.

.

Bab 3

.

.

Kamu terjaga pada malam berbulan. Terkejut dirimu akan rasa sakit menjalar. Balutan kain di sepanjang punggungmu dirembesi keringat. Dan untuk sesaat, rasa perih yang tajam membekukanmu.

Sejurus kemudian baru kausadari sebentuk wajah memandangimu lekat. Begitu khawatir.

Ken.

Dia suguhkan minuman. Tajam sekali bau cairan hitam itu. Dan ternyata, rasanya lebih sadis dari aromanya.

Kauminum habis semuanya dengan mata terpejam. Setelah rasa pahitnya mereda, kamu pun berpaling padanya.

Melihat dahinya diperban, kaulupakan kesakitanmu dan segera menanyakan keadaannya.

"Hanya lecet. Aku baik-baik saja, kok," jawab kembaranmu.

Ken mengganti perbanmu dan menyodorkan makanan.

Santapan itu ludes sesaat. Kau lapar sekali.

"Apa yang terjadi padaku?"

"Pokoknya, kata Minoto kau harus banyak istirahat. Hmm… Dugaanku, sih, encok."

Encok? Memangnya berapa usiamu?

Kau tertawa. Namun, gerakan itu mengirim lagi rasa sakit ke pangkal tulang rusukmu.

"Aduh!"

Ken langsung panik dan nada bicaranya pun naik.

"Baru juga dibilang harus istirahat! Jangan banyak gerak!"

Kegundahan yang nyata pada sorotan matanya entah mengapa balik menenangkan jiwa.

"Ken, terima kasih… sudah terus menerus menyelamatkan nyawaku," ujarmu dengan seluruh perasaan syukur yang kaumiliki.

Laki-laki berambut panjang itu kehilangan kata-kata. Tapi, tak sampai dua detik, senyuman jahil khas dirinya terkembang lepas sekali.

"Dari mana, sih, gen melodramatismu ini?"

Tangan Ken mengacak lembut rambutmu.

"Kau dan aku masih akan hidup seratus tahun lagi," ujarnya, menempelkan dahi kalian terlalu keras, dan, tentu saja, segera mengaduh.

Kau menahan tawa. Sekali lagi kausadari betapa beruntungnya dirimu memiliki saudara yang dapat diandalkan.

Momen itu terputus oleh igauan yang terdengar begitu dekat. Kamu nyaris melonjak mendapati ada gadis di ranjang sebelah. Setelah kau amat-amati lagi, sosok itu tak sepenuhnya asing. Apalagi rambut hijaunya.

"Syukurlah keadaannya membaik hari demi hari," tutur Ken.

Wajah perempuan itu penuh perban. Sepertinya, begitu pula dengan tubuhnya. Kamu pun tidak bisa menahan rasa kasihan.

"Dari desa mana dia?" tanyamu, memperhatikan mahkota hijaunya.

"Belum tahu. Dia terus dalam keadaan itu sejak seminggu yang lalu."

Seminggu lalu? Kalang kabut dirimu mengetahui seberapa parah keadaanmu sendiri.

"Sepertinya, sebentar lagi perbannya harus diganti. Besok pagi sebelum misi akan kupanggil Minoto."

Ken sudah mulai patroli lagi, meskipun sementara ini sebagian besar tanggung jawabnya dikurangi. Walau khawatir, kamu juga tahu Ken sangat tangguh. Lagipula, kini pikiranmu dipenuhi keingintahuan baru tentang perempuan misterius bernasib malang di sisimu, sampai-sampai fajar menyingsing begitu saja sebelum kau pejamkan mata.

.

Kamura tampak berbeda sejak teridentifikasinya Rajang dan Bazelgeuse di Lava Caverns. Katanya, kerutan di dahi Fugen jadi semakin dalam. Sang tetua desa menganjurkan persiapan khusus, dan kampung itu pun menjadi sedikit lebih sibuk.

Kau terdiam di dalam rumahmu, hanya dapat menyimak tanpa membantu. Berbeda dengan kembaranmu, nyaris tak pernah pulang. Kau dengar, dalam beberapa hari, Ken akan memimpin perburuan Rajang. Sementara dirimu? Hanya tidur atau menenggak lebih banyak ramuan pahit.

Srek.

Pikiranmu teralihkan. Kaulihat teman istirahatmu barusan berguling ke arahmu.

Perban penutup dahinya hampir lepas. Dengan niatan membenarkannya, kamu merangkak mendekat.

Waktu wajah kalian berdekatan, tiba-tiba gadis itu membuka mata. Kau sedikit terkesima dengan warna matanya yang jarang. Merah muda, seperti berlian langka.

"Ngg…"

Suaranya serak, seakan sudah tidak pernah berbicara. Begitu menyadarimu, dia kebingungan dan ketakutan.

"Ng…!"

Kausingkirkan tanganmu itu dari kepala sang gadis, lalu bergeser mundur.

"Tenang. Tidak apa-apa," ujarmu. Suaramu menghalus, seperti sedang bicara dengan anak kecil.

"…"

Perempuan misterius itu sedikit tenang menemukan kebenaran dalam matamu.

Kemudian, ia mencoba duduk, namun tidak berhasil.

Kau tahu, itu ide buruk, namun upaya sia-sia itu tak kunjung berhenti. Kamu begitu kasihan, sehingga akhirnya membantu juga.

Si gadis menyaksikan kondisi tubuhnya, kemudian mengusap wajahnya yang terbalut kasa. Wajah sayunya memancarkan kepedihan, tapi kau tak menduga bahwa alasannya lebih dari sekadar rupa yang terluka.

Bola mata hangatnya menatapmu, memindai ruangan, lalu kembali ke kamu.

Sepertinya ia berharap kau mengucapkan sesuatu.

"Kami senang kondisimu membaik."

Mata sewarna musim semi itu menatapmu lekat. Tanpa kausadari, pipimu memanas di hadapan sang hawa.

"Ah, ini." Kagok, kauangkat gelas ramuan. "Minumlah ini. Kau akan merasa lebih baik."

Perempuan berpenampilan aneh itu kini diam saja.

"Ini obat."

Tidak ada reaksi. Ah, mungkin dia tak mengerti bahasa setempat.

Ketika kau berusaha memperagakan kata 'obat' dengan bahasa tubuh yang kacau, ia menatapmu lekat-lekat, seakan sedang menonton pertunjukan.

Habis akal, terpaksa kauminum sedikit obat hitam itu, dan berpura-pura tersenyum.

Kausodorkan gelas sambil menahan batuk. Namun, kamu tak bisa menahan siksaan rasa pahit lebih lama.

Perempuan itu berkedip memandangmu dan sepertinya mulai tersenyum. Dia mengeluarkan suara aneh yang sepertinya adalah… tawa?

"Ngh! Nggh!" serunya. Dan, setelahnya, hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Kau pun mengerti. Dia bisu. Mungkin juga tuli.

Rasa iba membanjiri dadamu. Sembari menahannya, kau menyadari perban yang kendor di dahinya kini benar-benar hampir lepas. Sedetik kemudian, kau menyadari sesuatu di baliknya.

Sebuah simbol.

Dalam sekejap, simbol tersebut memunculkan tanda tanya besar.

Kenapa? Karena simbol yang sama persis terukir di dahi saudara kandungmu, Ken.

.

.

Bersambung


1. Minoto: penanggungjawab hub quest di Kamura.