Chanyeol mengeram terganggu. Dahinya terlihat mengernyit saat merasakan usapan lembut pada surainya. Bola mata yang masih tertutup oleh kelopak yang indah itu terlihat bergerak-gerak, menandakan dirinya yang sangat terusik oleh ulah seseorang yang menganggu tidur nyenyaknya. Satu tangannya menepis usapan itu dengan sedikit kasar, membuatnya terhenti agar lelaki tinggi itu bisa melanjutkan tidur yang sempat terusik.

Tapi harapan itu hanya datang sebentar dan pergi lagi saat dirinya merasakan terpaan sinar yang serentak menyerbu kelopak matanya. Kali ini, dia tidak memiliki pilihan lain selain membuka matanya lebar-lebar dan menemukan pelaku yang sudah bisa dia tebak tanpa perlu membuka mata.

Disana. Tepat di depan sebuah jendela dengan kain gorden yang sudah terbuka sempurna. Berdiri seorang lelaki cantik dengan setelan jas formal dan dasi yang terlihat membosankan tergantung di lehernya. Wajah cantik itu terlihat berseri walau selera fashion yang dia kenakan terlihat ketinggalan jaman dan terlalu formal untuk lelaki seusianya. Senyum manis yang menurut Chanyeol terlihat menjijikan itu tersemat di bibinya dengan mata bulan sabit melengkung indah.

"Selamat pagi, Chanyeol."

Bukannya menjawab. Chanyeol hanya mendengus kesal dan merubah arah tidurnya membelakangi jendela yang menampilkan langit pagi hari ini yang terlihat cerah.

"Ku dengar jam 10 nanti akan ada kelas spesial yang harus kau hadiri." Baekhyun melangkahkan kakinya kearah lelaki yang masih bergelung kesal di dalam selimutnya. "Aku akan menyiapkan segala keperluanmu. Mandilah. Kau tidak boleh mengecewakan trainee-mu Chanyeol."

"Kau terlalu banyak bicara." Chanyeol mendengus malas. Tapi lelaki tinggi itu tetap keluar dari zona nyamannya dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa banyak bicara.

Sedikit terkejut saat Baekhyun tidak mendapati makian dan umpatan yang biasanya menjadi 'sarapan' pagi, saat masuk dengan seenaknya ke kamar Chanyeol tanpa izin. Lelaki kecil itu terlihat tersenyum lembut, mengira kalau Chanyeol mulai menerimanya sebagai suami. Baekhyun masuk ke dalam closet dan menyiapkan setelan yang akan di pakai Chanyeol nanti sebelum keluar dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar. Tubuh atletis itu terbalut bathrobe dengan tangan kanan yang tidak berhenti menggeringkan surainya dengan handuk putih polos yang ada di tangan kanannya.

Matanya memicing tajam saat mendapati setelan yang nampaknya di siapkan oleh Baekhyun. Dengan langkah malas, Chanyeol membawa langkah menuju ranjangnya dan memandangi setelah itu. Sebuah kemeja bewarna putih dengan jas hitam begitupun dasi dan celana.

"Dia pikir aku seorang bodyguard." Decaknya malas. Tangan besar miliknya melempar asal pakaian itu hingga teronggok menyedihkan di sisi tempat tidur yang telah di rapihkan Baekhyun. Chanyeol masuk ke dalam closet miliknya dan memilih pakaian yang menurutnya cocok akan image yang dia punya.

Tentu saja selera fashion Chanyeol sangat bertolak belakang dengan Baekhyun. Chanyeol memilih sebuah kemeja biru muda bergaris dengan blazer navy dan celana denim putih. Ayolah, Chanyeol itu seorang public figure walaupun dirinya tidak setenar artis dan aktor papan atas, tapi dia juga tidak mau malu karena sorotan selera fashion yang membosankan seperti yang selalu di pilihkan Baekhyun.

Closet besar milik Chanyeol terdiri dari beragam barang yang menjadi koleksinya selama ini. Berbagai jenis pakaian formal dan informal dengan merek terkenal dan warna-warna cerah yang biasanya dia padu padankan. Jam tangan yang terliihat mahal dan jenis-jenis sepatu juga tak luput mengisi spot-spot tertentu di closet milik Chanyeol.

Sedangkan milik yang lebih kecil hanya memiliki kemeja dan jas dengan warna netral dan sepatu pantofel dengan harga selangit yang menurut Chanyeol sangat ketinggalan jaman. Tidak ada yang menarik dari lelaki kecil tersebut, kecuali wajah miliknya yang terlihat cantik, itupun sama sekali tidak menarik untuk si jangkung.

