.

.

Bab 4

.

.

Gadis itu masih terlelap saat kau terjaga.

Perban pada wajahnya dilepas kemarin malam. Ternyata, kulit di baliknya melepuh cukup parah. Kamu sedih mengingat gadis itu menangisi pantulan mukanya di cermin semalam.

Setelahnya, sesuai instruksi Minoto, hal pertama yang sebaiknya dilakukan ialah memeriksa suhu tubuhnya. Kau hendak menyentuh dahinya. Namun, melihat lambang berbentuk kipas itu, pikiranmu kembali melayang.

Apa arti simbol ini? Selama satu minggu, kaudekap pertanyaan itu tanpa dapat mengungkapkannya. Kau bermaksud membahasnya dengan saudaramu, tapi ternyata perburuannya kali itu memakan waktu cukup lama.

Tanda tanya dalam benakmu semakin besar, sampai rasanya tak tahan lagi. Akhirnya, hari itu kauputuskan untuk bertanya pada Fugen, orang yang menyelamatkan Ken dan kamu sewaktu bayi.

Sang kepala desa seperti biasa berdiri di gerbang bangunan terpenting Kamura; bangunan berisi tungku-tungku panas untuk memurnikan baja Tatara. Tapi, hari itu beliau tidak sendiri.

"Oh! Selamat pagi, Jun! Aku hampir mengutus Hinoa untuk menjemputmu," sambut sang tetua dengan sebuah senyuman lebar.

"Selamat pagi," sapamu, menyapukan pandanganmu pada sosok-sosok yang mengitari sang pemimpin desa.

Di sana ada guild master Hojo, Hinoa, Minoto, master Utsushi, dan terakhir, Hamon.

Sang pandai besi menatap dirimu khawatir. Kamu menyampaikan bahwa dirimu akan baik-baik saja dengan segurat senyum simpul.

"Hari ini, aku mengundang kalian semua untuk membahas persiapan khusus," mulai Fugen, "Saat ini, terjadi peningkatan populasi monster baru di area sekitar."

Jeda. Tetua Fugen mengangguk pada Utsushi.

"Pagi ini, laporan datang bahwa di antaranya… ada elder dragon."

Terlonjaklah dirimu. Elder dragon? Makhluk purba dari Dunia Lama?

"Kemunculan monster purba inilah yang sepertinya meningkatkan pergerakan monster di daerah lainnya. Sekarang kita tahu, mengapa banyak monster baru muncul akhir-akhir ini," tandas Fugen.

Sambung Hojo, "Semua terulang kembali."

Fugen mengiakan.

"Rampage lima puluh tahun yang lalu," ujarnya lagi, "juga bertepatan dengan kemunculan makhluk-makhluk ini."

"Pada penyerbuan berikutnya, ada kemungkinan para elder dragon akan muncul," Utsushi ikut membeberkan informasi.

Fugen menatapmu serius. Dalam matanya, api membara.

"Jika saat itu datang, masa depan Desa Api benar-benar ada di pundak kalian."

Kau menunduk, merasakan beban kewajiban yang begitu berat.

Para quest maiden saling berpandangan, lalu menatapmu.

"Jangan khawatir. Seluruh warga Kamura adalah pejuang terlatih. Kami semua akan menolongmu," kata Hinoa dengan senyuman yang dapat melelehkan mentari.

Kau mengangguk. Ya, benar. Kamu tidak sendiri. Masih ada Ken, batinmu.

Pertemuan pun dibubarkan.

Kau meminta Hamon untuk tinggal bersamamu dan Fugen. Akhirnya, kau sendirian dengan sosok yang telah berjasa dalam hidupmu itu.

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," mulaimu. "Apa kebetulan Anda berdua tahu arti tanda pada dahi Ken?"

Ekspresi para sepuh tidak berubah banyak. Sepertinya mereka lupa.

"Ah, tanda yang itu," tanggap Hamon pada akhirnya.

"Mengapa kamu baru menanyakannya sekarang?" sambung Fugen.

Kamu bercerita lebih jauh tentang si perempuan pendatang.

"Benarkah itu?" Sang ketua, menggaruk janggut. "Kalau begitu, ada kemungkinan… Kau dan Ken berkerabat dengannya."

Mendengarnya, perasaanmu sedikit bergejolak. Bisa jadi gadis berambut hijau itu adalah jembatan untuk mengungkap asal-usul kalian.

