"Momma, aku tidak mau brokoli." keluh seorang balita sambil menggembungkan pipinya kesal. Ia menggunakan ujung sendoknya untuk menyingkirkan sayuran berwarna hijau itu ke pinggir piring. Setelahnya, ia sibuk menyendok potongan sosis berbentuk gurita yang dimasak menggunakan saus teriyaki oleh sang bunda.

Jungkook menghela nafas. Ia menghentikan aktifitas makannya sendiri hanya untuk menggeser brokoli yang ada di pinggir piring putranya supaya kembali ke tengah. "Brokoli bagus untuk kesehatanmu, sayang. Nanti kau akan cepat tumbuh tinggi. Brokoli juga akan membuatmu kuat seperti Iron Man."

"Tidak mau, aku sukanya Optimus Prime." Kwonnie mendelik untuk melirik momma-nya, menggunakan sendoknya untuk berperang dengan milik pemuda bersurai honey, mencoba kembali menyingkirkan brokoli dari piringnya. Sungguh, Jeon Taekwon sangat menyukai warna hijau, tapi tidak untuk hijau brokoli. "Aku mau berikan brokolinya untuk momma, momma berikan sosis gurita momma untuk Kwonnie. Itu namanya saling membantu."

"Astaga…" tentu saja. Kwonnie lebih menyukai daging daripada sayuran, sama seperti Jungkook. Tapi ia tidak akan membiarkan putranya tumbuh menjadi karnivora. "Brokoli baik untukmu, sayang. Makan brokoli yang banyak, dan kau akan tumbuh menjadi namja yang keren seperti poppa."

"Brokoli membuat keriting, tapi dia tidak keriting…"

Jungkook tidak tahu apakah putranya mengeluh atau memberi informasi, tapi ia tersenyum saat si menggemaskan akhirnya memakan sayuran di piringnya, walau dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut. Satu lagi yang Jeon muda tahu, Taekwon benar-benar menganggap Kim Taehyung sebagai role model yang keren. Buktinya, bocah itu diam-diam memperhatikan dan menginginkan untuk bisa menjadi seperti pria Kim.

"Bentuknya memang keriting, tapi brokoli tidak akan membuat rambutmu keriting." gumam yang lebih tua. Tangan kanannya terulur untuk mengusap noda saus di pipi putranya. "Malahan, brokoli membuat tubuhmu kuat. Kau tidak akan gampang sakit."

"Apa brokoli akan melawan bakteri?" sahut Kwonnie cepat. Mata bulatnya menatap sang ibu antusias saat ucapan seseorang kembali terlintas di kepalanya.

"Bakteri?" pemuda Jeon membeo. Beberapa iklan susu atau sabun mandi memang sering menyelipkan kata sistem imun, bakteri, kuman, dan lain sebagainya. Namun sang putra tidak pernah menanyakan hal itu padanya, jadi ia merasa heran saat tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja.

"Paman Tae bilang, plester yang sudah terkena luka tidak boleh kupakai karena nanti bakterinya membuatku sakit." si balita melompat turun dari kursinya, lalu berjalan memutar untuk menghampiri Jungkook yang duduk di seberang meja. Kedua telunjuk mungilnya lalu menyentuh masing-masing lututnya yang tidak tertutup karena ia hanya menggunakan celana pendek berwarna hijau tua, senada dengan sayur keriting yang barusan ia makan. "Kemarin aku memakai plester luka sisa Paman Tae di sini."

Jeon Jungkook mengulum senyum. Ia segera mengangkat tubuh sang putra, lalu mencium gemas kedua pipinya. Melihat Kwonnie yang pintar dan mengingat dengan baik apa yang diajarkan ayahnya membuat sang ibu senang. Sangat senang. Bagaimanapun, bocah itu sungguh selalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh poppa-nya.

Taekwon mengeluh, kedua tangan mungilnya mencoba untuk menyingkirkan wajah ibunya yang terus dan terus menciuminya. "Uhh… sesak! Aku bisa kempes kalau dipeluk terus-terus."

Jungkook terbahak. Ia memangku si balita menghadapnya, kemudian disingkirkannya piring kosong miliknya sebelum menarik piring sang putra yang masih tersisa sedikit nasi dan tiga potong brokoli.

"Brokoli akan membantumu melawan bakteri, makanya kau harus makan yang banyak, agar bakterinya kalah." Jungkook menyuapkan sepotong brokoli ke mulut putranya yang langsung mengangguk ragu dan membuka mulutnya malas-malasan.