Chanyeol yang saat itu sudah siap, turun ke lantai dasar. Dirinya di sambut senyum Baekhyun yang sedikit redup. Wajar saja, Chanyeol tahu lelaki kecil itu lagi-lagi kecewa padanya. Tapi siapa peduli, lelaki itu kecil berharap lebih hanya karena dirinya tidak memaki saat tidurnya terusik.

"Aku sudah menyiapkan roti bakar untukmu Chan-"

"Aku pergi." Tanpa banyak bicara Chanyeol meninggalkan Baekhyun yang lagi-lagi terdiam di meja makan yang dingin. Tidak ada rasa menyesal di dalam diri Chanyeol. Salah sendiri Baekhyun tidak pernah belajar dari kesalahannya selama ini.

.

.

.

Perubahan sikap Chanyeol cukup menyita perhatiannya. Sudah hampir sebulan Chanyeol terlihat memiliki mood yang bagus dan jarang memakinya seperti kemarin-kemarin. Baekhyun pikir Chanyeol sudah mulai menerima hubungan mereka. Walaupun Chanyeol masih mengabaikannya, Baekhyun cukup puas karena tidak mendengar perkataan pedas dari mulut Chanyeol. Tetapi semua itu terasa menyakitkan saat Baekhyun mendapati laporan dari Kai.

"Sekretaris Chanyeol-ssi bilang beberapa hari belakang Chanyeol-ssi pergi menemui seorang anak lelaki, tak jarang juga anak lelaki itu menemui Chanyeol-ssi secara langsung." Papar Kai.

Baekhyun yang terlihat tenang saat itu menggengam gelas anggur miliknya dengan kuat, mengakibatkan gelas itu pecah dan melukai telapak tangannya.

"Tuan!" teriak Kai panik saat melihat tetesan darah mulai mengalir keluar dari sobekan di telapak tangannya. Dengan sigap, Kai mengambil sapu tangan dan menekan luka di telapak tangan Baekhyun, mencegah darah semakin banyak keluar.

"Jangan seperti ini Tuan Byun." Pinta Kai dengan sangat.

Baekhyun hanya diam, seolah dirinya tidak merasakan sakit pada lukanya. Karena luka di hati yang dia miliki ternyata lebih besar dan mengangga.

"Cari tahu siapa anak itu." ucapnya datar. "Chanyeol seharusnya tahu dan tidak mulai bermain-main seperti ini denganku." Sambungnya dengan mimik serius dan dingin.

"Baik Tuan." Patuh Kai. "Saya akan memanggil dokter Lay untuk mengobati luka anda." Tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, Kai berbalik menuju ruangannya dan memanggil dokter pribadi Baekhyun.

Baekhyun terlihat menekan emosi yang mulai mengendalikan dirinya. Jujur saja, dirinya sudah cukup berbaik hati saat membiarkan Chanyeol bermain dengan wanita jalang di luar sana. Bukannya tidak merasa cemburu, dia sangat cemburu dan marah, tetapi Baekhyun tahu jika Chanyeol hanya memancing dirinya agar mereka bisa berpisah. Terlalu dini untuk mengelabui otak genius Baekhyun. Tidak ada cinta yang terselip antara Chanyeol dan para jalang itu.

Untuk kali ini, Baekhyun tidak bisa diam saja. Dia tahu Chanyeol lebih dari seketar tertarik pada anak yang di sebut Kai tadi. Melihat dari membaiknya mood Chanyeol belakangan ini, Baekhyun mengerti Chanyeol sedang jatuh cinta. Dia tidak bisa menonton cerita cinta Chanyeol yang baru tanpa tindakan apapun. Baekhyun punya segalanya. Tidak ada alasan untuk melarangnya memiliki Chanyeol. Semua akan Baekhyun singkirkan karena menganggu miliknya, termasuk anak itu.

"Jangan remehkan aku Chanyeol." Desisnya berbahaya.

.

.

.

Tidak sampai satu hari, Kai membawa berita tentang siapa lelaki yang kerap kali Chanyeol temui. Di mulai dari identitas, asal lelaki itu sampai jenjang pendidikan beserta foto yang tersemat di laporan yang sedang Baekhyun baca saat ini.

"Jadi namanya Do Kyungsoo." Matanya memicing tajam saat melihat wajah polos milik Kyungsoo. "Bagaimana mungkin lelaki miskin seperti ini bisa merayu Chanyeol." Decih Baekhyun kejam.

"Menurut informasi yang saya dapatkan, Tuan Park sendiri yang menawarkan posisi trainee langsung kepada Do kyungoo-ssi."

