SEPULUH

Mei Mei naik ke mimbar menghampiri kakek yang baru saja mengumumkan sesuatu yang membuatnya marah.

"Apa yang tuan lakukan?! Kenapa tiba-tiba memutuskan semuanya?"

"Maaf, ini bukan kehendakku"

Mei Mei semakin marah, lalu pindah ke hadapan Nanami dan menampar pria itu dengan keras, hingga membuat luka lecet kecil di tulang pipinya.

"Ini semua, pasti kau yang memintanya kan?!"

Ayah Mei Mei lalu dating dan menarik tangan putrinya.

"Mei Mei, sudah hentikan! Ini semua ayah yang meminta"

"Ayah?!"

"Ini demi kebaikan kita semua, ayah harus batalkan hubungan ini"

Utahime meneguk segelas air dingin malam itu. Dapur di rumah besar itu terlihat sunyi, para pekerja dan asisten rumah sudah meninggalkan pekerjaan mereka. Ia lalu melihat bayangan Nanami yang sedang berdiri sendiri merenung di tepi kolam renang, dan ia menghampiri pria itu.

"Nanami? Kenapa kau sendirian disini?"

"Ah, tidak ada apa-apa"

"Kau bahkan belum mengganti pakaianmu. Ya ampun, luka di pipimu. Apa ini karena yang tadi?"

Utahime meraba pipi Nanami dengan lembut, dia terlihat sedikit khawatir dengan luka itu. Nanami lalu menahan tangan wanita itu agar tetap memegang pipinya, lalu mencium bibir Utahime dengan hangat. Mereka yang terlihat begitu mesrah, tanpa sadar telah diawasi dari jauh oleh kakek dan Miwa dari lantai atas.

"Miwa, apa kau berpikir sama sepertiku?"

"Iya kek, ku pikir aku sudah tahu alasannya"

Mereka berdua melihat Utahime yang menghindari Nanami, lalu beranjak pergi dari Nanami. Mereka berdua mengawasi pergerakan Utahime yang berjalan menuju tangga. Namun, saat di tangga, ia berpapasan dengan Gojo. Mereka terlihat sedang mengobrol kecil, hingga akhirnya Utahime beranjak, namun langkahnya ditahan oleh Gojo, lalu kemudian mencium bibirnya. Hal itu berhasil mengejutkan kakek dan Miwa.

"Kakek, katakana padaku kalau yang tadi itu aku tak salah melihat"

"Sudah ku duga, mereka akan dalam masalah seperti ini"

Saat sarapan di pagi hari, seperti biasanya di hari-hari sebelumnya di rumah utama, Utahime membantu untuk menyiapkan sarapan kepada empat orang tuan rumah itu. Baru kali ini kakek dan Miwa tenang saat sarapan, dan malah sibuk mengamati mereka bertiga.

"Ada apa kalian ini? Biasa kalian membuat kehebohan di meja makan"

"Sejak tadi kalian berdua mengawasi kami bertiga"

Kakek dan Miwa secara bersamaan menggelengkan kepala mereka.

"Aaagghhh!", desahan panjang Utahime untuk kedua kalinya memenuhi ruangan malam itu. Ia sangat lelah, bagaimana tidak, ia harus melayani dua pria itu sekaligus, dan membuatnya merasa aneh di dalam bagiannya karena menampung cairan kedua pria itu.

Saking lelahnya, ia tak sanggup lagi untuk membersihkan dirinya maupun berpakaian, dan perlahan mulai mengantuk. Dengan keadaan yang sudah setengah sadar melihat kedua pria itu pergi dan keluar dari kamarnya.

Utahime sadar sudah melakukan kesalahan, tapi entah mengapa ia sama sekali tak keberatan dengan kedua pria itu.