi setelah kami sepakat. Sampai nanti, Sakura."

"Ya, tentu!" Sakura mengangguk antusias. "Terima kasih, Shisui-san, kutunggu kerja sama kita!" Ia bahkan membungkuk ke arah Shisui, yang dijawab dengan kekehan kecil dari pria itu.

Sasuke menyeimbangkan langkah dengan Sakura.

"Dia benar."

"Hm?" Sakura menoleh dan kebetulan sekali matanya berserobok dengan mata Sasuke. Sasuke buru-buru buang muka.

"Cara bicaramu mirip ayahku. Pasti dia terlibat penuh melatihmu."

Sakura diam sejenak sambil tersenyum canggung.

"Kalau kau melihat cara Itachi menyampaikan presentasi, kau akan mengerti apa yang kami katakan." Sasuke berhenti di depan pintu ruangan Sakura saat perempuan itu juga berhenti. "Ayahku melatih kakakku. Full-time."

"Begitu ..." Sakura membuka pintunya. "Baiklah, sampai nanti, Sasuke-san." Ia memeluk laptopnya dengan lebih erat, ia menggigit bibirnya dan itu tidak luput dari perhatian Sasuke. Apa yang ingin dia sampaikan? Namun perempuan itu buru-buru masuk ke dalam ruangannya.

tbc.


a/n: thank you semuanya atas komentar dan favoritnya ;_; didn't think that i'll receive such huge love from you all, i'm beyond thankful ;_;