"Jadi, Chanyeol memang sedang jatuh cinta ternyata." Nada itu terdengar mengejek tetapi terselip perasaan menderita dan menyedihkan di dalamnya. "Apa lagi yang kau punya Kai?"

"Menurut jadwal yang sudah di susun oleh Park Entertaint, mereka akan mengadakan audisi final dua hari lagi. Do Kyungsoo-ssi juga terdaftar dalam peserta audisi itu Tuan."

"Benarkah?" Baekhyun terlihat berpikir. "Kosongkan jadwalku untuk dua hari kedepan, aku akan menyambut sendiri lelaki yang Chanyeol pilih untuk menjadi sainganku itu.

"Baik Tuan Byun."

.

.

.

Kyungsoo terlihat gugup saat dirinya duduk di ruang tunggu peserta audisi, beserta lima puluh peserta lainnya. Kaki-kaki pendeknya tidak mau diam dan bergerak random saat melihat ruangan yang akan menentukan masa depannya. Seharusnya anak itu tidak perlu khawatir, karena seperti yang di katakan oleh Chanyeol, para juri sangat suka dengan jenis suaranya. Dirinya juga selalu mendapatkan pujian pada saat audisi sebelumnya.

Lamunan Kyungsoo buyar saat mendapati suara bising dari karyawan agensi yang terlihat menyiapkan segala sesuatu dengan sedikit panik. Anak itu mencoba mencari tahu dengan memanjangkan kepalanya ke arah luar ruangan.

"Ada apa?" tanya salah satu peserta audisi kepada salah satu temannya yang baru masuk ke dalam ruangan.

"Mereka bilang bos besar akan menjadi juri langsung pada audisi final ini." jelasnya sedikit panik.

"Bos besar?" lirih Kyungsoo mengundang perhatian dua anak itu.

"Kau tidak tahu? Bos besar, alias pemilik saham terbesar di agensi. Ini adalah masalah besar!" jelasnya dengan heboh.

"Memangnya kenapa? Bukankah juri kita ada tujuh orang?" tanya Kyungsoo ingin tahu.

"Aishh! Kau ini benar-benar bodoh ya!" kesal anak itu dan membuat Kyungsoo cemberut. "Tujuh orang juri lainnya pasti akan memihak perkataan bos besar Kyungsoo-ssi, mereka tidak akan mengorbankan diri mereka hanya untuk peserta audisi seperti kita."

"Jadi maksud kalian-"

"Ya, nasib kita bergantung 75% pada bos besar itu."

Saat semua anak di ruang audisi itu terdiam, salah seorang pekerja di Park Entertaint masuk ke ruangan dan menyuruh mereka untuk masuk satu persatu ke dalam ruangan audisi. Satu persatu mereka masuk dan keluar dengan beragam ekspresi, karena nasib mereka di putuskan langsung pada saat itu juga.

"Do Kyungsoo."

Kyungsoo menarik nafasnya pelan dan dalam, menyiapkan mentalnya sebelum masuk dan menghadapi para juri di dalam sana. Perlahan tapi pasti, Kyungsoo masuk dan dirinya langsung berhadapan dengan lelaki berkulit tan yang berdiri di belakang lelaki cantik dengan aura mengintimidasi yang kuat. Jantung Kyungsoo berdebar keras, saat iris tajam milik si tan menatapnya langsung tepat di mata. Cinta pertamanya.

"Apa lelaki cantik itu bos besarnya?" tanya Kyungsoo dalam hati.

"Halo, nama saya Do Kyungsoo." Sapa Kyungsoo ramah.

"Halo Do Kyungsoo-ssi." Kyungsoo sedikit terkejut saat bos besar itu menjawab sapaannya langsung diiringi dengan senyuman manis yang terlihat menakutkan.

"Ya, eum-"

"Kau bisa memanggilku juri Byun." Terlihat Baekhyun sedikit melirik Chanyeol yang sedang mengeraskan rahangnya.

"Ya, juri Byun."

"Apa yang ingin kau nyanyikan?" tanya Baekhyun.

"Scream juri Byun."

"Baiklah, kau bisa bernyanyi sekarang."

Kyungsoo memulai nyanyiannya dengan suara yang sangat halus dan lembut. Tidak ada kecacatan dalam suara miliknya, beberapa juri terlihat terhanyut pada alunan suara itu, lirik menyedihkan di dalamnya sedikit menyentuh hati Baekhyun. Hanya sedikit karena saat ini yang ada di pikirannya hanya rasa benci pada sosok yang terlihat rapuh di depannya sekarang.

