"Bagaimana?" tanya seorang pria yang mengenakan kaos hitam kepada pemuda yang baru saja keluar dari sebuah kamar. Wajahnya terlihat resah.

Yang ditanya hanya tersenyum. Ia melangkah ke nakas di dekat televisi, mengambil first aid kit dan membawanya ke sofa yang diduduki pria bersurai jelaga.

"Jungkook-ah?" tanya pria itu mencoba memastikan.

"Dia sudah tidur, hyung. Terlalu lelah menangis." gumam Jungkook mendudukkan diri di samping Kim Taehyung yang langsung menghembuskan nafas lega. Tangannya dengan cekatan membuka kotak obat, mengeluarkan disinfectant.

"Yoongi kembali ke hotel terlebih dahulu. Aku memintanya untuk mengirim balik laporan yang sudah kutandatangani kemarin."

Yang diajak bicara hanya mengangguk, mulai membersihkan luka kecil di pangkal hidung dan sudut bibir pria di hadapannya. Ia memilih bungkam.

"Ini bukan salahmu." ucap yang lebih tua. Tanpa kata-kata pun ia tahu bahwa pemuda kesayangannya tengah menyalahkan dirinya sendiri. Bibirnya menyunggingkan senyum simpul kala sebelah tangannya menyentuh pipi Jeon muda. Masih menggemaskan tapi tidak se-chubby dulu. "Hei, lihat aku."

"Aku yang memaksamu untuk memberitahunya. Ini salahku, hyung. Karena keegoisanku, Kwonnie marah padamu sekarang."

Taehyung terkekeh. Membiarkan tangan lembut Jungkook mengoleskan obat ke luka yang sebenarnya tidak membutuhkan penanganan. "Jungkookie, aku tidak mau putraku menganggapku sebagai orang lain. Aku ingin dia tahu bahwa aku adalah ayah kandungnya yang brengsek. Dan kau… calon istriku yang manis, yang memberi keberanian kepada pecundang ini untuk mengatakan kebenarannya."

Jungkook merona kala pria yang sempat memilikinya seutuhnya itu menarik sebelah tangannya, lalu mencium telapaknya lembut.

"Luka yang ditimbulkan oleh putraku ini tidak sebanding dengan luka di hatimu, juga luka di hatinya. Kumohon, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kita pasti akan baik-baik saja, hm?" bisik Taehyung seraya merengkuh tubuh sang pujaan. Dihirupnya dalam-dalam ceruk leher Jungkook sambil memejamkan mata. "Aku merindukanmu."

Jungkook balas memeluknya, membelai punggung kokoh Tuan Muda Kim yang entah bagaimana terlihat begitu rapuh. "Aku takut."

Taehyung memilih diam. Ia tahu dirinya tak harus mengatakan apapun. Dikecupnya singkat pelipis Jungkook, lalu kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher yang lebih muda.

"Kau tidak akan menyerah kan? Kau tidak akan begitu saja meninggalkanku, juga Kwonnie?"

Pria bersurai arang terkekeh ringan, dieratkannya pelukan yang ia berikan.

"Mengetahui dirimu yang menyukaiku… aku benar-benar senang." gumam yang lebih muda lirih. "Tapi sekarang aku merasa takut. Aku takut kau menyerah kerena ini."

Pria Kim tersenyum tipis. Ia menjauhkan wajahnya, sekedar untuk menatap mata indah sang kekasih. "Mencintai, Kook-ah. Bukan sekedar suka, tapi aku mencintaimu. Kau boleh bilang aku pria penggoda yang mengatakan itu asal-asalan. Tapi ketiadaanmu selama ini membuatku menyadarinya, dan pertemuan kita setelahnya, menegaskan bahwa sikap posesifku terhadapmu adalah wujud dari cinta yang selama ini tidak aku mengerti."

"Hentikan." Jungkook memukul pelan bahu pria di hadapannya, semburat kemerahan muncul di pipinya. "Kau tidak terdengar seperti Kim Taehyung yang selama ini kukenal."

Tertawa renyah, pria bersurai arang menempelkan dahinya ke dahi pemuda berkulit susu. "Kalau begitu, perkenalkan. Namaku Kim Taehyung. Aku mencintai Jeon Jungkook dan menginginkannya menjadi istriku, berharap dapat hidup bersamanya, juga putra kami yang menggemaskan, Kim Taekwon."

Yang lebih muda hanya terkekeh. Ada perasaan hangat di hatinya. Ia merasa bahagia, walau fakta bahwa putranya belum menerima sang ayah tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Kupikir kau telah berubah menjadi Jeon Jungkook yang dewasa dan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Tapi saat tahu bahwa kau masih membutuhkanku, sejujurnya aku merasa senang."

"Aku sangat membutuhkanmu, hyung. Bertemu kembali denganmu membuatku sadar betapa selama ini aku ingin mendapatkan perlindungan dari seseorang yang benar-benar peduli padaku." Jungkook mengalungkan lengannya ke leher pewaris Kim Enterprise. Ia tersenyum simpul saat lengan di pinggangnya bergerak turun. "Mmhhh… hyung."

"Jangan menggodaku, Jungkook-ah. Suaramu membuatku ingin menciummu."

"Lakukan." bisik pemuda bersurai madu lirih. Pipinya merona saat sepasang iris obsidiannya dengan berani menatap netra kecoklatan sang dominan.

Kim Taehyung tersenyum tipis sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah Jungkook hingga bibir mereka saling menyatu.

Mereka berciuman.

Ciuman dalam untuk pertama kalinya setelah empat tahun.

Bibir tebal pria Kim bergerak lembut menekan milik Jungkook, menghisap perlahan bibir bawahnya, mengulumnya ringan. Pemuda Jeon bukan lagi sosok polos yang tak tahu apa-apa, maka ia balas dengan menghisap bibir pria pujaannya. Rakus.

Taehyung setengah tersenyum, menelusupkan lidahnya ke dalam mulut pemuda bersurai madu. Langsung disambut dengan hisapan kuat dari sang submisif, menunjukkan betapa rindunya ia akan pria yang kembali mendapatkan dirinya seutuhnya. Pria Kim balas menghisap, melumat rakus bibir mungil sang kekasih, meremat pinggangnya yang sintal berisi.

"Aahh… hyumwhh…"

Yang lebih tua mendorong tubuh di hadapannya hingga si pemuda terbaring di sofa. Ia menindihnya, membuka lebar sepasang kaki jenjangnya selagi bibir mereka saling bertaut.