Walau begitu, Kwonnie mau memakannya. Kedua tangannya terulur untuk memainkan kancing kemeja yang dipakai ibunya. "Memangnya bakteri itu apa?"

"Hmm… apa ya…" nada bicara Jungkook menggantung. Ia bisa saja menjelaskannya secara akademis, lagipula ia sedikit banyak masih mengingat pelajaran biologi ketika sekolah. Tapi Taekwon-nya jelas tidak akan mengerti. Yang ada, bocah itu akan semakin bertanya karena bingung. Maka ia harus mencari kalimat sederhana yang akan membuat si kecil mengerti. "Kwonnie tahu kalau Iron Man dan teman-temannya memiliki musuh?"

Sang buah hati mengangguk. Kedua mata bulatnya menatap Jungkook antusias, sementara mulutnya terbuka untuk menerima suapan selanjutnya.

"Nah, tubuh Kwonnie juga memiliki musuh, namanya kuman dan bakteri. Itu yang membuatmu sakit."

"Apa bentuknya mengerikan seperti monster?"

Kali ini Jungkook terkekeh. Bentuk bakteri memang mengerikan, untungnya, mereka berukuran mikroskopik, jadi tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. "Mengerikan seperti monster, monster yang saangaaaaaattt keciiiil. Kwonnie bisa melihat seperti apa bentuk bakteri kalau sudah berada di sekolah menengah. Di sana, kau akan belajar seperti apa bantuk bakteri dan bagaimana mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu."

"Bagaimana mereka masuk ke tubuh Kwonnie? Tidak mau ada monster. Nanti aku jadi monster juga."

Pemuda Jeon tertawa geli.

"Mereka bisa masuk kalau tidak cuci tangan sebelum makan. Atau saat kau menyentuh sesuatu yang kotor dan tidak mencuci tangan setelahnya. Yang dibilang poppa benar juga, luka yang berdarah akan sakit ketika dibersihkan, makanya bakteri dan kuman suka berada di sana. Mereka mengira orang yang terluka tidak akan membersihkannya. Jadi kau tidak boleh menyentuh luka sembarangan agar bakterinya tidak berpindah padamu."

"Uhh…" keluh si balita dengan ekspresi horornya yang lucu. "Tapi aku kemarin pakai plester luka yang ada bakterinya…"

Jungkook yang gemas melihat wajah sang putra langsung memeluknya erat. "Makanya kau harus banyak makan sayur agar tubuhmu kuat dan sehat, jadi bakteri dan kuman tidak akan bisa membuatmu sakit. Mengerti?"

Taekwon mengangguk cepat, setelahnya ia meminta sang bunda untuk menambahkan beberapa potong brokoli untuknya. Jungkook tentu dengan senang hati mengabulkannya.

Jungkook menyanyikan opening Pororo bersama putranya yang menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, masih dengan suapan brokoli di sela kegiatan itu. Sebagai seorang ibu, tentu pemilik bola mata obsidian merasa sangat senang ketika putranya dengan suka rela dan tanpa paksaan mau memakan sayurannya.

Mereka benar-benar menikmati waktu sarapan berdua hingga tiba-tiba Taekwon berhenti bernyanyi dan menatap Jungkook dengan raut wajah serius.

"Apa bakteri berteman dengan bangsat?"

"Apa?" mata Jungkook membola. Ia mendengar umpatan keluar dari bibir mungil putranya, dan ia sungguh berharap bahwa telinganya bermasalah.

Ia sungguh menyukai kata pertama yang Taekwon ucapkan, tapi ia tidak akan pernah mengharapkan umpatan kasar pertama yang keluar dari bibir putranya.

"Bangsat."

Jantung Jeon Jungkook hampir berhenti saat sang putra mengatakannya lagi.

Kepadanya.

Jeon Taekwon mengumpat kepada ibunya.

Jungkook sampai kehilangan kata-kata.

"Paman Tae bilang bangsat, punggungku sakit… begitu. Apa bangsat juga suka membuat sakit seperti bakteri? Apa brokoli dan sayuran bisa melawan bangsat juga?" Kwonnie benar-benar penasaran, lagipula bakteri dan bangsat terdengar cukup mirip. Mungkin saja mereka malah bersaudara seperti Paman Tae dan Paman Yoon Yoon.

