Aku satu rumah dengan Sasuke-kun!
Kalimat itu mengambang di kepalanya saat ia bangun tidur. Ia tidak dapat menghilangkan pikiran ini sampai siang, serta fakta bahwa mereka berdua menikmati teh bersama di pagi hari, sarapan bersama di sebuah kafe sebelum menuju kantor cabang Beijing sama-sama tidak menolong. Seperti memainkan sebuah skenario impian yang terlalu indah untuk jadi nyata—tapi hal itu benar-benar terjadi.
Hanya saja, tidak ada status apapun.
Sakura berusaha mengabaikan pikiran itu ketika mereka tiba di ruang rapat kantor Beijing, orang-orang dari kantor cabang menyambut mereka, dan mereka menawarkan tempat duduk yang berseberangan untuk Sasuke dan Sakura. Sasuke memilih untuk tetap berada di sampingnya, menolak penawaran mereka dengan halus.
Mimpi apa aku tadi malam?
Perwakilan Beijing meminta Sasuke memaparkan beberapa hal sebagai pembuka, sebelum Sakura maju untuk menampilkan data dan detail.
"... Sejauh ini kami masih berproses. Program baru diinisiasi dua bulan yang lalu, dan seperti yang pernah Sakura katakan, mengubah kebiasaan adalah akarnya. Memulai dari akar tidak mudah, perlu waktu dan konsistensi. Akan tetapi kami sudah mulai menerapkannya, contohnya tim monitoring dan evaluasi secara berkala membuat asesmen mengenai penghematan data penyimpanan digital, selain itu mereka juga bekerja secara general di internal perusahaan seperti untuk masalah penghematan energi listrik, mobilitas karyawan, dan kami juga memulai kerja sama dengan pihak ketiga yang menangani daur ulang sampah perkantoran. Begitu, kan, Sakura?"
Cara Sasuke menyampaikannya adalah satu hal—Sakura tak bisa lama-lama menjauhkan pandangannya ketika Sasuke bicara—dan cara Sasuke meminta konfirmasi darinya adalah hal yang lain lagi.
Sakura termenung selama beberapa saat, sebuah perspektif terbuka baginya: bahwa Sasuke menganggapnya setara. Mereka adalah partner sesungguhnya. Sasuke meminta persetujuan darinya walaupun Sasuke sebenarnya bisa mencari nama bagi dirinya sendiri dengan mengabaikan Sakura.
Hal itu membuat Sakura tersenyum dan mengangguk dengan penuh kepercayaan diri. "Benar." Ia mengangkat dagunya. Dan begitu aku sadar, dia akan berada di depanku, huh?
Ternyata bukan di depan.
Tahu-tahu seseorang itu berada di sisinya.
Sakura sangat menyukai Chinese food di restoran tempat mereka berdua dijamu oleh teman-teman dari cabang Beijing tadi siang, sehingga pada malam harinya ia juga memesan makanan dari sana lewat layanan pesan-antar.
Kotak-kotak makanan memenuhi meja tengah, dan Sakura tak peduli pada rambutnya yang belum kering dan membasahi piyamanya. Ia duduk bersila di depan meja dan memainkan sumpitnya di udara, kebingungan memilih menu untuk ia santap terlebih dahulu.
"Chinese food selalu beda dari yang lain," komentar Sakura, "aku selalu suka cara mereka memasak dan mencampur bahan-bahannya. Dan hasilnya selalu enak."
Sasuke hanya mengambil udang dan meletakkannya di atas nasinya. "Aku pernah tinggal di sini dan kurasa biasa saja."
"Karena kau sudah terbiasa," sahut Sakura dengan mulut penuh. Belum selesai mengunyah, ia sudah tergoda dengan kerang siram di dekat Sasuke. "Program dietku rusak kalau aku ditempatkan di sini. Makan enak tiap hari. Mungkin sebelum usiaku empat puluh aku harus minum macam-macam obat."
Sasuke cuma menonton wanita itu makan dengan lahap dan cepat. Ia bisa mencomot dua menu sekaligus dan mengunyahnya dalam waktu bersamaan.
"Beijing penempatan pertamamu?"
Sasuke menggeleng. "Aku training di New York. Setengah tahun, baru ke sini."
"Mmmmm."
Lama-lama Sakura tenggelam dalam kenikmatan makanan-makanan itu. Yang Sasuke lakukan hanya menatapnya, diam-diam memperhitungkan berapa kali ia mengambil menu-menu tertentu hanya untuk menganalisa makanan yang paling disukai Sakura.
Dan Sasuke sampai pada kesimpulan: Sakura suka semua jenis makanan laut.
