Tokyo branch office. Thursday: 09.46.

Sasuke mengempaskan dirinya di sofa ruangan Itachi sambil memijat pangkal hidungnya. "Kau juga dikirimi Ayah surel baru, kan?"

Itachi berpindah dari laptop ke tabletnya, kursi kerjanya bergeser sedikit. Dia mengunyah roti beraroma kopi miliknya dengan santai. Dia tampak tak terganggu dengan cara bicara Sasuke. Sasuke menatapnya, lama-lama suara kunyahan Itachi terdengar mengganggu baginya. Dia yakin Itachi sengaja melakukannya. "Iya. Soal Sakura, ya?"

"Tiba-tiba saja ada program pengembangan karyawan. Dia ketuanya? Lalu aku apa?"

Itachi mengulum senyumnya hanya untuk menghormati harga diri adiknya. "Sudah kubilang, kalian bekerja bersama, kan? Ayah juga mengirimimu surel berarti kau juga dilibatkan."

Mata Sasuke memicing. "Kau memihaknya. Kalian memang sama-sama anak Ayah."

"Sasuke." Itachi mengalihkan perhatiannya dari tablet. "Kita sudah janji untuk tidak membicarakan hal ini, hm? Kita adalah anak Ayah dengan cara yang dia buat untuk masing-masing. Dan untuk Sakura, aku yakin Ayah membuatnya begitu karena dia adalah orang baru yang perlu perhatian. Aku ingat saat Shisui baru dapat posisinya yang sekarang di cabang Tokyo, dia juga mendapat perlakuan serupa."

"Ya tapi—"

"Kalian partner. Ingat?"

Sasuke mengeluh lagi, tapi Itachi cuma tersenyum. "Bicarakan dengannya, sana. Partnermu itu dia, bukan aku. Seharusnya kau melapor padaku setelah bicara padanya. Berhenti sebentar jadi adikku dan jadilah Uchiha Sasuke sang kepala divisi manajemen sumber daya manusia."

"Dasar kau ...," bisik Sasuke sambil menggeleng-geleng. Dengan gerakan cepat dia mencuri roti dari kotak terbuka di sudut meja Itachi dan langsung melarikan diri ke pintu.

"Hei, rotiku!"


Sasuke harus mengakui bahwa dia punya kemampuan jelek dalam memulai pembicaraan dengan orang lain. Harus mendeham duluan? Klise. Dan terdengar aneh. Hei? Seperti sedang bertemu teman di kafe. Selamat pagi? Memangnya dia resepsionis?

Pada akhirnya, Sasuke cuma bilang, "Sakura."

Oh, damn. Malah nama kecilnya?

"Ya, Sasuke-san?" Sakura mengangkat pandangannya ke arah Sasuke. "Ada yang bisa kulakukan untukmu? Oh iya, aku dapat surel dari Fugaku-san—"

"Itu yang ingin kubicarakan." Sasuke menatap kursi di depan meja Sakura, dan mereka bertatapan seperti sepasang orang asing di bus yang perlu saling minta persetujuan lebih dulu untuk duduk bersama-sama.

"O—oh, ya, silakan duduk!"

Kenapa juga aku harus minta izin?

"Ya, ya, surel itu." Sakura buru-buru mengetikkan sesuatu di komputernya. Sasuke curiga itu cuma gestur pengalihan. "Rangkaian program pengembangan ya. Fugaku-san memberi saran, berawal dari pilihan-pilihan untuk langkah pertama, apakah pelatihan internal atau eksternal. Aku lebih menyarankan eksternal untuk tema yang dibutuhkan, karena aku belum punya sertifikat dan kualifikasi resmi untuk memberikan pelatihan internal."

"Dan kau harus minta izinku dulu jika ingin mengadakannya secara internal."

Sakura terdiam. Wajahnya tampak serba salah. Sasuke, sejenak kemudian, merasa risih kembali karena dirinya sendiri. Dia segera mendeham. "Sudah jelas aku akan mengizinkan." Dia mengangkat bahu. "Itu bukan rencana yang buruk."

Bahu Sakura melemas. "Aku punya beberapa rekomendasi. Maukah Sasuke-san menilai dan memilihnya?"

"Biar kulihat." Sasuke berdiri, mengitari meja dan menuju ke samping Sakura.

Wanginya seperti apel ...

Sakura menggerakkan penunjuk pada layar. "Ini akan diadakan dua hari lagi di Kyoto. Kuota terbatas, tapi kurasa masih bisa karena kesempatannya cukup besar. Yang ini," katanya sambil membuka tab yang lain, "agak jauh, di London, dua hari setelah yang di Kyoto, diadakan oleh NGO besar dan diisi oleh pakarnya. Melayani pelatihan jarak jauh juga, tetapi pematerinya berbeda. Bisa pilih sesuai keperluan perusahaan—tapi kurasa untuk permulaan, lebih baik secara offline saja."

