[Kutukan Pertemanan]
Tak melihat adanya jalan keluar pelemparan jabatan, Yahiko akhirnya memilih untuk ikhlas.
... ikhlas membuat kawan-kawannya stres bersama.
Tepat sebelum Kiai Madara mengumandangkan azan pertama subuh, Yahiko melakukan panggilan grup. Setelah menyampaikan mandat darurat untuk berkumpul pukul 7 pagi di lapangan mesjid, Yahiko keluar dari sambungan telepon saat itu juga tanpa peduli jika ulahnya membuat mereka dipenuhi nafsu baku hantam.
Bukankah dia kawan yang sangat baik?
(Suara erangan frustasi dari jendela kamar Konan sungguh sangat indah. Yahiko tak akan bosan mendengarnya.)
Pukul 6 pagi, Yahiko berangkat dengan langkah ceria. Tidak, dia tidak otewe satu jam lebih cepat dari waktu janjian karena takut bertemu Konan dan berakhir dibantai di tempat. Dia sengaja ke lapangan jam segitu demi bisa melakukan senam sehat bersama emak-emak setempat.
Pertengahan gerakan pendinginan, Yahiko dijewer dan diseret ke pinggiran lapangan. Pelakunya? Tentu saja Konan.
"Lu gini mulu lama-lama orang pada ngira kita pasutri loh, Nan," cetus Yahiko sambil cengar-cengir.
Jawaban Konan spontan dan menusuk, "Najis!"
Karena sudah terbiasa disakiti, jawaban itu tak diambil hati. Yahiko meregangkan otot-ototnya sambil mengabsen jumlah kawan. Lima berwujud, enam sisanya tak kasatmata.
"Yang lain mana?" tanya Yahiko.
"Si kembar ada acara keluarga," lapor Konan, memperlihatkan ruang obrolan di mana objek yang disebutkan memohon izin.
"Obito sama Kisame ada acara di kampus." Itachi—sebagai sepupu objek 1 dan bestie objek 2—turut menambahkan.
"Sasori dan Deidara habis subuhan titip izin mau istirahat. Katanya baru sampai jam 2-an dini hari tadi, dari luar kota." Nagato, pelapor terakhir, mengernyit. "Omong-omong soal subuhan, tadi kau ke mana Yahiko? Kok tidak ke mesjid? Malas?"
Yahiko cemberut dituduh malas.
Er. Tidak salah sih. Biasanya kalau dia tidak subuhan di mesjid, bukan karena ketiduran atau apa. Memang sedang malas saja, salatnya di rumah. Nagato tahu betul fakta ini.
Tapi tadi tidak begitu, kok! Alasannya murni karena ada seonggok nenek genit yang merengek saat Yahiko hendak berangkat menjawab panggilan azan.
"Ngimamin Nenek."
Hidan yang sedari tadi fokus pada layar ponsel langsung tersedak dan tertawa terbahak-bahak. "Ngimamin nenek peyot mulu, lu! Ngimamin pujaan hatinya kapan?"
Kampru!
Bagaimana mau ngimamin pujaan hati kalau dinotis aja enggak?
"Jadi?" Kakuzu—personil terakhir yang dari tadi belum bersuara—mendelik. "Ngapain kau menelepon tak tahu waktu dan menyuruh kami berkumpul pagi-pagi begini?"
Dari intonasi suaranya, Kakuzu dendam. Yahiko auto-mengumandangkan doa memohon keselamatan. Biar Kakuzu sudah pensiun jadi bagian garda terdepan pasukan baku hantam, bukan berarti otot-ototnya sekarang terlihat ramah lingkungan.
"Ngomongin soal kelanjutan IRM."
"Ah. Sebentar lagi pergantian kepengurusan ya." Hidan meringis.
Yahiko paham mengapa Hidan sampai berekspresi begitu. Bagaimanapun, di ikatan remaja mesjid ini ada kesenjangan. Umur mereka cukup jauh dengan senior. Para senior berhenti berkontribusi di organisasi bukan karena penerusnya sudah siap, melainkan dituntut berhenti oleh kesibukan dan kehidupan rumah tangga.
Boleh dibilang, Yahiko sedikit gugup. Selama dua tahun belakangan terlibat dengan kegiatan mesjid, mereka hanya dijadikan babu. Ada acara apa-apa hanya tahu membantu di lapangan kalau memang para senior merasa kurang tangan. Selebihnya, mereka bagian dari rakyat biasa.
Sekarang, mereka harus naik jadi pelaksana utama karena tak ada sumber daya alam lain. Mau mundur dan pura-pura tidak tahu pun tidak bisa. Selama jadi babu, mereka mulai jatuh cinta.
Ada banyak mesjid di negara ini. Dari yang tak berdinding hingga berkubah emas. Dari yang beralas papan, hingga beludru rupawan. Tak sedikit yang sepi, hanya terisi di lima waktu. Tak ada anak-anak yang mengaji. Tak ada selawat dikumandangkan. Di waktu salat pun tak jarang hanya satu saf yang terisi jemaah. Rasanya tak rela jika mesjid komplek mereka berakhir seperti itu juga.
"Terakhir kali ngumpul sama Bang Zabuza, kita udah sepakat buat maju. Dapet amanah apa dari bapak DKM, pokoknya maju bareng-bareng." Yahiko memulai. "Gak ada yang berubah pikiran, 'kan?"