Kyungsoo menyelesaikan nyanyiannya dengan sempurna, beberapa juri melakukan standing applause untuk Kyungsoo, tapi tidak dengan Baekhyun. Kyungsoo menatap takut-takut pada lelaki cantik yang menatap tajam kearahnya sekarang.

"Aku tidak suka." Katanya datar.

"Ya? Itu tidak mungkin Tuan, Kyungsoo memiliki suara yang sempurnya." Bela juri Song yang duduk tepat di sebelahnya.

"Tetap saja, lelaki kecil itu tidak bisa mencuri hatiku. Dan membuat moodku bertambah buruk." Baekhyun dengan sengaja menyindir Chanyeol yang duduk di ujung kanannya.

"Tuan Byun, Do Kyungsoo ini adalah yang paling baik di antara lainnya." Kasak kusuk terus berlanjut dan pembelaan terus mengalir untuk Kyungsoo.

"Bagaimana mungkin kalian menyukai jenis suara yang seperti ini huh? Terlalu banyak solois muda membawakan lagu ballad, aku tidak mungkin mempertaruhkan uangku untuk lelaki dengan bakat minim sepertinya."

BRAAK!

Chanyeol yang dari tadi diam akhirnya terbakar emosi atas perilaku Baekhyun yang sangat keterlaluan.

"Kenapa anda jadi sangat emosional Chanyeol-ssi?" Baekhyun bertanya dengan suara mendayu. "Kau terlihat aneh marah-marah seperti ini hanya karena anak yang belum menjadi trainee mu."

"Kau tidak seharusnya mempermainkan nasib seseorang Baekhyun!" teriakan Chanyeol memenuhi ruang audisi.

"Mempermainkan bagaimana? Aku hanya berkata yang sejujurnya. Aku akan membuang uangku jika orang itu pantas, dan tidak akan membuang uangku sia-sia dengan seseorang yang sangat tidak pantas!" Baekhyun sengaja menatap tajam Kyungsoo yang saat ini sudah terlihat gemetaran karena menanggis.

"Kalian semua keluar!" teriak Chanyeol seraya menatap Baekhyun dengan tajam.

"Tidak! Punya hak apa kau menyuruh para juri audisi keluar dari ruangan." Kali ini Baekhyun tidak akan mengalah lagi pada Chanyeol.

"Aku pemilik tempat ini Baekhyun!"

"Dan aku yang membiayai tempat ini agar tetap berjalan dengan semestinya!" Baekhyun bedecih sinis. "Ayolah Chanyeol, sebegitu hebatnyakah anak itu sehingga membuatmu seperti ini? apa kalian memiliki hubungan khusus yang tidak kami ketahui?"

Tepat!

Perkataan Baekhyun sontak membuka pemikiran berkabut Chanyeol beberapa saat lalu. Bagaimana lelaki kecil itu hadir pada audisi dan tingkah sialnya yang lagi-lagi mempermainkan nasib seseorang. Sekarang Chanyeol tahu jawabannya. Chanyeol sudah tertangkap basah ingin bermain hati di belakang Baekhyun. Bukan perkara sulit untuk Baekhyun tahu apa saja yang di lakukannya akhir-akhir ini.

"Kenapa? Tidak bisa bicara? Apa aku harus bertanya pada Do Kyungsoo-ssi." Baekhyun mengalihkan atensinya pada Kyungsoo.

"Semuanya keluar!" desis Chanyeol berbahaya.

"Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini." perintah Baekhyun. "Chanyeol, beri kami alasan logis kenapa kau sampai membelanya seperti ini. Aku hanya tidak mau ada permainan busuk di agensi antara produser dan trainee-nya."

"Hentikan omong kosongmu Byun Baekhyun!"

Baekhyun hanya mendengus geli dan mengalihkan perhatiannya pada juri lain yang telihat pucat dan binggung di antara situasi ini.

"Kalian mengertikan apa yang harus kalian lakukan? Aku pikir, cukup untuk saat ini. lanjutkan audisinya tanpa aku."

Baekhyun berjalan meninggalkan ruangan audisi diikuti Kai di belakangnya. Sejenak dia berhenti di hadapan Kyungsoo yang masih menundukkan kepalanya seraya menangis. Dengan sedikit kasar, Baekhyun mengangkat wajah itu.

"Setidaknya aku menolongmu untuk hidup di jalan yang lebih benar lagi Do Kyungsoo-ssi." Bisiknya langsung di telinga Kyungsoo sebelum meninggalkan kekacauan yang dia perbuat.

.

.

.