Dengan sepasang lengan yang mengalung di leher, sebelah tangan Taehyung bergerak naik, menelusup ke dalam sweater Jungkook hanya untuk meraba perut rata sang kekasih, sementara bibirnya seolah tak puas dengan terus dan terus mencumbu bibir pemuda di hadapannya.

Cumbuan yang sarat akan rindu itu berlangsung cukup lama, dengan Jungkook yang meremat surai pria di atasnya, dan dengan kedua tangan Kim Taehyung yang menjelajah lekuk tubuh pemuda yang ditindihnya.

"Mm.. ahh.." Kim Taehyung melepaskan pagutannya kasar, menjauhkan tubuhnya untuk mendapati pemuda yang terengah di bawahnya dengan nafas memburu dan baju yang berantakan. Benang saliva di bibir mereka bahkan masih saling menyatu.

Berkali-kali ia mengecup lembut sudut bibir sang kekasih. "Kau benar-benar masih sangat menggairahkan."

"Apa itu pujian?"

Taehyung tertawa, kembali menjauhkan tubuhnya. Ia membantu Jungkook untuk duduk, mencium lembut keningnya. "Sayang sekali, aku harus segera kembali ke hotel dan mengecek beberapa pekerjaan."

Jungkook terkekeh, memperhatikan Kim muda yang mengambil jaketnya, lalu kembali memeluk penyandang marga Jeon erat.

"Aku harus pergi. Tidak apa-apa kan?"

Yang lebih muda mengangguk ringan, balas memeluk pria di hadapannya. "Besok ke sini lagi?"

"Tentu saja. Aku akan meneror si setan kecil dan menunjukkan bahwa ayahnya adalah Lucifer, sang penguasa neraka yang keren. Dia harus patuh padaku."

Tertawa ringan, Jungkook memakaikan jaket ke tubuh Kim muda, seperti yang sering ia lakukan dulu. "Kau benar-benar berubah, tapi aku menyukainya. Dan sepertinya, kau juga terlalu banyak nonton film yang aneh-aneh."

Yang lebih tua ikut tertawa. Ia lalu berpamitan karena benar-benar harus segera menyelesaikan beberapa pekerjaan malam ini. Walau tidak dipungkiri bahwa libidonya sempat naik sampai ke ubun-ubun, Kim Taehyung benar-benar tidak mau jika ia hanya memakai tubuh Jeon muda, lalu meninggalkannya sendirian setelah puas, walaupun dengan alasan pekerjaan.

Menurutnya, cinta tidak setergesa itu.

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for the Taekwon.

Ambigu, typo tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part II: The Sketch

Hari berikutnya, menjelang siang, Jeon Taekwon tiduran di atas sofa sambil menonton kartun kesukaannya setelah lelah mengendarai sepeda baru hadiah dari Paman Yoon Yoon di depan kedai. Balita itu mengerucutkan bibirnya, merasa bosan karena episode kali ini sudah pernah ditayangkan sebelumnya. Sepasang mata bulatnya menatap sekeliling ruangan. Ibunya sudah membereskan sisa-sisa pesta ulang tahunnya semalam, dan hari ini ia diperbolehkan memakan kue ekstra.

Seharusnya, ia merasa senang.

Tatapannya jatuh ke dua buah robot yang diletakkan di dekat meja pendek, Optimus Prime dan Bumble Bee. Ingin rasanya ia memainkan mereka, namun karena alasan tertentu, ia lebih memilih mengacuhkannya.

Jeon Taekwon menghela nafas kasar, seolah beban hidupnya begitu berat. Ia memijit pelipisnya sambil memejamkan mata, seperti yang biasa dilakukan seseorang. Si balita terlalu sering melihatnya sehingga tanpa disadari, ia terkadang ikut-ikutan.

Ia membuka mata, menggelindingkan tubuhnya dari sofa, lalu melakukan superhero landing di lantai. Setelahnya, merambat ke meja pendek di hadapannya untuk mengambil buku gambar dan crayon warna merah. Ia menggoreskannya perlahan, mencoba menggambar Nick dari film animasi yang ia tonton ketika di rumah sakit.

"Sayang, ada yang mencarimu." ucap sang ibu tiba-tiba. Pintu yang menghubungkan ruang keluarga Jeon dengan kedai terbuka, menampilkan sosok pemuda dengan kaos lengan pendekwarna putih yang ditumpuk apron warna hitam.

Di belakangnya, berjalan pria dengan kaos lengan panjang hitam. Ada sobekan besar di bagian lengan, juga pundak sebelah kiri dan bagian tulang selangka kanan. Round neck-nya pun digunting di beberapa bagian. Celana pendek abu-abu membalut kakinya. Benar-benar tidak terlihat seperti seorang Tuan Muda, namun senyum kotak ia tunjukkan saat bocah kesayangannya menatapnya.

Hanya sesaat, karena setelahnya, Kwonnie kembali asyik dengan buku gambar dan crayon-nya.

Jungkook tersenyum tipis melihat tingkah putranya, sebelah tangannya meremat lengan pria Kim yang masih berdiri di depan pintu. Berjalan mendekati Taekwon, Jeon muda memeluknya gemas.

"Sedang apa, hm? Menggambar lagi?"

Kwonnie hanya mengangguk, malas menjawab karena ibunya mengajak Paman Tae.

"Ingin momma buatkan susu?" Jungkook mencium dalam pipi si balita.

Taekwon menggeleng ringan. Ia menoleh ke arah sang bunda sebelum mengerucutkan bibirnya. "Aku bosan susu. Mau teh jeruk, tapi pakai es."

"Lemon tea?" tanya Jungkook memastikan. Ia tersenyum lebar begitu mendapati bocah yang memakai kaos bergambar Optimus Prime mengangguk mantab. "Baiklah, Kwonnie main sama poppa dulu. Momma buatkan esnya."

Poppa…

Jantung Kim Taehyung berdegup kencang kala panggilan itu tertuju padanya. Ia memang sempat ngobrol dengan Jungkook sebelum bertemu Taekwon. Mereka sepakat akan membiasakan si bocah untuk memanggil Taehyung dengan sebutan poppa. Mungkin terdengar sedikit memaksa, namun ini adalah salah satu usaha untuk mengambil hatinya.

Setelahnya, Jungkook beranjak. Sebenarnya ia tahu, ada raut tak rela di wajah sang putra saat dirinya akan pergi, seolah tidak mau ditinggalkan berdua saja dengan ayahnya. Tapi pemuda Jeon tetap melakukannya. Ia akan memberi waktu bagi Taehyung untuk kembali bicara dengan putranya.