Kukira dia wangi seperti bunga, ternyata dia lebih suka apel?

"... Sasuke-san?"

Sasuke tersentak. Secara naluriah dia berucap, "Sori ... aku lebih memilih Kyoto. Lebih hemat. Untuk permulaan sebaiknya yang sederhana dulu."

"Tapi bukankah lebih baik untuk permulaan, kita memulai dari yang besar dulu?"

"Kita mulai dari dasar. Dari nol. Kenapa harus yang besar kalau yang kecil tersedia? Merangkak dari yang sederhana dulu."

"Aku lebih menyarankan yang London, sebenarnya." Sakura memainkan pulpen di tangannya. "Aku tahu NGO ini dan mereka selalu mengadakan seminar yang berbobot, serta paket yang lebih bagus."

Sasuke mengernyit. "Kalau begitu kenapa kau minta saranku?"

Sakura juga mengernyit. "Yang kutahu, kita harus bekerja sama. Aku bisa memutuskannya sendiri kalau aku mau, tetapi aku menghormati peraturan bahwa kita harus menyetujui sesuatu sebelum mengajukannya pada Itachi-san atau atasan yang lain."

Sasuke mengitari meja. "Kirimkan padaku flyer itu, aku akan bicara dengan Itachi."

"Tidak perlu surat-surat resminya?"

Sasuke baru menyadarinya, lantas dia mengangguk. "Sekalian saja."

"Baik. Siap laksanakan." Sakura mendorong dirinya mendekati meja dan senyum cerah menghiasi wajahnya. Kontras dengan ekspresi sesaat barusan ketika ia nyaris mendebat Sasuke.


"Cewek itu keras kepala juga."

Itachi tersenyum. "Apalagi yang kauharapkan dari perempuan yang bisa bicara di hadapan tim eksekutif dengan dagu terangkat? Dia pasti punya sifat begitu."

Sasuke melempar pandangan pada dinding polos di kanan Itachi.

"Kenapa? Mulai merasa kau tidak cocok dengannya?" Itachi menyesap kopinya, senyum terhiburnya tidak bisa begitu saja disembunyikan di balik bibir gelas. "Sayang sekali, kau harus menempel bersamanya sampai entah kapan."

"Dia selalu tahu apa yang dia bicarakan."

"Aku biasanya tidak perlu mengulangi kalimatku lagi, Sasuke."

Benar, apa yang bisa kuharapkan? Sasuke menghela napas.

"Aku ingin mengajaknya makan siang bersama," ucap Itachi sambil memeriksa dokumen yang dikirimkan Sakura pada tabletnya.

"Biar kutebak. Usul Shisui?"

Itachi tergelak. "Bukan. Aku yang ingin. Tapi Shisui jelas kuajak. Dia yang tahu tempat-tempat makan terbaik."

"Untuk apa kau mengajak Sakura?"

"Yaaa, aku ingin melihat chemistry adikku dengannya."

"Hei," komentar Sasuke.

"Kaupikir aku tidak melihat cara adikku menatapnya saat presentasi?"

Sial.

"Saat ini kutebak kau pasti sudah tahu parfum yang dia pakai."

Sasuke benci ketika Itachi bisa membacanya seperti buku yang terbuka. Namun apa yang bisa dia lakukan? Itachi mengenal dirinya lebih lama daripada dia mengenal dan menemukan dirinya sendiri. Itachi adalah kakaknya yang merawatnya sejak kecil, sejak dia belum mengenal banyak hal tetapi Itachi telah mengenalnya dengan sangat baik.

"Bercanda," tapi nadanya terdengar sangat tidak tulus bagi Sasuke, terutama karena wajah Itachi mengatakan sebaliknya, "dari yang kulihat, kau tampak punya perasaan kompleks padanya. Aku mau lihat interaksi kalian langsung."

"Kami tidak pernah bicara apapun selain pekerjaan."

"Ya, karenanya inilah kesempatan itu."

Sasuke diam cukup lama. Jarinya menuju pelipisnya, menekan-nekannya tanpa alasan yang jelas. Itachi membiarkannya, sibuk melanjutkan pekerjaannya sendiri.

"Apel."

Itachi menoleh. "Apa?"

Sasuke masih menekan-nekan pelipisnya. "Aromanya apel."

Berbeda dari dugaan Sasuke, yang mengira Itachi akan tergelak lagi, sang kakak malah tersenyum simpul. Sasuke tercenung.

"Menyenangkan, ya, aromanya?"

