.
.
Bab 14
.
.
Mereka mulai menyadari apa yang terjadi. Ken menyeringai melihat reaksi semua orang, seakan impiannya telah terkabul. Ratapan dan kekecewaan manusia di sekitarnya justru meningkatkan kepuasannya.
Tanpa menunda lagi, diperintahnya Ibushi. Dengan satu serangan, monster itu menghancurkan gerbang terdepan Kamura; gerbang yang tidak pernah hancur semenjak Giok Kembar Kamura menjaganya.
Arena bergetar. Orang-orang mematung, dibekukan ketakutan, meski gerbang pertahanan terakhir Kamura berada dalam ancaman.
Kau sudah tahu seberapa kuat Ibushi. Kamu paham sekecil apa harapan umat manusia jika berhadapan dengannya. Dan kamu sendiri sadar kemampuanmu masih jauh dari sempurna, bahkan jauh dari apa yang dapat Ken lakukan jika ia di posisimu…
Tapi, jika dengan membasmi makhluk itu kamu dapat membebaskan Ken, maka akan kaucagarkan segala-galanya dalam satu pertaruhan terakhir.
Kamu melontar maju, dan ketika monster tersebut berada dalam jarak gapai, kamu pun menebasnya.
Ibushi tak dapat menghindar. Ia meringkik kesakitan.
Detik berikutnya, Fugen berseru lantang.
"TEMBAK!"
Perintah Fugen mengguncang mereka yang berpangku tangan. Tak lama kemudian peluru mulai berdesing dan meriam terlontar lagi.
Ken berdecak. Ia mengangkat tangan kiri.
Tanah kembali berguncang. Dari barikade di belakangnya, kerumunan monster segera membanjiri kubu.
"Jangan biarkan monster-monster itu melewati gerbang!"
Meskipun para pejuang Kamura mengerahkan usaha terbaik, jumlah mereka yang sedikit tidak dapat menahan seluruhnya. Kelelahan dan rasa panik yang menumpuk membuat banyak tembakan meleset.
Monster pada gelombang kali itu begitu agresif, sehingga mereka tidak hanya menghancurkan fasilitas benteng, mereka juga menyudutkan para pemburu yang ketakutan. Korban pun mulai berjatuhan.
Pemandangan mengerikan itu membuatmu sedih, bingung dan takut.
Seakan itu semua belum cukup, kamu melihat seekor Rathian terbang membawa seuatu dalam cakarnya… Makhluk yang tidak seharusnya berada di dalam pertarungan itu:
Putra sulungmu, menangis kencang.
Kauraih selongsong di punggungmu, berharap panah baru telah tumbuh di dalamnya. Mendapatinya masih kosong, kamu mencari bom kilatan, kunai, atau semacamnya.
Percuma saja.
Sebelum kamu dapat melakukan apapun, makhluk itu menemui Ibushi. Jantungmu berhenti berdetak saat cengkeraman cakar makhluk tersebut melonggar.
"Ken!" serumu terlalu keras, tenggorokanmu sakit.
Naas. Kamu malah melihat bocah itu terjatuh…
Setelah itu, pemandanganmu dihalangi Azuros jelek yang menerjang bagai beruang kesurupan.
Kamu merasakan emosi baru melahap segala yang lainnya: murka, sepanas tungku pemurnian baja.
Gagang pedang kaugenggam erat, dan mata pedangmu kausejajarkan dengan tanah di samping telinga. Kauatur napasmu. Ketika kamu menerjang, dunia menjadi sunyi senyap.
Azuros gila itu tidak membiarkanmu lewat, dan rintangan yang muncul di jalanmu bertumbuh bagaikan jamur setelah hujan. Makhluk-makhluk raksasa menghadang, dan dalam waktu singkat, Ibushi telah keluar dari jangkauan.
Kakimu menapak ke kiri dan ke kanaan. Menghindar dan menyerang dengan mantap.
SRAT! SRAT!
Bilah tajam menusuk para penentang. Namun tak lama kemudian, kamu tidak bisa puas hanya dengan menebas mereka. Kamu ingin menghukum, menyiksa dan menganiaya, karena mereka telah berani menghambat langkahmu.
Kamu memastikan nyawa lawan-lawanmu benar-benar terkuras habis. Tanpa kausadari, tubuhmu mulai basah. Basah oleh warna merah yang membungkus kubu pertahanan Desa Api.
"Jun! Simpan tenagamu untuk nanti!" Utsushi berupaya menghentikanmu.
Kamu tidak dapat mendengarnya, dan terus menindas Azuros yang menggelepar di bawah kakimu.
"Jun!" Hinoa bergabung. "Ibushi sudah menyeberangi gerbang pertama!"
"Kita tidak boleh membiarkan Ibushi menghancurkan gerbang terakhir!" sambung Minoto.
CRAT…!
Orang-orang di sekelilingmu tersentak saat cairan kental menyemprot wajahmu dari monster beruang. Cairan hangat itu menyemir rambut perakmu sewarna mawar dan mengotori perban di wajahmu.
Kemudian, mereka mendengarmu menyebut satu kata, dengan seluruh kebencian di dalam hatimu.
"Ken…"
.
.
Bersambung