"Sedang menggambar apa?" tanya pria Kim mendudukkan dirinya di sofa. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengamati kegiatan putranya dengan antusias.

Saat itulah Kwonnie, dengan alis yang bertaut, memberanikan diri menatap pria dewasa di belakangnya. Bibirnya mengerucut kesal saat melihat benda yang menempel di wajah Paman Tae.

"Itu punyaku!" pekiknya sambil menunjuk plester luka di sudut bibir Taehyung, juga yang tertempel di pangkal hidungnya.

Awalnya, Kim muda mengeryit heran, namun tak berapa lama, ia sadar benda apa yang dimaksud putranya; plester luka berwarna kuning dengan gambar dinosaurus-dinosaurus kecil di sana.

"Oh.. ini?" jemari panjang pria bersurai hitam menunjuk satu di pangkal hidungnya, menunjuk plester luka yang ditempelkan Jungkook sesaat sebelum mereka masuk ke ruang keluarga. Katanya, Taehyung tidak boleh ngeyel dan harus menurut agar lukanya cepat sembuh.

Jeon Taekwon mengangguk cepat, masih memasang wajah kesalnya. "Itu punyaku! Paman tidak boleh memakainya, momma belikan itu untukku."

Taehyung tersenyum miris…

Paman…

Dan putranya tidak pernah sekasar ini padanya. Tidak kepada siapapun. Tidak, sebelum ia mengatakan bahwa dirinya adalah ayah kandung Taekwon.

Menghirup nafas dalam, pewaris Kim Enterprise berbicara pelan, "Tapi aku sudah memakainya, Kwonnie tidak bisa menggunakannya lagi karena sudah terkena luka. Besok poppa belikan yang baru ya?"

"Pokoknya itu punyaku. Cepat kembalikan!"

Taehyung menghela nafas berat. Ia masih mencoba memasang senyum di bibirnya walau hatinya terasa begitu nyeri. Sejujurnya, ini lebih menyakitkan ketimbang pukulan-pukulan tangan mungil putranya semalam. Kali ini, Taekwon seolah benar-benar ingin menghindar dari apapun yang berhubungan dengan Kim Taehyung.

Perlahan ia melepas plester luka itu, lalu menyerahkannya kepada sang putra. Si balita menyambarnya cepat. Ia kemudian menempelkannya ke masing-masing lutut kanan dan kirinya.

Melihat itu, sang ayah mencoba menasihati. "Kwonnie tidak boleh memakainya lagi. Plester itu sudah terkena bakteri dari luka poppa. Nanti bakterinya berpindah padamu, kau bisa sakit."

Sayangnya, sang putra memilih untuk mengacuhkannya. Ia kembali sibuk dengan crayon warna hijau yang ia gunakan untuk menggambar baju di tubuh entah-apa yang dibuatnya. Taehyung kembali menghela nafas.

Mereka terdiam selama lebih dari sepuluh menit, padahal biasanya si balita akan mengoceh untuk menceritakan ini-itu. Rasanya benar-benar menyakitkan. Terbesit pikiran bahwa membiarkan kebenaran mengenai hubungan mereka berdua sebagai rahasia akan lebih baik. Namun, cepat atau lambat, fakta itu akan terkuak juga. Lebih dari semuanya, Kim Taehyung benar-benar ingin membayar semua perlakuan kasarnya kepada Jeon Jungkook saat pemuda itu masih berstatus sebagai pelacurnya. Bukan hanya itu, Sang Tuan Muda juga sungguh mencintainya. Mungkin terdengar konyol karena ia mengatakannya tiba-tiba setelah empat tahun tak bertemu. Tapi kekosongan di hatinya selama Jungkook tak di sisinya, juga perasaannya yang meluap-luap begitu mereka bertemu kembali membuatnya yakin bahwa selama ini dirinya bukan hanya menginginkan Jeon Jungkook, namun juga membutuhkannya.

Pria Kim memijit pelipisnya, memejamkan mata. Sejujurnya ia merasa sangat mengantuk karena semalam ia lembur dan baru bisa tidur pukul empat pagi. Hal itu bukannya tanpa alasan karena selama Kwonnie di rumah sakit, ia sama sekali tidak menyentuh urusan kantor, dan setelah bocah itu diperbolehkan pulang, pewaris Kim memilih untuk menghabiskan waktu siangnya dengan sang putra.

Ia merebahkan dirinya di sofa, masih memperhatikan putranya yang terlihat serius. Tersenyum tipis, diulurkannya tangan kanan untuk mengusap puncak kepala si menggemaskan.

Taekwon menoleh cepat, memasang wajah galaknya.

Buat Kim Taehyung, itu malah terlihat menggemaskan. Ekstra menggemaskan.

"Apa kau membenci poppa?" gumamnya lirih, hampir berbisik. Matanya setengah terpejam.

Si balita tidak menjawab. Ia lebih memilih diam, bahkan enggan menyingkirkan tangan pria Kim yang mengusap kepalanya.

Sejujurnya, ia merasa nyaman.

Sejujurnya, Kwonnie merasa aman.

Bocah itu hanya diam, membiarkan sang paman melakukan hal sesukanya. Toh, hanya mengelus kepala, jadi tidak apa-apa.

"Bilang poppa kalau ingin mengambar sesuatu yang Kwonnie tidak bisa. Poppa akan mengajarimu." bibir terbal itu tersenyum, masih dengan tangan yang mengusap puncak kepala sang putra. Perlahan, makin perlahan hingga akhirnya berhenti dan tangan itu terjatuh di pangkuan Taekwon.

Awalnya, Taekwon hanya diam, lalu mencoba menusukkan crayon-nya ke lengan besar sang ayah agar ia menyingkirkannya sendiri. Namun pria itu tak bergerak sama sekali, mirip ibunya kalau sedang tidur. Susah sekali dibangunkan.

Maka dengan susah payah si balita mengangkat lengan pria yang telah dianggapnya sebagai paman dengan susah payah, menaikkannya ke sofa, tepat di samping tubuh sang paman. Mata bulatnya berkedip lucu saat mengamati wajah dengan rahang tegas itu.

Bulu matanya lebat, tapi tidak selentik milik momma-nya. Hidungnya lebih mancung dari momma, bibirnya tebal. Telunjuk mungil si bocah terjulur untuk menyentuh tahi lalat di ujung hidung pria Kim. Ia menekannya beberapa kali, membuat pemiliknya mengerutkan kening walau tak sampai bangun.

