.
.
Bab 11
.
.
"Mereka sudah kembali!" seru Yomogi.
Mengikuti aba-aba Yomogi, beberapa penduduk mengerumuni. Tergambar keterkejutan di mata orang-orang melihat sisa personel perburuan itu terbaring di atas gerobak.
"Apa yang terjadi, Jun? Mereka—kamu terluka!" serbu Iori. Bocah yang biasanya tenang itu tak dapat menahan kekhawatirannya.
"Hanya luka gores. Tak perlu khawatir," ujarmu. "Tapi, mereka…"
Minoto pun mengatur agar ketiganya dibawa ke bangsal perawatan. Sementara itu, kamu menjelaskan runut kejadian di hadapan semua saksi. Tentunya, tanpa mengatakan apapun terkait kemunculan Ken.
"Akhir-akhir ini, kalian selalu pulang dengan luka berat!" sentak Yomogi menahan tangis. "Bagaimana kalau matamu tidak… tidak bisa… Ba-bagaimana dengan Kamura nanti? Siapa yang akan melindungi Kamura dari—dari…"
Rin mengelus kepala gadis kecil itu. Anak ini masih terlalu muda untuk menyaksikan nasib buruk para pemburu.
Katamu, "Aku akan lebih berhati-hati. Aku janji, Yomogi, selama aku masih bernapas, desa ini akan kulindungi."
Rin menepuk dada, seakan ingin berkata 'aku akan berjuang bersama Jun.'
"Dengan munculnya Ibushi, berarti rampage masih akan berlanjut," ujar guild master Hojo.
"Hinoa," panggil Fugen, "umumkan persiapan rampage."
Hinoa pun bergegas melaksanakan tugas.
Setelah Rin menuntun para bocah pulang, kau berbicara dengan para tetua Kamura.
"Fugen, Hamon," cegahmu. "Sebelumnya, ada sesuatu yang harus kusampaikan."
.
Tiga bayang berdiri di tengah hutan, diterangi sebatang suluh yang redup. Rasanya, seperti api itulah harapanmu. Dengan berkurangnya jumlah pemburu, datangnya ancaman rampage, dan berpihaknya Ken dengan para monster, masa depan nampak sangat suram.
Malam itu, kamu harus memutuskan. Akan terus memperjuangkan desamu, atau…
"Tidak mungkin ada yang melihat atau mendengar kita sekarang," ujar Fugen menatapmu lekat. "Ada apa, Jun?"
Kau meragu. Jika kamu bocorkan informasi itu, sangat mungkin Fugen dan Hamon akan menentang Ken. Apakah Ken harus menjadi yang diburu sekali lagi? Kamu tidak mau itu terjadi!
Akan tetapi, jika kamu tidak melaporkannya, Desa Api tidak akan siap menghadapi bahaya di depan mata mereka. Kamu tak mau Rin dan putramu itu menanggung akibatnya.
"Jun?" Hamon memanggil.
Dalam keremangan, kautangkap tatapan kebapakan darinya. Dulu, sewaktu Hamon sedikit lebih muda, sering kau lihat pancaran itu. Pancaran kerinduan, sedikit rasa gugup, dan juga kebanggaan. Hal itu menjadi semakin jarang sejak beliau kehilangan anak semata wayangnya, ayah Iori, dalam suatu perburuan.
Kamu berpaling pada Fugen. Undangan dadakanmu ini tak dianggapnya lancang. Netra gelapnya justru memancarkan kegirangan sejak kepulanganmu.
Tentu saja Fugen senang. Banyak petarung Kamura menghilang dari dunia dalam beberapa tahun terakhir. Memang, Fugen jarang menunjukkan kegundahan. Namun kau tahu, tiap seorang pemburu gugur, ia minum tuak sendirian di dalam kamarnya, sambil memandangi barang-barang peninggalan pemburu itu semalaman.
Ya. Setiap pria di tempat itu pernah kehilangan. Dan tentu saja Ken masuk hitungan.
Memahaminya, kamu pun merasa lebih mantap untuk jujur. Kamu menarik napas panjang, lalu mulai bercerita.
"Sebenarnya, Ken hadir dalam pertarungan itu."
Para sesepuh terbelalak. Keduanya lantas berebut menanyakan keadaan pemuda itu.
"Dia baik-baik saja. Lebih baik dari sebelumnya," jawabmu.
"Lalu, di mana dia sekarang? Kenapa tidak kembali ke mari?" sambung Fugen.
Kau berjuang menata kata-kata. Bagaimana jika mereka tidak percaya? Atau, yang lebih berbahaya, bagaimana jika mereka menganggap Ken sebagai ancaman yang harus dimusnahkan?
"Jun?" panggil Hamon lagi. Tangan penuh kerutan itu terkepal gelisah.
"Apa yang akan kukatakan akan sulit dipercayai. Tapi, aku mohon, jangan benci Ken. Dia pasti memiliki motif yang kuat."
"Memangnya ada apa dengan Ken?"
"Ken… bisa mengendalikan elder dragon."
Sunyi, sunyi seperti kota mati. Yang jelas, pesanmu telah tersampaikan. Tidak mungkin ada kesalahan dalam penerjemahan. Kedua tetua Kamura mendengar titik dan komanya.
"Apakah Anda mengingat sejarah Dunia Lama? Menurut sejarah, ada suatu peradaban yang dapat mengendalikan—bahkan memperbudak—makhluk-makhluk ini."
