.
.
Bab 6
.
.
Sang pendatang menguak nyaring, menantang lawan. Kedua sayapnya diluruskan pada musuh yang masih meringkuk kesakitan. Ujung-ujung sayap itu membara dalam sekejap. Dan tanpa peringatan…
BLAR!
Dentum sonik membahana, mengikuti tembakan energi dari lempeng-lempeng panas.
Dalam sekejap, tubuh Teostra terguling, meronta tak bisa bangun.
Burung itu lantas meroket naik. Di angkasa, ia tak lebih dari sebentuk cahaya kecil, berputar mengitari awan. Tidak ada yang dapat menduga bahwa pergerakannya melebihi kecepatan suara.
Tak kuasa dirimu mengabaikan bola merah itu. Bagaimana tidak? Ken ikut dibawanya!
Sementara kaulantunkan doa-doa, Teostra bangkit. Penguasa api mengaum, tidak terima.
Sekonyong-konyong, monster burung di atas menukik lagi layaknya meteor. Dengan presisi di luar wajar…
BLAM!
Dua monster berhantaman, menciptakan ledakan seterang bintang.
Segenap saksi menahan napas. Terkesima, atau terperanjat? Keheningan memekat, mencekat siapapun dalam arena.
Di tengah balutan cahaya, tegaklah sang pendatang. Mendongak angkuh, memekikkan koak unik. Bunyinya mirip peluit teko, hanya diperkuat seratus kali dan diperdengarkan di tengah badai.
Makhluk macam apa itu, sehingga Kaisar Api sekalipun bertekuk lutut? Kau tak ingin memikirkannya sekarang. Hanya ada satu hal yang harus kau ketahui segera: apakah kakakmu selamat dari tabrakan fatal barusan.
Kamu memicing. Dan… Ada! Ken masih di sana. Oleng, tak sadarkan diri.
Refleks, kamu memperkecil jarak.
Detik itu pula seluruh perhatian makhluk sewarna batu itu terpaku padamu. Padahal, tadi, monster itu sama sekali tidak menghiraukanmu. Apakah perubahan perilaku ini ada hubungannya dengan kesadaran penunggangnya?
Ujung-ujung sayap itu kembali menyala, mempersiapkan ledakan yang akan mendorong sang monster maju. Bola matanya menargetmu. Kombinasi warna biru pada sklera, serta iris merah terang itu mengirimkan kengerian pada tengkukmu. Serasa sedang dikutuki hantu.
Namun, tiba-tiba…
SIIING!
Niatan sang monster digagalkan kilatan cahaya. Rin menembakkan bom kilat. Lagi-lagi tindakannya tepat.
Kaurebut kesempatanmu, sementara binatang itu terbutakan sesaat.
Dirimu terlontar melintasi punggung monster itu, dan kaurampas kembaranmu dari punggungnya.
Belum juga kakimu menapak, duri-duri baja beraksi, menghujam dan menggerus bagian samping sang monster dengan gerigi-gerigi berputar. Ternyata, Utsushi menarik tuas dragonator.
Sinergi kalian bertiga menciptakan syok yang cukup berat, sehingga pada akhirnya wyvern buas itu mundur juga, melesat ke dalam kelam.
"Ken!" panggilmu segera.
Ken tak menyahut, tetapi melihat dadanya masih naik turun, kau merileks sedikit. Bukan itu saja, pada tubuhnya tidak ditemukan segorespun luka! Setelah melesat-lesat seperti itu? Ini keajaiban!
Keajaiban, atau jangan-jangan, Ken dapat memerintah binatang itu untuk melindunginya?
Rin dan Utsushi merapat, lalu tak lama kemudian, Iori datang bersama palico-palico medisnya.
"Monster apa itu?" Kamu menatap gurumu.
"Makhluk itu disebut Valstrax," sahut Utsushi. "Dari kemampuannya, kalian pasti sudah mengerti, dia termasuk elder dragon."
Kau tertegun. Fakta tersebut menjadi bukti tak terelakkan atas kebenaran sebagian pernyataan Rin.