Jeon Taekwon terkikik geli.

Ia tidak pernah melihat Paman Tae kesayangannya tidur. Well, hanya sekali ketika di rumah sakit, itu pun dari jauh. Kali ini ia melihatnya dari dekat, dan ini lumayan menyenangkan.

Kwonnie suka bentuk alis Kim Taehyung. Menurutnya, itu terlihat keren.

Dahi si bocah mengeryit ketika menyadari bahwa paman-nya memakai pakaian yang sobek-sobek. Kata momma-nya, pakaian seperti itu bisa membuat masuk angin. Apa tidak ada yang memberi tahu Paman Tae soal hal sepele seperti itu?

Ia melirik ke kiri dan ke kanan, mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk memastikan bahwa momma-nya tidak ada.

Setelahnya merasa aman, ia berlari ke kamar.

.

Jungkook masuk sambil membawa nampan berisi es lemon tea pesanan putranya. Dua gelas. Diletakkannya keduanya ke atas meja sebelum menuju ke kulkas untuk mengambil dua potong kue sisa semalam.

Putranya sedang asyik menggambar ditemani sang ayah yang tertidur pulas di sofa. Saat Jungkook memberikan kecupan singkat di pipi gembil Kwonnie, barulah bocah laki-laki itu sadar kalau ibunya datang. Ia tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih sebelum mengambil segelas lemon tea dan meneguknya rakus.

Mata bulatnya memicing ke arah satu gelas lainnya yang masih utuh. "Apa itu milik momma?"

Yang ditanya menggeleng ringan, disentuhnya ujung hidung sang putra dengan telunjuknya. "Untuk poppa."

"Tapi biasanya kopi." gumam balita bersurai batok lirih. Ia menggedikkan bahunya acuh sebelum beralih mengambil sendok dan menyantap kue coklatnya.

Jungkook tersenyum lebar mendengarnya. Putranya memperhatikan sang ayah, dan itu membuatnya senang. Setidaknya, Jungkook yakin kalau Kim Taehyung tidak dibenci.

Pemuda bermata onyx tahu semalam pria Kim lembur, jadi ia sengaja tidak memberinya kopi agar Taehyung tidak semakin melek. Bagaimanapun, tubuhnya butuh istirahat. Sedikit banyak, Jeon muda merasa lega karena pria pujaannya bisa tidur sekarang.

Momma Jeon mengulum senyum saat mendapati selimut merah kecil bergambar Iron Man berada di atas tubuh Taehyung, tepatnya menutup bagian dada hingga ke perutnya. Itu adalah selimut kesayangan sang putra, selimut yang dibelinya ketika Jeon Taekwon masih bayi, selimut yang selalu dicari si bocah jika waktu tidurnya tiba. Terlepas dari ukurannya yang sudah tak sebanding dengan tubuh Kwonnie, selimut itu selalu dipakainya ketika tidur.

Jungkook tak ingin bertanya, karena ia tahu siapa yang meletakkan selimut itu di atas tubuh Kim Taehyung.

"Momma kembali ke depan ya?" tawar pemuda bersurai madu. Ia mengusap lembut pipi putranya yang bergerak-gerak saat mengunyah kue.

Kwonnie menggeleng ringan. Tangan kanannya menarik apron sang bunda sementara yang kiri memegang sendok. "Momma di sini saja."

"Kan ada poppa."

"Tidak mau…" cicitnya lirih.

Pemuda Jeon tersenyum tipis. Ia mengangkat tubuh Kwonnie, lalu memangkunya. Jungkook mencoba berbicara perlahan, menggunakan bahasa sehalus mungkin agar tidak menyinggung putranya. "Momma akan tetap di sini asalkan Kwonnie bilang ke momma kenapa semalam memukul poppa."

"Uhh…" bukannya menjawab, si balita malah sibuk memainkan sendoknya.

Jungkook menganggapnya sebagai tanda bahwa jawaban apapun tak akan keluar dari bibir putranya. Ia menghela lirih sebelum mengeratkan pelukannya di perut Kwonnie. "Apa anak yang baik suka memukul?"

Kwonnie menunduk, melirik wajah ibunya dari sela-sela poni, kemudian menggeleng ringan. "Anak yang baik tidak memukul."

"Jadi, apa yang harus Kwonnie lakukan karena memukul poppa?" Jungkook tersenyum lembut. Diusapnya kepala Kwonnie sebelum mengecup puncaknya. Ia samasekali tidak menunggu jawaban dari sang putra. Maka diturunkannya Jeon kecil dari pangkuan. "Kwonnie kembali menggambar, ya? Kalau bosan, kau boleh ke depan."

Si bocah mengangguk singkat. "Aku akan menggambar Judy dulu, kasihan kalau Nick-nya sendirian. Kalau selesai, mau naik sepeda lagi."

"Kalau mengantuk bilang momma, nanti momma temani tidur. Atau, Kwonnie bisa tidur bersama poppa."

Si bocah hanya merengut, dan itu membuat pemuda Jeon terkekeh ringan. Ia tahu putranya tidak suka jika Kim Taehyung dipanggil poppa. Tapi Jungkook sangat suka menggodanya. Ia berjalan perlahan sebelum meninggalkan sang putra bersama poppa-nya.

Setelah memastikan pintu yang menuju ke kedai tertutup Taekwon melangkah kecil ke arah sofa. Didekatkannya wajahnya ke telinga pria Kim sebelum berbisik, "Jangan ngompol, nanti selimutku bau."

Kwonnie anak pandai. Kata momma-nya, kalau mau tidur tidak pipis dulu, nanti bisa mengompol. Dan seingatnya pria Kim yang kini tengah terlelap tidak pergi ke kamar mandi sebelum tidur.

Taehyung bergidik dalam tidurnya, merasakan angin bertiup di telinga. Sementara itu, Kwonnie kembali mencoret-coret buku gambarnya dengan santainya. Kali ini menggunakan crayon berwarna abu-abu.

Belum ada dua puluh menit berlalu, putra tunggal Jungkook mulai mengucek matanya, merasa mengantuk. Apalagi siaran kartun di televisi mulai membosankan, tidak ada adegan menyanyi bersama yang sangat Kwonnie sukai. Ia menguap lebar, baru saja ingin menaruh kepalanya di atas meja, si balita dikagetkan oleh suara keras.

Duagh!

