.

.

Bab 15

.

.

'Kau dan aku masih akan hidup seratus tahun lagi'. Dulu Ken pernah berkata. Waktu itu, kamu percaya hal yang diucapkannya akan terjadi. Entah bagaimana kau merasa semua angan kalian akan terkabul. Karena jika bersama, kalian takkan terkalahkan.

Tanpa tersadar, kamu gantungkan semua asa pada janjinya, meyakini kalian masih akan bersama-sama di dunia keji itu seabad lagi…

"Ken…"

Kau benci mengingat masa lalu. Akan jauh lebih mudah jika semua itu dikubur dalam-dalam. Dengan demikian kau akan mantap membalas perbuatannya.

Aku tidak bisa meloloskanmu begitu saja, setelah yang barusan kauperbuat, Ken. Tapi mengapaaku selalu mendengar kata-katamu.

Tembok hatimu runtuh, memaparkan kekosongan. Kaupaksa kakimu bergerak. Kau terus maju.

Motif terakhirmu ialah mencegah saudaramu berbuat sesuka hati. Jika demikian, bukan hanya putramu, tapi seluruh desa Kamura akan binasa. Kamu harus menghentikannya sebelum itu terjadi.

Kaususuri lorong di antara dua tebing yang terletak di belakang gerbang. Masih tercium aroma Ibushi di antara bebatuan, dan ringkiknya bisa didengar. Target sudah dekat, namun entah mengapa perjalanan terasa begitu panjang.

Tiba-tiba, Rin muncul mencegatmu. Ia nyaris tersungkur memegangi beban ekstra pada perutnya. Badannya lebam di sana sini, dan kau tahu mengapa. Terkutuklah Rathian itu.

"Kamu harus keluar dari sini!" sentakmu, setengah khawatir, setengahnya lagi panik.

Kau buru-buru mengatakannya sebelum dia menanyakan di mana anak itu. Masa kamu akan menjawab dengan fakta; mengatakan bahwa anak itu sudah tidak bernyawa?

Kaubopong pasanganmu menuju tempat aman. Setengah mati dirimu berusaha mengabaikan pertanyaan dari jemari gugupnya.

Tapi, tidak semua harus diungkapkan dengan kata-kata. Melihat parasmu, mengertilah wanita itu. Tidak mungkin ada hal baik terjadi dalam pertempuran. Yang ada hanyalah nestapa dan sesal.

Perempuan itu mencengkeram lenganmu. Mata sewarna teratai itu basah dan memantulkan cahaya bulan.

'Semua salahku,' ujarnya dengan penyesalan sedalam maut. 'Kalau kita tidak pernah bertemu, kamu dan Ken tak akan mengalami ini.'

Kalau kalian tak pernah bertemu…?

Derita memang bertalu-talu semenjak Ken membawa serta Rin hari itu…

Bagaimana jika yang dia katakan itu benar? Bagaimana jika memang semua ini…

Kau menggeleng. Memikirkan hal semacam itu takkan mengubah apa-apa. Tidak ada waktu. Kamu harus bertindak sebelum semuanya terlambat.

Jadi, kautitipkan Rin bersama para pandai besi dan pemeran di balik layar yang lain.

Sementara itu, dirimu sendiri mengganti perlengkapan. Dalam hitungan detik, dengan glaive di tangan kanan dan kinsect di kiri, kau pun hengkang untuk menghadapi kakakmu tanpa menoleh lagi.

.

Terpaan angin begitu kuat. Bahkan salju mulai berhembus, memendekkan jarak pandang.

"KEN!" suara Fugen menggelegar. Tak pernah kaudengar dia semarah itu.

Nampak samar pendar biru di depan, namun tidak begitu jelas di mana letak pastinya. Para pejuang hanya dapat meneriakkan dukungan. Dalam situasi ini mereka tidak dapat berbuat banyak; kalau sampai ada peluru nyasar, Fugen bisa celaka.

Pertarungan itu bergema dan kilatan cahaya memancar, menunjukkan kerja keras sang pemimpin Kamura. Kamu tahu Fugen adalah pemburu yang ditakuti. Meskipun demikian, sang lawan jelas diuntungkan dengan situasi cuaca tak terprediksi itu.

