Tokyo branch office. Wednesday: 10.30.
Pintu konektor terbuka dan Sasuke ber-hmm lebih dahulu daripada Sakura memanggil namanya.
"Pagi, Sasuke-kun."
"Pagi." Sasuke tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Sakura langsung duduk di kursi di depan meja Sasuke. Sasuke mengangkat pandangannya sebentar, hanya untuk menyibukkan diri lagi beberapa detik setelahnya. "Ya?"
"Aku tahu aku belum boleh mengajukan cuti besar yang lebih dari lima hari untuk di luar alasan sakit ... tapi ... begini. Aku mau membuat kompromi." Ia menjeda, sengaja menunggu Sasuke tetapi reaksi yang diberikan pria itu cuma pandangan yang tenang. "Kau boleh memberiku banyak tugas, biar aku yang menggantikanmu membuat laporan atau sebagainya—semua tugas-tugasmu, akan kukerjakan secara remote."
Gerakan jari Sasuke pada papan ketik berhenti. "Kau mau pergi?"
Sakura mengangguk. "Aku belum bilang ke Itachi-san, karena aku mau dengar pendapatmu dulu."
"Sebenarnya meski kaubilang pada Itachi, ujung-ujungnya juga akan secara resmi sampai padaku."
Sakura tertawa masam. Ia menggaruk pipinya. "Benar juga." Ia meluruskan punggungnya lagi. "Tapi kita kan partner. Kita harus sepakat dulu sebelum membawanya ke luar dari kita berdua." Kalimat itu mengingatkan Sasuke lagi pada gesekan yang terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu. "Aku harus pergi ... ke suatu tempat."
"Kalau minta izin, jangan setengah-setengah."
"He," ia tertawa canggung lagi, "ke luar negeri. Eropa. Bukan untuk liburan, sungguh. Karena kau partner bekerjaku, jadi aku harus membiarkanmu tahu: aku bekerja untuk sebuah organisasi non-pemerintah, yang berhubungan dengan lingkungan. Cuma paruh waktu, tapi aku bisa bilang aku memegang posisi yang cukup penting. Ada konferensi yang tidak bisa kutinggalkan ... jadi aku harus berangkat. Aku cuma perlu mengerjakan satu jadwal penting selama satu hari, tapi penerbanganku perlu transit dan aku harus mengurus sesuatu sekitar satu hari di tempat transit, jadi aku membutuhkan waktu paling tidak lima hari. Apa tidak apa-apa?"
"Sangat mendesak?"
"Sangat, tidak. Tapi mendesak, iya. Tidak ada yang bisa menggantikanku."
Sasuke menjalinkan jari-jarinya di depan wajah. "Memangnya kau bisa bekerja remote? Menangani pekerjaan di bandara, pesawat?"
"Ini bukan kali pertamaku."
Sasuke menghela napas. "Kapan kau akan berangkat?"
"Tanggal 26."
"Dua hari lagi." Sasuke mengangkat alis. "Bicarakan dengan Itachi. Setelahnya, kembali padaku."
Raut wajah Sakura kembali bersinar. "Baik! Terima kasih, Sasuke-kun! Akan kubicarakan dengan Itachi-san saat dia tidak sibuk. Aku ke ruanganku sebentar, ya!"
Sasuke masih mendengar bunyi sepatu Sakura dan pintu konektor yang ditutup ketika pintu depannya dibuka. Itachi datang sambil melambai-lambaikan tabletnya. "Hai, Sasuke. Kurasa kau akan senang mendengar rencanaku."
"Baru saja seseorang mengatakan soal rencananya yang menyenangkan." Sasuke menunjuk ke arah pintu konektor dengan ibu jarinya. "Kau di situ saja dulu, Sakura mencarimu. Aku akan memanggil—"
"Sebentar, aku mau bicara denganmu," cegah Itachi. Dia menyodorkan tabletnya. "Ada undangan dari Ayah dan Ibu, sebuah jamuan untuk perusahaan."
Sasuke menerima tablet tersebut dan membaca undangan dari sebuah yayasan yang diperuntukkan untuk kantor utama di New York.
