Haruno Sakura sudah mulai mencicipi dunia kerja sejak ia mencoba internship di sebuah organisasi saat SMA. Ia bertemu banyak orang, bekerja sama dengan macam-macam karakter. Ia bisa dengan percaya diri bilang bahwa ia bisa bekerja di bawah tekanan. Apalagi, mentor sekaligus atasannya di perusahaan yang dulu, Senju Tsunade, adalah wanita paling keras dalam urusan pekerjaan yang pernah ia temui dalam hidupnya.
Namun, perusahaan keluarga Uchiha adalah dunia yang berbeda. Dikelilingi oleh orang-orang yang saling berkerabat (Sakura perhatikan, bahkan beberapa orang yang tidak menyandang nama Uchiha pun masih bertalian darah dengan mereka), adalah sesuatu yang kurang biasa ia alami.
Ia mengerti ini adalah perusahaan milik keluarga, dan kabar burung mengatakan bahwa keluarga Uchiha sangat erat dan jumlah mereka sangat besar, serta mereka adalah kumpulan orang-orang yang sulit mempercayai orang lain. Namun jika mereka sudah percaya pada seseorang, mereka akan benar-benar melekat pada orang tersebut.
Yang mana, karena fakta itulah, ia baru menyadari,
"Aku sudah mengacaukan karirku, Ino!"
Ino bertopang dagu di hadapannya. "Turunkan suaramu, Jidat. Orang-orang akan melihat kita dengan cara yang aneh."
"Kautahu, perusahaan itu diisi oleh dua per tiga orang Uchiha. Aku mengatakan hal bodoh di hadapan satu Uchiha, dan satu hal sudah jelas: aku bakal dimusuhi dua per tiga dari isi kantor! Bayangkan betapa kacaunya karirku yang baru lewat tiga bulan ini?"
"Yakin sekali?" Ino hampir tertawa. "Coba begini, sebelum enam puluh enam persen orang itu menatapmu sinis, kamu cari muka saja dulu dengan yang lain. Gunakan sex appeal—"
"Kau gila?" Sakura menatapnya lelah. "Aku tidak pernah mendengar saran yang lebih buruk," desis Sakura. "Saat istirahat makan siang begini mereka pasti mengadakan rapat darurat, lalu nanti sore surat pengunduran diri harus kutandatangani—"
"Paranoid sekali. Kau lagi PMS, ya?"
Sakura menyandarkan dirinya di kursi. Menu makan siangnya datang dan menjeda obrolan mereka, tapi ia kehilangan hasratnya untuk makan. "Sepertinya," gumamnya pelan.
"Makan dulu. Setelahnya baru kau pikirkan si bungsu Uchiha itu." Ino mengambil sumpit yang terbungkus dari atas meja. "Menurut buku yang kubaca, kau harus mendinginkan situasi, terutama situasi di kepalamu, untuk mencari celah masalah dan menyelesaikannya lewat sana."
"... Kau mulai kedengaran seperti Sai."
"Oh well, dia meminjamkan beberapa buku self-healing miliknya padaku. Hobi membacanya tidak buruk juga, dan berguna untuk mendinginkan kepalaku." Ia mengetuk-ngetuk pelipisnya. "Di antara semua Uchiha dan non-Uchiha-yang-tetaplah-Uchiha itu, ada yang baik, tidak? Dan seberapa menyebalkannya, sih, si Uchiha Sasuke itu?"
"Kakaknya, Itachi, dan sepupu mereka, Shisui, baik-baik. Jujur saja, mereka atasan yang cukup menyenangkan. Kalau dalam urusan pekerjaan, mereka bisa diandalkan." Sakura cuma mengaduk-aduk minumannya. "Shisui, terutama. Dia bisa diajak bekerja sama. Kenapa atasanku bukan Shisui saja, ya ..." Sakura mengembuskan napas panjang. "Kalau Sasuke ... dia bukannya menyebalkan ... tapi bagaimana ya, dia hidup di bayang-bayang Itachi dan Shisui—dan mungkin ayahnya. Aku training dengan Uchiha Fugaku, dan aku mengerti karakternya."
"Jadi, Sasuke itu tidak menyebalkan?"
"Dia bisa diajak bekerja sama, tapi ... sepertinya dia membuat dinding di antara aku dan dia." Sakura menggeleng. "Beda dengan Itachi dan Shisui yang bisa menerimaku dan mau langsung bekerja sama, Sasuke seperti ... seperti masih belum terbiasa dengan kehadiranku."