Jungkook tersenyum lebar. Hambar. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi jelas Kim Taehyung adalah tersangka yang mengenalkan umpatan bangsat kepada sang putra.

"Momma… kenapa diam? Apa bangsat lebih jahat dari bakteri?"

Telinga Jungkook berdengung. Taekwon jelas tidak tahu bahwa frasa yang barusan ia ucap adalah sebuah umpatan, kata kotor yang tidak pantas. Maka ia harus dengan sangat hati-hati, entah bagaimana caranya, meminta si balita untuk tidak mengucapkannya lagi.

"Sayang… kau tidak boleh mengatakan itu."

Taekwon mengeryit saat sepasang netranya menangkap senyum lembut dari sang ibu. Ia semakin bingung apakah bangsat adalah sesuatu yang baik, karena membuat ibunya tersenyum, atau jahat, karena Paman Tae-nya mengucapkan kata itu sambil marah saat terjatuh kemarin.

"Maksudnya, bangwwufff?"

Jungkook sudah terlebih dahulu mencubit bibir si kecil main-main sebelum kata laknat itu terucap sempurna. Ia lalu mengambil nafas dalam-dalam. "Kwonnie sayang, dengarkan momma, hm?"

Mengangguk kecil, kedua tangan Kwonnie lalu melepas jemari sang bunda di bibirnya.

"Yang Kwonnie ucapkan itu bukan kata-kata yang baik. Seseorang mungkin saja terluka kalau Kwonnie mengatakannya."

"Terluka?" si bocah membeo dengan wajah kaget. "Apa momma terluka saat aku menyebutkan bangsat tadi?"

Jungkook hanya tersenyum canggung, mengeratkan pelukannya ke tubuh sang putra tanpa melepas tatapan mereka. "Jangan katakan lagi, ya? Momma mohon…"

Putra tunggal Jeon mengangguk cepat, membuat poninya bergoyang menggemaskan. Ia lalu merangkak ke tubuh momma kesayangannya, memeluk lehernya erat sebelum mencium pipinya lembut. Setelahnya, ia berbisik perlahan. "Maafkan Kwonnie… Kwonnie tidak akan bilang-bilang kata itu lagi agar momma tidak terluka."

Menurut Kwonnie, bangsat lebih kuat dan lebih mengerikan ketimbang bakteri. Kalau bakteri harus masuk ke tubuh untuk membuat seseorang sakit, bangsat bisa melakukannya dengan lebih mudah karena momma-nya bilang seseorang bisa terluka kalau mendengar kata bangsat yang diucapkan.

Ini mengerikan.

Sementara pemuda Jeon mengangguk, menunjukkan senyum lebarnya sebelum balas memeluk sang putra.

Benar-benar mirip.

Cara Jeon Taekwon menunjukkan penyesalannya kepada Jungkook, juga caranya meminta maaf benar-benar mirip dengan sang ayah.

Jeon Jungkook sangat menyukai setiap kemiripan yang ditemukannya pada pasangan ayah-anak itu, tapi tidak dengan umpatan yang terucap dari mulut mereka…

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for the Taekwon.

Ambigu, typo tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part III: The Scratch

Kim Taehyung menggeliat dalam tidurnya. Ia merasa terusik dengan bunyi ponselnya yang memenuhi ruangan. Masih dengan mata yang terpejam, sebelah tangannya terulur, meraba nakas di samping ranjangnya asal.

"Ya?" gumanya dengan suara parau saat ia berhasil meraih ponsel pintar, lalu menggeser ikon berwarna hijau.

"Selamat pagi, Tuan Muda Kim. Apa tidurmu nyenyak semalam?"

Taehyung tersenyum lebar begitu mendengar suara merdu yang sangat ia suka. Ia menendang selimut tebalnya sebelum kembali bicara. "Pagi, sayang. Tidurku sangat nyenyak. Kau bagaimana? Apa Kwonnie sudah bangun?"

"Sangat nyenyak. Aku bahkan mimpi indah. Tapi…" Jeon muda sengaja menggantung kalimatnya di seberang sana. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Seseorang mengajarkan putraku untuk mengumpat."

Pria bersurai kelam menelan ludahnya susah payah. Ia membuka mata perlahan, dijauhkannya ponsel pintar dari wajahnya.

"Sial." Ia kembali mengumpat, kali ini tanpa suara. Setelahnya ia kembali mendekatkan ponsel ke telinga, lalu tertawa canggung.

