.
.
Bab 12
.
Desa Kamura hancur. Manusia di sekitarmu rubuh satu per satu.
Seorang pemuda, wajahnya buram oleh kabut, duduk di sebelahmu. Sosok itu mengulurkan tangan. Ia tersenyum tenang, mengabaikan apa yang terjadi.
Kamu menyambut tangannya, dan seketika itu juga, dunia bergetar. Monster yang kalian duduki; ular berwarna biru, menyemburkan pusaran angin dari mulutnya, meratakan apa yang tersisa.
Kemudian, dia yang bersimpuh di sisimu itu membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu.
Dan saat itulah kamu keluar dari dunia mimpi. Keringat dingin mengucur. Nyeri menyengat mata kirimu.
Itu semua hanyalah ilusi, batinmu menekan bagian yang sakit.
Kamu tidak menyadari bahwa melalui mimpi itu, intensimu telah terajut sempurna dalam alam bawah sadar: kamu ingin bersatu dengannya; dengan Ken, pecahan jiwamu, apapun konsekuensinya.
Lalu, bagaimana dengan Kamura? Jika kauikuti hasratmu, apa gerangan yang akan terjadi pada desa di mana kau dibesarkan? Bagaimana dengan orang-orang yang menghujanimu dengan kehangatan, kasih sayang, penghargaan? Apakah mereka akan musnah, seperti manusia-manusia tak berdaya di dalam mimpimu?
Mentari meninggi sementara kamu mencari jawabannya. Akhirnya, kauputuskan untuk memulai hari.
Tanpa memperhatikan orang berlalu-lalang, kaucapai pos Fugen. Sayang, yang bersangkutan tidak ada di tempat.
Kamu pun berbalik menghampiri bengkel pandai besi di sebelahnya. Bahkan Hamon tak nampak batang hidungnya. Begitu pula dengan Hojo, para quest maiden, juga Utsushi yang biasanya selalu bertengger di atap gedung pertemuan.
Apa boleh buat? Kamu pun menghampiri kedai Yomogi. Di sana ada juga Iori dan beberapa palico.
Menghidangkan dango regulermu, Yomogi memberondong bertubi-tubi pertanyaan, sebagian besarnya tentang keadaanmu dan desa itu.
Kau berkata, Kamura akan baik-baik saja, sambil meminta maaf dalam hati. Ya, kamu tahu mustahil semua kembali seperti semula. Dengan adanya Ibushi serta penungangnya… Kamura sedang berada dalam bahaya besar.
"Jun."
Kini kamu berpaling pada Iori. Anak laki-laki itu tersenyum, seakan tak sabar membagikan suatu kabar bahagia.
"Mereka sadar!"
Mereka? Oh, tiga partisipan misi kemarin?
"Katanya, keadaan mereka membaik!" sambung Yomogi berseri-seri.
Kelegaanmu tak terjabarkan oleh kata-kata. Kau ikut tersenyum bersama mereka, bersama dua palico yang menari-nari. Berarti dengan begini dosa Ken berkurang.
Memikirkan namanya membangkitkan juga ingatanmu atas mimpi semalam. Ah, tapi sebaiknya tak kautunjukkan itu di depan anak-anak ini.
Oh iya, kembali ke topik semula.
"Kalian tahu di mana Fugen dan yang lain?" lontarmu sembari menyeruput teh panas.
"Sedari pagi, mereka berkeliling memeriksa desa. Katanya sebentar lagi beberapa fasilitas harus dipugar."
Ah, jadi Kamura sedang mengantisipasi datangnya rampage dalam waktu dekat. Sebagai petarung utama desa, sebaiknya kamu juga mulai berlatih. Namun, saat ini kamu tidak sanggup. Perkara lain memenuhi pikiranmu. Perihal yang jauh lebih penting bagimu.
"Aku pergi," katamu menelan tusuk dango terakhir.
"Tunggu!" seru Yomogi.
Perempuan itu memandangi Iori yang bungkam.
"Aku ingin tahu pendapatmu tentang…"
"Tentang bunny dango edisi terbaru! Rasanya seperti… seperti—"
"Nanas! Tunggu sebentar, ya! Akan kubuatkan."
Dirimu terdiam menantikan surutnya keributan para bocah. Jelas sekali, Yomogi dan Iori sepertinya berusaha menahanmu selama mungkin.
"Yomogi, Iori. Jujurlah. Apa yang dikatakan Fugen, sampai-sampai kalian berdua dilibatkan?"
Keduanya lantas menunduk. Raut mereka tampak sedih dan ketakutan.
Sungguh disayangkan. Seharusnya, masalah pelik ini tidak melibatkan bocah-bocah ini. Kamu pun menyesal telah membagikan informasi itu semalam. Tapi, rasanya tidak mungkin berita itu disembunyikan terlalu lama. Jika demikian, kamu membahayakan nyawa orang-orang yang telah berjasa padamu.
Semakin lama, dilema itu semakin mencekikmu.
Katamu akhirnya, "Apapun itu, kalian tidak perlu memusingkannya. Serahkan ini pada orang dewasa."
