.
.
Bab 7
.
.
Apa mungkin orang berubah menjadi monster? Sekalipun asal-usul wyverian adalah monster, tak mungkin evolusi ribuan tahun itu diputar balik dalam sekejap. Makhluk berakal tak mungkin tiba-tiba jadi tak berakal.
Tidak. Tidak mungkin penjelasan Rin itu benar.
Jadi, kaubuat versi kebenaranmu sendiri. Kamu menjelaskan segala keganjilan dalam rampage itu dengan satu kata: kebetulan. Bagaimana Ken bisa menunggang Valstrax: kebetulan. Bagaimana Valstrax yang ia tunggangi menghabisi Teostra: kebetulan. Bagaimana Ken bisa selamat setelah semua tubrukan itu: kebetulan. Lagipula, bila seseorang benar-benar memikirkannya, tidak mungkin ia menemukan penjelasan lain.
Hari-harimu berlalu. Dan kemudian, kakakmu tersadar suatu hari.
"Aku bermimpi," mulainya. "Dalam mimpi itu, aku terbang."
Sejujurnya, kamu juga mengharapkannya. Kau harap semua ini adalah khayal; Ken baik-baik saja, dan suatu saat nanti kalian berdua bisa berburu bersama lagi.
Kautahan kepedihanmu, supaya tak tertumpah menodai hari yang indah.
"Aku tahu itu mimpi," lanjut saudaramu. "Mana mungkin orang cacat begini…"
Ken mana tahu apa yang kamu rasakan mendengar kata-katanya barusan. Mana mungkin ia mengira bahwa kamu mau menanggung deritanya, menggantikan tempatnya, asal kamu dapat melihatnya tersenyum lagi.
Syukurlah, kemurungannya itu tak bertahan lama. Saat berikutnya, ia tersenyum lebar, seperti dirinya yang lama.
"Ah, sudahlah! Aku lapar! Apa menu hari ini?" katanya riang.
Kenapa, ya? Kenapa manusia dengan kepribadian secerah itu harus terjatuh ke dalam jurang? Kenapa matahari yang hangat harus tergusur petang?
Kau takkan pernah bisa menjawabnya. Yang dapat kaulakukan sekarang adalah membungkusnya. Membungkus sisa-sisa api di tengah abu agar jangan padam. Jadi, usai sarapan berdua, kamu mulai berlatih lagi. Mengasah senjata-senjatamu, mengampelas lagi keterampilan yang telah berkarat.
Kau bertekad akan memburu semua monster yang mengancam desamu, dan kaupenggal semua binatang laknat yang berusaha menyentuh saudaramu. Meski harus mematahkan tulang-tulangmu, meski kulit dan dagingmu musti terpanggang, kamu akan bertambah kuat. Kamu harus.
.
Sorenya, kau malah terkapar dengan perut lapar. Pedang panjang tergeletak di sisi kananmu. Ya, kamu bahkan mempelajari senjata kesukaan Ken, bermaksud meneruskan perjuangannya sebagai seorang ahli pedang. Tapi, jemarimu lecet semua. Ternyata, menjadi kuat tidak semudah membalik telapak tangan.
Srek…
Seseorang sedang mengendap-endap mendekatimu.
"Siapa?"
Orang itu berhenti berjengit, berjalan seperti biasa, dan seiring langkahnya, aroma lezat ikan panggang mulai tercium, bercampur wangi bunny dango.
Rin menjulang di atasmu, dan tanpa diminta, menarikmu duduk.
Kalian menyantap hidangan dalam hening. Ah, benar juga. Kamu belum pernah makan bersama Rin.
"Kamu yang memburunya?" tanyamu.
Perempuan itu mengangguk sambil terus melahap daging di depan mata. Batinmu, makannya banyak juga.
Sejurus kemudian, Rin menyerahkan karung besar yang dibawanya. Tenaganya besar juga.
"Perlengkapan berburu?" katamu. "Dari Hamon, ya."
Kaukeluarkan satu set pelindung tubuh berwarna merah. Warna itu mengingatkanmu pada peristiwa yang ingin kaulupakan.
"Ini… pasti berasal dari Teostra?"
Perempuan itu mengangguk lagi, lalu menunjuk kabuto berbentuk eksentrik, dengan desain yang berbeda dari sisanya.
"Yang ini… dari Valstrax."
Setiap mengingatnya, kepalamu sedikit berdenyut. Lirikan Valstrax pada waktu itu benar-benar mendirikan bulu kuduk. Apa suatu saat, dirimu bisa mengalahkan makhluk sehebat itu?
Begitu besar kekhawatiranmu sehingga tak kau sadari Rin memperhatikanmu sejak tadi. Bola lamunanmu dipecahnya dengan sodoran potongan daging yang cukup besar.
Kaupandangi sekali lagi tangan penuh luka itu. Apa yang menuntun Rin kepada takdirnya, sehingga ia harus berhadapan dengan Teostra? Kamu tidak akan dapat menebaknya. Tapi, memikirkannya saja menggandakan belas kasihanmu.
"Rin," panggilmu lembut. "Terima kasih sudah menolongku kemarin. Aku berhutang nyawa padamu."
"U… Un…"
Ah, bagus. Jantungmu mulai berdebar kencang.
Kamu memberanikan diri mendongak.
Bibir pucat itu melengkung ke atas, antara tersenyum dan menyeringai.