"Karena program green human resource management di New York sudah berhasil, perusahaan mendapat perhatian khusus, terutama Ayah. Ayah dan Ibu mengajak kita berdua—tapi aku punya kewajiban penting di Beijing. Mendadak." Dia mengetuk-ngetuk meja Sasuke dengan santai. "Sebenarnya masih bisa kukerjakan secara remote, tapi aku punya saran yang lebih menarik." Dia sengaja maju mendekati Sasuke.
"Kurasa aku bisa menebaknya." Sasuke memajang wajah datar. "Pasti kau—"
"Benar sekali." Itachi menjentikkan jari. "Sakura adalah orang yang tepat. Dia ikon untuk program ini, jadi kurasa dia lebih tepat daripada aku, dan aku bisa dengan santai mengerjakan kewajibanku di Beijing. Ayah dan Ibu sudah berada di Stockholm, mereka pasti senang menyambut anak bungsu mereka dan bintang baru perusahaan."
"Sayang sekali, dia ingin mengajukan cuti darurat."
Itachi mengernyit. "Cuti darurat?"
"Ada sesuatu yang harus dia lakukan, dan dia akan berangkat ke Eropa tanggal 26."
"Keperluan apa?"
"Mungkin sebaiknya kau berbicara dengannya secara langsung. Kupanggil dia ke sini."
"Apa kau mengizinkannya?" Itachi mencegah Sasuke lagi, yang sudah hampir membuka pintu konektor.
"Tidak ada masalah bagiku. Dia punya kepentingannya sendiri. Lagipula dia berjanji untuk tetap bekerja di perjalanan."
Itachi mengangkat kedua tangannya. "Kalau begitu, tidak masalah juga bagiku."
Sasuke tidak menjawab. Dia membuka pintu dan memanggil Sakura. Perempuan itu langsung datang ke ruangan Sasuke, dan menyapa Itachi. "Itachi-san!"
"Sasuke sudah cerita." Itachi mengangguk. "Aku tidak perlu tahu apa keperluanmu karena itu adalah hakmu—dan seperti yang Sasuke bilang, asalkan kau tetap menyelesaikan kewajibanmu di perjalanan, kau mendapat izinku."
"Benar? Ah, terima kasih!" Ia gembira sampai menunduk-nunduk. "Aku berjanji aku akan menyelesaikan semuanya di perjalanan. Sebentar, kubuat suratnya dulu, ya!"
Kedua bersaudara itu saling bertukar pandang setelah Sakura pergi.
"Yah, sayang sekali. Padahal proyek perjodohanku sebentar lagi jadi kenyataan."
"Itachi!"
Sasuke sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Dibesarkan di keluarga besar dengan gaya hidup meniru budaya aristokratik, pesta perjamuan adalah hal yang sejak kecil dia temui.
Dia sudah mengalami berbagai tahapan berkaitan acara-acara seperti ini—acara ini turut mengiringi pertumbuhannya hingga ke usia dewasa. Mulai dari rasa antusias akan keramaian dan suasana prestise ketika dia kecil, kemudian lama-kelamaan menjadi bosan dan skeptis (di mana dia selalu menghadirinya dengan muka masam), kemudian masa-masa memberontak (saat dia benar-benar tidak ingin terlibat), lalu masa berdamai dan penerimaan, saat dia akhirnya sukarela menghadirinya demi nama baik keluarga dan perusahaan.
Terakhir kali acara ini dia hadiri adalah saat di Beijing. Kolega bisnis kakek dan ayahnya banyak sekali yang berasal dari Tiongkok, mereka sering sekali mengundang keluarga Uchiha, dan sebaliknya keluarga Uchiha juga melakukan hal serupa.
Di Stockholm kali ini semua terasa asing. Eropa bukan tempat yang benar-benar tak terjangkau olehnya, tetapi dia merasa tidak bisa benar-benar berada di tempat ini. Dia belum dan tidak bisa terbiasa. Perbedaan budaya dan cara bicara membuatnya kadang merasa enggan pergi dari Jepang (salah satu alasan dia menolak untuk tinggal bersama ayah dan ibunya di New York), dan saat-saat seperti inilah buktinya.