Utsushi menambahkan, "Jarang sekali Valstrax bisa ditunggangi. Apalagi, sekarang Ken…"
Mulutmu terkunci. Untuk sekarang, biar dirimu dan Rin yang tahu bahwa aksi barusan mungkin ada kaitannya dengan simbol kipas misterius itu.
.
Usai rampage, kau dan Rin kembali bersimpuh di samping Ken. Kau harus segera mendengar kelanjutan rahasia itu.
Kalian berdua belum mengerti bagaimana Ken dan elder dragon bernama Valstrax tersebut bertemu. Meski demikian, kalian setuju bahwa pertarungan barusan setidaknya dipacu oleh hastrat bertarung Ken.
"Rin," katamu, memainkan jemari. "Yang kemarin kita bahas belum selesai."
Gadis jangkung itu menunduk.
"Ini… buruk?" lanjutmu, membaca gerakan Rin. "Buruk bagaimana?"
Alis hijau itu berkerut, menunjukkan kesukaran yang pelik.
"Dalam sejarah, beberapa orang… menunggang—mengendalikan elder dragon. Tapi… elder dragon murka. Orang terhapus dari sejarah."
Kamu tegakkan badanmu yang linu. Jika perempuan itu memulai dari sejarah, maka akar persoalan ini sepertinya lebih dalam dari kelihatannya.
"Orang… lari. Orang-orang aneh itu… aku, kamu, Ken," ejamu lagi. "Kau, aku dan Ken… adalah sisa keturunan para pengendali itu?"
Ya, jawab Rin.
Mencengangkan. Dalam tubuh kalian bertiga… mengalir darah para penakluk monster dari masa silam?
Cerita Rin belum berakhir. Ia menjelaskan suatu alur.
"Elder dragon turun… mengecil… berjalan dengan dua kaki…"
Dan kemudian jarinya menunjuk kalian bertiga.
"Orang."
Kamu ulang-ulang lagi urutan kata itu. Elder dragon… Berjalan dengan dua kaki…
Orang.
Matamu membulat seketika. Mengertilah dirimu maksudnya.
Wyvern dari masa lalu turun ke atas tanah, mengecil, mulai kehilangan sayap… dan pada akhirnya… menjadi orang. Dengan kata lain, para pengendali monster kuno itu adalah wyvern berintelegensi. Bukan sekadar wyvern, tapi elder dragon.
Jika pengakuan Rin ini benar… Maka kamu dan kembaranmu adalah keturunan elder dragon. Kalian berkerabat dengan para monster itu. Tak terlalu mengherankan jika Valstrax dapat memahami Ken dan menuruti perintahnya.
Kamu hilang dalam perenungan panjang. Apa itu berarti kalian adalah monster? Tak kunjung kautemukan jawabannya.
Rin menepuk pundakmu. Sepertinya, masih ada lagi yang ingin ia sampaikan.
"Simbol ini adalah penanda. Mereka yang memilikinya mewarisi kemampuan pendahulunya, dan dapat menaklukkan wyvern," tafsirmu.
Kemudian, peragaan Rin melambat, seakan dia enggan melanjutkan.
"Tapi, sebagai konsekuensinya…"
Kau menelan ludah.
"Jika mereka menggunakan kemampuan ini, hati mereka akan terus mengganas, dan pada akhirnya…"
Pada akhirnya…
.
"Mereka akan kembali… menjadi monster."
.
.
Bersambung
1. Dragonator: mekanisme mutakhir dari peradaban yang telah menghilang, digunakan untuk melukai, bahkan menghabisi para wyvern berukuran besar. Terdiri dari tiga mata bor, diameter masing-masingnya bervariasi mulai sekitar 20 centi hingga hampir 1 meter. Saat tuas ditarik, mata bor berujung runcing ini menghujam apa yang di depannya dan berputar seperti bor.
2. Valstrax: jet tempur dalam wujud elder dragon. Ledakan energi pada ujung sayapnya dapat melesatkan makhluk ini melebihi kecepatan suara. Sekujur tubuhnya dibalut kulit sekeras batu.
