.

.

Bab 8

.

.

Malam itu akan menjadi tonggak sejarah. Sebentar lagi, hasil akan jelas: apakah manusia mampu mencapai puncak perburuan, atau tertindas selamanya di bawah ancaman para monster.

Seluruh warga Kamura, mulai dari para bayi dalam gendongan hingga kelompok lansia di atas tongkat, menjalankan misi penting: menghantarkan sang pemburu terpilih menuju pertarungan akbar era itu.

Kembaranmu menduduki palamute kesayangannya, diiring palico favorit Iori. Ia dibalut zirah terbaik, zirah terbaikmu yang kaupersembahkan kepadanya. Pedang warisan Fugen pada punggungnya diasah tuntas oleh Hamon, sarungnya dilumuri minyak. Dan tak lupa, Yomogi membungkuskan lebih dari cukup dango berkhasiat untuk bekal. Perhatian dan perasaan setiap penduduk Desa Api terbungkus rapi dalam semuanya itu.

Ken tidak tumpul, ia menyadarinya. Rautnya dipenuhi luapan kesungguhan. Malam itu, ia pandang seluruh penghuni kampungnya satu per satu, seakan itu adalah kali terakhir.

Ketika ia menyorotmu, kamu menggigit lidah. Kalian sudah sepakat: Ken akan pergi sendiri. Kau harus menjaga Kamura, meneruskan perjuangan, jika sesuatu menimpanya.

Saudaramu itu menyadari betapa kesulitan yang kaurasakan untuk mengikuti keputusan itu. Ken mengait kepalamu dan menariknya pelan. Ia sentuhkan ikat kepala birunya pada dahimu.

"Ingat, Jun," bisiknya, begitu lirih sehingga hanya kalian berdua yang mendengarnya. "Orang-orang ini juga adalah keluargamu. Jagalah mereka dengan baik."

Kata-katanya meresap kuat ke dalam sela-sela sukmamu. Kau pun terdiam di sana.

Di tengah kelumpuhanmu, Fugen maju untuk menyegel perpisahan tersebut. Kembaranmu itu dirangkulnya kuat, seperti anak kecil direngkuh ayahnya.

"Ken, sejak aku menemukanmu, aku tahu, suatu saat kamu akan menjadi candrasa* Kamura. Kamu adalah kebanggaan kami semua," kata-kata sang kepala suku membahana.

Kemudian, Hamon pun mendekat. Sorotan mata sang kakek berkata, sebenarnya ia ingin menawarkan lebih dari tepukan di punggung.

"Ingatlah. Di sini, keluargamu menunggu. Pulanglah dengan selamat," tutur si pandai besi.

Ken menangguk.

"Aku pergi."

Setelah menatapmu untuk yang terakhir, sosok itu pun berbalik. Menjauh. Menghilang.

Malam itulah perpisahanmu dengannya. Sesudahnya, hanya kembali sebilah pedang tanpa penyandang. Para buruan ikut menghilang bersama penantangnya, menyisakan ketidaktuntasan mencemaskan.

.

.

.

.

.

Lima tahun berlalu. Sejak peristiwa itu, kau bukan lagi orang yang sama.

Memang, kamu berhasil memenuhi pesan terakhir Ken. Melindungi yang lemah, memberantas ancaman, bahkan mengurangi populasi elder dragon di wilayah Kamura. Kamu bertumbuh menjadi pemburu kuat, lebih dari yang berani kaubayangkan. Hari demi hari, dirimu menjadi legenda. Sekarang, julukanmu, Giok Biru Kamura, bergema ke desa-desa sekitar, dan sebentar lagi, pamormu akan sama seperti Fugen muda.

Namun, bayangan gelap membuntutimu ke mana pun juga. Pujian orang atas kehebatanmu justru menjadi beban. Karena kau tahu: ada seseorang yang lebih pantas menerimanya, dan orang itu bukan dirimu.

Kamu tidak lengkap tanpa dirimu yang satunya. Jauh di dalam hatimu, kamu tahu dia masih hidup di suatu tempat nun jauh di sana. Maka itu, dirimu selalu mencarinya. Di dalam perburuan, di dalam mimpi, setiap kaulewati gerbang yang sama, dan setiap kauinjakkan kakimu ke rumah kalian.

"Dada! Dada!"

Seorang bocah tergopoh menyerbu. Cengiran dua gigi itulah yang selalu mengubah harimu. Setiap melihatnya, kesukaranmu terangkat sementara. Kamu tersenyum bahagia.

Kaudekap si mungil, membaui helai-helai halus pada puncak kepalanya. Sembari menggendong putra sulungmu, kauletakkan bawaanmu.

Belum lama kau beristirahat, muncul Hinoa.

"Jun, kepala desa memanggilmu," sampainya dengan suatu urgensi.

Insting bocah hijau itu berkata ayahnya harus segera pergi. Tangan ciliknya meremas lengan pakaianmu.