Satu-satunya alasan dia tak mundur teratur dan menghindar adalah karena dia masih bisa satu meja dengan ayah, ibu, dan kakaknya. Mereka semua terlihat rileks, tetapi pikiran Sasuke pergi ke arah lain.
Di tanggal yang bersamaan ini, Sakura juga sedang berada di Eropa. Namun dia benar-benar tidak punya petunjuk.
Sedang apa ya, dia ...
Andaikan waktu itu dia bertanya. Namun gengsi Sasuke terlalu besar untuk sekadar mencari tahu.
Sasuke memeriksa rundown acara untuk membuang rasa bosan. Pidato demi pidato telah terlewati, entah ada berapa lagi sambutan yang akan dibacakan sebelum ke inti acara: penggalangan dana.
Satu pembicara turun dari podium, digantikan oleh seseorang yang lain. Sasuke menekuri meja dan taplak putih gadingnya saat pembicara baru naik ke podium,
"Selamat malam, senang sekali bisa berdiri di sini sebagai perwakilan dari New Green Movement. Saya berterima kasih atas kehadiran Anda semua ..."
Itachi menyikut Sasuke. Sasuke tercengang, nyaris tidak mempercayai telinganya sampai matanya membuktikannya sendiri.
"... Saya Sakura Haruno, sebagai wakil ketua organisasi dan ketua tim Green Initiative dari organisasi akan memaparkan sedikit laporan dari organisasi kami ..."
Sasuke tidak berkedip. Perempuan ini ...
Dia memandang wajah ayah dan ibunya. Mereka tampak tidak terkejut, dan menyimak pidato Sakura dengan saksama. Apa mereka sudah tahu?
Apalagi Itachi. Sang kakak mengerling padanya dengan senyuman yang sangat Sasuke kenali—senyuman iseng yang tak pernah berubah sejak mereka kecil. Itachi adalah sosok kakak yang bijak dan dewasa, tetapi selalu ada momen-momen saat dia menggoda Sasuke dengan caranya sendiri.
Sasuke kembali memandang Sakura. Dress merah, bando merah jambu, anting keperakan yang menjutai, kalung sederhana dengan permata rubi, Sakura yang satu ini tampak elegan sekaligus bersahaja dalam waktu yang bersamaan. Jika Sasuke rasa kepercayaan diri Sakura saat menyampaikan presentasi di hadapan para atasan adalah yang paling maksimal, perempuan itu bisa memperlihatkan sesuatu yang lebih lagi malam ini. Ia terlihat seperti wanita yang tidak tergapai, bukan partner kerja di ruang sebelah yang suka naik bus untuk pulang-pergi ke kantor. Ia terlihat seperti wanita aristokrat, bukan orang yang suka membawa jajanan pinggiran sebagai bekal ke kantor.
Mata hijaunya bergerak luwes, meminta perhatian dari para hadirin—dan ia berhasil mendapatkannya. Pesonanya membuat orang-orang memperhatikannya. Kata-katanya tersusun rapi seakan-akan sudah ia hafalkan siang dan malam. Lipstiknya merah muda lembut, senada dengan rambutnya, gerakan bibirnya sangat lihai dalam membentuk kata-kata.
Ia bisa mengendalikan suasana, ia bisa mengontrol perhatian orang-orang. Di sanalah Sasuke teringat lagi kata-katanya, kau ingin kontrol atas sekitarmu. Sasuke menyerah, mengaku kalah—bahwa yang sebenarnya lebih lihai dan tahu caranya mengontrol adalah Sakura. Jika dia melakukannya tanpa sadar, karena bawaan dirinya yang dididik dengan kendali orang-orang di sekitarnya, maka Sakura adalah sebaliknya. Ia tahu caranya menakar kontrol atas orang-orang di sekitarnya, dan tahu kapan harus melakukannya dengan kadarnya sendiri.