"Bangsat!" umpat sebuah suara bernada berat mengikuti suara benda jatuh yang menyapa telinga Kwonnie terlebih dahulu.

Bocah itu menegakkan kepalanya, mendelik saat ia menatap paman Tae mencoba untuk mendudukkan dirinya di lantai, tepatnya di sela sofa dan meja tempat bocah Jeon menggambar.

"Shit! Kepalaku pusing sekali." umpatnya lagi. Lengan kirinya menyangga tubuh, sementara yang kanan memegangi kepalanya. Ia mencoba lebih untuk menegakkan duduknya. "Keparat! Punggungku… shit!"

Kwonnie masih diam di tempatnya. Ia terus menatap pria bersurai arang yang masih memasang wajah kesal seperti Grumpy di film animasi Snow White. Tapi yang dihadapannya bukanlah seorang kurcaci, melainkan paman keren bertubuh tinggi yang tampan.

"Sial. Bisa-bisanya terjatuh dari sofa." Taehyung menolehkan kepalanya, berkedip beberapa kali sebelum memicingkan matanya. Ia mengamati, mengedarkan pandangannya ke segala arah sampai dirinya tersadar bahwa ini bukan di hotel ataupun di rumahnya. "Shi -"

Pria bersurai arang memotong kalimatnya sendiri saat ia mendapati sesosok makhluk gembul yang menatapnya penuh tanya. Susah payah ditelannya saliva di dalam mulutnya. Setelahnya, senyum grogi tercetak di bibirnya. "Shi…ang Kwonnie. Ka -kau sudah makan?"

Bukannya menjawab, si bocah malah berdiri dari duduknya lalu berlari kecil menuju pintu menuju kedai.

"Momma…." gumamnya lirih.

Kim Taehyung merasakan firasat buruk. Kalau sampai bocah kesayangannya melapor kepada sang bunda bahwa ayahnya baru saja mengumpat, pasti pemuda bersurai madu itu akan memarahinya. Bukan apa-apa, seorang ibu pasti tidak mau anaknya diajari berkata kasar dan mengumpat. Jungkook yang biasanya merupakan seorang submisif bagi Kim Taehyung bisa saja berubah galak dan menyeramkan.

Maka pria Kim segera beranjak, melompat bagai Spiderman dan langsung menangkap putranya yang mencoba meraih gagang pintu.

"Momma! Mommaaaa!"

"Ssttt…" Taehyung segera membawa tubuh yang meronta itu menuju sofa, memangkunya paksa, dan mencubit bibirnya main-main. "Poppa mohon, jangan bilang-bilang momma kalau poppa jatuh, ya?"

"Tidwaa! Mingweew! Lwepwe! (Tidak! Minggir! Lepas!)" kedua lengan mungil Kwonnie menarik kaos yang dipakai ayahnya kuat-kuat, hingga tanpa sengaja bagian sobek di bagian tulang selangka bertambah lebar.

Si bocah membeku. Matanya menatap nanar kain berwarna hitam yang dipegangnya. "Ma -maafkan aku…"

Bibir Taekwon melengkung ke bawah, perlahan ia melepas kaos yang dipegangnya, lalu mencoba menyatukan bagian yang sobek dengan kedua tangannya. Bibirnya semakin melengkung saat bagian atas dan bawah yang coba ia satukan kembali terpisah dan menunjukkan kulit eksotis pria yang memangkunya.

Taehyung sungguh ingin berkata bahwa bocah yang memiliki panggilan Kwonnie itu tidak perlu meminta maaf untuk apa yang tak sengaja ia lakukan. Toh, kaos Kim muda memang sudah sobek, ia sendiri yang mengguntingnya dengan sengaja. Namun, entah mengapa pewaris Kim Enterprise itu ingin memanfaatkan keadaan mereka saat ini. Setidaknya, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk bicara dengan putranya.

Sekedar bicara seperti biasa pun tak masalah.

"Hei, tidak apa-apa." gumamnya menunjukkan senyum. Diusapnya lembut kepala sang putra. "Kaos poppa memang ada sobeknya."

"Ta -tapi jadi tambah sobek gara-gara Kwonnie." cicit si bocah lirih. Takut-takut ia menatap sepasang manik kecoklatan pria di hadapannya. "Seram kalau sedang marah… suaranya menakutkan."

Taehyung mengutuk dirinya sendiri. Ia tak memungkiri bahwa dirinya yang sedang marah memang seperti itu. Pasti saat ia terjatuh tadi juga demikian. Ditariknya nafas dalam sebelum mulai bicara selembut mungkin. "Tidak apa-apa… asal Kwonnie jangan bilang yang tadi ke momma."

"Yang tadi?" balita di pangkuan Tuan Muda membeo. Tatapannya sarat akan rasa penasaran.

"Iya." balas yang lebih tua tanpa melunturkan senyum di bibirnya. "Tadi ketika pa -poppa jatuh dari sofa."

Kwonnie mengeryit, mencoba memastikan. "Apa kau menggelinding?"

Pria Kim mengangguk. Ada rasa nyeri di dada ketika bocahnya memanggil dengan kata kau. Sejujurnya Taekwon tidak pernah memanggilnya begitu, pasti dengan sebutan paman. Namun setelah ia mencoba untuk membiasakan putranya untuk memanggil poppa, malah sapaan kau-lah yang didengarnya sekarang.

Mungkin, Taekwon kecilnya masih berusaha untuk membiasakan diri. Kim Taehyung akan memupuk keyakinan itu di dalam hatinya agar ia tak menyerah.

Alis Kwonnie berkerut setelah beberapa saat diam. Dengan alis yang bertaut, ia menatap sekeliling sebelum melirik sekilas pria yang memangkunya. Selanjutnya, ia menatap tempat yang didudukinya, lalu memasang ekspresi terkejut.

"Uhh." keluhnya sebelum menggeser-geser bokongnya hingga perlahan turun dari pangkuan sang ayah. Setelah terlepas dari ayahnya, ia masih terus menggeser bokongnya di sofa sehingga ia duduk dengan jarak yang lumayan dari pria Kim. Tak lupa Kwonnie menyambar selimut kesayangannya yang setengah terjatuh, lalu memeluknya erat.

