Ketika ada jeda; tidak ada seorang pun yang mengajaknya bicara, Sakura bisa merasakan dengan jelas tangannya dingin. Sedikit tremor, terkadang.
Ini kali pertamanya ikut jet pribadi. Damn, pikirnya, jadi ini keseharian Sasuke?
Ia tahu bagaimana besarnya keluarga Uchiha dan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam hidup mereka, tetapi merasakannya langsung adalah pengalaman yang (sungguh) bikin merinding. Ia duduk menyendiri di sudut, merasa ini bukan tempatnya. Meski Mikoto menekankan padanya, santai saja, anggap seperti biasanya kau berada di pesawat, ia tetap merasa seperti orang asing yang tidak diinginkan.
Sesekali Itachi melempar senyum ke arahnya atau menawarkan buah-buahan yang baru dikeluarkan dari lemari es, tetapi sebagian besar ia tolak.
Sakura mengecek rute. Mereka masih berada di kawasan Eropa. Mereka sempat transit sebentar di Munich, tapi tampaknya tidak akan ada transit lagi. Masih ada sekitar dua belas jam lagi menuju Tokyo, aku harus apa? Sakura menatap jendela dengan pasrah. Mungkin sebaiknya ia bekerja saja.
Ia menyalakan laptopnya, tetapi kelabakan karena kebingungan mencari tabletnya, karena satu hal repetitif yang selalu Sakura lakukan sejak awal berangkat adalah memastikan barang-barangnya lengkap. Ia pernah pergi ke Eropa dan meninggalkan sebuah tas berisi baju, yang terpaksa ia relakan pada akhirnya. Jika ia melakukan hal itu lagi dan merepotkan satu keluarga ini, ia tahu ia tak akan punya muka lagi untuk berhadapan dengan mereka.
Di depan sana, ia melihat serangkaian adegan yang sepertinya biasa terjadi pada dua bersaudara Uchiha. Itachi mendorong Sasuke sambil tersenyum-senyum, dan Sasuke menggumamkan sesuatu yang tampaknya seperti apa-apaan sih, Kak. Sakura pura-pura sibuk dengan laptopnya ketika Sasuke melihat ke arahnya.
Tabletku mana, tabletku mana, ia kembali panik pada alasan sebelumnya.
"Kau mencari ini?" Sasuke menyodorkan tabletnya.
"I-iya." Sakura mengambilnya dengan pelan.
"Kau meninggalkannya di depan saat kita makan pagi." Sasuke mengedikkan dagu ke arah tempat Itachi berada.
"Wow, thanks. Aku takut tertinggal di Munich saat kita transit."
Sasuke berisyarat pada kursi di sebelah Sakura. Sakura lekas-lekas mengangguk. "Boleh."
Sasuke duduk dengan desahan lega, seperti baru melepaskan beban. Orang ini kenapa? Sakura memandangnya dengan bingung. Namun ia menyembunyikannya, ia mulai membuka berkas-berkas pekerjaannya.
"Tidak usah bekerja."
"... Kenapa?"
Sasuke memandang punggung Itachi. "Bosmu di sini dan dia tidak bekerja. Mending tidak usah."
"Dia kan bosku. Bos kita." Sakura tersenyum. "Lagipula, aku punya janji padamu."
"Tidak usah dipikirkan. Aku di sini dan aku juga tidak bekerja. Tidak perlu memaksakan dirimu."
"Ya, tapi ..."
"Kita partner, huh?" Sasuke menelengkan kepala. "Tidak perlu melakukan apa yang tidak perlu kita lakukan."
Sakura melunak. Dan jantung, tolong jangan bikin gejolak yang tidak perlu. Ia menyunggingkan senyum. "Baiklah." Ia menutup jendela-jendela pekerjaan di laptopnya dan kemudian menutup laptopnya.
Sasuke sedang memandang awan di luar. Sakura mengerjap, keteduhan di hadapan wajahnya tak bisa ia lewatkan begitu saja. Rahang tegas Sasuke, hidungnya yang bangir, bibir tipisnya yang mengering karena suhu yang dingin di dalam pesawat. Sakura menahan napasnya. Sekilas, Sasuke terlihat dingin, tetapi mata tenangnya memberikan kehangatan. Sakura bisa merasakannya; sama seperti ketika gelombang embun sejuk terakhir pada pagi hari mulai terangkat dan hangatnya mentari mulai melingkupi, Sasuke memberikannya sensasi itu. Jejak dingin tetap terasa, tetapi dia juga hangat pada saat yang bersamaan.
