Naruto milik Masashi Kishimoto. Fanfiksi ini dibuat murni dibuat untuk mengobati rindu pada Akatsuki, bukan untuk kepentingan komersil.
Indo!AU
Arc I—I Choose You!
[Ketua]
Malam ini langit terlihat sangat indah, dipenuhi kerlip bintang jelita. Yahiko duduk di halaman belakang ditemani lilin aroma terapi dan bunga adiwarna. Tinggal tambahkan saja iringan musik klasik, maka segalanya akan terasa sempurna.
Yahiko mungkin akan menganggap ini adalah malam yang romantis kalau saja dia duduk bersama seorang bidadari dunia yang senyumnya membuat jantung berdebar. Badannya seksi aduhai, teman kencan idaman mayoritas spesies jomlo di luar sana.
Sayang seribu sayang, yang menemaninya makan saat ini adalah seorang nenek peyot.
"Ayo sayang, cepat dimakan makanannya! Nanti keburu dingin!" pesan sang nenek sambil tersenyum penuh cinta.
Yahiko mendelik. "Aku cuma makan mi instan, Nek! Kenapa pakai lilin wangi segala!?" protesnya.
Sekadar informasi, nenek itu adalah nenek kandung Yahiko. Disarankan memanggilnya Nenek Cantik jika bertemu di jalan. Itu pun kalau kalian masih sayang nyawa.
"Lilin biasa sudah habis. Daripada kamu makan gelap-gelapan terus malah salah makan lewat hidung, ya sudah Nenek pakai lilin yoga Nenek saja," jelas Nenek.
"Ya, tapi ini aku jadi serasa makan mi pakai kuah parfum!" Lagian aku gak segoblok itu sampai makan lewat hidung gara-gara mati listrik begini, elah!
Jangan salahkan Yahiko kalau dia jadi merengek kekanakkan. Baginya, berduaan dengan Lord Indomi itu hal yang sakral. Ulah sang nenek menghilangkan sebagian rasa nikmat. Nenek harus digugat!
Yahiko juga agak tersinggung. Tata meja yang Nenek lakukan seolah mereka sedang mengadakan makan malam romantis! Vas bunga di ruang tamu saja sampai diseret kemari. Bagaimana kalau ada tetangga yang lewat dan melihat, lalu mengira Yahiko ini adalah suami muda neneknya?
'Kan enggak elit banget, man!
Ya, Yahiko akui. Neneknya memang cantik—pada masanya. Tapi selera Yahiko bukan nenek-nenek, loh! Apalagi neneknya sendiri!
"Gak usah banyak ngeluh, Cu. Masih untung bukan rambut kamu yang Nenek jadikan pengganti lilin." Nenek tersenyum.
Di dalam bayangan Yahiko, saat ini wanita baya itu mulai menumbuhkan tanduk iblis dan tertawa seperti penjahat psikopat di film-film kriminal. Alhasil, dia tidak lanjut mengeluh. Langsung menunduk, fokus menyantap Lord Indomi tersayang.
Suapan terakhir, Nenek tiba-tiba berbicara lagi, "Tadi waktu kamu belum pulang kuliah, ada Kiai Madara mampir ke rumah."
"Ngapain?"
"Nyariin kamu."
Yahiko mengernyit mendengar jawaban itu. Heran rasanya. Tumben sekali? Biasanya kalau ada hal yang mau disampaikan, Pak Kiai jarang langsung mencarinya ke rumah. Biasanya dititip pesan lewat Obito, cucunya yang kebetulan berteman baik dengan Yahiko.
"Nyariin aku? Ada urusan apa katanya, Nek?"
Nenek tersenyum, menjawab santai, "Pak Kiai mau menjodohkanmu dengan cucunya."
Jujur saja, jawaban itu hampir membuat Yahiko mati tersedak ludahnya sendiri. Luar biasanya, Nenek malah tertawa melihat cucunya panik menenggak air.
Ini yang Yahiko sebal dari sang nenek. Sudah tua pun masih saja hobi mengusili cucunya!
"Nek, cucu Pak Kiai yang masih jomlo tersisa tiga biji aja. Obito, Itachi, sama Sasuke. Tiga-tiganya laki-laki! Becandamu gak lucu ... !"
Setelah puas menertawakan Yahiko, Nenek mengibaskan tangannya. Beliau akhirnya memberikan jawaban serius. "Pak Kiai titip pesan, besok malam kamu wajib hadir di rapat DKM."