Taehyung tersenyum kecut. Sepertinya sang putra mengingat kejadian semalam, lalu memutuskan untuk kembali menjauh darinya. Padahal, Kim Taehyung menyukai putranya yang suka menempel padanya. Bahkan sebelum tahu bahwa Taekwon adalah darah dagingnya, pemilik surai sekelam malam diam-diam menganggap bahwa hal itu menggemaskan

Tapi Kim junior akan pura-pura tidak menyadarinya. Maka ia mengulurkan satu tangannya untuk mengusap kepala sang putra. "Maafkan poppa karena terlihat menyeramkan. Tapi terjatuh dari sofa itu menyakitkan, lain kali poppa akan berhati-hati."

"Lihat aku." gumam si bocah. Ia menyingkirkan tangan besar Kim Taehyung dari kepalanya. Menaruh selimutnya di atas meja, Kwonnie lalu merebahkan dirinya di sofa. Ndusel-ndusel sudut antara dudukan dan sandaran sofa. Setelahnya, ia melirik pria dewasa di sana. "Lakukan seperti ini."

Balita menggemaskan lalu menggelindingkan tubuhnya hingga saat bokong dan punggungnya menyentuh pinggiran sofa, ia langsung memasang wajah serius. Tangan dan kakinya bergerak dengan begitu ahli, tangan dan kaki kirinya melebar, sementara bagian kanannya ditekuk. Pada akhirnya, Kwonnie mendarat di lantai dengan tumpuan lutut kanan, jemari kakinya juga ditekuk untuk menyangga hingga lututnya tidak menanggung beban terlalu berat. Tubuhnya yang agak condong ke depan juga disangga oleh lengan kanannya yang menapak lantai. Kaki kirinya ditekuk dengan lutut yang sedikit menjauh dari tubuhnya, sementara tangan kirinya direntangkan untuk menjaga keseimbangan.

"Superhero Landing." ucapnya tegas, masih dengan raut yang begitu serius.

Kim Taehyung menahan tawa, cukup sulit memang. Tapi menahan dirinya untuk tidak berteriak karena putranya menggelinding bebas seperti itu jauh lebih memakan tenaga. Ia sungguh menahan nafasnya ketika Taekwon menjatuhkan dirinya seolah ia adalah Iron Man yang terjun bebas dari ketinggian. Ini mengerikan.

Untung saja jarak antara sofa dan meja pendek cukup lebar. Kalau tidak, dahi Kwonnie bisa menjadi korban. Atau mungkin, Jungkook sengaja menatanya seperti itu karena putranya begitu pecicilan.

"Lakukan superhero landing supaya tidak sakit saat menggelinding dari tempat tinggi." gumam Kwonnie sambil merapikan kaos Optimus-nya. Ia berucap seolah tengah mengucapkan quote paling berpengaruh sepanjang masa. "Momma mengajarkanku begitu."

Sekarang, pria Kim sungguh ingin tertawa karena membayangkan pemuda kesayangannya melakukan hal yang sama.

"Sekarang, paman coba lakukan." titah si kecil sambil menunjuk sofanya. Tangannya terulur mengambil selimut merah miliknya sebelum menyingkir. "Akan kuajarkan sampai kau bisa. Jadi tidak perlu memasang wajah menyeramkan saat jatuh."

Tidak.

Bagi Kim Taehyung, membayangkan dirinya menggelinding dan melakukan landing seperti bocah kesayangannya menjadi momok yang lebih menyeramkan ketimbang jatuh langsung dari sofa.

Ia tersenyum kaku. "Tidak, pama -poppa tidak usah mencobanya. Kwonnie saja yang jadi superhero, poppa mau jadi warga biasa."

Si balita menggeleng, membuat rambut lurusnya bergoyang. Menaruh selimutnya di meja, ia lalu menarik lengan besari pria Kim, memaksanya untuk tiduran di sofa. "Cepat lakukan mumpung aku baik hati mau mengajari."

Mumpung aku baik hati…

Benar juga, mumpung putranya mau berinteraksi dengannya. Taehyung harus membuang gengsi dan harga dirinya demi mendekati Jeon Taekwon. Maka Kim muda dengan bersemangat langsung merebahkan dirinya. Tapi sesuatu membuatnya tak berjalan sesuai rencana.

"Sayang, sofanya penuh dengan tubuh poppa. Kalau begini, poppa tidak bisa menggelinding." Taehyung memasang senyumnya, menunjuk sisa dudukan sofa yang hanya beberapa sentimeter, sementara kakinya yang tidak muat bergerak-gerak di udara.

Terlihat konyol memang, tapi tidak apa…

"Huh… kenapa harus tinggi-tinggi." gumamnya kesal. Kwonnie mengalihkan pandangannya ke segala arah, lalu berakhir pada sebuah pintu yang ditempel dengan gantungan kepala Iron Man. "Besok aku juga akan tinggi sekali mengalahkan paman."

Pria Kim tersenyum. Putranya benar-benar menggemaskan.

"Ikut aku ke kamar. Kau boleh pakai kasurku untuk menggelinding."

Kim Taehyung tersenyum kaku. Ternyata hari ini ia memang harus menggelinding. Maka dirinya berjalan mengikuti langkah kaki si bocah untuk memasuki sebuah kamar dengan nuansa merah. Tidak banyak barang di sana. Hanya satu kotak mainan yang rapi tertata di sudut ruangan. Sebuah almari berwarna coklat dan meja kecil, lengkap dengan kursinya. Di dinding, tergantung beberapa foto Kwonnie beserta ibunya yang tersenyum bahagia.

Sebuah foto menarik perhatiannya. Foto Jungkook yang tengah duduk. Pemuda itu menunduk, menyentuhkan ujung hidungnya ke hidung mungil bayi yang dipangkunya. Bayi dengan selimut putih itu adalah Taekwon, dan Taehyung merasa hatinya teriris saat ia menyadari betapa banyak perkembangan putranya yang ia lewatkan. Bahkan ia tidak tahu sang putra ternyata adalah superhero yang melakukan landing mengagumkan saat menggelinding.

Ia tersenyum lebar saat mendapati masterpiece sang putra yang telah ia bingkai, kini tergantung di sebelah kiri kasur single Kwonnie. Benda itu terlihat sempurna berada di kamar ini.

"Paman… cepat lakukan. Kalau momma tau aku bermain di kamar, nanti bisa marah-marah." ucap Kwonnie sambil menunjuk-nunjuk kasurnya.

Taehyung mau tidak mau menurutinya. Ia merebahkan dirinya di sudut ranjang. Kwonnie langsung menjauh, memberi ruang bagi ayahnya untuk melakukan pendaratan.

"Ingat, gunakan lutut dan kaki sama-sama. Kalau tidak, nanti lututnya sakit. Jangan lupa tangannya dipakai juga."