Ia bisa merasakan pipinya menghangat. Ia buru-buru memalingkan wajah sebelum tertangkap basah.
Sakura pun menyentuh jendela tanpa alasan. Ia merasa begitu dekat dengan awan, merasa bisa meraihnya.
Seseorang bisa tahu ketika ada sepasang mata yang mengawasi. Sebagai seseorang yang selalu awas pada sekitar, Sakura pun menoleh. Sasuke sedang melihat ke arahnya. Sakura mematung, tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memberikan senyumnya yang paling tenang (meski gejolak di dalam dadanya meledak-ledak), berhadap hal itu bisa bersanding dengan kehangatan di wajah Sasuke.
"Hm." Sasuke pun mendeham. Sakura tertawa kecil untuk melunturkan suasana canggung. "Orangtuamu tinggal di mana?" Sasuke telah menemukan bahan pembicaraan yang cukup brilian.
"Ayah dan Ibu di Kanagawa. Ayah masih bekerja, tapi Ibu memilih pensiun dini."
"Bekerja di mana?"
"Perusahaan keluarga, bisnis properti. Ibu dulu di kantor diplomat."
Sasuke mengangguk-angguk. "Tidak ingin ikut di bisnis keluargamu?"
"Aku punya minat yang berbeda." Sakura menatap kosong lagi ke jendela. "Aku pernah terlibat di organisasi lingkungan hidup saat SMA, itu yang membuatku ingin terlibat lebih jauh di bidang ini. Itu tidak bisa kudapatkan di tempat ayahku."
"Tapi kaubilang sebelum ini kau bekerja di bidang teknologi medis."
"Well, Sasuke-kun, satu orang bisa punya lebih dari satu minat, hm? Aku juga tertarik dengan bidang medis. Aku pernah ingin jadi dokter, tapi jalurku bukan ke sana." Ia bisa melihat antusiasme di mata Sasuke. "Sasuke-kun sendiri?"
"Apa?"
"Maksudku, minatmu."
Sasuke mengangkat bahu. "Entahlah."
"Yang kutahu, kau lulusan graduate school manajemen di Amerika, kan?"
"Aku cuma menjalani hidup."
Sakura tertawa halus. "Aku juga menjalani hidup. Tidak ada minat khusus di bidang tertentu?"
Sasuke belum pernah benar-benar memikirkannya. Dia melihat Itachi masuk ke salah satu boarding school, dia mengikuti. Itachi kuliah di California, dia juga ikut karena baginya itu praktis. Nilainya tak buruk, paling tidak dia bisa mengimbangi Itachi. Kata orang-orang, mereka berdua kakak-adik yang cerdas, tetapi baginya dia hanya melakukan apa yang harus dia lakukan.
"Sebenarnya tidak masalah kalau tidak ada. Semua orang punya preferensi masing-masing. Ada yang punya target besar dengan passion-nya, ada yang menjalani hidup dengan tenang tanpa obsesi yang besar. Benar begitu?"
"Kurasa begitu," Sasuke cuma membeo. Tidak pernah ada yang menanyakan hal seperti itu padanya disertai dengan pemakluman yang luar biasa murah hati. Biasanya, jika dia bilang bahwa dia hanya ingin hidup biasa-biasa saja, orang-orang akan bilang, kau punya segalanya, kenapa tidak melakukan ini, itu, blablabla. Tapi baginya, jika dia bisa bangun setiap hari dengan melihat perusahaan keluarganya berjalan dengan baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal.
"Sasuke-kun, kau tampak mengantuk." Sakura menengok wajahnya. "Tidak apa-apa kalau kau mau tidur."
Sasuke menyilangkan tangannya di depan dada sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Dia menghela napas. Sakura salah mengartikan perenungannya sebagai kantuk, tapi ya sudahlah. Tak perlu banyak memprotes. "Mungkin aku memang butuh tidur."
"Ya, silakan. Selamat tidur."