Chanyeol terlihat murka, lelaki itu masuk ke dalam rumah dengan gebrakan pintu yang mengejutkan Baekhyun, mangakibatkan pisau yang sedang dia gunakan untuk memasak mengiris jari lentiknya. Chanyeol berjalan ke arah lelaki kecil yang saat itu sedang membasuh lukanya dengan air mengalir.

"Kau terlihat bar-bar Chanyeol." Sengaja Baekhyun mengabaikan deru napas Chanyeol yang memburu menahan lonjakan emosi. "Sudah makan malam? Aku sedang-"

BUGH!

Pukulan keras itu menghantam rahang Baekhyun, terlihat bercak darah keluar dari sela-sela sudut bibinya. Baekhyun menyeringai masam saat dirinya menatap Chanyeol yang sedang gemetar menahan amarah. Chanyeol yang mendapati seringai Baekhyun semakin muak.

"Aigoo~ sepertinya minggu ini aku terlalu akrab dengan darah." Dengan sengaja Baekhyun menunjukkan perban yang masih melilit telapak tangannya.

"Aku tidak peduli!" teriak Chanyeol.

"Jadi apa yang kau pedulikan?" sorot mata terluka yang baru saja di perlihatkan berubah menjadi sorot tidak suka dan mengintimidasi. "Seorang Do Kyungsoo?" nada mengejek itu sangat kentara.

"Jangan menyebutnya dengan mulut kotormu Baekhyun!"

"Chanyeol~ kau tahu?" Baekhyun tersenyum manis. "Aku senang saat kau bersikap baik dan tidak pernah memakiku lagi beberapa minggu ini. Aku berpikiran kalau kau telah menerimaku sebagai suamimu. Tapi semuanya menjadi sangat tidak menyenangkan saat aku tahu alasan di balik mood baikmu belakangan ini." suara itu menjadi tajam di akhir.

"Kau terlihat menyedihkan kau tahu? Kau sama sekali tidak tahu apa artinya cinta tulus seperti apa."

"Ya. Kau benar Chanyeol. Aku memang tidak tahu karena kau tidak pernah memberikannya padaku. Sedangkan kau selalu mendapatkan ketulusan dariku."

"Omong kosong! Yang kau lakukan itu hanya obsesi semata! Tidak ada cinta tulus darimu!"

"Benarkah?" bibir itu terkekeh hambar. "Jadi cinta tulus itu seperti apa? Seperti kau dan Kyungsoo?"

"Ya. Aku mencintai Kyungsoo."

Walaupun terbiasa mendengar kalimat makian dan umpatan Chanyeol untuknya, Baekhyun merasa kalimat ini adalah hal yang paling menyakitkan dan semua. Senyum terpaksa tersemat di bibirnya. Di lanjutkan dengan tawa kosong.

"Aku tahu. Dan kau tahu juga aku mencintaimu, bukan sekedar obsesi."

"Tapi aku tidak pernah mencintaimu Baekhyun. Sadarlah!"

"Kau belum Chanyeol. Tidak ada kata tidak pernah di dunia ini." Baekhyun memalingkan atensinya pada sayur yang sedang dia potong tadi. Chanyeol berdiri di belakang Baekhyun. Memandang punggung sempit itu dengan tatapan datar. "Sampai saat ini belum ada yang mengubah pemikiranku tentang melakukan hal apapun agar orang yang aku cintai balas mencintaiku Chanyeol. Tidak ada prinsip kita akan bahagia saat melepaskan orang yang kita cintai untuk bahagia bersama orang lain."

"Egois."

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Baekhyun yang tanpa di sadarinya menanggis pilu. Baru setelah bantingkan pintu itu terdengar, tubuh kecil itu merosot dan isakan menyedihkan itu mengisi kesunyian yang ada.

.

.

.

Semenjak insiden bertengkarnya Baekhyun dan Chanyeol, lelaki tinggi itu tidak pernah pulang kerumah. Sudah masuk hari ke sembilan dan Baekhyun sama sekali tidak pernah melihat atensi Chanyeol di manapun. Bahkan anak buah Kai yang biasanya tahu keberadaan lelaki itu kehilangan jejak Chanyeol.

Baekhyun terlihat kacau. Lelaki itu menyibukkan diri dengan tugas kantornya, tidak makan tepat waktu dan selalu mengkonsumsi kopi secara berlebihan. Kebiasaan buruk Baekhyun saat sedang di landa masalah yang berat.

Kai yang rasanya tidak tahan lagi menghadapi sikap tuannya itu akhirnya menelepon Luhan. Lelaki yang sedang hamil muda itu datang dengan panik dan membawa banyak makanan yang sedang di bawa oleh suaminya.