"Tapi!" erang Yomogi. Jelas sekali ia tidak mau membiarkanmu begitu saja. "Kalau kami tak mencegahmu, bisa-bisa kamu akan meninggalkan desa!"
"Kami tidak mau itu terjadi. Ken menghilang…Aku tidak mau kehilanganmu juga, Jun!" tambah Iori. Matanya berkaca-kaca.
Sepertinya mereka belum mendengar apapun tentang kemunculan Ken.
"Bukannya kita semua satu keluarga?" bisiknya. "Keluarga saling memperhatikan dan menjaga. Meskipun masih muda, kami ingin menjaga Kamura… menjaga para pemburunya. Menjagamu!" sang buddy handler bersikukuh.
Keluarga. Ya, itu yang selalu dikatakan semua orang. Desa Kamura adalah keluarga. Tapi, mungkin setelah tahun-tahun berlalu, kau belum juga menganggapnya milikmu. Jika sudah, mengapa kau tak dapat merelakan Ken? Karena Ken berasal dari rahim yang sama, sementara orang-orang ini hanya kebetulan tinggal di kampung yang sama?
"Yomogi, Iori, terima kasih," katamu. "Aku akan memikirkannya."
Kaupaksa dirimu beranjak meninggalkan anak-anak bertampang kecewa itu.
.
Kau mulai patroli di Shrine Ruins, dan berlarian ke sana ke mari seperti orang kesurupan. Kebencian Ken terhadap Kamura akan semakin besar jika ia mendengar dirinya telah dijadikan buronan. Oleh sebab itu, kau benar-benar berharap dapat menemukannya sebelum terlambat.
Kamu memiliki tiga rencana jika langkah pertamamu terlaksana. Satu: mencoba mengubah pikirannya. Dua: bila Ken menolak berubah, kamu akan menyeretnya pulang dengan paksa setelah membunuh Ibushi. Tiga: kamu akan bergabung dengannya…
dan menjadi seorang pengkhianat.
Perutmu mulas memikirkan itu.
Naas, pagi datang tiga kali tanpa tersadari. Tidak ada tanda-tanda Ibushi maupun penunggangnya. Dengan menahan kecewa, terpaksa dirimu pulang.
Desa sibuk seperti biasa. Demi menghindari keramaian, kautuju tempatmu biasa berlatih dan kaurebahkan tubuhmu di atas jembatan yang melintangi pepohonan.
Saat kantuk tak kunjung datang, kamu mencoba memikirkan apa arti desa itu bagimu dengan mengingat wajah semua penduduk. Kini, mereka tidak lebih dari kerumunan orang yang tak sengaja kauingat namanya. Kamu mulai memikirkan ini: bahwa penerimaan mereka hanya sebatas mekanisme timbal balik; sesuatu yang diberikan agar kamu bersedia memberikan perlindungan sebagai balasan.
Apa benar, di bawah langit luas, hanya satu yang sanggup memihakmu sebagai keluarga?
SREK!
Jembatan itu tergoncang terkena lemparan kerikil.
Rin. Wanita itu mendekap balita dengan sebelah tangan, sebelahnya lagi memberi isyarat padamu untuk turun.
Sebelum mematuhinya, kauperhatikan perempuan itu dengan saksama. Perutnya semakin besar hari ke hari.
Seketika itu juga, mimpi buruk itu melintas di depan matamu, dan kamu melihat wanita ini serta anaknya yang belum lahir tergolek dikelilingi lautan api.
Barangkali, mimpi itu merupakan suatu peringatan yang berkata demikian: bila kamu dan Ken bersatu, itulah awal kehancuran Kamura. Dan jika itu menjadi kenyataan, maka kamu akan kehilangan orang-orang yang telah menjadi tanggunganmu ini. Rin, dan anak-anakmu.
Dirimu bagaikan diikat tali, lalu ditarik ke dua arah. Tidak ada yang bisa kaulakukan selain pasrah. Kalau saja Ken dapat bertukar posisi denganmu, dia pasti melakukan sesuatu. Hal yang benar, yang tak sanggup kau pilih.
Kau melompat turun ke sisi istrimu. Bola mata Rin memaku paras kusutmu. Warna merah muda itu membanjirimu dengan kehangatan. Kamu diam di sana, menikmatinya, berusaha melupakan kesukaranmu untuk sementara.
Rin meletakkan tanganmu ke atas perutnya. Kamu menunggu, kalau-kalau ada pergerakan dari dalam kandungan.
Sembari kauusap benjolan itu dengan lembut, sekali lagi dirimu termenung. Jika Rin tak pernah ada di sini, apa kamu sudah mengorbankan Kamura?
"Maafkan aku, Rin."
Pertanyaan yang tak kauketahui asal-usulnya.
Rin tidak berkomentar. Dengan tenang, ia sandarkan kepalanya pada pundakmu.
Kekalutan pada raut gadis itu pun luput dari perhatian, karena ia berhasil menyembunyikannya di bawah bayanganmu.
.
.
Bersambung