"Jangan main-main, hyung. Aku tahu kau yang mengajarinya mengumpat! Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku melarangmu bertemu dengan Kwonnie."

"Jungkook… jangan bercanda." tangan kanan pria Kim mengacak surainya yang memang sudah berantakan. "Kumohon, jangan memisahkan aku dari anakku."

"Jangan berlebihan!" bentak suara di seberang. Ia terdengar sangat sangat kesal. "Pokoknya kau tidak boleh menemui putraku untuk beberapa hari ke depan!"

Biasanya, Kim Taehyung tidak akan pernah suka dibentak, kecuali oleh Min Yoongi yang notabene ahli membentak sejak lahir. Malahan, pria Kim sempat mengira wakilnya itu lahir dan langsung membentak dokternya, bukannya menangis.

Apapun itu, sekarang ini Taehyung tidak akan marah karena sebagai seorang ayah, Taehyung memutuskan untuk mulai belajar bagaimana cara mengasuh seorang anak. Menurutnya, saat ini Jungkook hanya menunjukkan keinginannya agar sang anak mendapatkan bimbingan yang layak dari poppa-nya.

Yeah… bagaimanapun ini salah Kim muda juga karena sudah mengumpat sembarangan.

Ia hanya diam, membiarkan pemuda kesayangannya menenangkan diri. Sekaligus mencoba untuk meredam sisi egoisnya yang sejak tadi ingin balas membentak.

"Kook…" gumamnya setelah beberapa saat. Pemilik surai kelam memutuskan untuk mencoba menjelaskannya baik-baik. "Sebenarnya aku ingin berlari ke rumahmu agar kita bicara empat mata. Tapi sepertinya kau malah akan mengusirku, jadi kita bicarakan melalui telefon saja. Kumohon dengarkan aku, hm?"

Tidak ada jawaban, dan Taehyung menyimpulkan reaksi tersebut sebagai sebuah iya.

"Aku terjatuh dari sofa saat sedang tidur. Ketika itu Kwonnie sedang menggambar dan sepertinya tidak sengaja mendengar apa yang kuucapkan." pria yang lebih tua mencoba memulainya setenang mungkin walau sejujurnya ia takut luar biasa. Ia takut Jungkook-nya benar-benar marah dan melarangnya bertemu sang buah hati untuk beberapa hari ke depan.

Itu artinya, ia tidak akan bertemu sang putra untuk, paling tidak, dua minggu.

Dan pemuda kesayangannya benar-benar tidak memberikan tanggapan apapun. Pria Kim langsung memijit pelipisnya kasar, mencoba untuk menghilangkan rasa pusing yang datang tiba-tiba akbiat menahan amarahnya terlalu lama.

"Sayang, aku tahu aku salah. Kau pasti tahu kalau mengumpat adalah salah satu hobiku. Sungguh aku sedang berusaha untuk menghilangkannya. Coba kau ingat, saat ada Kwonnie, mana pernah aku mengumpat? Bahkan sebelum tahu kalau dia adalah putraku…" pewaris Kim Enterprise menghela nafas berat, mengingat betapa tololnya ia, dan betapa sia-sia waktunya selama ini. "Aku berusaha mati-matian untuk tidak mengumpat. Tapi saat itu diluar kendaliku. Aku sangat pusing, kurang tidur dan banyak pikiran. Aku benar-benar kelepasan."

Kim muda terdiam, memberikan waktu kepada Jungkook untuk mencerna kata-katanya, memahami keadaannya saat itu. Ia berharap pemuda Jeon mau menarik kembali kata-katanya soal Kim Taehyung yang dilarang menemui Taekwon.

"Kook… aku ingin bertemu denganmu setelah kau merasa baikan, kalau bisa hari ini. Aku harus mengatakan sesuatu, dan ini tidak bisa melalui telefon. Aku harus mengatakannya secara langsung agar kau tidak salah pa -"

"Dua puluh menit lagi aku tiba di tempatmu. Beri aku waktu untuk membuatkan Kwonnie susu, tapi kau tetap belum boleh bertemu dengannya."

Taehyung terkekeh ringan mendengar sahutan cepat yang diucapkan sang kekasih. "Baiklah, kau boleh memukulku atau mengumpatiku dengan bebas karena tidak ada Kwonnie nanti."

Terdengar dengusan dari seberang sana, dan Kim Taehyung masih juga tertawa ringan.

"Terima kasih sudah mau memenuhi permintaan egoisku."