Penjelasan itu sama sekali tidak membantu. Yahiko malah semakin bingung. Ada hajat apa, dia yang bukan siapa-siapa—cuma remahan kerupuk dorokdok—ini, diundang ke rapat Dewan Keluarga Mesjid yang isinya jelas tokoh masyarakat semua? Diwajibkan pula?
Kalau ada agenda khusus yang menyangkut kegiatan remaja, seharusnya anak-anak yang lain juga turut diundang.
Kiai Madara datang ke rumah mencari Yahiko, seolah-olah undangan ini memang dikhususkan untuknya. Kenapa mengapa?
Dan lagi—
"Bukannya yang wajib hadir rapat DKM itu ketua remaja mesjid, Nek?" tanya Yahiko.
"Iya." Nenek mengangguk. "Makanya kamu wajib hadir. 'Kan ketua barunya kamu."
"Oh, itu alasannya." Yahiko manggut-manggut.
Kalau begini, pantas saja Yahiko diwajibkan hadir. Mau tak mau, suka tak suka. Dia tidak punya pilihan.
Lagi pula, besok Yahiko tidak ada kegiatan tambahan di kampus. Dia yakin bisa pulang cepat dan menghadiri undangan rapat.
Sebentar, ada yang salah—
"Ketua barunya aku? SEJAK KAPAN!?" Yahiko melotot. Dia baru ngeh dengan kata-kata neneknya. "Pelengseran ketua terakhir aja belum dilaksanakan!"
Bergiliran, kali ini Nenek yang terlihat bingung. "Loh, kamu gak tahu? Nenek kira kamu tahu bapak-bapak DKM milih kamu."
Yahiko, dipilih oleh bapak-bapak DKM? Dari sekian banyak anggota ikatan remaja mesjid yang lebih mulia? Mustahil!
Yahiko menghela napas. Dia menanggalkan jaket, lalu memakaikannya pada sang nenek. "Nenek sakit ya? Kok ngelantur gini? Besok aku antar ke dokter, mau?" 'Kan lumayan juga bisa izin ga masuk kelas pertama. Atau tipsen, hoho.
Nenek langsung memelototi Yahiko. "Siapa yang ngelantur!?"
"Bukan sakit?" Yahiko masih gagal paham. "Nek, aku tahu Nenek sayang padaku dan ingin menyombongkanku pada tetangga. Tapi menghayal sampai berhalusinasi juga tidak baik, Nek."
Satu jeweran spesial diterima telinga kanan Yahiko.
"Sembarangan! Nenek tidak halu! Nenek juga bingung tadi waktu dengar Pak Kiai bilang kamu yang dipilih. Masa iya orang kaya kamu ini dijadikan ketua organisasi pemuda di mesjid? Kalau dijadikan tukang bersih-bersih masih oke. Lima tahun tinggal berdua sama Nenek, Nenek optimis kamu berbakat jadi asisten rumah tangga."
Wow, terima kasih banyak, Nek. Yahiko sangat tersanjung bakatnya diakui olehmu.
"Makanya Nenek tadi langsung tanya Pak Kiai. Benar yang dicari itu Yahiko, cucunya nenek paling cantik di RW ini? Atau mungkin Yahiko yang lain, gitu."
Ya ampun!
Jujur saja, Yahiko sudah bosan mendengar kenarsisan yang sama setiap harinya. Yahiko ingin sekali meminta Nenek untuk berhenti memanggil dirinya sendiri "cantik". Sayang sekali, Yahiko terbungkam oleh nyalinya yang hanya sebesar kutu beras.
Yahiko belum mau dicoret dari KK, oke!?
"Intinya," tukas Yahiko, "Pak Kiai bilang sama Nenek kalau aku dipilih jadi ketua. Pak Kiai bilang gak ... kenapa aku bisa dipilih?"
Nenek mencubit dagu selama beberapa saat. Kemudian, menggeleng singkat. "Nenek tidak bertanya. Mungkin pilihnya hitung kancing?"
Yahiko menghela napas.
Ya kali! Sejak kapan pemilihan ketua organisasi dipilih dengan cara hitung kancing? Memangnya sedang ulangan sekolah!?
"Aku sama sekali gak kebayang kenapa bapak-bapak DKM bisa memilihku sebagai ketua yang baru," keluh Yahiko pada akhirnya.
Serius. Mau dipikir bagaimana pun, tak ada jawaban yang muncul. Yahiko yakin, beriman seratus persen, tak mungkin dia yang begini bisa dipilih jadi ketua. Masalahnya, di IRM masih ada Itachi si panutan nomor wahid dan Nagato sang hafiz. Apalah Yahiko jika dibandingkan dengan mereka?
