Tokyo branch office. Monday: 17.12.
Sakura mendorong pintu dengan pelan sambil memanggil, "Sasuke-kun."
"Mm." Sasuke berputar di kursinya. Dia sedang mengetik pesan di ponselnya, matanya terpaku pada gawai tersebut. Dapat dia lihat Sakura membawa sebuah tas karton. "Aku beli menu pesan-antar. Mungkin kau mau? Pemilik restorannya adalah temanku, dia memberiku terlalu banyak. Tidak mungkin kuhabiskan sendiri."
Sasuke mengangkat pandangannya, Sakura sedang membuka tas karton itu di meja tamu di hadapan meja kerjanya. Perempuan itu pun memperlihatkan kotak bening berisi onigiri. "Seingatku, kau suka onigiri, hm?"
Sasuke pun bangkit dari kursinya, menengok isi tas tersebut. Masih ada dua tumpuk kotak di bawahnya. "Semuanya onigiri?"
"Yang paling bawah bukan. Itu menu sayur-sayuran, permintaan khusus dariku." Sakura memberikan kotak tersebut dan Sasuke menyambutnya.
"Buka ini saja dulu." Sasuke duduk di sofa. "Kalau kau mau makan sekarang ..." Dia baru sadar, mungkin Sakura tidak ingin makan sekarang dan membeli ini untuk makan malam saja.
"Boleh. Aku tidak makan siang tadi." Sakura menggaruk pipinya.
"Apa karena rapatnya?"
"Bukan. Setelah rapat, aku kembali ke ruangan dan keterusan menyusun program kerja. Lalu ... lupa makan. Hehe."
"Harusnya kau ikut aku dan Itachi saja tadi." Sasuke melirik ke tas karton barusan. "Kau diet?"
Sakura menggeleng. "Bukan diet secara khusus ... hanya mengatur menu makananku sesuai jumlah kalori, protein, dan vitamin yang kubutuhkan. Tapi aku masih sering mencurangi jadwalku sendiri."
Sasuke mengambil onigiri untuknya. Dia melihat mata Sakura terpaku pada beberapa buku di sudut meja rendah yang mereka hadapi. Buku itu masih baru, dua di antaranya belum dia buka segelnya. Buku itu dia beli secara daring, baru tiba di ruangannya tadi pagi dan baru sempat dia buka sedikit.
"Ini genre favoritmu?" Sakura menengok ke judulnya, lalu membaca dua judul di bawahnya. "Sastra Rusia?"
"Aku tidak punya genre favorit secara khusus. Kalau terlihat menarik, akan kubeli."
"Hmmm, Dostoyevsky dan Tolstoy, ya." Sakura mengangguk-angguk. "Aku punya beberapa buku dari Rusia. Chekov dan Kafka. Waktu itu aku kegiatan organisasi ke Moskow dan Saint Petersburg, aku beli bukunya di sana." Sakura tersenyum sambil makan. "Aku punya kebiasaan, setiap kali ke tempat baru, aku akan beli buku sebagai memento. Meski aku tidak bisa membaca beberapa di antaranya, rasanya tetap menyenangkan karena dengan buku, aku bisa mengingat dengan jelas tempat-tempat yang kukunjungi."
Sasuke menyimak dengan tulus. "Kemarin, saat ke Stockholm, kau juga melakukannya?"
"Oh, itu bukan kali pertamaku ke Stockholm, jadi aku tidak beli apa-apa." Sakura mengambil minuman dari tas karton tersebut, sebuah botol yang nampaknya berisi jus. Ia minum dan tak menyadari bagaimana cara Sasuke memandang lehernya saat ia menenggak jusnya. Pria itu buru-buru mengalihkan pandangan sebelum wajahnya tambah panas.
"Kapan ... kau pertama kali ke Stockholm?" Sasuke menyambung pembicaraan itu hanya agar dia mampu mendistrak dirinya sendiri.
"Dua tahun lalu. Waktu itu aku beli The Red Room, karya Strindberg."
"Aku pernah mendengarnya." Sasuke mengangguk-angguk. "Kau suka novel klasik?"
"Aku lebih suka petualangan, sebenarnya. Terutama yang serial. Baru-baru ini aku keep up dengan buku-buku Leigh Bardugo. Benar-benar tipe favoritku."
Sasuke baru akan menyahut, tetapi pintu depannya terbuka. Orang yang tak mau repot-repot mengetuk biasanya jika bukan Itachi, pasti Shisui.
"Ah, pas sekali. Dua-duanya di sini." Itachi menutup pintu di belakangnya. "Aku punya tugas untuk kalian berdua."