Sepotong difraksi cahaya diikuti gempa-gempa kecil. Kau rasa Ibushi melayangkan beberapa serangan ke pertahanan terakhir Kamura. Jika terus seperti ini, pertahanan terakhir desa akan runtuh, dan tertumpaslah para penghuninya. Mimpimu malam itu akan terwujud.

"Aku akan menyerang dari atas. Lempar gust crab untuk menghilangkan kabut!" serumu pada warga di sampingmu.

Kamu melontar seturut firasat. Begitu menemukan wujud raksasa Ibushi, kaulancarkan serangan ke kepalanya.

Awalnya kabut itu sangat menyulitkanmu. Namun tak lama kemudian partikel-partikel itu tergeser dan akhirnya kamu berhasil menemukan sosok Fugen. Petarung senior Kamura itu kelelahan dan bersandar di atas pedangnya.

Saat kamu berupaya menolongnya, Ibushi memberikan pertunjukan yang belum pernah ia tampilkan sebelumnya: sapuan laser biru berisi energi naga. Garis cahaya monokromatik itu meratakan apapun yang mengenainya; dan kamu yakin tubuh manusia tidak terkecuali.

Kaulontarkan wirebug. Menyambar Fugen, sekali lagi kaulempar serangga itu ke atas untuk menghindar.

Dekapanmu tidak bertahan lama, lantaran sang tetua bertubuh besar. Beliau nyaris terjatuh, sementara tepat di bawahnya pilar cahaya mematikan itu menunggu.

Bersamaan dengan hal tersebut, seseorang memekik histeris. Ekor matamu menangkapnya: sosok Rin… mengulurkan tangannya kepada sang predator buas…

Rin bermaksud mengendalikan Ibushi?! Tapi jika begitu, dia akan berubah… seperti Ken…

Kekagetanmu belum juga kelar, saat Fugen terjatuh. Dan seketika itu juga, isi kepalamu menjadi putih; tak dapat membayangkan atau merasakan apapun.

Pilihan manapun akan mengorbankan seseorang. Menyelamatkan orang yang berjasa atas nyawamu berarti membengkalaikan cinta sejatimu. Menolong pelindung desa sama dengan membiarkan seorang ibu dan anak dalam kandungannya binasa…

Dirimu baru menyadari betapa kejamnya dunia. Dunia yang hanya memiliki satu hukum, dan hukum itu adalah pembantaian…

"Hahhahaha!" tawa maniak Ken membalut tragedi.

Tubuhmu bergerak duluan. Sebelum kau memutuskan, dalam satu irisan waktu, tombakmu melayang pesat.

Apa yang terjadi selanjutnya merupakan suratan takdir.

.

.

.

.

Sang pemburu… berubah jadi yang diburu.

.

.

.

.

Ular Angin berkedut kesakitan, dan keganasannya yang barusan menguap entah ke mana. Kemudian Ibushi terjatuh, detik itu juga melata menyedihkan di atas tanah.

Rin dan Fugen selamat. Kamu pun berderap mencari Ken, bahkan tanpa menilik mereka berdua sedikitpun.

Terjatuh di dekat mahkota sang penguasa, pemuda itu terkapar mengaduh. Meski tombak menancap lambung, ia tak kuasa mencabutnya. Mengapa? Karena Ken memeluk sesuatu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih sama, terkulai tak bergerak.

Kakimu bergerak sendiri, dan saat tersadar dirimu telah bersimpuh di sisinya. Hati mencelos berkali-kali, dan paru berkali-kali pula lupa bernapas.

"Ken…" rintihmu, belas kasihan membanjir sekali lagi.

Ken mendelik mengamati kondisinya, tersengal-sengal. Kemudian mata hijau itu menelusur sosokmu, dan terpaku pada pedang yang terpanggul di punggungmu. Pada matanya muncul teror tak tergambarkan.

Kakakmu satu-satunya… berada di ujung napasnya… Sendirian dan ketakutan.

.

Dan kamulah yang menyebabkannya…

.

Sekujur tubuhmu bergetar saat menekan luka serta mencabut tombak di perutnya. Sia-sia kautanyakan berulang apa yang sudah tidak akan berubah lagi.

Tidak mungkin, tidak mungkin tertolong lagi. Orang ini akan mati.

Air asin membentuk lajur menyusur tulang hidungmu. Alirannya menderas dan semakin tak keruan, bagai keluar dari tanggul bocor.