Ucapan itu terdengar janggal, tetapi Sasuke menikmatinya. Dia sengaja tak ingin berpindah tempat, dan memejamkan mata di sana. Dia melirik dari sudut matanya sebelum berpejam, melihat Sakura menatap ke arahnya dan tidak berkedip.
Jadi begini rasanya...?
Sakura tidak tahu kapan ia mulai terlelap, ketika bangun ia merasa disorientasi. Di luar sana sudah gelap, dan ia tidak bisa menerka berada di mana mereka sekarang. Mereka terbang menuju timur, malam akan terasa lebih cepat larut daripada keseharian normal. Ia melamun cukup lama, memandangi kursi di hadapannya yang kosong.
"Sakura, ayo kita makan." Mikoto setengah berbisik. Sasuke masih tidur di sampingnya.
Sakura pun berdiri sambil menggosok pipinya. Ia menoleh, mendapati jaketnya masih tersampir di punggung kursi. Pasti jaketku membekas. Ia pun dengan hati-hati membereskan barang-barangnya, lalu melewati Sasuke yang masih nyenyak. Ia menuju ke toilet untuk mencuci mukanya sebentar, lantas bergabung di depan bersama Fugaku, Mikoto, dan Itachi.
Berbeda dengan beberapa jam yang lalu, di mana hanya ada roti dan buah-buahan, sekarang makanan yang disajikan adalah makan besar.
"Ayo sini." Mikoto mengambilkan satu porsi untuknya, piring yang penuh dengan sayur-sayuran dan daging.
Sakura menyambut piring itu, dan bermaksud untuk duduk di kursi pada sisi lain.
"Eh, mau ke mana? Di sini saja." Mikoto menepuk kursi di sampingnya. "Kau diterima kok, di sini. Jangan sungkan."
Sakura tersenyum kikuk. Ia dengan malu-malu duduk di hadapan Itachi yang sudah mulai makan. "Selamat makan," ucapnya pelan sambil melirik pada Mikoto. Mikoto memberikannya botol air mineral, kemudian mengecek sesuatu di ponselnya sambil makan. Di hadapannya, Fugaku bersantap dengan tenang.
Sakura merasa dirinya menciut. Jadi begini aura keluarga Uchiha ...
"Bagaimana kerja dengan Sasuke?" tanya Mikoto dengan nada ringan. "Dia tidak merepotkanmu, kan?"
"Dia partner yang baik," jawab Sakura sopan. "Dia juga membagi tugas dengan baik, kadang-kadang menunggu sampai esok hari dan bukannya mengirimiku pekerjaan di tengah malam."
"Hmm, benar kan yang kubilang, Bu," Itachi menimpali. "Dia mampu."
"Yah, kau pasti paham, Sakura, dia anak bungsu. Kadang-kadang aku masih melihatnya sebagai anak kecil, kadang aku ragu apakah dia bisa—tapi sekarang dia sudah dewasa."
"Aku mendengarnya, Bu." Tiba-tiba saja Sasuke mengambil piring dari hadapan Itachi, dan Sakura mundur karena terkejut. Itachi membantunya mengambil makanan, dan wajah Sasuke menampakkan keengganan untuk berdebat. Dia mematung di sana dengan kantuk yang masih terlihat jelas menggantung di matanya.
"Cuci mukamu dulu, Sasuke," komentar Mikoto sambil mengambil botol air mineral untuk putranya.
"Sudah," jawab Sasuke, pelan dan malas.
Sakura ingin beranjak sambil menunjuk tempat yang didudukinya, ia masih merasa ia menginterupsi momen keluarga Uchiha yang ia tahu tak bisa terjadi setiap hari ini, tetapi Sasuke mengangkat tangannya, menolak halus. Dia mengambil tempat duduk di sisi lain, dia dan Itachi dipisahkan oleh gang. Dia mulai makan tanpa suara.
"Sakura, sudah punya pacar?"
Sakura nyaris tersedak karena pertanyaan Mikoto. Itachi mendorong botol minumannya lebih dekat padanya. Ia segera minum, kepalanya setengah tertunduk karena malu. "Belum, Mikoto-san. Aku terlalu sibuk."
Dari sudut matanya, dia bisa melihat Sasuke melirik ke arahnya. Aduh, tatapannya.