Sasuke menekuri lantai. "Berbeda dari dugaanku. Kukira aromanya seperti ... sakura? Secara harfiah. Bunga-bungaan."

"Berarti dia begitu." Itachi mengetikkan sesuatu, seolah-olah pembicaraan ini adalah hal paling biasa; seakan-akan bicara tentang cuaca dan bukan hasil pengamatan tak sadar oleh Sasuke.

"Begitu bagaimana maksudmu?"

"Di luar dugaanmu." Itachi mengerling. "Bagimu dia mungkin keras kepala. Tapi, siapa yang tahu?"


Tokyo branch office. Tuesday: 11.18.

Sasuke melihatnya.

Di sudut koridor kanan adalah ruangan Shisui. Sakura mengetuknya, kemudian ia masuk. Ia sama sekali tak menyadari keberadaan Sasuke.

Sasuke pun memasuki ruangannya, kerutan di wajahnya masih nyata.

Kenapa aku merasa terganggu?

Dia tahu dia seharusnya melakukan sesuatu setibanya dari pertemuan singkat dengan seorang tamu di lobi, tetapi dia tak bisa menemukan cara untuk berkonsentrasi. Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tak bisa benar-benar dia gambarkan, dia seperti orang gelisah. Dia mencoba untuk mengerjakan laporan lanjutan serta menilai paperwork dari staf yang terkumpul sejak kemarin siang, tetapi dia tidak bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Satu tugas berganti ke tugas yang lain, tak ada yang sempurna.

Dia memutuskan untuk keluar ruangan setelah setengah jam berkutat dengan lingkaran setan.

Tepat sekali saat itu Sakura keluar dari ruangan Shisui dan ia membungkuk hormat. Saat ia berjalan kembali, Sasuke tak lagi dapat kabur.

"Sasuke-san." Ia mengangguk ringan. "Halo. Aku tidak melihatmu sejak pagi. Ada tamu, ya?"

"Hm." Sasuke mengekori Sakura menuju ruangannya. Sakura tampak tak keberatan, ia menahan pintu agar Sasuke bisa masuk. Sasuke tidak ingin menunggu. "Apa yang kaubicarakan dengan Shisui?"

"Oh, itu. Dia butuh penjelasan dariku tentang inovasi dari presentasi tempo hari." Sakura duduk di kursinya. "Dia berminat melakukannya, dan akan ada pertemuan tim IT denganku nanti. Akan ada tindak lanjut dari tim IT dan desain tentang pengelolaan sumber daya manusia yang berbasis prinsip-prinsip kelingkungan."

"Tanpa persetujuanku?"

Mata Sakura bergerak cepat ke arahnya.

"Shisui hanya bicara denganmu, bukan denganku." Pertanyaan itu tegas; jelas-jelas bukan meminta afirmasi tapi Sasuke sudah menarik garis yang nyata. "Hanya kau. Baik."

"Sasuke-san." Sasuke bisa mendengar nada tertantang pada cara bicaranya. "Shisui-san bicara denganku karena ini adalah spesialisasiku. Aku jelas akan meneruskannya padamu dan kita akan membicarakan ini denganmu, jangan berprasangka dulu."

Sasuke menatapnya tanpa berkedip. "Oh ya? Kalau aku tidak melihatmu keluar dari ruangan Shisui, apa kau akan tetap langsung menceritakannya padaku seperti ini?"

Air muka Sakura berubah total. Rahangnya terkatup, bahkan ujung telinganya memerah. "Sasuke-san, boleh aku mengatakan sesuatu tentangmu?"

"Go on."

"Kau terobsesi dengan kontrol-mengontrol ya?"

What the hell?

"Kau ingin kontrol atas diriku, padahal seharusnya kita bekerja sama. Kau ingin mengontrolku, padahal aku bisa bergerak dengan kebebasanku sendiri, dan seharusnya kau tahu bahwa aku masih punya respek padamu, dan bahwa aku pasti bicara denganmu tentang langkah-langkahku."

Sasuke tidak pernah diserang secara langsung bertubi-tubi, terlebih lagi oleh orang baru. Kupingnya panas, tetapi dia tak mampu mengucapkan sesuatu yang tepat. Ucapan Sakura pedas, tetapi hal itu membangunkan sesuatu yang selama ini belum pernah dia sadari. Kontrol. Benarkah itu?

Dia adalah anak bungsu, katanya 'kesayangan' semua orang. Namun hal itu datang bersama sebuah konsekuensi: dia selalu dianggap yang muda, yang masih anak-anak, sehingga semua orang merasa punya kontrol atasnya.