"Kalau kamu ingin tahu alasannya, tanya aja ke Pak Kiai langsung." Nenek menggelengkan kepala. Sambil mengangkat mangkuk bekas mi instan Yahiko, wanita itu menambahkan, "Atau tanya ke papanya Konan aja. Ketua DKM yang sekarang, bukan?"
Yahiko menepuk jidat, merasa bodoh.
Iya juga, ya. Kenapa tidak kepikiran ke sana? Padahal rumah Ketua DKM tepat di sebelah.
"Kalau begitu aku pamit ke sebelah bentaran, Nek! Asalamualaikum!" Yahiko langsung balik badan lari jalan sebelum sang nenek sempat membalas salamnya.
"Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!" pesan sang Nenek.
Sambil menapaki halaman rumah Pak Ketua DKM, Yahiko merengut. Neneknya pikir, dia ini berumur berapa? Lima tahun?
Dia sampingkan rasa kesal itu begitu berdiri tepat menghadap pintu jati. Yahiko mengangkat tangan, lalu melakukan tiga kali ketukan diikuti ucapan salam.
Pintu terbuka, pandangan Yahiko silau mendadak. Dia meringis, bahkan hingga senter diturunkan oleh pembuka pintu—Konan namanya.
Selama beberapa saat, Yahiko meneguk ludah. Seperti biasa, wajah manis sang kawan tetap sedap dipandang walau hanya berbingkai atasan mukena belel.
Jangan ngedip, Yahiko. Tatapan pertama itu rezeki, yang kedua—
"Oh, rupanya tetangga sebelah. Kirain ada maling," kata gadis itu, sukses memutus rasa terpesona Yahiko saat itu juga.
"Kampret, lu! Mana ada maling ngetuk pintu!?"
Konan tertawa. Yahiko sangat-sangat benci bagaimana gadis itu tetap terlihat anggun walau sedang tertawa jahat. Dunia tidak adil.
"Mau apa lu gelap-gelap kemari?" tanya gadis itu. "Minta lilin buat dicemil?"
Yahiko gemas. "Enggak, lah! Aku nyari bapakmu, ada? Mau nanya urusan DKM."
"Oh?" Konan balik badan. "Tunggu sebentar, biar kupanggil Papa."
Tak lama, Papa Konan muncul.
"Eh, Nak Yahiko. Ada apa? Masuk dulu," ujarnya.
"Gak akan lama kok, Pak. Maaf mengganggu waktunya." Yahiko menggaruk leher, grogi. "Cuma mau memastikan soal ketua IRM yang baru. Enggak salah nih, Yahiko yang dipilih?"
"Oh, soal itu rupanya." Pria itu tertawa singkat. "Iya, semua sepakat kamu yang jadi ketua. Bahkan Pak Kiai mendukung sekali."
Yahiko menganga. Pak Kiai mendukung? Yahiko yang selalu berakhir cekcok ketika beliau mengajar? Lawak macam apa ini?
"Masa sih, Pak? Kok saya? Kalau boleh tahu, apa alasan pertimbangannya?" Yahiko masih belum yakin.
"Kalau Bapak sama yang lain sih suka aja lihat gimana rajinnya kamu di mesjid dan kalau ada kerja bakti. Pak Kiai ikut oke-oke aja karena kamu juga rajin tilawah di mesjid."
Alasan pertama, okelah. Yahiko sadar diri dia yang paling legowo jadi babu di antara anak lain. Tapi, alasan kedua?
"Pak, yang rajin tilawah itu Nagato, bukan saya.
Yahiko membatin, ini maksudnya Kiai Madara salah tunjuk apa gimana?
Next: Kutukan Pertemanan
(A/N)
Madara bilek: Yahiko, I choose you!
Yahiko: (insert pikachu meme here)
Karena saya kangen fanfiksi geblek Akatsuki tapi ga nemu, ya sudah bikin aja sendiri wkwk. Kemungkinan gak bakal lebih dari 2k setiap chapternya. But, we'll see.
Oh, iya. Bagi pembaca yang belum baca "DKM (Dewan Kerusuhan Mesjid)" bisa baca buat dapet gambaran singkat bakal dibawa ke mana cerita ini wkwk. Soalnya, walau saya bakal nyemplungin unsur islami, ini bukan fanfiksi dakwah. Saya cuma mau sharing pengalaman sekaligus mematahkan asumsi kalau remaja mesjid itu penampungan khusus anak-anak soleh dan solehah.
Kalian tidak perlu jadi sempurna untuk melakukan kebaikan. Lagi pula, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, benar?
Last ... bagaimana menurut kalian? Perlu dilanjut?
Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White