Konan mengangguk. "Siapa pun yang terpilih jadi ketua, keputusannya akan kita dukung."
Melihat yang lain ikut mengangguk, Yahiko tersenyum lebar.
"Bagus! Kalau gitu, lu jadi sekretaris ya Nan. Kakuzu bendahara, Hidan Kadiv Syiar, Itachi bagian Pemeliharaan Mesjid, Nagato jadi wakilku."
Yahiko sadar diri Nagato lebih bersahaja. Dia wakil yang mantap jiwa. Yahiko tak perlu mengkhawatirkan kebecusan Nagato dalam bertugas. Justru kebalikannya.
"Sebentar!" Konan melotot. Yahiko mulai mengingat-ingat coretan argumen yang sudah disiapkannya semalaman kalau-kalau Konan menolak dijadikan sekretaris. "Wakilku? Wakil-ku? Maksudnya kau yang terpilih jadi ketua!?"
Oh, Yahiko keliru. Ternyata Konan bukan mau protes soal sekretaris.
"He'eh." Yahiko tersenyum kikuk, tiba-tiba merasa insinyur.
"Kok bisa!?"
Ouch. Terima kasih banyak kepercayaannya.
"Gak penting. Singkat cerita DKM sepakat menumbalkanku. Karena kita masih belum tahu apa-apa, katanya bulan-bulan pertama akan dibimbing dulu." Melihat ekspresi sangsi kawan-kawannya, Yahiko tertawa garing. "Yep. Aku juga gak yakin. Dari keluhan Bang Zabu aja DKM cuma tahu tunjuk dan ingin segalanya kelar tanpa ribet.
"Jadi, aku mohon kalian bisa pegang kata-kata kalian soal mendukung ketua sepenuhnya. Bantu aku. Kita akan melakukan reformasi besar-besaran."
"Demo?" Wajah sangar Kakuzu terlihat semakin mengerikan oleh tambahan senyum iblis di wajahnya.
"Seneng amat sih sama demo? Enggak lah!" Yahiko menghela napas. "Pertama, kita rapikan pembukuan dan pengarsipan administrasi. Agar ke depannya tak pusing-pusing lagi buat proposal, surat, dll dari nol.
"Kalau sudah ada arsip 'kan jadi ada referensi. Tak akan pusing menyampaikan urusan A pada siapa B pada siapa juga. Tenang saja, Konan. Kita saling bantu. Aku tidak akan menyerahkan semua masalah keadministrasian padamu. Apalagi awal-awal begini. Arsip yang kuterima sangat mengkhawatirkan. Mabok kalau kau hajar sendiri. Aku masih punya hati.
"Lalu, sistem birokrasi. Aku sudah mengajukan perubahan pada rapat DKM. Semua harus kembali pada fungsi-fungsinya. IRM ditunjuk sebagai badan eksekutif, 'kan? DKM harus berhenti mendikte segalanya. IRM tak akan maju kalau begini terus.
"Terakhir, masalah regenerasi anggota. Coba kalian bayangkan kalau sebelum ditampol amanah begini kita dapat ... semacam pelatihan atau bimbingan yang benar. Bukankah akan lebih mudah? Tentunya tak akan bingung apa yang harus dilakukan seperti kita saat ini. Anak-anak yang udah SMP kita tarik jadi anggota bayangan saja untuk sementara. Atau kita adakan semacam pelatihan IRM."
Hening.
"Kerasukan apa lu, Ko?" Konan mengerjap. "Kenapa bisa kepikiran sejauh itu?"
Yahiko mencebik. "Selama SMA jadi Ketua OSIS itu lu pikir aku ngapain aja, Nan? Nongkrong, rapat, jajan seblak?"
"Ya kirain lu cuma jadi maskot. Lagian gak ada wibawa juga."
"Anying!"
Nagato pindah posisi, berdiri di antara Konan dan Yahiko agar bisa strategis mencubit keduanya. Pelototan dari yang bersangkutan menghentikan niat mereka untuk melanjutkan keributan.
"Kadiv Media Publikasi Sasori aja dah ya. Humas si Zetam. Sisanya monggo kadiv pungut aja masing-masing satu, aku tidak peduli siapa jadi apa selama kita menderita bersama-sama. Kecuali kalau ada yang mau menggantikan posisiku?"
Hening.
"Nagato?"
Masih hening.
Yahiko menepuk tangan. Sialan, memang. "Bagus kalau semua sepakat. Kita rapat pertama minggu depan, nanti kuumumkan di grup. Selama jeda waktu yang ada, silakan pertimbangkan program-program apa yang mau kita jalankan. Kita punya kisaran 15 hari sebelum turun SK dari DKM. Terima kasih waktunya. Sebelum kita berpisah ... ada yang mau disampaikan?"
"Aku mau nanya." Konan memiringkan kepala, tersenyum ceria. "Kenapa lu ngabarinnya jam TIGA?"
"Iseng aja."
Yahiko langsung mengacir saat Konan dan Kakuzu kompak menyingsingkan lengan baju mereka.
Next: Rapat Pertama
(A/N)
Aku lapar. Dah gitu aja WKWKWKWK
Sekian terimalordindomi.
Salam Petok,
Chic White