Kotak-kotak makanan sudah mereka bereskan, tetapi mereka sama-sama belum ingin kembali ke kamar. Sakura sengaja mendorong meja kopi di ruang tengah itu agar kakinya bisa diluruskan. Sesekali ia menenggak air dingin dari tumblernya. Sasuke mengubah posisinya—dia sekarang duduk di samping Sakura—mendengarkan perempuan itu mengoceh.
"Kau mau tahu, apa penyebab aku tidak betah lagi di Senju?"
"Selain Senju Tsunade tidak lagi berada di sana?"
Sakura minum lagi. Sasuke tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat bagaimana cara Sakura menenggak minumannya.
"Lini direksi adalah orang-orang seksis, misoginis." Ia merenung, seketika tembok terlihat lebih menarik baginya. "Mereka adalah penjilat yang sesungguhnya tidak suka dengan Tsunade-shishou. Mereka membuat suasana tidak nyaman, itu adalah salah satu faktor yang membuat Tsunade-shishou memutuskan untuk mengundurkan diri."
Sakura meletakkan tumblernya di meja. Tangannya jatuh ringan di samping tubuhnya, dan Sasuke merasakan tangan itu menyentuh tangannya—yang tidak dia tahu hanyalah apakah Sakura sengaja atau tidak. Sasuke mengerling, melihat sisi samping Sakura. Hidungnya yang kecil, rambutnya yang manis, kulitnya yang lembut. Sasuke bisa melihat bintik-bintik pada wajahnya, beberapa bekas jerawat yang samar, bulu matanya yang tipis tetapi cukup lentik.
"Suasana itu tidak sehat. Meski aku senang mengabdi di sana, kurasa tidak akan ada tempat untukku. Aku tidak bisa berjuang sendiri. Aku tidak bisa berada di antara orang-orang yang menganggap wanita tidak mampu menjalankan pekerjaan-pekerjaan besar."
Sasuke mengerjap. "Kukira kau adalah orang yang paling optimis."
Sakura tertawa lemah. "Kelihatan seperti itu, ya?"
"Kau begitu di langkah pertamamu memasuki perusahaan Uchiha."
"Harapan baru di tempat yang baru. Well, aku tahu kapan aku bisa mencoba mengubah sesuatu dan kapan aku tidak lagi bisa mengusahakan sesuatu. Dulu, aku dulu ... berpikir bisa menaklukkan dunia." Ia memandangi tangannya sendiri, mengepalkannya, lalu membukanya lagi. "Semangat masa muda yang menggebu. Sekarang? Banyak hal membuatku belajar realistis."
Keheningan itu memberi ruang bagi Sasuke untuk bernapas.
"Aku belajar dari pengalaman bahwa tanganku sendiri tidak bisa mengubah dunia. Aku butuh orang lain, kerja sama, dan pergerakan bersama. Dunia tidak berjalan karena perbuatan tanganku sendiri." Ia menoleh pada Sasuke. Tatapan matanya teduh, membuat darah Sasuke berdesir—tetapi bukan sesuatu yang seperti gelombang besar. Ini mengingatkannya pada sensasi yang dia dapat ketika angin musim semi menyapu kulitnya.
"Oleh karena itu, aku senang aku punya partner yang menganggapku setara di pekerjaanku yang sekarang."
Sasuke tidak lagi bisa memandangnya dengan denyut jantung yang tenang. Dia memilih dinding sebagai pelampiasan pandangannya. Sakura mengangkat tangannya untuk menyisipkan rambut ke belakang telinganya, dan lagi-lagi Sasuke merasakan tangan mereka bersentuhan.
Dia tidak yakin dia bisa tidur nyenyak malam ini.
Sekembalinya di Tokyo, Sasuke terbangun di suatu malam.
Memperingatkan dirinya sendiri bahwa dia tidak lagi berada di satu atap yang sama dengan Sakura.
Dia melihat jam di nakas, masih pukul sebelas. Dia jatuh tertidur begitu saja setelah pulang dari kantor, bahkan dia belum mandi.
Sebagai bagian dari kebiasaan, dia pun mengecek ponselnya. Ada beberapa surel dan pesan baru, tapi tak ada yang mendesak. Dia menggulirkan daftar obrolan sambil memastikan bahwa dia tak melewatkan satu pun—kemudian matanya berhenti pada satu nama.
Ruang obrolan dari Sakura berada di atas. Partner di pekerjaan yang sekarang mengirimnya pesan nyaris lebih sering dari Itachi.
Sasuke mempertimbangkannya selama beberapa saat, kemudian meyakini bahwa Sakura pasti belum tidur.
— sakura
Sasuke bangkit dari tempat tidurnya, bermaksud untuk mandi, tetapi Sakura dengan cepat membalas pesannya.
— ya, sasuke-kun?