Kim muda mengangguk. Ia tersenyum lebar mendengar suara sang putra yang terdengar antusias.

"Tangan dan kaki yang satunya jauhkan dari tubuh, tapi jangan jauh-jauh agar pose superhero landing-nya oke."

"Siap." ucap si pria dewasa mantab.

"Oke. Lakukan!"

Dan Taehyung mulai menggelindingkan tubuhnya. Benar-benar menggelinding seperti yang dilakukan putranya tadi. Sialnya, ia tidak bergerak tepat waktu hingga mendarat di bokong dan punggungnya. Taehyung memang masih bisa membalik tubuhnya dan melakukan pose yang oke. Tapi tetap saja, punggungnya terasa sakit.

"Bagaimana?" tanyanya penuh harap. Dalam hati ia tahu bahwa yang dilakukannya sama sekali tidak keren, salah. Tapi ia sungguh ingin mendengarkan koreksi dari bocah yang tengah mengajarinya. Ia ingin mendengarkan suara putranya yang menggemaskan.

"Paman payah." ucapnya cepat. Kwonnie lalu melompat ke kasurnya, kembali melakukan aksi penggelindingan hingga mendarat sempurna ala pahlawan super, lalu menatap paman-nya yang malah tersenyum. "Harus begitu. Jangan sampai bokongnya jatuh, nanti sakit."

Ia. Kim Taehyung tahu, rasanya memang sakit.

Tapi terjatuh berulangkali demi mendengarkan ocehan putranya bukanlah ide yang buruk.

Maka ia melakukannya lagi. Menggelinding dan mendarat dengan punggungnya berulang kali. Sebanyak itu pula Kwonnie mengomeli. Namun hanya dua kali Taehyung membiarkan putranya memberi contoh, selanjutnya ia melakukan sendiri. Sejujurnya, ia merasa khawatir.

Taekwon yang merasa bosan karena sang paman terus-terusan salah hanya memasang wajah cemberut, merebahkan dirinya di karpet. Ia memiringkan tubuhnya, memeluk selimut sambil terus mengawasi.

Menyadari perubahan pada putranya, pria Kim yang sekali lagi mencoba, langsung melakukannya dengan benar. Tentu saja yang terjadi adalah sebuah pendaratan sempurna diiringi dengan ekspresi wajah ala Captain America.

Si bocah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya bak dosen yang puas dengan hasil kerja mahasiswa. Setelahnya, ia menguap lebar. Melihat itu, Taehyung berinisiatif untuk membopong tubuh sang putra, membawanya ke kasur dan menidurkannya.

"Uhh.. jangan gendong-gendong." protesnya dengan wajah yang mengantuk. Tangan kirinya mengucek mata, sementara yang kanan memegangi selimutnya.

"Jangan tidur di lantai, nanti kau masuk angin." balas Taehyung santai. Ia mulai mengusap dahi Kwonnie.

Sepertinya bocah itu benar-benar mengantuk karena hanya mencoba menyingkirkan tangan besar ayahnya tanpa tenaga, tanpa ucapan protes juga. Setelahnya, usapan jemari pria Kim di dari kening hingga ke sela-sela alisnya berhasil membuat putra tunggalnya bersama Jungkook tenang. Tak berapa lama, deru nafas teratur terdengar dari sang putra.

Tuan Muda Kim tersnyum simpul. Dipakaikannya selimut mungil itu ke tubuh sang putra. Setelahnya, ia mengecup lembut keningnya. "Selamat tidur, sayang. Bangun nanti, panggil aku poppa, ya?"

"Hyung?"

Taehyung menolehkan kepalanya saat sebuah suara memanggil dari pintu. Jungkook berdiri di sana, mengulum senyum.

"Kupikir kemana, ternyata kalian di sini." sang ibu berjalan mendekat, ikut mengelus perut putranya yang bergerak naik-turun perlahan seiring dengan deru nafas teraturnya. "Apa yang kalian lakukan?"

"Dia mengajariku cara melakukan superhero landing."

"Superhero landing?" Jungkook membeo. Mengeryit heran saat pria Kim malah terkikik geli. "Kenapa tertawa?"

"Katanya kau yang mengajari Kwonnie untuk melakukannya agar tidak jatuh saat menggelinding." sebelah tangan Taehyung terulur untuh meraih wajah pemuda kesayangannya sebelum mengecup pipinya lembut. "Kau tak kalah menggemaskannya dari putra kita."

"Astaga… anak ini." Jeon muda memijit pelipis dengan tangan kirinya, lalu merebahkan diri di samping sang putra. "Padahal aku hanya melakukannya sekali saat turun dari kasur dengan tergesa-gesa. Kubilang jangan melakukannya karena itu berbahaya. Tapi dia tetap melakukannya berulang kali, dan sekarang malah mengajarimu?"

Taehyung terkekeh, ikut merebahkan diri dan memeluk tubuh kedua orang yang amat dicintainya. "Tidak apa. Dia sangat ahli. Aku bahkan rela melakukan kegagala berulang kali agar superhero yang satu ini mengajariku lagi dan lagi."

"Awas saja kalau dia menangis karena jatuh. Kau yang akan kumarahi." Jungkook memasang raut kesalnya, memiringkan tubuh untuk menatap pria pujaannya yang tengah tersenyum.

Baru saja ingin mengucapkan sesuatu, ponsel pintar di sakunya berbunyi. Taehyung dengan decakan kesalnya langsung mengambil benda itu.

"Kau melakukan superhero landing dengan itu di sakumu? Dasar!" Jeon muda mendelik. "Kau bisa merusaknya."

Yang dimarahi hanya menunjukkan cengiran tanpa dosa. Ia lalu menekan ikon berwarna hijau di layar ponselnya. "Ada apa?"

Jungkook memilih untuk mengabaikan percakapan pria di hadapannya dan lebih terfokus pada sang putra yang tertidur pulas. Tangannya meraih selimut yang dilipat di bawah bantal, lalu memakaikannya ke tubuh Kwonnie, menumpuk selimut merah kesayangannya.

"Baiklah.. baiklah… aku akan kembali ke hotel. Masih ada satu jam kan? Tenang saja." setelah mengucapkan itu, Taehyung berdecak kesal.

"Kenapa, hyung?" mau tidak mau, pemilik surai tembaga merasa penasaran juga.