"Baekhyun-ah~"

Baekhyun mengalihkan pandangan dari kertas-kertas berharga itu pada suara sahabat yang belakangan ini tidak dia temui. Senyum samar terlihat terbentuk di bibir tipisnya yang terlihat pucat dari pada biasanya. Kantung mata itu juga terlihat menghiasi wajah yang nampak lebih tirus.

"Berapa lama kau tidak tidur?" Luhan langsung menarik tangan lelaki yang hanya termenung dan membuatnya pindah ke sofa yang ada di ruangan.

"Hai Baek!" Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Sehun, lelaki kecil itu lagi-lagi tersenyum samar.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" Baekhyun hendak menuangkan kopi yang beberapa hari ini harus ada di ruangannya.

"Tidak! Kau tidak boleh minum kopi lagi!" Luhan cembeut lucu.

"Pasti Kai ya."

"Ya! Kau tahu, lelaki berkulit tan itu sangat cemas saat menceritakan tentangmu! Aku hampir saja pergi berlari kesini jika tidak ada Sehun yang menjernihkan pikiranku!" sifat gemar berbicara milik Luhan muncul kembali.

"Luhan sayang~ ingat kau harus lebih tenang, demi baby." Peringat Sehun.

Luhan mengangguk lucu sebelum menggelus-elus perutnya sayang. Baekhyun yang melihat itu nampak tertarik. Lelaki yang telihat kacau itu menempatkan tangannya di atas perut Luhan dan ikut mengelusnya.

Sehun yang melihat perilaku Baekhyun terlihat sedih dan entah kenapa dirinya merasa sangat marah pada sepupunya Park Chanyeol. Tidak bisa di pungkiri jika Baekhyun juga ingin memiliki anak, entah itu anak mereka sendiri ataupun anak yang mereka adopsi.

"Bagaimana kabarnya baby? Paman sudah lama tidak melihatmu ya." Ucap Baekhyun dengan senyum manis.

"Baby sudah 3 bulan paman, dan sebentar lagi akan 4 bulan." Luhan sengaja menirukan suara bayinya. "Nanti saat baby keluar dari perut Ayah, paman harus datang ya?"

"Oke!"

"Janji?!"

"Yah Luhan! Itu masih sangat lama! Dan kau minta aku berjanji sekarang?"

"Memangnya kenapa? Kau tidak mau datang saat aku melahirkan?" raut wajah itu berubah sedih.

"Bukan begitu! Bagaimana jika aku dalam perjalanan bisnis?"

"Aku tidak mau tahu!"

"Jangan buat suamiku stress Baek." itu Sehun yang sedari tadi hanya diam.

"Baiklah-baiklah! Kau dapat semua yang kau mau!"

"Yeay! Sekarang ayo makan! Kalau tidak aku akan menanggis di sini!"

Dan ancaman Luhan serta tatapan tajam Sehun berhasil membuat Baekhyun memasukan nasi ke dalam perutnya. Mood anak itu berangsur membaik, setidaknya membuat Baekhyun melupakan Chanyeol sementara waktu.

.

.

.

Ini adalah hari kedua Baekhyun menginap di apaertemen Luhan dan Sehun. Dan seperti ritual wajib biasanya yang di tetapkan oleh Luhan, Baekhyun yang menginap di rumahnya harus bersedia mengenakan piama couple yang memang sudah sengaja dia siapkan dari jauh hari. Baekhyun mau tidak mau memakainya, tentu dengan alasan mengidam andalan Luhan.

Sehun yang saat ini sedang duduk di ruang makan dan memakan buahnya hanya terkekeh geli saat Baekhyun yang notabenenya tidak pernah memakai makeup di wajahnya, harus rela menuruti kemauan suaminya. Luhan berkali-kali memekik kesal saat tangan gatal Baekhyun lagi dan lagi merusak riasan smookey eye yang sudah Luhan buat. Pekikan kemarahan dan teriakan protes terus terjadi di dalam ruangan itu.

"Tidak mau Luhan!" Baekhyun lagi-lagi protes saat Luhan memaksanya mengenakan lens yang sudah dia sediakan.

"Kau jahat! Bagaimana nanti jika anakku mengences Baek!" renggek Luhan.

"Tidak mau! Itu aneh!"

"Ayolaahh~~"

"Ck! Baiklah-baiklah!"

Dengan nekat, akhirnya Baekhyun mengenakan lens bewarna abu-abu di kedua matanya. Dengan jelas, Baekhyun melihat Luhan tersenyum puas. Tak lama anak itu kembali bermain-main dengan rambut sehitam arang miliknya, menatanya sedemikian rupa dan berdecak puas setelahnya.