Dan itu membuatnya secara tidak sadar menginginkan hal itu untuk dirinya sendiri, sesuatu yang ditekankan orang lain padanya. Dia tidak punya tempat untuk memproyeksikannya, sehingga dia melakukannya begitu saja ... pada Sakura.

Suara embusan napas yang berat dari Sakura menyadarkannya.

"Hah, akhirnya lepas juga." Sakura tampak seperti baru saja melakukan kebajikan besar untuk dirinya sendiri. Ia berdiri, lalu membungkuk hingga sembilan puluh derajat di depan Sasuke. "Aku minta maaf, Sasuke-san. Aku harus mengatakan itu, seseorang harus menyadarkanmu, tetapi aku minta maaf bahwa orang itu adalah aku."

Aneh sekali orang ini.

Sasuke memilih untuk tidak mengatakan apapun, lalu dia pun pergi dari ruangan Sakura. Meninggalkan perempuan itu terdiam sendiri di kursinya.


Terakhir kali mereka bertatap-tatapan seperti ini adalah saat Sasuke menghambur ke kamar Itachi di Beijing dan bilang, aku tidak mau ke Tokyo, lebih baik aku jadi staf di sini saja!

Itachi berkedip, lalu mengedikkan dagu ke arah sofa. "Duduklah dulu." Matanya mengikuti gestur Sasuke. Adiknya selalu seperti itu saat marah; mematung dengan tangan terkepal. Namun kali ini dia melihat sesuatu yang berbeda dari Sasuke. Itachi agak kesulitan mencari perumpamaan yang tepat, tetapi mungkin yang paling mendekati adalah seperti seekor kucing yang sedang terpojok, tetapi ofensif. Dia ingin menyerang tetapi dia tahu ada sesuatu yang membuatnya tidak berani langsung menerkam.

Itachi ingin tersenyum, tetapi ditahannya. Meski mereka tidak lagi muda, kadang-kadang Sasuke tetaplah terlihat seperti anak kecil baginya.

"Dia bilang begitu?"

Sasuke tidak menjawab. "Kalau bisa, aku minta pengganti saja."

"Bercanda saja, kau tahu orang yang pertama menentangmu adalah aku. Lalu, jelas sekali: Ayah."

"Kau membelanya, Kak?"

"Hmmm." Itachi mengetikkan sesuatu di tablet. Sasuke curiga itu bukan untuk pekerjaan. "Kau marah karena dia tidak bilang-bilang. Tapi kan dia memang mau bicara denganmu? Kebetulan saja kau memergokinya keluar dari ruangan Shisui."

"Ya, tapi—"

"Sasuke, aku minta maaf." Itachi menghela napas, wajahnya berubah dan Sasuke tersentak. Jarang sekali dia melihat Itachi seperti ini; ekspresi bijak yang membuatnya lebih tua dari usianya sendiri. Dia terlihat seperti ibu mereka, tetapi dengan ketegasan nyata pada garis wajahnya seperti ayah mereka. Bijak dan tegas pada saat bersamaan, dia benar-benar Fugaku dan Mikoto dengan caranya sendiri.

Itachi melanjutkan, "Aku takut apa yang dikatakan Sakura benar. Kau ingin kendali. Kau ingin mengontrol. Kau memang bisa melakukannya pada stafmu, mereka tidak akan mengatakan tidak dan selalu menyetujuimu. Kau suka posisi itu. Tapi kau tidak dapat melakukan itu padanya. Dia bukan stafmu, sekretarismu, tapi dia partnermu. Kau ingin mengontrolnya tetapi dia bukan dalam posisi untuk kaukendalikan."

Sekarang kucing yang ofensif itu melunak menjadi defensif.

"Aku benci mengatakannya, Sasuke, karena ini juga pasti melibatkan caraku memperlakukanmu—apa yang Sakura katakan itu benar. Kau ingin mengontrol karena selama ini kau selalu dikendalikan oleh orang-orang di sekitarmu."

Kepalan tangan Sasuke di sofa sekarang melemas.

"Aku mengerti, kau melakukannya di alam bawah sadarmu. Aku mengerti sekali, saat kau ingin melakukan sesuatu dengan tanganmu sendiri. Tapi, Sasuke, biar kuberi tahu sesuatu." Bibirnya membentuk senyum yang teduh. "Itu normal, aku tahu. Namun ini adalah saatnya kau belajar. Kalau tanpa Sakura, kau mungkin tidak akan menyadari sesuatu. Dia ada untuk satu alasan—dan aku yakin ada banyak hal lain yang akan kalian temukan bersama."

"Jadi ... aku harus apa?" Sekarang dia adalah Sasuke kecil yang selalu minta perlindungan pada Itachi.

Itachi tak bisa menahan senyumnya lagi. "Menurutmu?"

tbc.