Sasuke menekuri layarnya cukup lama. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri: kenapa aku mengiriminya pesan? Seolah-olah sebuah insting untuk memanggil Sakura di saat dia sedang kesepian atau tidak punya sesuatu yang khusus untuk dikerjakan.
Akhirnya dia membalas sekenanya.
— punya rekomendasi film yang bagus?
Tokyo branch office. Monday: 14.12.
Satu hal yang paling jelas adalah ketidakjelasan hubungan mereka.
Sekembalinya dari Beijing, mereka lebih sering mengirim pesan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Pesan-pesan sederhana di tengah malam atau petang setelah pulang, atau pesan untuk mengajak makan siang walaupun mereka hanya dipisahkan oleh tembok.
Sudah begitu jelas, tetapi mereka tidak bisa menjelaskannya.
"Sasuke-kun." Panggilan sesingkat dan sesederhana itu bisa membuat Sasuke berhenti dari apapun pekerjaannya.
Sakura kali ini datang dengan laptopnya, langsung duduk di sofa. "Sori, numpang kerja boleh, ya? Ada teknisi listrik di ruanganku."
"Ada masalah?"
"Lampuku bermasalah. Mereka sedang mengeceknya."
Sasuke bergumam, "Padahal seharusnya bukan di jam kerja."
"Biar sajalah, mungkin mereka cuma punya waktu sekarang." Ia mengetik beberapa paragraf, kemudian meletakkan laptopnya di meja. "Tumblerku ..." Ia menghilang lagi ke balik pintu, kembali tak lama kemudian. "Kau punya teh? Boleh minta?"
"Di dekat dispenser." Sasuke bersandar pada kursinya, menekuri layar laptop dengan kening berkerut. Dia menutup matanya sebentar, tak bisa menemukan apa yang dia cari di dalam kepalanya.
Sakura masih menyeduh teh di dekat dispenser. Dia hanya punya teh celup instan belakangan ini, setidaknya itu cukup untuk menghibur dirinya di jam-jam sibuk. Sakura beberapa kali memintanya, dan ia bukan tipe yang akan komplain dengan hal-hal trivial seperti ini.
Sasuke mendekat, mengambil teh itu dari arah punggung Sakura, tangan mereka bersentuhan. Sasuke tidak bermaksud membuat ini sebagai suatu adegan yang pada akhirnya membuat mereka sama-sama terpaku—dia hanya ingin praktis. Namun, mereka terhenti di sana. Sasuke seolah mengurung tubuh Sakura, dan kali inilah ia merasa wanita itu sangat mungil di rengkuhannya.
Apa yang kupikirkan?
Sakura menatapnya dengan kerjapan pelan. Sasuke menahan napasnya, dan tangan mereka bergeming. Sentuhan kulit ke kulit seakan menghipnotis mereka.
"Maaf," Sasuke mundur, memberi ruang untuk Sakura. Dia tidak ingin menatap mata wanita itu.
"Ti-tidak apa-apa." Sakura menjauh, membiarkan Sasuke mendekat ke dispenser.
Sasuke benci bermain kucing-kucingan, tetapi dia tak yakin mengambil langkah ekstrem sekarang adalah pilihan yang bagus.
Pikiran Sasuke bisa langsung kehilangan fokusnya jika dia mengingat lagi apa yang terjadi di ruang kerjanya tadi siang. Dia berjalan seperti orang linglung di rumah, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada orang lain di area personalnya.
"Ibu?"
"Oh, hai Sasuke." Ibunya menoleh dari mini bar di dekat ruang tengah. "Pulang sendiri? Mana Itachi?"
"Dia dengan Shisui. Tidak tahu ke mana."
"Mmm." Mikoto turun dari kursinya. Dia memeluk putranya singkat, "Selamat datang, Sasuke, bagaimana harimu?"
Sasuke teringat lagi apa yang terjadi, dan matanya terbuka lebar seakan-akan mendapat penyadaran. Padahal dia telah mengulang-ulang momen tersebut ratusan kali di dalam kepalanya dan semua itu masih terasa segar dan nyata. "Baik," jawabnya pelan, sebisa mungkin menutupi gejolak di dalam dirinya. "Tidak bersama Ayah?"
"Ibu sendiri saja." Ia menepuk lengan Sasuke pelan.
"Ibu harus mengerjakan sesuatu di sini?"
"Ya. Ada beberapa hal. Kau, mandi dulu sana. Ibu sudah menyiapkan makanan."
Sasuke menghela napas. Kapan terakhir kali dia menikmati masakan ibunya? Tentu hal ini akan mendistraksinya dari suatu hal. Dia lega ibunya datang di saat yang tepat, walaupun ini adalah hal yang sedikit mengejutkan; tidak biasanya.
tbc.