"Begitu. Kukira karena kau aktif di banyak tempat—kantor, organisasi, dan sirkelmu yang lain, kau sudah punya pasangan." Wanita itu tersenyum.
"Sayang sekali, meski temanku banyak, aku tidak sempat melihat orang lain dengan cara yang seperti itu—banyak yang harus kuselesaikan. Aku sempat takut dengan karirku ketika aku resign dari perusahaan sebelumnya."
"Hmmm, benar. Sayang sekali." Mikoto menyeka bibirnya dengan kain. "Sebelumnya kau bekerja di Senju, kan? Perusahaan itu bonafit, tapi kau keluar dari sana. Ada sesuatu, kah?"
"Aku kurang cocok dengan atasan-atasan yang baru. Tsunade-shishou adalah orang yang baik, tapi dia mengundurkan diri dan lebih suka di organisasi kesehatan yang dia dirikan. Dia lebih suka jalan-jalan."
"Kau akrab dengan Tsunade-san? Aku mengenalnya." Mikoto menepuk tangan Sakura lembut, tampak telah sangat familiar dengan anak itu. "Kami pernah sama-sama bertugas sebagai volunteer di Lagos. Dia senior yang sangat baik."
"Ya, cukup dekat. Beliau mentorku. Ketika dia mengundurkan diri, perusahaan berubah drastis, seperti sebuah perombakan besar-besaran. Aku tidak cocok dengan lingkungan itu."
"Hmmm. Kau menemukan rumah baru yang tepat, Sakura. Lingkungan baru ini menyenangkan untukmu, kurasa? Semoga betah, ya."
Secara naluriah Sakura mengerling lagi pada Sasuke, dan pria itu juga sedang memandangnya. Ia buru-buru mengalihkan tatapan ketika ia rasa Itachi menangkap basah mereka. Benar saja, pria itu diam-diam tersenyum.
"Sakura, ingin apel? Kulihat kau suka sekali apel."
Sakura mengangguk. "Boleh, Mikoto-san. Terima kasih. Tidak perlu dipotong, aku lebih suka memakannya langsung."
Sakura kira seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, ia akan perlahan terbiasa dan kebal dengan jetlag.
Namun ternyata, perlahan itu tidak sekarang. Ia masih pusing dan mengantuk meski sudah satu hari berlalu sejak kedatangannya ke Tokyo. Ia tak dapat berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya, sehingga sampai sekarang, jam kerja sudah berlalu, ia masih belum bisa menyelesaikan to-do-list yang harusnya selesai hari ini.
Pintu konektor terbuka. Ia menoleh, dan ia yakin Sasuke mengangkat alisnya karena heran melihat kantung matanya. Ia tidak akan bilang-bilang bahwa ia sempat terlelap di jam makan siang tadi.
"Sakura." Dia mengangkat sebuah kotak makan yang bersih. Dia berjalan mendekat. "Sudah kucuci."
"Oh, taruh saja di situ." Sakura mengedikkan dagu ke arah nakas di dinding dekat Sasuke. "Kau repot-repot sekali mencucinya."
Tadi pagi Sakura membawa banyak buah-buahan untuk camilan, sebagian ia antarkan ke ruangan Sasuke. Ia sengaja membawa banyak potongan tomat, ia sisihkan untuk pria itu.
"Tidak pulang?"
"Belum." Sakura memijat keningnya. "Belum selesai."
Sasuke berbalik, tetapi Sakura tidak mendengar pintu ditutup. Ia menoleh ketika Sasuke kembali lagi, membawa tasnya dan duduk di sofa.
"Huh?"
"Kutunggu."
"Hei, tidak perlu. Aku bisa lembur sendiri."
Sasuke tampak tidak peduli. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas. Sakura menyelidiki, dan melihat tulisan teh pada kemasannya. Sasuke menuju dispenser, mengisi tumblernya dengan air panas dan menyeduh teh tersebut.
"Kau suka teh?" tanya Sakura setelah Sasuke duduk kembali.
"Ya. Lebih suka daripada kopi." Dia menyeruput minumannya.
"Teh apa itu?" Sakura mulai bekerja lagi. Mengamati Sasuke dan gerak-geriknya hanya akan menghambat pekerjaannya.