Itachi berdiri di hadapan mereka dan dia nyaris tertawa melihat Sasuke dan Sakura malu-malu menciptakan jarak di antara mereka. Mereka sama-sama bergeser ke kedua ujung sofa. Dia memutuskan untuk tidak menggoda mereka sekarang. "Ayah ingin kalian ke kantor Beijing. Divisi SDM ingin mendengar program kita. Bawa dokumen panduan dasar secukupnya."
"Hmm." Sasuke merasakan gelombang nostalgia pada kantor pertamanya. "Kapan?"
"Besok kalian berangkat. Aku sudah minta sekretarisku memesan tiket untuk kalian berdua. Jadwal dua hari di Beijing mulai lusa, tapi aku memberi kelonggaran jika kau ingin lepas kangen dengan Beijing sehari setelahnya. Asalkan laporan tepat waktu, tidak masalah."
Mereka berdua saling berpandangan.
"Mengerti? Ada yang kurang jelas?"
"Nanti aku bicara ke mereka yang di Beijing." Sasuke mengangguk. "Kau tidak ikut?"
"Buat apa? Efisiensi, Sasuke. Yang dibutuhkan saja yang pergi." Itachi berjalan lagi menuju pintu. "Selamat bekerja, kalian berdua."
Sasuke mendengkus pelan. Dia bertaruh dia bisa melihat kakaknya menyeringai tipis sebelum menutup pintu.
"Well," Sakura mengerjap dengan cepat. "perjalanan bisnis pertamaku, kurasa?"
Sasuke tidak banyak tidur sejak hari sebelumnya, dan di pesawat dia tidak dapat beristirahat sama sekali. Berbeda dengan Sakura yang tampaknya rileks dan sempat tidur meski film di entertainment-on-board-nya tetap menyala.
Dia menolak tawaran untuk dijemput oleh staf kantor. Dia dan Sakura datang di jam kerja, sehingga dia tidak ingin merusak jadwal pekerjaan orang lain. Naik taksi adalah sesuatu yang biasa untuknya.
Di tengah-tengah perjalanan, Sakura menyikutnya pelan. "Itachi tidak bilang soal hotel ..."
"Oh." Sasuke baru menyadarinya. "Kita tidak menginap di hotel."
"Ha?"
"Keluargaku ... punya apartemen di sini." Sasuke tidak ingin menatap wajah Sakura secara langsung. "Aku pernah bekerja Beijing, dulu aku tinggal di situ ..."
Dia bisa mendengar menggumamkan wow dengan pelan.
Apartemen itu sangat bersih untuk ukuran tempat tinggal yang tidak lagi dihuni dalam hitungan tahun. Sakura menebak, orang yang membersihkannya datang lebih sering dari yang ia kira. Seperti yang diharapkan dari keluarga Uchiha, huh.
"Ini kamarku," Sasuke menunjuk kamar yang paling dekat dengan ruang tengah. "Dan di sana kamar tamu." Dia mengedikkan dagu ke arah kamar yang berseberangan dengan tangga menuju ke bagian atas. "Anggap saja ini hotelmu."
"Mmmnn," Sakura bergumam pelan sambil berjalan menyeret kopernya ke kamar yang dimaksud Sasuke. "Ini lebih baik dari hotel." Ia menoleh sambil tersenyum pada Sasuke. "Yang kurang mungkin cuma layanan makan dan restoran."
Sasuke berhenti di depan pintu kamarnya. "Kau boleh memakai dapurnya, kalau kau mau ..."
Sakura mengangkat alisnya. "Baiklah ... thanks."
Sakura keluar dari kamarnya setelah mandi. Rambutnya masih basah, air bertetesan ke handuk kecil di pundaknya. Ia yang awalnya mengira bahwa mereka akan menginap di hotel tidak mau repot-repot membawa pengering rambut. Ia bertemu Sasuke yang keningnya mengernyit, sedang membaca sesuatu di laptopnya.
"Kukira kita akan langsung ke kantor hari ini juga."
"Mereka tidak menjadwalkan apapun untuk kita." Sasuke mengangkat pandangannya pada Sakura, dan jelas ada sesuatu yang membuat matanya membesar, kemudian menunduk lagi pada laptopnya. "Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka."
Sakura duduk di seberang Sasuke. "Jadi kita baru mulai besok pagi, hm?"
"Sesuai yang diperintahkan Itachi." Dia mengetikkan sesuatu pada laptopnya. "Tapi ... kalau kau ingin mengenal mereka lebih dulu, persiapan sebelum besok, kita bisa makan siang dengan mereka."
"Kedengarannya bagus." Sakura berhenti sebentar menggosok rambutnya. "Mereka semua Uchiha juga?"