"Ada rapat di kantor satu jam lagi. Aku harus hadir walau hanya melalui sambungan internet. Jadi aku harus kembali ke hotel untuk bersiap bersama Yoongi." pemilik surai jelaga langsung memeluk gemas tubuh yang terlelap, lalu mencium pipinya dalam. "Poppa pergi dulu. Besok poppa akan kembali lagi."

Jungkook terkekeh melihat interaksi ayah-anak itu, seolah keduanya tidak memiliki masalah sama sekali. Ia tersenyum lebar untuk menutupi perih di hatinya. Setelahnya, ia beranjak mengikuti Taehyung yang telah melakukannya terlebih dahulu.

"Apa aku perlu memasang wifi di kedaiku agar kau bisa rapat di sini?"

Pria Kim berbalik saat mereka sampai di luar kamar. Ia langsung memeluk tubuh yang tengah menutup pintu kamar putranya. "Tidak perlu. Aku suka suasana hangat di kedaimu, dimana orang-orang ngobrol dengan temannya, bukan malah bermain ponsel."

"Tangan." tegur Jungkook saat kedua tangan jahil Taehyung mulai merambat naik untuk menyentuh dadanya.

Sang dominan berdecak sebal. "Salahmu terlalu sexy."

"Sexy dari mana?" pemuda Jeon terkekeh, ia berbalik untuk balas memeluk pria pujaannya. "Tubuh seperti ini dibilang sexy?"

"Lalu harus kusebut apa, hm? Menggairahkan -aww! Jungkook! Aduh!"

Jeon Jungkook yang sedang kesal itu terkadang sangat ganas. Ia akan mencubit habis-habisan sambil tersenyum lebar. Dan Kim Taehyung sudah beberapa kali menjadi korbannya.

"Jangan bilang begitu. Aku jadi malu." gumam yang lebih muda pada akhirnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Taehyung, memeluknya erat.

Taehyung hanya terkekeh. Ia memutuskan untuk diam dan menikmati hangatnya pelukan hangat pemuda Jeon.

"Tadi Kwonnie menyelimutimu dengan selimut favoritnya. Dia pasti sangat menyayangimu."

"Seliut kecil berwarna merah itu?"

Jungkook mengangguk singkat. Ia terkikik geli kala merasakan kecupan-kecupan ringan mendarat di lehernya. Tubuhnya menegang saat mendengar suara bernada rendah yang berucap serius.

"Aku akan terus berusaha agar dia mengakuiku sebagai ayahnya." Taehyung menjauhkan tubuh Jungkook, ditatapnya lekat manik sekelam malam milik pemuda Jeon. "Simpan air matamu untuk merayakan kebahagiaan kita. Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan bertanggung jawab atas seluruh air mata yang kau keluarkan. Kupastikan mereka tidak akan keluar karena alasan kesedihan."

Jungkook tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. "Kau menyebalkan. Ucapanmu malah membuatmu ingin menangis."

"Tapi jangan menangis sekarang." bisik yang lebih tua seraya mengusap sudut mata kekasihnya. "Ada rapat penting yang harus dihadiri, aku tidak akan bisa menenangkanmu nanti."

"Kau memang tidak romantis.. ahh!" Jeon muda memekik kala merasakan rematan nakal di pinggangnya. Ia mendelik ke arah pria yang memeluknya, memukul ringan pundaknya. "Mesum!"

Taehyung terkekeh, "Kalau aku tidak mesum, Kwonnie tidak akan ada."

Wajah Jungkook merona hebat. Ia memejamkan mata saat Taehyung saling menempelkan bibir mereka. Dirasakannya lumatan lembut di sana, penuh perasaan. Baru juga akan membuka mulutnya saat Kim muda menggigit bibir bawahnya, sebuah suara membuat keduanya terlonjak hingga gigi mereka berbenturan.

"Mommmaaaaaaaaa!" Kwonnie berteriak dari dalam kamar, mencari ibunya.

"Fuck!" gigi Kim Taehyung terasa ngilu. Ia bahkan menyantuh gusinya untuh memastikan apakah berdarah atau tidak. Untungnya, tidak. Tanpa ia sadari, seseorang menatapnya dengan mata yang membola.

"Hyung… apa kau baru saja mengumpat?"

Jantung pria Kim seolah berhenti berdetak. Firasat yang ia miliki mengenai mengumpat nampaknya benar sekali. Perlahan ia menatap Jungkook, lalu menunjukkan senyum kotaknya. Grogi.

"Apa kau mengumpat?" ulangnya lagi.

Pewaris Kim gelagapan. "Ahh.. itu. Aku tidak sengaja. Maaf…"

"Awas saja kalau umpatanmu samapai didengar Kwonnie." gumamnya kesal. Ia menarik telinga Taehyung main-main."Aku akan benar-benar marah kalau dia menirukan umpatanmu."

Kim Taehyung tertawa canggung. Ia hanya bisa berharap agar putranya melupakan ucapan kasarnya ketika terjatuh tadi.

"Mommmaaaaa! Moommmaaaa! Temani akuuuuu!"

"Y -ya sudah, aku kembali ke hotel dulu. Kau masuklah temani putra kita."

Jungkook mengangguk, dikecupnya singkat bibir pria pujaannya. "Maafkan Kwonnie karena mengganggu. Dia memang sering mencariku kalau terbangun saat tidur siang. Mungkin dia akan tidur lagi karena tadi baru sebentar."

Taehyung hanya mengangguk.

"Semoga sukses. Maaf karena tidak bisa mengantarmu sampai depan."

"Santai saja, aku tidak mau ppangeran kecil kita mengamuk. Masuklah dan temani dia."

Dan dengan itu, Jeon Jungkook masuk ke kamar putranya, meninggalkan Kim Taehyung yang berdiri kaku di depan pintu. Masih memasang wajah blank, ia berjalan meninggalkan kedai Jeon dengan pikiran yang berkecamuk. Di dalam hati, ia merapal mantra agar sang putra tidak mengingat kejadian saat dirinya terjatuh dari sofa. Mengingat kejadiannya boleh, bagian ucapan kasarnya jangan.

"Mati aku! Jungkook bisa mengamuk kalau sampai Kwonnie ingat kata bangsat, shit, dan lain sebagainya."

.

.

.

TBC

.

.

Ahahahaha…. Tiger udah tulis genre humor kan? Iya dong… sudah.

Btw, kata-kata Taehyungie soal air mata itu menjiplak dengan sedikit gubahan dan bumbu dari kata-katanya Hobiebaby… ehehehe

Wah…. ternyata malah ff ini yang bisa diupload duluan

.

.

Akhir kata,

Review pleaseee