Selamat ulang tahun, wahai Sumpah Pemudawan dan Sumpah Pemudawati :p


.

.

Bab 5

.

.

Sejak tragedi itu, kau lupa menghitung hari. Tak lagi berburu, tidak bisa tidur, bahkan selera makanmu lenyap entah ke mana.

Hati Desa Kamura cuil sedikit demi sedikit seiring mengurusnya tubuhmu. Meski mereka terus berusaha menyiramimu dengan kasih sayang, kau justru semakin terpuruk.

Dari dulu, kau tahu: banyak pemburu berubah menjadi yang diburu. Mungkin ini cara alam menjaga keseimbangan. Kau hanya tidak pernah membayangkan hal itu akan menimpa orang terdekatmu, satu-satunya saudaramu.

Tap tap…

Ratapmu terusik kehadiran orang lain di gubuk berdebu itu.

"Ng."

Rin. Tergugu seperti biasa.

Langkahnya mantap meski tak disambut. Ia berlutut dan hendak meminumi Ken obat sepahit empedu itu, sesuatu yang dilakukannya tiga kali sehari.

Kautahan tangannya.

"Biarkan dia beristirahat," pintamu.

Iris merah muda menelusur tiap lekuk wajahmu yang lelah. Rin tak dapat mendengar suaramu, namun ia mengetahui maksudmu.

Kamu hampir menyerah. Kaupikir, hasilnya tetap sama: Ken akan menyesal sepanjang hidupnya. Menyesal karena tidak bisa melindungi kampungnya lagi, karena telah menjadi seonggok beban.

"Pulanglah, Rin."

Perempuan itu lebih keras kepala dari yang kaubayangkan. Dia bebaskan tangannya, lanjut bekerja.

Rin menyeka wajah Ken. Dan kali itulah Rin menyadarinya. Simbol yang sama dengan miliknya.

Keterkejutan gadis itu menyulut rasa penasaranmu.

Kauuntai satu pertanyaan. 'Simbol itu apa?' Begitu ujarmu dengan bahasa isyarat.

Rin memperagakan sesuatu.

'Simbol di dahiku', 'simbol di dahi Ken'.

Rin berjeda. Seakan yang akan diucapkannya adalah fakta yang dapat menjungkir balikkan dunia.

'Wyvern', 'tua', 'orang', 'di atas'.

Kau tak mengerti.

"Maksudmu bagaimana?"

'Orang', 'menunggang', 'menginjak', 'wyvern', 'tua'.

Dahimu berkerut, dan Rin mengarahkan telunjuk pada dirinya, lalu pada Ken.

Kamu mendapat pencerahan. Tapi, masa…

"Kau dan Ken bisa mengendarai wyvern?"

Rin mengoreksimu sedikit.

"Kalian… bisa mengendalikanelder dragon?"

Suaramu menggetarkan partikel udara. Kau yakin, Rin pasti bercanda. Tapi, hatimu yang lemah ikut gentar memikirkannya.

Rin belum selesai.

'Tapi', peraganya…

Percakapan itu terpotong pukulan gong serta bunyi terompet. Desa yang terlelap dalam sekejap terang benderang.

"Semua prajurit berkumpul di benteng!"

Apa ini berarti… rampage sudah dimulai?

Hatimu bergejolak. Bisa saja kali ini elder dragon muncul, seturut perkataan Fugen.

Dirimu bergegas memakai perlengkapan bertarung. Semua kendor di sana sini. Tak hanya itu, kamu tidak yakin harus memakai senjata yang mana. Semuanya tampak begitu asing setelah sekian lama tak kausentuh.

Kamu tahu, kemampuanmu telah menumpul setelah sekian lama tak berburu. Sementara, elder dragon adalah monster purba dan sebagian besarnya terkenal ganas. Mana sanggup dirimu menghadapinya? Mungkin kau malah mati sia-sia.

Tidak, tidak ada waktu untuk ragu. Kamu pun menarik insect glaive secara acak. Perutmu mual, namun kamu tetap maju. Demi Ken.

.

Barikade pertahanan Kamura dibanjiri monster. Langit malam itu pun dikuasai Bazelgeuse. Kau membeliak mendapati seekor Rajang mengamuk. Apa-apaan ini? Bagaimana desamu bisa bertahan melaluinya?

"Jun!"

Utsushi mendekat.

"Kau bisa bertarung?"

Sudah sampai di situ, jelas tak bisa menjawab 'tidak'.

"Tangani para flying wyvern," pinta sang master.

