.
.
Bab 13
.
.
… Akan kuhancurkan kalian satu per satu. Aku akan membuatmu menderita, Jun!
Tubuhmu meregang mengingat perkataannya. Bukankah kalian pemburu kembar Kamura yang tak terkalahkan? Bukanya dulu kalian selalu bersama, tidak terpisahkan? Sementara hatimu berdenyut nyeri, kauawasi desa yang terlelap.
Bulan purnama menerangi malam itu. Persis seperti waktu kalian diutus menaklukkan pengendali api neraka: Magnamalo.
Tulang-tulangmu bergemeletuk oleh teror sang predator. Tapi, Ken meyakinkanmu bahwa kalian takkan kalah. Seberapa kuat pun musuh menghadang, kalian akan menang. Sebab kalian saling memiliki dan saling menjaga.
Pada akhirnya, misi tersebut berhasil. Desamu berpesta merayakannya. Malam itu, semua orang bersuka ria.
Bibirmu membentuk kurva. Sungguh, akan kautukarkan apapun demi merasakan momen bahagia itu.
Tapi mengapa… Giok Kembar Kamura menjadi permata dua mahkota yang berseteru? Jika demikian, tidakkah lebih baik menjadi sepasang batu biasa di tepian kali, menikmati hari-hari damai ditemani aliran sungai?
Seiring terhapusnya lengkungan itu, kau menengadah, berniat mengeluh pada angkasa. Dan saat itulah kamu melihatnya: kerumunan makhluk bersayap di kejauhan.
Tergesa kaupukul gong darurat sekencang-kencangnya. Apa Ibushi yang mengirim kerumunan ini? Dadamu berdegup tak wajar. Meskipun begitu, tubuhmu terus bergerak. Kau bergegas menyiapkan perlengkapan-perlengkapan perang, lalu menunggu para penduduk di arena pertarungan.
Kau terkejut menyaksikan umlah personel yang tiba.
Master Utsushi mendarat di sebelahmu seperti biasa.
"Sedikit sekali yang datang," ujarmu padanya.
"Rathian dapat menemukan pemukiman," lapor Utsushi dengan muka masam.
Biasanya tidak pernah begitu… Apa yang…
"Semua orang bersiap di tempat!" Suara Fugen bergema dari arah belakang.
Para pejuang yang terbatas bersiap mengoperasikan senapan masing-masing, mengarahkan moncongnya ke barikade terdepan.
Dan muncullah penantang gelombang pertama.
Kamu tidak terkejut lagi melihat monster-monster lincah seperti Nargacuga dan Zinogre. Kalian pernah menghadapi yang lebih buruk.
Seturut aba-aba, dirimu beraksi. Anak panahmu menghajar kepala Zinogre. Monster serigala itu terguling sambil melolong.
Kejutan! Dari samping, Nargacuga menembakkan duri-duri ekornya.
Namun kamu lebih cepat. Kaulancarkan tembakan bertubi-tubi untuk memberinya pelajaran.
Pada akhirnya, baik Zinogre maupun Nargacurga kurang ajar itu lari terbirit-birit dan berhasil diusir.
Kini kaubidikkan panahmu kepada seekor Rathian. Hanya dengan satu panah, jatuhlah monster beracun itu dan dihajar habis-habisan oleh meriam penduduk.
Kamu pun beralih pada monster lainnya, menunjukkan siapa tuan di wilayah tersebut.
Menyaksikan performamu, mental para pejuang desa terangkat. Dengan relatif mudah, serbuan itu berhasil dialihkan.
"Kerja bagus!" puji Fugen.
Kalian menikmati kegembiraan sementara itu sambil terus mempertahankan posisi. Masih ada kemungkinan serbuan ke dua, ke tiga dan seterusnya datang. Sebelum muncul penanda terusirnya semua monster, rampage kali itu belum berakhir.
Kedatangan gelombang ke dua berarti perjuangan masih panjang. Monster pada sapuan ini lebih kuat dari sebelumnya: Bazelgeuse dan Rajang muncul kembali. Kau semakin bimbang. Bagaimana jika seekor elder dragon muncul, seperti yang terdahulu? Tanpa Ken, apakah kamu sanggup menumpasnya?
Tak kaubiarkan keraguan menggelayutimu lebih lama. Kamu terus beraksi sementara anak panahmu terus berkurang. Ketika amunisimu habis, kaugunakan sembilu panjang di punggungmu: pedang Tatara bersarung merah.
Pusaka Kamura itu telah menjadi milikmu. Dengan arti lain, kamulah candrasa Kamura sekarang. Takkan kaubiarkan siapapun mematahkanmu.
Bilah tajam itu mengiris apapun yang menghadang. Tanganmu telah menyatu dengan gagangnya dan tubuhmu terus menari sesuai irama pertarungan.
Satu demi satu minggat dari hadapanmu. Bahkan, Mizutsune di baris paling belakang tak dapat membela dirinya dari serangan kejutan.
Serangan ke dua pun berakhir dengan kepergian sang ular air.
Kaupandangi arena yang kembali bersih itu. Kawan seperjuangan bersorak senang. Kalian mengira kemenangan sudah di depan mata.
Kegirangan yang fana.
Seketika itu juga, angin berhenti berhembus. Semarak barusan dilahap habis oleh awan mendung. Tampaklah sambaran petir di dalam tirai hitam itu.
Seluruh petarung menanti. Apa gerangan yang muncul dari baliknya?
Sementara kamu? Kausiapkan kuda-kuda, berhitung sampai tiga.
Dan muncullah dia, melandai dari khayangan.
Seorang pun tak sanggup berpaling menyaksikan betapa indah… dan mengerikannya…
.
Sosok yang bertakhta di kepala beludak biru…
.
"Ken!" raung Fugen di tengah hiruk-pikuk.
Di depan semua saksi, pengendali ular berujar angkuh.
"Wahai Kamura, kalian akan menjadi peringatan."
Sosok itu menunggu, menunggu saat semua hati gemetar hingga tak tahan lagi. Kemudian dia dan monster di bawah kakinya mendesis, licik dan beracun.
"Bagi mereka yang lancang membangkang."
.
.
Bersambung
1. Rathian: flying wyvern yang dapat menghembuskan api dan menyengatkan racun dengan ekornya.
2. Nargacuga: wyvern bertubuh hitam (mirip kelelawar). Ujung ekornya dapat menembakkan duri-duri.
3. Zinogre: 'Thunder Wolf'. Dapat menyetrum musuhnya dengan arus listrik berwarna biru.
4. Mizutsune: monster air (mirip liong). Menyemprotkan air bertekanan tinggi dari mulut, dan menciptakan gelembung-gelembung yang dapat menghambat pergerakan hunter.