"Omong-omong, bagaimana keadaannya? Aku masih belum sempat menengok lagi."

"Berkat Minoto, keadaannya jauh lebih baik."

Fugen terkekeh senang. "Baguslah kalau demikian."

"Bagaimana kalau kautanyakan sendiri perihal barusan kepadanya?" usul Hamon.

"Dia sedikit kesulitan berkomunikasi," jawabmu.

Fugen dan Hamon langsung menangkap maksudmu: gadis itu adalah tunawicara.

"Apa kau tahu namanya?" tanya pemimpin desa.

Benar juga, aku belum menanyakannya, pikirmu. Kaucatat hal itu di dalam kepalamu.

"Bagaimana menurutmu, Hamon?"

Hamon ikut berpikir.

"Bagaimana kalau kita memanggilnya Rin?"

"Oh! Bagus juga! Memang dari dulu kau ahli menamai! Baiklah! Gadis itu akan kita panggil Rin! Kamura akan menjadi rumahnya, sampai dia siap pulang ke kampung halamannya sendiri."

Mulai hari itu, Desa Kamura memanggil perempuan berambut hijau itu dengan sebutan Rin.

.

Tanpa terasa, siang berganti menjadi malam.

Selepas kegiatanmu hari itu, kau melangkah kembali ke gubukmu.

Di dekat pintu, pedang panjang bersarung merah Ken bersandar. Kau pun tahu, kakakmu sudah pulang.

"Ken!"

Melihat ada sekumpulan pemburu di dalam rumahmu, langkahmu terhenti. Orang-orang itu memperlihatkan wajah yang masam padamu.

Seketika itu juga, hatimu seperti jatuh dari atap.

Kakimu terpaku di tanah, tak mau melangkah. Namun kau tak boleh berlama-lama. Ken tentu sudah menunggu.

Dengan susah payah, kauseret tubuhmu sampai batas kamar tidur kalian. Di sanalah kaulihat separuh dirimu yang lain.

.

.

.

.

"Sayang sekali… perburuan kali ini… belum berhasil," katanya dengan segaris senyum kecewa.

Di atas futon itu ia berbaring. Sekujur tubuhnya bagai tersulut kembang api. Tapi, yang paling ngeri, tangan dan kaki kanannya diperban dan tak bergerak. Dari bentuknya, kau tahu… kedua anggota gerak Ken remuk seperti ranting kecil terpukul palu.

.

.

.

.

Seluruh tubuhmu bergetar. Turut kaurasakan sakit luar biasa pada tangan kakimu. Kau limbung, dan jatuhlah dirimu berlutut. Jantungmu menggedor-gedor, seakan ingin keluar, dan napasmu memburu seperti bullfango terbirit ketakutan.

Tak sanggup dirimu memandangnya dua kali. Dalam hati kau berdoa supaya semua itu hanya mimpi.

Tapi tidak. Ini adalah kenyataan, berapa kali pun kau berkedip dan memohon. Kenyataan pahit, yang membawa raga dan rohmu ke dalam kegelapan.

Dan kau pun terjatuh, hilang kesadaran.

.

.

Bersambung


1. Hinoa: quest maiden yang mengurus village quest. Saudari kembarnya Minoto. Hinoa dan Minoto adalah wyverian.

2. Hojo: Hunter's Guild Master Kamura. Fugen memastikan Desa Kamura aman, sementara Hojo memastikan Kamura berkontribusi pada keseimbangan lingkup yang lebih besar. Juga wyverian.

3. Utsushi: pelatih utama para pemburu muda Kamura. (Mirip banget sama Kakashi pula.)

4. Wyverian: wyvern berintelegensi. Biasanya berkuping lancip, berjari empat, berkaki digitigrade (tumit tidak menapak tanah).

5. Elder dragon: sebutan untuk monster-monster yang tidak dapat diklasifikasikan dalam kelas yang telah ditetapkan, terlepas wujudnya mirip naga atau tidak. Biasa ditemukan di lingkungan-lingkungan ekstrim, seperti di perut gunung berapi, padang gurun, atau puncak gunung es. Konon, lima puluh tahun sekali, elder dragon menyeberang ke Dunia Baru untuk mati. Penyeberangan ini disebut Elder Crossing.