Tanganmu melemas sehingga tekananmu pada tubuhnya berkurang drastis. Cairan mengerikan itu mengalir lagi.

"Ken…" panggilmu dengan sesak napas.

Darah kering di wajahmu tercairkan dan menitik di dahinya yang berlambang. Lambang kipas itu tampak begitu buruk dan ingin kaukutuk. Andaikan mengutukinya tidak dapat memperbaiki sesuatu… Namun apa dayamu…?

"Aku…" ucapnya penuh perjuangan, "Masih belum boleh… mati…"

Betapa kau ingin meyakinkannya. Kalian masih akan hidup seratus tahun lagi. Seribu tahun lagi. Seratus ribu tahun lagi. Dia akan baik-baik saja. Kalian akan baik-baik saja.

… Namun entah mengapa, bibirmu tertutup rapat, kering dan sengsara.

Pemuda itu terbatuk, kemudian bergetarlah tubuhnya kesakitan. Ia begitu menderita.

Sebagai upaya meringankan penderitaannya, kaubelai helai peraknya yang kusut. Ia tidak mengikat rambutnya. Padahal, Ken selalu mengikatnya… jika ia sedang berburu…

Beberapa manusia berseru di belakangmu.

Biarkan kami sendiri! tuntutmu.

Kau tak ingin berpaling. Yang ingin kaulakukan ialah menghabiskan sisa waktumu di dekat Ken.

Tapi, orang itu membuka mulutnya lagi dan mendorongmu untuk beranjak.

"Orang itu… Dia seribu kali… lebih berbahaya dari—dariku! Uhuk!" desahnya, diakhiri batuk parah.

"Aku masih belum boleh mati… tapi, sebentar lagi misiku berakhir," ia menatapmu penuh arti.

"Sementara kamu," ujarnya lemah, "Masih ada yang harus kaulindungi… Karena Desa Kamura… adalah keluargamu…"

Kamu terkejut.

Keluarga… Itulah yang diperdengarkan Ken padamu sebelum ia menghilang lima tahun lalu.

Lalu, kata-kata Ken selanjutnya adalah…

"Jagalah mereka dengan baik."

DUARRR!

Geledek menyambar. Terangnya kilat telah mengalahkan sinar mentari yang menggeser bulan sang ratu malam.

Ketegangan meningkat. Dari teriakan para penduduk, sepertinya sesuatu yang baru telah muncul. Sesuatu yang lagi-lagi menunda kemenangan Kamura, dan mengancam nyawa semua penghuninya.

Kautatap angkasa yang mengamuk itu. Dan dari sana…

.

Lagi-lagi muncul seekor pemangsa. Bertubuh panjang dan berwarna kuning, dengan sepasang mata sewarna lemon yang menatap manusia seakan mereka serangga.

.

Itu pasti Narwa, pasangan Ibushi, batinmu, seakan baru melihat makhluk dari cerita dongeng.

Ular Petir lebih besar dari pasangannya. Dia juga lebih cepat dan jauh lebih agresif. Mematikan.

Tanpa ragu, makhluk itu turun di tengah kubu yang porak-poranda. Pertempuran segera dilanjutkan.

Bagi sang pengendali halilintar, tembakan meriam hanyalah sentilan penyebab gatal.

Sambil melancarkan serangannya, satu demi satu, perlengkapan bertarung Kamura berhasil ia hancur leburkan.

.

.

Dan setelah sekian lama, kita bertemu juga.

.

.

"Akhirnya kita bertatap muka, Jun, anakku."

.

.

.

.

.

Kau ternganga menatapku.

"Siapa kau?" tanyamu, menatapku tajam dengan rasa jijik.

Aku tidak mengerti. Bukannya barusan aku menyebutkannya?

"Bohong jika kubilang diriku tidak terluka atas sambutanmu, Jun," kataku.

Semua orang menelan ludah saat aku bersumpah:

"Aku jadi… ingin cepat-cepat memusnahkan desa ini."

.

.

Bersambung


1. Gust crab: endemic life di MH Rise, dapat mengembuskan tiupan vertikal angin cukup dahsyat dari cangkangnya.

2. Narwa: Wind Serpent, bos MH Rise sejauh ini (sebelum Sunbreak). Mirip Ibushi, hanya saja serangannya berelemen petir.