"Dada," rajuknya.

Sekali lagi kauusap rambutnya yang tipis.

"Aku segera datang," kamu menjawab undangan itu.

Berat bagimu meninggalkannya. Namun, inilah risiko pekerjaanmu. Ada desa yang harus dilindungi, dan bukan tidak mungkin suatu saat harus kautinggalkan bocah itu selamanya.

Tidak apa-apa, pikirmu. Anak itu kuat, seperti Ken.

Kauremat lagi kerutan kain itu, dan berjalan cepat menuju pos Fugen.

"Jun, akhirnya kau pulang. Terima kasih atas kerja lelahmu," sapanya, menepuk pundakmu.

Kau mengangguk hormat.

"Setelah lima tahun yang tenang ini, Narwa dan Ibushi, dua ular yang menyebabkan rampage, terlihat lagi," ujar Fugen lagi.

Agaknya berita itu memunculkan semangatmu.

Fugen menatap bara dalam bola matamu. Ia hanya berujar, "Menurut Utsushi, ada yang aneh kali ini. Mereka juga membangun sarang di dekat Coral Palace."

Coral Palace adalah arena khusus untuk memerangkap monster berbahaya yang terlalu dekat dengan teritori Desa Kamura. Di sana telah dibangun dragonator dan splitting wyvernshot berskala besar. Area itu terpencil dan tersembunyi. Sulit dipercaya elder dragon dapat menemukannya.

"Aku akan memeriksanya," tanggapmu.

Kau tak tahu mengapa dirimu begitu tidak sabar. Padahal, situasi seperti itu biasanya membuat para pemburu membasahi celana mereka. Begitu bergairahnya kamu, sehingga malam itu kau lalui sambil terjaga.

.

Pagi-pagi benar, kau dan tiga pemburu lainnya bertransportasi ke arena tersebut.

Dari jauh sudah tampak binatang raksasa berwarna biru: Ular Angin Ibushi.

Di luar akal, tubuh sebesar itu dapat mengapung di udara, seperti ikan di dalam air. Bentuk makhluk itu lebih mirip kuda laut, hanya saja kelenturan dan cara bergeraknya memang menyerupai ular.

Kau dan yang lainnya mempercepat langkah. Dan akhirnya, tibalah kalian dalam arena.

Pertarungan dimulai dengan letupan bom kilat. Tubuh makhluk tersebut berkedut kaget, dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, aksi dimulai.

Kaulihat semua anggota timmu menyerang. Kau sendiri memulai, seperti selalu, dengan mengirim kinsect gesitmu.

Pada akhirnya, efek bom cahaya menghilang. Ular bermata kuning mengeluarkan pekikan menulikan, menggetarkan wilayah terpencil itu.

Di tengah erangan itu, kamu merasa melihat sesuatu… Sesosok manusia bersila di antara tanduk Ibushi. Namun, keheranan itu segera terhapus saat makhluk itu mulai melancarkan serangan.

Pertarungan berlangsung sengit. Dengan sapuan ekor, Ibushi menciptakan pusaran angin yang melambungkan ketiga anggota kelompokmu tinggi ke udara. Ketika ular itu memukulkan ekornya ke bawah, tubuh ketiganya terhempas keras ke tanah padat.

Orang-orang itu terkapar di atas tanah, tidak bergerak lagi.

Kau tak percaya. Apa seperti ini juga para pemburu yang dikirim sebelumnya menemui ajal mereka? Segampang ini? Bagaimana dengan Ken? Apa dia tewas dengan cara ini?

Kau telah bersiap menghindar saat moncong ular ajaib mendekat padamu. Jeritan yang sama bergaung lagi, dan kali ini, dengan gugurnya tiga korban, terdengar jauh lebih menggentarkan.

Tidak. Kamu tidak berniat menyerah sebelum berusaha. Demi desa. Demi bocah itu.

Genggamanmu semakin erat. Gagang insect glaive-mu memanas. Hatimu mengeras, dan hendak kaulancarkan serangan pertamamu.

Tapi…

.

"Akhirnya kita bertemu lagi."

.

Kamu mendengar suaramu, memanggil namamu. Apa ini nyata?

Sebelum kepalamu memrosesnya, kau sudah memandangnya. Pantulan dirimu di cermin. Seorang pemuda sepertimu. Perbedaannya hanya satu. Lukisan kipas pada dahinya.

"Ken…?"

Kauturunkan senjatamu, dan berdiri terhuyung, seperti orang bangun dari mimpi.

.

.

Bersambung


*劔 (Ken): pedang (Bahasa Jepang).

1. Splitting wyvernshot: meriam.

2. Wind Serpent Ibushi: salah satu dari dua elder dragon penyebab rampage di MH Rise. Yang satunya dinamakan Narwa.

3. Thunder Serpent Narwa: penyebab rampage. Lebih ganas dari Ibushi.