Kau terpaksa setuju, meski lututmu sedikit bergetar.

Pelatihmu menyentuh pundakmu dan meremasnya. Kemudian katanya, "Kami mengandalkanmu, Jun!"

Dengan satu tarikan napas, kau lempar wirebug. Dirimu terlontar, tapi arahnya sedikit melenceng. Langsunglah kautahu, dirimu yang sekarang takkan mampu menjawab ekspektasi semua orang.

Benar saja. Tongkat di tanganmu berputar tak menentu. Arah gerakmu tak terkontrol.

Kau begitu kehabisan napas, sehingga tak bisa berbuat banyak waktu Bazelgeuse itu menerjangmu di udara.

Hal yang sama akan terulang, begitu pikirmu.

Sebelum itu terjadi, sebuah peluru menancap di sayapnya dan meledak tak lama kemudian. Sang wyvern terjatuh. Kau sulit percaya, nyawamu tertolong!

Matamu tak sengaja menangkap sosok Rin. Gadis itu terus menembak, dan tidak satupun pelurunya meleset. Saat amunisinya habis, dengan cekatan ia mengganti dengan yang baru. Kamu baru tahu, ternyata perempuan itu mahir menggunakan heavy bowgun!

Namun, krisis belum berlalu. Di belakang, kera marah itu muncul. Primata berkilau emas itu melompat tinggi ke udara, berniat menggencet Rin dengan momentum jatuh bebas.

Rin menguatkan kuda-kuda. Semua terjadi secepat kilat. Pada adegan selanjutnya, gadis itu masih berdiri, sementara Rajang terkapar di dekatnya.

Kau tidak habis pikir. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu kausimpan untuk nanti.

Kalian belum sempat berbicara ketika serbuan selanjutnya datang, didahului erangan membahana.

Semua pejuang menutup telinga. Semua, kecuali Rin.

Gadis itulah yang pertama kali menyaksikan munculnya singa bertanduk. Monster itu bersayap, dan di lekuk pergelangannya mencuat tulang tajam, seperti gading Popo dewasa.

Rin mundur selangkah, sambil memegangi bekas luka pada wajahnya. Tak lama kemudian, kamu mengerti mengapa Rin bertingkah seperti itu. Monster yang melukainya telah berdiri di hadapan kalian.

Monster itu hanya pernah kaulihat dalam dokumen kuno. Teostra, sang Kaisar Api.

.

Seekor elder dragon.

.

Bukan hanya Rin, segala umat gemetar menyaksikan keagungan dan teror entitas tersebut.

Teostra membuka mulutnya, dan dari sana menyemburlah api. Api itu melelehkan apa saja dalam sekejap.

Harus diingat, dirimu dan Rin berdiri di garis terdepan. Saat monster itu cukup dekat, kaulah yang pertama melihat hasrat meluap dalam mata birunya. Hasrat itu ditujukan pada satu orang.

Rin terjatuh. Tubuhnya bergetar. Mimpi buruknya telah menjadi nyata.

Refleks, kau yang maju, menyembunyikan Rin di belakangmu. Meski semua bulumu tegak, meski jemarimu sedingin es, kau harus mengusir monster ini dan melindungi desa. Itulah tugasmu sebagai pemburu Kamura, dan itulah aksi nyata untuk melindungi Ken.

Raksasa itu menerjangmu. Kau meterjang balik. Terkadang serangan adalah pertahanan terbaik. Dan kamu telah berjanji dengan dirimu sendiri, apapun yang terjadi, takkan kaubiarkan makhluk itu menyemburkan napas panasnya lagi.

Teostra menabrakkan moncongnya. Dalam satu sentakan, tubuhmu terlempar ke udara. Tanpa beristirahat, sang Kaisar membuka mulutnya, berniat meggerus Rin yang kini tak terlindung.

Namun, ketika kegelapan menyelimuti, sinar harapan ikut bercahaya.

Sinar berwarna merah, seperti meteor yang berdarah, turun dari langit, menghantam Kaisar Api sekeras komet menabrak bumi.

Di depan semua orang, kini berdiri monster lain. Seekor burung abu-abu biru dengan kulit sekeras besi.

Dan di punggugnya, duduklah seseorang.

Ken.

.

.

Bersambung


1. Heavy bowgun: mirip bazoka atau machinegun di dunia nyata. Salah satu senjata paling modern di dunia MH Rise.

2. Teostra: elder dragon yang dapat menciptakan ledakan dan menghembuskan api.