Sambutan Sakura disahut dengan tepukan tangan. Yang membuat jantung Sasuke nyaris melompat adalah ibunya berdiri, lalu melambaikan tangan ke arah Sakura—yang ajaibnya, langsung memandang ke arah meja mereka.
Apa-apaan ini?
Sakura menghilang sebentar ke balik tirai putih di depan sana, tapi tak lama kemudian ia keluar. Sasuke terdiam bingung.
"Mikoto-san!" Ia berlari kecil ke arah meja mereka. "Fugaku-san. Senang bertemu kalian di sini!" Ia membungkuk ke arah Fugaku, kemudian Mikoto mengulurkan tangannya, yang langsung disambut Sakura. Dengan begitu ringannya Sakura membalas pelukannya, bahkan Mikoto mencium pipinya.
What the hell?
"Itachi-san, Sasuke-kun." Senyumnya semringah. "Aku tidak tahu keluarga Uchiha juga diundang, sungguh. Andainya aku tahu."
"Dan kau repot-repot mengajukan cuti," Itachi menjauh dari kursinya untuk—dengan sengaja—mempersilakan Sakura duduk di tempatnya, kemudian dia bergeser ke kursi lain.
Apa yang terjadi malam ini tidak bisa lebih aneh lagi bagi Sasuke: Mikoto memberi isyarat pada Itachi untuk mengubah lagi posisi agar ia bisa berada tepat di samping Sakura.
"Aku baru tahu kau adalah bagian dari organisasi itu," Mikoto memegang tangan Sakura. "Baiklah, sudah jelas donasi dari Uchiha akan menuju ke mana secara khusus malam ini." Ia menepuk-nepuk punggung tangan Sakura. "Kau cantik sekali malam ini, Sakura. Kau punya tim make up artist sendiri?"
"Ah, Mikoto-san, Anda terlalu berlebihan. Saya berdandan sendiri. Saya juga datang sendiri ke sini. Teman-teman dari organisasi sudah menunggu—tapi saya baru bisa berangkat tanggal 26. Ketua berhalangan hadir karena ibunya sakit keras ... jadi saya yang menggantikan."
"Kau sibuk sekali, ya? Sasuke tidak memberimu cuti?"
Sakura melirik canggung pada Sasuke di sampingnya. Telinga Sasuke memerah, Sakura menyadarinya tetapi pura-pura tidak tahu.
"Kuberi, kok ..." Anak itu tampak malu-malu, tetapi gengsinya jauh lebih besar.
Sejenak kemudian, Mikoto tertawa kecil setelah terdiam agak lama. "Maaf, maaf. Ibu baru sadar, kau kaget, ya? Selama dia training, pembimbing tidak resminya adalah Ibu, Sasuke."
"... Kenapa bisa?"
"Karena sesungguhnya yang paling ingin program ini diterapkan adalah ibumu," Fugaku buka suara setelah sekian lama. "Kau pasti paham hobi bercocok-tanamnya, kebiasaan daur ulangnya."
Secara mental, Sasuke mengusap wajahnya berkali-kali. Secara fisik, dia adalah patung batu di tengah-tengah acara para kaum penuh privilese.
"Sakura, kau sudah pesan tiket pulang? Atau kau mau bergabung di pesawat kami? Hanya ada kami berempat selain kru," Mikoto kemudian merendahkan suaranya, "tidak ada teman bicara wanita untukku. Maukah?"
Sasuke menggaruk telinganya, berharap bisa menutupi warna merah yang tidak kunjung hilang.
"Yah ... jika tidak keberatan ..."
Mikoto beradu pandang dengan Fugaku. Fugaku mengangguk. Mikoto tersenyum cerah. "Baiklah, aku perlu laporan langsung darimu tentang hasil pelatihanmu di Tokyo. Boleh, hm?"
Sakura mengangguk sopan. "Siap, Mikoto-san."
Sasuke melempar pandangan pada Itachi. Itachi langsung memalingkan muka, tetapi senyumannya tak bisa pudar.
tbc.
a/n: happy new year!