"Mungkin seperti yang kaubilang tadi. Dia ingin mengontrol."
"Itachi dan Shisui terhitung seniorku, tapi mereka tidak melakukan hal itu."
"Ya beda. Kau sendiri bilang Sasuke itu hidup di bayang-bayang mereka, kan? Jelas dia ingin melakukan sesuatu yang berbeda."
Sakura mulai menyentuh makanannya. "Apapun itu ... aku harus siap karirku tamat."
Ino tergelak. "Ya tinggal cari lagi."
"Tidak segampang itu, Non!"
"Kau juga tidak nganggur-nganggur amat, toh? Masih ada kegiatan di organisasi, dan koneksimu di sana pasti akan membantumu. Selain itu, aku yakin bawahan-bawahan Tsunade-shishou pasti masih mau menerimamu kembali."
"Aku tidak akan kembali ke perusahaan itu kalau Tsunade-shishou tidak kembali juga ke jabatannya."
"Ooh, kau memang anak Senju Tsunade." Ino memutar bola matanya. "Tapi ya alasanmu masuk akal, sih. Semua orang di sana tidak bisa kita harapkan kecuali Tsunade-shishou. Coba Senior Shizune masih mau bertahan juga."
"Yeah, kita membuat keputusan yang tepat untuk resign di waktu yang bagus." Sakura menyuap dan mengunyah dalam jumlah banyak sekaligus.
"Hei, rakus!"
"Biar. Aku mau senang-senang dengan makananku sebelum dipecat!"
Sakura kembali ke ruangannya dengan rasa was-was. Ia melirik barang-barangnya, berandai-andai mungkin sebentar lagi ia harus mengepak semuanya.
Sempat terpikirkan olehnya satu cara licik; ia tahu Fugaku di pihaknya. Ia tahu bahwa Fugaku, saat pelatihannya dulu, sangat mengandalkannya. Fugaku adalah orang yang setia dengan tujuannya sendiri, dan akan berjuang untuk hal itu dengan ketegasannya. Green environment untuk perusahaan adalah suatu program untuk menaikkan value perusahaan itu sendiri, dan Sakura juga sudah melihat seberapa jauh usaha corporate social responsibility perusahaan Uchiha—goal Fugaku berorientasi pada semua hal itu. Dia mungkin terlihat seperti pria bertangan dingin, tetapi kepeduliannya pada lingkungan dan terutama nama baik perusahaan cukup besar.
Bagi Sakura, Fugaku dan dirinya punya satu visi. Cara Fugaku mengandalkannya mungkin akan keras, tetapi ia tahu ia telah mengunci posisi ini dan Fugaku percaya padanya.
Selain Fugaku, ia juga sudah mengenal Mikoto, ibu Itachi dan Sasuke. Perempuan itu berada di balik suaminya, dan adalah orang yang akan diandalkan jika Fugaku sedang berhalangan. Ia sering menghabiskan waktu bersama Mikoto saat pelatihan. Fugaku memang memberinya perintah dan mengawasi, tetapi semua itu sebagian besar melalui Mikoto.
Mikoto adalah perempuan baik, sebuah proyeksi masa depan yang dipegang Sakura. Wanita yang berjuang bersama sang partner, partner yang mungkin punya cara berbeda dengannya tetapi mereka sama-sama saling mengakui kehebatan masing-masing dan berjalan bersama. Mikoto ahli dalam bidangnya, dan Fugaku mempercayainya.
Sakura-san, satu hal yang ingin kutekankan padamu: jadilah dirimu sendiri. Kau akan memegang posisi yang belum pernah ada, dan saat inilah kau mengukuhkan posisi berdirimu.
Kata-kata Mikoto saat melepasnya seusai pelatihan itu masih ia pegang kuat-kuat.
Ia bisa minta pembelaan. Namun ia buru-buru menghilangkan pikiran itu. Mengadu pada bos besar adalah hal licik yang akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Kenapa aku berpikir seperti ini?
Pintu konektor dibuka. Jantung Sakura nyaris melompat.
Oh sial, benar-benar si bungsu.
"Sakura."
Aku salah dengar?
"E-eh, iya, Sasuke-san." Sakura panik, kemudian membungkuk tanpa alasan. "Silakan duduk, ya, silakan." Ia mendorong kursi di hadapan mejanya. "Sasuke-san ingin bicara apa?"
