.
.
Bab 10
.
.
Belati itu meluncur.
TREK!
Pelindung dadamu retak, tapi nyawamu terselamatkan.
Kau mengunci pergelangan Ken dengan tangan kananmu, sementara yang kiri mengayunkan tongkat.
Ken menghindar, dan Ibushi yang ia tunggangi segera menjauhkan kalian berdua.
Cakar monster itu terayun. Kau lolos sesenti saja, walaupun senjatamu terlontar jauh. Namun sebelumnya, telah kausita belati itu darinya.
"Hm! Tidak buruk."
Saudaramu mengangkat tangan, dan seketika keganasan sang ular mereda.
"Aku jadi ingin…" Ia cabut pedang panjang, "mengujimu!"
Dalam balutan angin, manusia itu meninggalkan singgasananya, menerjang turun dan menyabetkan pedangnya. Tapi kini, dilihat dari kebuasan pada kerut wajahnya, apa benar kemanusiaannya masih tersisa?
Walau pedih bercampur, kamu belum boleh mati. Ada desa yang harus kaulindungi!
Kautarik pedang di punggungmu. Itu adalah pusaka Kamura, senjata yang dahulu pernah menjadi miliknya.
TRANG!
Kaupalangkan senjatamu. Mata pedang Ken menghantam sisi pedang yang kautahan dengan dua tangan.
Bukannya terdorong mundur, Ken yang hanya bertarung dengan sebelah tangan malah mendesakmu sedikit demi sedikit, sampai dirimu berbaring di tanah dan ia menindih tubuhmu. Lenganmu bergetar di bawah besi pemagar nyawamu, sementara bilah itu hampir menempel wajahmu.
"Bagaimana, Jun? Sudah tahu apa perbedaan kita?" desisnya, menyeringai.
"Ken—hentikan! Kamu akan menghancurkan… kita semua!"
Ken menyeringai lebar, tenaganya terasa semakin kuat.
"Bergabung denganku, dan akan kubirkan kau hidup."
Tidak. Ini bukan Ken yang kamu kenal. Sosok ini tidak ada bedanya dengan para monster. Dia membunuh untuk bersenang-senang.
Kesadaran tersebut memunculkan kekuatan baru, dan di dalam keadaan itu kau berhasil mendorong balik.
"Sadarlah, Ken!"
Kemenangan itu tak bertahan lama. Ken tidak suka kekalahan. Terbakar keinginan untuk menang, sang ahli pedang bergeser membebankan tubuhnya pada pedangnya. Ia kembali mendominasi adu kekuatan.
Di mata itu, tampak murka dan kebencian yang tak pernah kamu saksikan sebelumnya. Dengki yang membuatmu mempertanyakan ikatan kalian.
"Ken…" lafalmu di akhir napasmu. "Ingatlah lagi siapa dirimu! Kau dan aku… kita disebut Giok Kembar Kamura!"
Seringai licik Ken sedikit terhapus.
Lanjutmu, "Kamura adalah rumah kita. Setelah mengalahkan Magnamalo, Fugen… menyerahkan pedang ini padamu. Ia memercayakan masa depan Kamura padamu. Kami semua masih membutuhkanmu, Ken," bisikmu penuh perjuangan. "Apa kau mau mencampakkan semua itu?"
Apa kamu tega membuangku?
Mata pemuda di hadapanmu terbuka semakin lebar. Ken bergulat dalam pertentangan internal.
Sampai akhirnya…
.
.
"Jadi, kau memilih kematian."
.
.
SRET…
Tekanan itu semakin kuat. Lenganmu mulai kesemutan, dan akhirnya pedang itu benar-benar menyentuh parasmu. Dingin. Sedingin mata Ken yang menghakimimu, membekukan detak jantungmu perlahan.
Ken terus menekan sampai kelopak matamu terluka.
"Ken…" panggilmu lirih sebagai upaya terakhir. "Aku tahu kamu masih di sana…"
Tidak terhenti.
Tekanan pada mata kirimu semakin kuat. Sebentar lagi, dunia akan memerah, lalu menggelap.
Namun, di saat terakhir, sebuah peluru membidik Ken. Selongsong itu pecah, menebarkan jala cukup berat yang berhasil membungkus laki-laki itu seutuhnya. Terbawa momentumnya, tegulinglah Ken ke atas tanah.
Derap langkah kaki mendekat. Yang menyelamatkanmu kali itu tak lain dan tak bukan adalah Rin.
Ketika Ibushi turun tangan, Rin melempar bom kilat sebelum wyvern tersebut beraksi, lalu terus menerus melemparkan bom suara. Perempuan itu melakukannya sambil menyeretmu pergi.
Gerakan sang Ular Angin tak keruan. Dan sebelum kabur, sang elder dragon membawa juga Ken yang terperangkap di dalam jaring.
"Ini belum berakhir! Lihat saja, akan kuhancurkan kalian satu per satu. Aku akan membuatmu menderita, Jun!"
Dan monster itu pergi, bagaikan belut licin di tengah-tengan lautan awan.
Kau berdiam diri, setengah tuli; setengahnya lagi tak peduli. Kaurasakan jantungmu memompa keras, menyebarkan racun kegetiran ke seluruh pembuluh. Tatapan kosongmu tak mencapai bintang, namun pengelihatanmu berkunang-kunang. Dan kau tak bergerak, bagaikan mayat yang masih bernapas.
"Ken…" ulangmu, hati carut marut.
Mengapa, mengapa? Mengapa kau tega membuang semuanya? Mengapa kau… membuangku?
Dari mata kirimu, menitiklah air. Merah.
Warna pekat itu mencair, mencumbui bulir-bulir ejekan dari awan hitam yang melintang kejam.
.
.
Bersambung