"Darjeeling." Sasuke menghampiri dan memberikan serbuk teh itu. "Mau?"
"Boleh. Nanti kubuat."
"Kubuatkan sekarang?"
Sakura mengangkat pandangannya. Sasuke bergeming.
"Kalau kau mau ..."
Sasuke tak banyak bicara. Dia menuju ke tumpukan paper cup di samping dispenser, lalu membuatkan teh yang sama untuk Sakura. Sakura menahan napasnya, ya Tuhan, dia membuatkanku teh?
Pria itu meletakkan gelasnya di meja Sakura, kemudian duduk dengan nyaman lagi di sofa. Sakura menggumamkan thanks dengan pelan.
"Kau suka Earl Grey?" Sakura membuka pembicaraan dengan nada bicara yang hati-hati, sekadar menyembunyikan gejolak perasaannya yang hampir meledak-ledak lagi. Sensasi yang sama seperti yang ia rasakan di pesawat waktu itu.
"Tidak terlalu," jawab Sasuke, "aku tidak suka aroma bergamotnya."
"Sama," Sakura mencicipi tehnya. Rasa pekatnya melekat di lidahnya, dan ia langsung menyukai sensasi itu. "Ini rasa favoritmu?"
"Ya. Selain teh hijau."
"Oh, ibumu juga suka sekali teh hijau. Kau sama sepertinya."
Sasuke menoleh mendengar siapa yang disebut Sakura. Dia diam agak lama. "Seberapa jauh kau mengenal ibuku?"
"Cukup seperti atasan dan bawahan." Sakura mengetik lagi, kali ini lebih cepat. Ia begitu ingin semua ini cepat berakhir. "Ibumu punya peran besar di kantor New York, ya. Dia banyak melatihku selain ayahmu dan mentor-mentor dari kantor. Aku pernah diajak ibumu merawat taman vertikal itu ... menyenangkan sekali. Ibumu sangat ramah dan penyayang."
"Hmm." Sasuke meletakkan tumblernya ke atas meja. "Orang-orang di sekitarku bilang, ibuku sangat ingin anak perempuan."
Sakura tersenyum. "Bisa dimengerti." Sakura mengetuk-ngetukkan jarinya pada laptop, memikirkan kalimat laporan yang selanjutnya juga cara menjawab Sasuke. "Kukira kakakmu sudah menikah. Ternyata belum, ya."
"Dulu ... pernah ada seseorang. Tapi, entahlah. Itachi tidak pernah menceritakannya lagi."
"Begitu ..." Sakura menatap Sasuke sebentar. "Awalnya kukira kau juga sudah menikah."
"Kenapa bisa berkesimpulan begitu?"
Sakura tertawa kecil. "Firasat saja." Ia pun kembali bekerja. "Aku selalu menganggap pria-pria di sekitarku, setiap aku bekerja, adalah milik orang lain, sehingga aku tidak perlu menyimpan perasaan yang juga tidak perlu." Ia mengangkat bahu. "Agar pekerjaanku tidak terganggu."
"Sepertinya itu alasanmu tidak punya pacar di pekerjaanmu yang banyak itu."
Sakura pura-pura mendengkus, tetapi ia nyengir. "Mungkin kau ada benarnya."
Sasuke menatapnya, tetapi Sakura hanya pura-pura tidak tahu. "Kau merasa benar-benar tidak perlu?"
"Entahlah. Yang tepat mungkin akan datang dengan sendirinya."
"Kau tidak berusaha—kau membuat dinding itu untuk orang-orang di sekitarmu."
"Sasuke-kun, dinding itu bukannya tanpa celah." Sakura mengatupkan tangannya, seperti sedang merenungkan sesuatu dengan penuh pertimbangan. "Aku akan tahu ketika seseorang berhasil menelusup masuk begitu saja ... dan begitu aku sadar, dia akan berada di depanku."
Detik-detik yang berlalu saat mereka berpandangan setelah Sakura menyelesaikan kalimatnya terasa begitu lama bagi mereka berdua. Sampai akhirnya Sakura benar-benar menyadarinya, ia segera menunduk dan bekerja seolah-olah tidak pernah mengatakannya. Sasuke masih menatapnya.
"Di depanmu, ya."
Sakura berpura-pura tidak mendengar.
tbc.
