.
.
Bab 9
.
.
Dengan segaris senyuman misterius, Ken berujar, "Bagaimana rasanya hidup damai?"
Pertanyaannya itu diredam kecamuk. Kau benar! Ken masih hidup! Tapi, ke mana saja dia selama ini? Kenapa tidak kembali ke desa? Apa barusan, dialah yang mengendalikan Ibushi? Jika demikian… dialah yang mencabut nyawa ketiga kawanmu?
Kamu tidak sanggup mengungkapkan semua itu, apalagi menuduh kakak kandungmu.
Ken memicing.
"Oh, kau tak senang melihatku? Apa kau takut aku kembali dan merebut semua pemujaan darimu?"
Mengapa itu yang dia pikirkan? Orang ini berbeda dari yang kaukenal. Sorot matanya, cara ia menyunggingkan senyum… Apa ini benar-benar kembaranmu?
Terngiang kembali ucapan Rin dahulu. Para pengendali wyvern akan kembali menjadi…
Tidak. Ken bukan orang berhati lemah. Dia adalah pahlawan Kamura! Pahlawanmu…!
Kilatan hijau pada netranya membuatmu berpikir ulang. Apa benar, Ken…
"Kau tahu, Jun? Reaksi lambanmu ini kadang membuatku naik pitam. Apa kau sedang berusaha mempermainkanku?"
"Kamu tahu aku tidak pernah melakukannya," tanggapmu sedikit terluka atas tuduhan itu. "Bisakah kita bicara baik-baik?"
Orang itu mengangkat sebelah sudut bibirnya dan memberimu kesempatan bicara.
"Ke mana saja kamu selama ini? Kami semua mengkhawatirkanmu."
Ia mendenguskan tawa palsu.
"Oh, ya? Jadi terharu."
Tatapannya menajam, menusukmu hingga sumsum.
"Aku terlalu sibuk melemahkan semua elder dragon di wilayah Kamura untukmu, supaya kau dapat membasmi mereka."
"Apa?" Mulutmu ternganga.
"Kau ingin tahu caraku melakukannya? Aku sedang mendemonstrasikannya di depan mata kepalamu."
Ken memburu monster-moster itu tanpa penugasan resmi dari Hunter's Guild… dengan menggunakan Ibushi? Oh tidak.
"Ken… Perbuatanmu itu disebut perburuan gelap dan dapat dijatuhi—"
"Hukuman mati?"
Ken mendecih tak suka.
"Jika aku tak melakukannya, desa itu sudah jadi abu. Dan bagaimana lagi orang pincang bisa melindungi, jika tidak dengan cara ini?"
Ada setangkup penyesalan dalam pengakuan Ken barusan. Sayangnya, kau begitu terpukul, dan momen itu berlalu tanpa kausadari.
Ken mengira dirimu tak akan membelanya. Dalam sekejap, parasnya kembali menegas.
"Sudah kuduga. Tidak ada gunanya berharap lagi."
"Aku—"
Ia memotong, "Kau tahu siapa kita, Jun? Kau dan aku adalah keturunan ras terkuat dunia: elder wyverian*. Dengan kemampuan kita, elder dragon sekalipun sujud menyembah. Begitu pula dengan makhluk-makhluk lainnya. Dan dengan demikianlah para pendahulu kita membangun peradaban mutakhir di masa lampau: dengan memerintah binatang-binatang itu."
Suara Ken mengeras.
"Dan kau tahu apa yang terjadi pada anggota yang tak menggunakan kekuatannya? Bukan hanya elder dragon; manusia-manusia rendahan itu, akan terus memburu mereka, dan mereka akan terus menjadi mangsa. Itulah yang terjadi pada semua anggota lainnya: punah."
Dari mana Ken mengetahui informasi ini? Lagi-lagi, ia tak memberimu waktu berpikir.
"Aku beri kau satu penawaran. Dengarkan baik-baik. Hanya akan kuucapkan sekali."
Bola mata Ken berkilat, begitu pula dengan Ibushi. Sesaat kemudian, kedua makhluk itu beresonansi dan mengucapkan kalimat yang sama dalam bahasa masing-masing.
"Tinggalkan Kamura. Bergabunglah denganku, kita taklukkan semua iblis itu. Bersama-sama, kita akan menjadi penguasa dunia."
Secara simbolik, pemuda itu mengulurkan tangan.
"Datanglah, Jun."
Kamu bimbang. Separuh dirimu meragukan kewarasan Ken. Separuhnya lagi berhasrat menerima ajakan tersebut, meskipun kamu bertanya-tanya. Menjadi penguasa dunia? Apa artinya pilihan kosong itu?
Sekilas, muncul api kemurkaan dalam sorot mata Ken.
"Lamban…" ia mendesis.
Angin meriuh di sekitarmu. Ular yang ditungganginya itu bersiap melambungkan dan menampikmu, seperti yang ia lakukan pada yang lainnya.
Kaututup matamu. Jika ia mau menghabisimu, dengan lapang dada akan kauterima nasibmu. Lebih baik gugur, daripada hidup tapi jiwamu terbelah dua.
Beberapa saat berlalu tanpa terjadi apa-apa. Lalu, kamu mendengarnya berbicara dengan nada yang berbeda.
"Kamu sudah… berkeluarga?"
Perlahan, badai itu mereda.
Itu pertama kalinya Ken-mu muncul ke permukaan. Seketika itu juga, kamu melihat betapa kesepiannya kakakmu.
"Biar kutebak. Rin. Dan sepertinya… Kalian sudah memiliki momongan," katanya, membaca hatimu.
Kamu menyesal. Menyesal telah meninggalkan Ken di masa lalu dan maju sendiri dengan kehidupanmu.
Tapi, tidak demikian dengan Ken.
"Begitu, ya," desahnya, menghembuskan secuil kelegaan. Itu adalah kebahagiaan pria dewasa saat mengetahui dirinya sudah jadi paman.
Kauraih kesempatan itu, mengulurkan tanganmu. Kau hayati setiap kata yang kau ucapkan:
"Ayo pulang, Ken. Semua orang sudah menunggu."
Kini, ganti dia yang goyah. Bibirnya yang licin itu kehabisan kata.
Dan kamu pun tahu, itulah yang Ken rindukan. Pulang ke rumah. Berkumpul dengan semua orang seperti sedia kala.
SYAAAAAAAAAA!
Tanpa peringatan, Ibushi memekikkan sinyal. Dalam sekejap, kehangatan yang barusan Ken tunjukan lenyap tanpa bekas.
"Sayang sekali. Aku hampir saja memberimu tempat di sisiku."
Diiring tiupan angin kencang, Ibushi bergerak menerjang.
Serangan pertamanya dapat kauhindari.
"Berhenti! Kau tak sadar apa yang kaulakukan barusan?"
Tanpa melirik para korban sedikitpun, Ken justru membabi buta.
Pertarungan timpang itu terus berlangsung. Hasil pergulatan sudah jelas, kendati telah kaukerahkan usaha terbaik.
Tanpa istirahat, staminamu berkurang perlahan. Hingga akhirnya, suatu waktu jarak kalian terpangkas total.
"JUN!"
Ken menarik sebilah belati. Ketika mengayunkannya, rupanya memancarkan kekejian yang begitu kuat. Ia tidak akan menahan diri.
Sebelum besi dingin itu membelah dadamu, kau tahu, hatimu telah koyak duluan.
.
.
Bersambung
1. Elder wyverian*: (karangan author, ga ada di canon) wyverian yang berasal dari evolusi elder dragon.