"Sehun! Lihat Baekhyun!" Luhan dengan senyum merekahnya menyodorkan Baekhyun ke hadapan Sehun.

Sehun hanya menganga tidak percaya saat melihat penampilan Baekhyun yang terlihat sangat sexy dan menggoda-tapi masih sexy dan menggoda Luhannya- dengan cepat lelaki itu mengambil ponsel dan memotret wajah Baekhyun yang sedang cemberut sexy, dan menyimpannya untuk suatu hari yang tepat di tunjukkan pada Chanyeol.

Tentu saja aksinya itu mendapatkan luapan protes dari Baekhyun. Lelaki itu menjerit protes dan aksinya di barengi dengan jambakan maut di surai Sehun. Luhan yang melihat itu hanya tertawa kesenangan saat melihat Sehun tersiksa.

Aksi jambakan itu terhenti saat Baekhyun mendapatkan pemberitahuan pesan masuk di ponselnya. Mata anak itu membulat sebelum berlari ke dalam kamar dan meminjam pakaian milik Luhan dengan sembarangan. Hanya sebuah kemeja putih yang tidak terkancing semua dan ripped jeans ketat membalut tubunya. Lelaki itu terlihat terburu-buru sehingga melupakan penampilannya yang bertolak belakang.

"Aku pikir Baekhyun bisa menjadi model porno dengan pinggul seseksi itu."

Ucapan Luhan, membuat Sehun yang sedang minum air tersedak dengan tidak elitnya.

.

.

.

Baekhyun berdiri di depan sebuah club yang kata orang suruhannya menjadi tempat Chanyeol menginap beberapa hari terakhir. Pantas saja dia tidak bisa menemukan Chanyeol di hotel-hotel berkelas lainnya. Sedikit dirinya kecewa saat mengetahui Chanyeol menghabiskan waktunya di sini. Berbagai pemikiran aneh masuk ke dalam kepalanya dan semua itu berkaitan dengan Chanyeol.

Baekhyun dengan mantap masuk ke dalam club. Sedikit merasa aneh saat banyak pasang mata menatap lapar ke arahnya. Entah itu wanita maupun lelaki yang terlihat menjilat bibir saat menatapnya. Tapi itu semua tidak megalihkan niat utama Baekhyun untuk mencari Chanyeol.

Dengan kepala celingukan dan leher yang sengaja di panjangkan, akhirnya Baekhyun mendapati Chanyeol. Lelaki dengan wajah yang terhalang, tetapi postur tubuh suaminya tidak mungkin Baekhyun lupakan. Ya, itu adalah Chanyeol dengan seorang lelaki kecil yang sedang naik ke pangkuannya. Jelas sekali mereka sedang berciuman panas.

Baekhyun marah. Marah sekali. Dengan langkah lebar, Baekhyun menghampiri mereka. Tidak membuang-buang waktu lagi untuk Baekhyun menarik kasar lelaki kecil itu turun dan menamparnya dengan sangat keras.

Baekhyun terenggah-enggah. Seolah apa yang baru saja dia lakukan meguras habis tenaganya. Jalang itu balas menatap Baekhyun tak kalah sengitnya.

"Brengsek kau!" teriak jalang itu sebelum balas menyerang Baekhyun dengan menyiramkan sebotol alkohol kekepala lelaki kecil itu. Cairan itu membasahi surai halus Baekhyun.

"Kau yang berengsek jalang sialan!" Baekhyun maju selangkah. Sebelum tangannya bisa menampar kembali jalang itu, sebuah tarikan kasar dia rasakan di lengannya.

"Untuk apa kau kesini?" suara Chanyeol terdengar dingin saat menatapnya. Sesaat lelaki tinggi itu tertengun saat melihat penampilan Baekhyun yang tidak biasa.

"Aku menjemputmu Chanyeol. Ayo kita pulang!" Baekhyun menarik lengan Chanyeol mencoba membawa lelaki itu kembali kerumahnya. Tapi tarikan kuat di surainya membuat Baekhyun memekik.

"Seenaknya mengambil lelaki ini dariku! Dasar pelacur!" jambakan kuat itu membuat Baekhyun mengerang kesal dan balas menjambak lelaki yang lain.

Keadaan begitu kacau dengan Chanyeol yang berada di antara dua lelaki kecil yang saling menjambak. Dengan malas Chanyeol mengalihkan perhatian dan mendapati beberapa lelaki memperhatikan Baekhyun yang saat ini terlihat sangat berantakan.

"Hei, jika kau tidak keberatan, bagaimana jika si seksi berambut hitam itu untukku saja?" bisik seorang lelaki yang berada tepat di sampingnya.