Semua kaubeberkan hingga titik koma. Tentang elder wyverian, kemampuan mereka, dan apa yang akan mengikuti para penggunanya. Tentang aksi Ken pada rampage lima tahun silam, intervensinya terhadap perburuan elder dragon belakangan, serta perbuatannya terhadap para pemburu hari itu.
Tidak satupun kalimatmu diinterupsi. Suaramu meresap dalam kesunyian itu dari awal hingga akhir, sampai obor yang kalian bawa benar-benar mati.
"Aku tahu, Ken telah bertindak sembarangan. Tapi…"
Tapi apa? Tidak ada tapi. Semua persis pengakuanmu: Ken telah melakukan perburuan gelap, dan secara langsung mempengaruhi keseimbangan dunia. Ken mencelakai para petarung dari desanya, dengan kata lain dia telah berkhianat. Luka pada wajahmu adalah bukti terakhir, bahwa Ken adalah makhluk biadab, tega menyakiti adiknya sendiri.
Ken benar-benar telah berubah… menjadi monster. Dan takdir seekor monster sepertinya adalah…
.
Diburu.
.
Itulah kesalahan terbesarmu. Dengan perkataan telah kauletakkan nyawa kakakmu di ujung tombak keadilan. Fugen dan Hamon sekalipun takkan sanggup menahan palu hukum. Tidak ada yang boleh menentang alam, karena begitu menentang, otomatis ia menjadi musuh alam yang patut dibasmi.
Lututmu kautekuk. Kauantukkan juga dahimu ke tanah. Benturan itu menyobek lagi jahitan lukamu, mengirimkan nyeri yang tajam. Tapi, kesakitan itu takkan sebanding dengan derita yang akan kaurasakan bila Ken benar-benar direnggut darimu untuk selamanya.
"Tuan, saya mohon…"
Seperti kriminal rendahan yang mengais belas kasihan, kaulempar harga dirimu ke depan kaki para hakim, meski kamu tahu mereka harus menginjaknya.
"Beri Ken pengampunan…"
Air mata mulai mengisi bekas sayatan pedang itu. Rasa perih menjalarinya, namun kau tidak mengindahkannya. Tak pernah dirimu seremuk itu. Meski kamu telah memilih untuk melakukan hal yang benar, Ken tidak ada dalam pilihanmu.
"Jun."
Kamu tidak mengangkat wajah. Begitu lebih baik. Bila kamu menatap wajah mereka sedikit saja, sepertinya jantungmu tidak kuat.
"Selalu ada penghukuman atas orang yang berbuat jahat. Inilah yang disebut karma. Bila orang jahat tidak dihukum, orang lain harus menanggung karma yang sama dengan sang pelaku," kaudengar Fugen berkata tegas.
"Kumohon… Berikan satu kesempatan terakhir…"
"Berdirilah, Jun…"
Hamon membungkuk, berusaha menarikmu. Kau tak mau. Kau tidak bisa…
Angin malam itu meresapi ruas-ruas jemarimu yang mengelupas digerus tanah. Perih. Tapi kau justru menekannya lebih keras. Kauanggap itu sebagai suatu bentuk hukuman. Hukuman yang sama sekali tak sebanding dengan apa yang telah kaulakukan. Kamu telah menjual kembaranmu sendiri.
"Ada yang menunggumu di rumah," tegas Fugen. "Jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab."
Ingin dirimu merajuk seperti bocah. Memaksa takkan beranjak sebelum permintaanmu dituruti. Jelas, cara seperti itu takkan mempan pada orang dewasa, apalagi pada seorang petarung tangguh seperti sang ketua desa.
"Dan jangan coba melakukan yang tidak-tidak. Jika ketahuan, kamu akan dilarang berburu. Dan kalau masih nekat," Fugen berhenti.
Kalau masih nekat, kamu akan diusir dari desa, seperti pelanggar-pelanggar sebelumnya.
Seperti itulah pemimpin Kamura. Ia harus berani mengambil langkah sulit. Kau yakin, Fugen sering menyesali ketidakberdayaannya membuat keputusan-keputusan sulit itu. Menyesal karena tak dapat berkompromi, ataupun membuat pengecualian. Dari suaranya yang bergetar, kau tahu, bagi Fugen, mengambil pilhan ini sama berat untuknya. Apalagi, pria itulah yang menaruh harapan, bahwa Ken akan menjadi Pedang Kamura.
Tetua desa pun berbalik, meninggalkan kau dan Hamon berdua.
Meski demikian, kamu tak tinggal tenang. Kausaur kaki Hamon dan kaupanjatkan permohonan sekali lagi.
"Tolong, Tuan. Tolong kakakku."
Bapak tua itu tak sanggup lagi menahan harunya. Mendengar kamu, yang dianggapnya sebagai anak sendiri, menyebutnya 'Tuan' dua kali, mengikis tembok pertahanannya sampai habis.
Ia tersungkur, memelukmu. Kaurasakan sang pandai besi tersengguk di atas pundakmu.
Hamon tidak bisa mengungkapkan deritanya semenjak kepergian Ken. Beliau jengkel pada dirinya yang tak dapat melakukan apa-apa. Menyesali hadiah terakhirnya yang murahan; hanya mengasahkan pedang, dan bukannya memberi peluk hangat yang tidak akan dilupakan.
"Fugen tidak akan berubah pikiran. Kamu tahu itu, kan, Jun?"
Pada malam yang sejuk itu, semua kehangatan telah dirampas darimu, menyisakan tulang-tulang linu dan batin yang pilu.
.
.
Bersambung