Sasuke tidak dapat menyembunyikan senyumnya. "Hanya tersisa dua orang Uchiha di lini yang akan kita temui." Dia mengerling sesaat. "Sisanya bukan Uchiha, tapi tetap Uchiha."
Sakura menangkap maksud sarkastis Sasuke dan ia terkekeh. "I see." Ia melirik ke kiri dan kanan, tidak ada jam di sekitar sini, dan ia meninggalkan ponselnya di kamar. "Berapa jam lagi menuju makan siang?"
"Sekitar satu jam," jawab Sasuke datar.
"Boleh aku jalan-jalan di sekitar sini?" Sakura memohon, matanya menatap tanpa kedip. "Mungkin ada makanan yang enak atau ada sesuatu yang menarik."
Sasuke cuma mengangguk dan bergumam. Sakura memekik gembira dan segera kembali ke kamarnya. Sasuke memandang punggungnya saat ia keluar dari apartemen tersebut.
Dia memandang hampa pada draf yang sedang dibuatnya. Otaknya mendadak kosong, tidak dapat memproses apa-apa—dan yang mampu dia pikirkan sekarang hanyalah wanita berkaos merah yang baru saja keluar dari rumahnya.
Tidur malamnya tak begitu nyenyak.
Di kantor, ruangannya tepat bersebelahan dengan ruangan Sakura. Namun hal itu tak pernah membuatnya memikirkan hal-hal lain, berbeda dengan sekarang saat tempat tidur mereka hanya terpisah beberapa langkah. Pikirannya lagi dan lagi tertuju pada Sakura di seberang sana—apakah tidurnya nyenyak? Apakah ia nyaman di rumah ini? Apa yang ia pikirkan? Apa ia memikirkan pekerjaannya atau hal lain? Apakah ia menyukai perjalanan ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya sampai pagi. Dia sempat terlelap beberapa kali, dan juga terbangun sama seringnya dengan dia merasakan tubuhnya hanyut terbawa kantuk dan rasa lelah. Mimpi-mimpi yang tak jelas mengisi jeda-jeda di antara keadaan itu dan dia tak mampu mengingatnya satu pun.
Apa yang dia temukan setelah dia keluar kamar sama sekali tidak membantu.
Dia mendapati Sakura berada di dapur. Ia memunggungi Sasuke, uap mengepul dari hadapannya. Sasuke berfirasat perempuan itu sedang menyeduh teh.
Ia masih memakai piyamanya, satin merah jambu. Rambutnya sedikit berantakan, ujungnya mencuat ke luar di pundaknya. Ia tidak memakai bandonya sama sekali.
Pikiran Sasuke dipenuhi oleh rasa hangat yang meluap-luap. Mendapati perempuan itu sebagai orang pertama yang dia temui setelah membuka mata menyingkap penyadaran yang selama ini sebenarnya telah ada di dirinya tetapi dia abaikan: dia menginginkan ini.
Dia berjalan mendekat, tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk ini. Sakura menyadari kedatangannya.
"Eh, Sasuke-kun!" Sakura menuangkan madu ke salah satu mug. "Halo, selamat pagi. Maaf kupinjam dapurnya."
Sasuke mengerjap. Mereka sudah sepakat akan hal ini, dan ia masih minta maaf?
"Dan aku membuatkanmu teh. Darjeeling, seperti biasa. Apa kau terbiasa minum teh setelah bangun tidur? Kalau tidak, ini bisa kita simpan di lemari es. Darjeeling dingin tidak terlalu buruk, hm? Kalau kau tidak suka, aku yang akan meminumnya."
Kita. "Hmm."
Sakura mendorong mug itu di konter. Sasuke mengambilnya, menyesapnya pelan-pelan. "Kau suka teh dengan madu?"
"Kadang-kadang. Aku beli ini kemarin di salah satu toko dekat sini. Kelihatannya menarik." Ia mencecap-cecap teh yang tersisa di lidahnya. "Enak juga. Mungkin lain kali aku bisa mencoba Earl Grey dengan ini—mungkin rasa madunya bisa mengalahkan aroma bergamot itu."
"Bergamot adalah identitas Earl Grey." Sasuke menghidu aroma tehnya. "Kalau kau ingin Earl Grey tapi ingin mengalahkan aroma bergamotnya ..."
Sakura tertawa kecil. "Aku tahu. Aku cuma ingin meminum Earl Grey dengan tenang. Earl Grey terdengar classy. Mewah."
"Kau ingin terlihat keren." Sasuke menyembunyikan wajahnya di balik bibir mug. "Tapi orang-orang bilang, sampanye untuk teh adalah Darjeeling."
Tawa renyah Sakura terdengar lagi. Kenyamanan yang tak Sasuke tahu dia butuhkan di waktu yang tenang dan damai ini.
tbc.