Aduh, kata-kata itu salah!
Sasuke tidak langsung duduk, dia malah menunduk. "Maaf."
Eeeh?!
"A-ah, baik ... aku juga minta maaf." Sakura balas membungkuk dalam-dalam. "Kata-kataku lancang sekali. Aku tahu Sasuke-san masih marah, itu bisa dimengerti, dan kau boleh menganggapku bukan orang baik dalam hidupku, tapi kuharap dalam konteks profesional, kita masih bisa bekerja—"
"Sasuke saja."
Kuping Sakura memanas. Apa? "Ma-maaf?"
"Sampai sebelum ini, aku masih belum bisa bekerja dengan baik denganmu, meski kakakku berkali-kali mengatakan bahwa kita adalah partner." Sasuke mendeham. "Aku bisa melihat kau adalah orang yang bisa mengerti karakterku, jadi ... mungkin kita bisa bekerja dengan lebih baik lagi setelah ini."
Orang ini dapat nasihat macam apa dari Itachi? "Baiklah, kalau begitu ... Sasuke-kun?"
Sakura tidak melihat ada penolakan di wajah Sasuke, sehingga ia pun melanjutkan dengan mengulurkan tangan ke arah Sasuke. "Sekarang kita mulai awal yang baru. Aku berjanji akan selalu melibatkanmu—dan kau adalah orang yang paling pertama tahu apapun yang kuputuskan atau informasi yang kudapatkan. Sebaliknya juga begitu. Tolong anggap aku bagian dari pekerjaanmu sehari-hari."
Pada awalnya Sasuke ragu, tetapi kemudian dia menyambut uluran tangan tersebut, lalu mengangguk. "Ya."
Inner Sakura memekik, tetapi ia berhasil menjaga wajah kalemnya. "Senang bekerja sama denganmu, Sasuke-kun."
"See, not bad, huh?" Itachi meletakkan cangkir kopinya. "Minta maaf tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang buruk. Sakura orang baik, dia pasti akan menanggapi permintaan maaf dengan baik pula."
Mata Sasuke liar mengamati orang-orang yang mengantre dan bercengkerama di dalam kafe. Ini bukan malam weekend, tetapi kafe tetap ramai.
"Ah, panjang umur. Baru saja disebut namanya."
Sasuke menoleh cepat ke arah pintu. Sakura masuk dan berjalan dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan saat di kantor. Sasuke seakan-akan bisa mendengar bunyi ketukan sepatunya pada lantai. Perempuan itu masih memakai pakaian kerjanya, ia berjalan langsung menuju ke konter pesanan, menyebutkan menu yang sudah ia hafal di luar kepala—tak peduli sekeliling, tak menyadari ada dua Uchiha bersaudara tak jauh dari kasir.
Sakura pun duduk di meja panjang yang melekat pada dinding, khusus untuk pengunjung yang menyendiri.
Itachi mengedikkan dagunya ke arah Sakura, memberi isyarat pada Sasuke. Sasuke memasang wajah apa sih? pada sang kakak, tetapi Itachi malah tertawa. Sasuke membalas lagi, kakak saja, Itachi langsung menggeleng. Sasuke mendengkus, akhirnya mengaku kalah dengan berdiri.
"Uhm, halo?"
Sakura awalnya tampak waspada, tetapi langsung melunak begitu melihat Sasuke. "Hei, Sasuke-kun."
"Mau ... bergabung?" Sasuke menunjuk ke balik pundaknya dengan ibu jari. Di sana, Itachi melambaikan tangan.
"Ooh, ada Itachi-san. Boleh?"
Sasuke mengangguk. Sakura pun mengangkat jaketnya dan turun dari kursi tinggi. Ia mengekori Sasuke. "Hai, Itachi-san. Senang ketemu kalian di sini."
"Baru pulang? Kurasa aku melihatmu keluar dari ruangan saat aku mau ketemu Shisui."
"Oh, ya, tadi mampir dulu ke suatu tempat." Sakura menatap Itachi dan Sasuke bergantian. "Tidak apa-apa, nih, aku bergabung? Kurasa aku sedang mengganggu momen kakak dan adik yang hangat," senyumnya.
"Ah, sungguh tidak apa-apa. Rasanya menyenangkan menambah orang baru di percakapan yang biasa-biasa saja—apalagi aku dan Sasuke ketemu setiap hari, pagi-siang-malam." Dia mengulum tawa.