"Dalam mimpimu!" desis Chanyeol sebelum menarik Baekhyun keluar dari daerah pertikaian dan membawanya keluar dari club. Chanyeol menghentakkan tautan tangan mereka kasar sebelum berbalik menatap Baekhyun dengan pandangan tidak suka.

"Apa yang kau lakukan di sini? Mau menjual tubuhmu?" bentak Chanyeol kasar.

"Aku mencarimu Chanyeol. Ayo pulang eum?" bujuk Baekhyun dengan wajah memelas.

"Cih, mana ada orang yang mau mencari seseorang sempat berdandan juga berpakaian sepertimu!" jika bisa di cermati dengan baik terdapat nada cemburu dalam perkataan Chanyeol.

"Bu-bukan! Tadi Luhan-"

"Jangan beralasan Baekhyun!" potong Chanyeol dengan mata memicing. "Tapi, kau cocok juga menjadi bagian dari jalang di dalam sana. Kalian sama. Persis sama."

Baekhyun merasakan lagi-lagi hatinya berdenyut perih.

"Lihatlah kau sekarang, wajah dengan riasan masa kini, kemeja putih yang menampilkan tubuhmu, dan jeans yang benar-benar bagus Baekhyun. ahh! Lens yang cocok untuk jalang sepertimu."

"Chan-"

"Kau seksi dengan penampilan seperti ini. Setiap anggota tubuhmu seolah berteriak 'sentuh aku'."

Setetes air mata Baekhyun mengalir tanpa tahu malu. Ini adalah air mata pertama yang Chanyeol lihat selama dua tahun mereka menikah. Sempat terbesit rasa sesal, tapi semua itu cepat dia tepis. Baekhyun pantas merasakan ini.

"Kau menangis? Benar-benar terlihat seperti jalang murahan."

Chanyeol berbalik badan meninggalkan Baekhyun. Terus berjalan tanpa mau melihat keadaan yang lebih kecil di belakang sana. Dia tidak peduli, apapun yang berkaitan dengan Baekhyun bukan urusannya.

"Pulanglah ke rumahmu Chanyeol." Sedikit tersentak saat mendengar suara seseorang di sampingnya.

"Chen-"

"Aku tidak akan menampung seseorang yang lari dari masalahnya. Kau seharusnya bisa lebih dewasa dan jangan terjebak dengan masa lalu. Pulanglah, dan selesaikan urusanmu."

Chen adalah sahabat Chanyeol. Jika Baekhyun punya Luhan, maka Chanyeol punya Chen yang siap menampung keluh kesahnya kapan saja. Dari saran Chen, akhirnya Chanyeol pulang kerumah, walaupun butuh waktu setidaknya 3 jam untuknya berpikir. Dirinya mendapati mobil yang di pakai Baekhyun tadi terparkir sembarangan di garasi.

Dengan pelan, Chanyeol masuk ke rumah. Setelah berjalan masuk ke dalam lebih jauh, Chanyeol mendapati Baekhyun sedang tertidur dalam posisi duduk dan bertopang di meja bar. Jemari lentik itu masih memegang gelas berisi cairan bewarna kuning emas dan botol yang ada di sebelahnya tersisa seperempat bagian.

Chanyeol mendekat kearahnya, memperhatikan bentuk wajah itu dengan seksama, terdapat semburat merah di kedua pipinya.

"Kau lebih cocok dengan gaya fashion membosankanmu itu, kau tahu?"

Berdecih pelan sebelum meninggalkan Baekhyun tanpa memindahkannya ke tempat yang lebih nyaman. Apa peduli Chanyeol? Dia hanya tidak suka Baekhyun menjadi perhatian dari laki-laki di club. Dia tidak suka penampilan Baekhyun seperti tadi. Cuma itu.

Apa peduli Chanyeol?

.

.

.

TBC

.

.

.

Ko Ko Bop!

Yeaay! Uri EXO jjang!

Pokoknya bulan ini adalah milik kita EXO-L sekaliaann! Selamat untuk kerja keras kita selama ini! walaupun EXO Cuma dapet triple crown di Mcoundown, gak apa-apa! Jangan kecewa ya! Kita masih bisa usaha di kesempatan yang lain. Sejujurnya penjualan fisik itu lebih mencerminkan seberapa besar cintanya EXO-L pada EXO! Tapi juga kita jangan mau kalah dengan streaming okay! Kita berjuang bersama ya!

Nihh, aku update bareng dengan bees crescent75 spasinya di ganti titik yaa~ cek update eonni saya juga jangan lupa!

Review?