Cengiran wanita bertenaga besar dengan wajah setengah terbakar biasanya tidak terlalu memukau. Tapi, samar kautemukan keindahan yang begitu halus di baliknya. Yang terekam retinamu ialah ringis wanita bertubuh besar, beralis satu dan bernafsu makan tinggi. Tapi, yang bergema dalam hatimu adalah kebaikan tanpa pamrih.
Sebut ini kekaguman, atau perasaan berterima kasih. Yang jelas, kamu sulit berpaling.
Mata sewarna semburat senja kembali menelusur lekuk urat pada wajahmu. Menyadarinya, kamu percepat acara makanmu, dan akhirnya, lima menit kemudian, dirimu mendahului Rin di jalan pulang, memanggul perlengkapan-perlengkapan berat itu.
Di tengah jalan, penduduk Kamura berkerumun. Sepertinya ada yang menarik.
Kamu pun bergabung.
Kamu menangkap suara Fugen. Terdengar lesu, tak seperti biasa.
Tak berselang lama, tangis seorang ibu pecah. Dengung keramaian pun semakin keras.
Kautegakkan punggung untuk melihat lebih jelas. Tetua desa menyadari keberadaanmu. Sebaliknya, kau juga menyadari luka di dalam bola mata itu.
Fugen memanggilmu. Dirimu pun maju, disorot berbagai macam muka. Sedih, kaget, khawatir…
"Penyebab rampage sudah diketahui. Dengan harga mahal," tandas pemimpin Kamura.
Kau menatapnya lekat.
"Penyebabnya adalah sepasang elder dragon yang sangat langka, dua ular yang begitu licik dan ganas. Semua pemburu yang kita kirim tersapu bersih…"
Begitu mengucapkannya, Fugen memejamkan mata. Untuk sesaat, ia lebih mirip kakek tua daripada pemimpin perkasa Kamura.
Dahimu berkerut prihatin. Pemburu Kamura adalah orang-orang terpilih. Jika monster-monster itu dapat mengalahkan semua sekaligus…
"Mereka berbahaya. Yang satu mengendalikan petir, dan yang lain angin. Raungan mereka dapat memangil monster-monster lainnya. Jika salah satunya saja mencapai desa ini, akan sulit menghentikannya."
Apa-apaan ini? Satu demi satu berita buruk datang. Makhluk baru dalam penyerbuan kemarin saja sudah begitu menyulitkan. Sekarang, muncul lagi yang lebih mematikan?
Fugen mengerti perasaanmu. Beliau berusaha bangkit dari situasi tak menguntungkan itu. Perlahan, bara api di dalam mata kelabu itu berkobar kembali.
"Jika monster ini dikalahkan, rampage pun akan berakhir," simpulnya.
Ketua desa menatapmu lurus, dan seakan menggantungkan harapannya padamu, ia berkata:
"Karena itulah, pemburu terbaik Kamura akan menyelesaikan kekacauan ini, sekali dan selamanya."
Mengikuti Fugen, semua orang kini menyorotimu. Sebagian dengan senyum percaya, sebagian dengan kecemasan.
Berat. Tanggung jawab itu terlalu berat dipanggul sendiri.
Andaikan Ken ada—
"Biar aku yang pergi."
Panjang umur!
"Ken!" sentakmu.
Ia dipapah Iori. Kemudian, menyendengkan dirinya di atas sebatang tongkat, dia lepaskan pegangannya dari sang bocah.
Sedetik kemudian, nyaris Ken terjerembap. Namun, dia menegakkan tubuhnya kembali. Netranya bersinar terang.
"Aku akan pergi," ulang Ken.
Kaulihat ketidaksetujuan pada rupa Fugen. Berdiri saja sudah setengah mati, bagaimana mau menyandang pedang?
"Kalau aku gagal," sambung saudaramu, "berkurang satu sampah dari desa ini."
Dahimu berkerut, tidak menyetujui pembicaraan ngawur itu.
Perlahan Ken berbalik, menatap semua orang, kecuali dirimu.
"Tapi, kalau aku berhasil," katanya. "Kampung kita akan damai puluhan, bahkan ratusan tahun. Ditambah, nyawa banyak pemburu akan terselamatkan."
Perasaanmu berkecamuk. Pikirmu di satu sisi: kalau Ken pergi, darahnya hanya akan tertumpah sia-sia. Tapi, di sisi lain, kau sendiri tidak tahan menyaksikannya teronggok di dalam kamar lebih lama.
Rin menyenggolmu, mendorongmu untuk mengatakan sesuatu. Sayang, kamu tak dapat berbuat apa-apa.
Para bibi tentu tak mau kehilangan anak dan suaminya, lalu pemburu-pemburu muda tak berpengalaman jelas merasa sangat terbantu. Akhirnya, opini Fugen pun tenggelam di tengah lautan demokrasi mayoritas.
Senyum bangga Ken meruncing. Kau heran, belajar nekat dari mana orang ini. Mengapa ia justru semakin gegabah.
Lanjut Giok Kamura tertua, "Kalau semua setuju, aku akan berangkat malam ini, setelah matahari tenggelam."
.
.
Bersambung
1. Perlengkapan berburu: di dunia MH, bagian tubuh monster buruan dimanfaatkan untuk membuat pakaian dan senjata berburu. Armor Teostra dan kabuto Valstrax kali ini didapat dari hasil rampage yang lalu.