"Kakak," Sasuke berupaya keras untuk tidak terdengar menghardik.
Itachi mengerling saja. "Kau punya rencana setelah ini? Yang kutahu, kau tidak pakai transportasi pribadi, hm?"
"Ya. Penghematan." Sakura mengangkat bahu. "Dan efisiensi."
"Kau aktivis lingkungan, aku bisa melihatnya," Itachi menyunggingkan senyum. "Mau kami antar? Sekalian ingin tahu tempat tinggalmu."
"Kalau kalian tidak keberatan ..."
"Tentu saja tidak. Ya kan, Sasuke?"
"... Ya."
"Sasuke-kun, kau baik-baik saja? Kau diam saja dari tadi. Kau membutuhkan sesuatu? Pemilik kafe ini adalah temanku, mungkin dia punya sesuatu yang akan kau sukai."
"Aku cuma ... ngantuk," selorohnya sambil menekan-nekan ujung matanya dengan ibu jari dan telunjuk.
Demi Tuhan, Sasuke, jelek sekali alasanmu, Itachi hampir saja menyuarakan hal itu.
"Oh, iya, laporan yang tadi kutunjukkan padamu panjang sekali, ya. Sori." Sakura tertawa canggung. "Masih ada hari esok, Sasuke-kun."
"Jadi, Sasuke-kun sekarang?" Itachi mengangkat alisnya.
"E-eh—" Itachi dapat melihat wajah Sakura memerah.
"Proses partnership," jawab Sasuke kaku, nyaris membuat Itachi menertawakan sang adik tepat di hadapan wajahnya sendiri.
"Yeah, proses dan langkah yang bagus." Itachi mengangguk-angguk. Dia mendadak berdiri. "Aku mau ke toilet dulu."
Sasuke dapat dengan jelas melihat niat sungguh-sungguh kakaknya. Ada kalanya dia bangga dia bisa membaca kakaknya seperti sebuah buku yang terbuka, tetapi saat seperti ini tampaknya bukan momentum yang membanggakan.
"Sasuke-kun, tidak makan apa-apa?" Sakura mengisyaratkan pada menu yang ada di depan Sasuke. Hanya secangkir kopi.
"Mereka cuma menyediakan makanan yang manis-manis. Aku benci makanan manis."
"Oh, begitu? Kebalikannya, dong." Senyum Sakura lebar dan tulus. "Aku suka makanan manis. Aah, aku tahu. Mereka punya kok, menu yang tidak manis. Sebentar, ya, aku punya daftar rekomendasinya dari temanku."
"Tidak usah repot-repot ..."
"No," Sakura buru-buru memotong, tangannya mengibas di udara, ia menggulirkan layar ponselnya dengan cepat, "sekalian merekomendasikan masakan temanku. Dia koki yang hebat untuk masakan-masakan ringan." Tak lama kemudian, Sakura menaruh ponselnya di meja dan memutarnya untuk Sasuke lihat.
Sasuke mengernyit mendapati nama-nama menu yang asing baginya. Dia bukan tipe yang suka duduk-duduk di berbagai macam kafe dan mencoba berbagai menu, makan besar lebih menarik baginya. Pada akhirnya pilihannya jatuh pada croffle pizza—nama yang tak begitu asing dan dia tak perlu mengambil risiko besar untuk bertaruh atas rasanya nanti. Yang penting bukan sesuatu yang manis. Sensasi rasa saos tomat bisa dia bayangkan dari makanan tersebut, alasan mengapa pilihannya jatuh pada benda itu.
"Baiklah, kupesan dulu ya." Sakura buru-buru ke konter pemesanan, Sasuke mengamatinya. Seorang pelayan memanggil orang lain ke pintu belakang, dan di sanalah dia menyaksikan Sakura bertegur sapa dengan sangat akrab dengan si pemilik kafe. Sasuke memalingkan wajah, merasa telah menginterupsi sesuatu.
Itachi kembali lebih dulu daripada Sakura. "Mana cewekmu?"
"Itachi," desis Sasuke, saat-saat ketika dia memanggil Itachi seperti ini adalah saat-saat yang penting, tetapi Itachi, paham betul karakter Sasuke, malah tersenyum.
"Ooh." Itachi melihat di mana Sakura berada. "Temannya banyak, ya."
"Ya ... begitulah."
"Menarik, hm?"
"Hmm," setengah sadar Sasuke menjawabnya.
tbc.
