SEBELAS
Utahime merasa lebih bahagia tinggal dan bekerja di rumah utama selama beberapa minggu ini, apalagi kakek dan Miwa sangat ramah kepadanya. Saat itu di sore hari mereka bertiga di taman, kakek duduk membaca koran sambil minum the, sedangkan Utahime dan Miwa sibuk mengurus tanaman.
"Nee-san, bukankah mawar ini sangat indah?", Miwa menunjukkan setangkai mawar merah cantik pada Utahime.
"Hem, iya, cantik seperti kamu"
"Oh iya, aku harus mengumpulkan tugas kuliahku"
"Baiklah, aku akan temani kakek disini"
Utahime menuangkan kembali teh ke cangkir kakek yang mulai kosong. Kakek lalu memberi isyarat pada Utahime agar duduk menemaninya.
"Utahime, langsung saja. Kakek tahu, kau dan kedua anak nakal itu punya hubungan yang tak biasa"
"Maksud kakek apa?"
"Tidak usah sembunyikan lagi. Aku cukup memperhatikan kalian selama disini"
"Maaf kakek, aku…"
"Setidaknya kau harus mempersiapkan dirimu, jika suatu saat mereka tahu bahwa kau adalah mantan istri dari Geto"
Utahime hanya tertunduk dan mengangguk.
"Apa tadi yang kakek katakan?", suara Gojo mengejutkan mereka berdua.
Gojo dan Nanami lalu mendekati Utahime dan kakek dengan tatapan serius.
"Geto siapa yang kalian maksud? Apakah si brengsek itu?"
"Itu, malam dimana kalian menolongku, aku hamper saja dijual oleh Geto, mantan suamiku"
"Hime, kau sudah tahu tentang semua ini tapi kau malah tak mengatakan apapun padaku atau pada Nanami?"
"Maafkan aku, aku tidak sanggup jika harus jujur pada kalian, dan aku masih merasa takut jika itu tentang Geto"
"Kenapa? Apa kau tidak percaya padaku dan Gojo?"
Utahime menutup wajahnya dan menangis, dan meninggalkan taman saat itu. Lalu ia berpapasan dengan Miwa yang terkejut melihatnya dan menahan langkah Utahime.
"Nee-san, ada apa? Kenapa kau menangis?"
Utahime tak sanggup menjawab Miwa. Namun kepalanya terasa pusing, penglihatannya menggelap, dan akhirnya ia tak sadar.
Utahime terbangun di kamarnya dan melihat kakek dan Miwa sedang menunggunya di tepi ranjang. Ia perlahan bangkit dengan perasaan yang masih pusing.
"Nee-san, apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik"
"Baiklah. Aku dan Miwa akan meninggalkanmu kalau begitu"
Tak lama setelah kakek dan Miwa pergi, Gojo dan Nanami masuk dan menemuinya.
"Hime, apa kau sudah baikan?"
"Aku… aku tidak apa-apa"
"Kau tidak usah pikirkan masalah yang tadi. Kakek sudah menjelaskannya. Aku dan Gojo paham, kau adalah korban seperti kami"
"Terima kasih"
Utahime bangkit dari ranjang dan berusaha berdiri, namun rasa pusingnya kembali muncul dan akhirnya ia tak sadar untuk kedua kalinya.
Dokter sudah memeriksa Utahime dan mendatangi mereka berempat di ruang tengah.
"Dokter, apa Nee-san baik-baik saja?"
"Dia kelelahan, mohon perhatikan ketahanan fisiknya, apalagi di kondisinya yang tengah hamil muda, kandungannya masih lima minggu"
Perkataan dokter barusan membuat keempat orang tersebut terkejut dengan kabar kehamilan Utahime.