"Cerewet."

"Aku tahu."

"Menyebalkan!"

"Aku juga mencintaimu."

"Bo -"

"Mommaaa! Mana susunya? Lamaaaaa!" sebuah suara cempreng terdengar nyaring dari kejauhan.

Taehyung semakin tertawa kala Jeon muda menghentikan umpatannya di saat yang tepat. Kalau tidak, Jeon Taekwon pasti akan mendengarnya, dan sang bunda pasti tidak menginginkan hal itu.

"Iya, ini momma sudah buatkan. Kwonnie minum sambil duduk, ya?"

"Aku mau minum di depan bersama Paman Yumi."

"Boleh… perlu momma bawakan?"

"Tidak, terima kasih. Kwonnie kan jagoan, Kwonnie bisa bawa sendiri."

Taehyung terdiam hanya untuk mendengarkan percakapan sang putra dengan pujaan hatinya.

Kalau saja Taekwon seceria itu di hadapannya seperti yang selalu dilakukannya di hari-hari ketika si bocah belum tahu bahwa Kim Taehyung adalah ayah kandungnya…

Pria bersurai hitam menghela nafasnya kasar. Ia tersenyum miris. "Titip salam dan cium untuk putra kita. Aku akan cuci muka sebentar."

"Hn."

Lagi-lagi tertawa, namun kali ini canggung dan terkesan hambar.

"Aku mencintaimu, Kook. Maaf aku pusing sekali, aku harus menutup telfonnya."

Dan tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Kim Taehyung memutus sambungan secara sepihak. Ia langsung membanting ponsel pintarnya ke kasur. Setelahnya ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menjernihkan pikirannya.

Hanya butuh waktu sepuluh menit baginya untuk mandi. Ia memakai kaos kutang berwarna hitam dan jogger pants abu-abu. Dengan handuk kecil yang tersampir di bahu, ia buru-buru membuka pintu, mengecek kalau-kalau Jungkook sudah datang.

Kim muda bernafas lega saat ia tak mendapati pemuda kelincinya di sana. Artinya, sang kesayangan tidak menunggu lama selagi ia mandi tadi.

Taehyung kembali masuk, mengeryit heran saat ponselnya kembali berbunyi. Tangan kanannya mengusak rambut basahnya dengan handuk, pria Kim meraih ponsel dengan tangan yang satunya. Dahinya berkerut ketika melihat nama yang tertera di layar sentuhnya.

Nama ayahnya ada di sana.

Dengan perasaan bingung, Kim Taehyung mengangkat panggilan untuknya. "Halo?"

"Kapan kau akan kembali dari Busan? Liburanmu terlalu lama."

Pria Kim mendengus mendengar suara berat itu. Ia memijit pangkal hidungnya perlahan, masih dengan sebelah tangan yang menahan ponselnya. "Aku ada urusan penting. Aku benar-benar harus berada di sini."

"Jangan bercanda. Kau melakukan pemborosan dengan terus-terusan tidur di hotel. Dan Yoongi juga malah ikut-ikutan. Mana tanggung jawabmu sebagai CEO, Kim Taehyung?"

Yang dipanggil langsung menggeram kesal. "Appa, aku bersumpah urusanku disini lebih penting dari urusan kantor. Kupastikan akan pulang setelah semuanya selesai. Lagipula Kim Enterprise masih milikmu, seharusnya kau juga masih memiliki tanggung jawab untuk mengurusnya."

Kali ini hanya dengusan kasar yang Kim muda dapatkan dari seberang sambungan.

"Aku janji urusan kantor tidak akan terbengkalai. Besok Yoongi kembali ke Seoul, lalu lusa aku akan pulang sebentar sebelum berangkat ke Jepang, tapi setelah itu aku kembali ke Busan."

"Kuharap kau bisa mendapatkan kesepakatan yang bagus di sana. Ini peluang emas untuk mengembangkan bisnis keluarga kita. Kau juga harus melihat outlet baru yang akan di buka, itu tugas yang kau hindari beberapa waktu lalu."

"Pasti."

"Itu baru anakku." terdengar kekehan bernada berat sebelum ayah dari Kim Taehyung melanjutkan. "Hubungi ibumu sesekali. Dia sangat merindukanmu."

"Padahal semalam kami ngobrol lama sekali sampai-sampai aku hampir ketiduran." keluh putra pewaris Kim. "Ya sudah… aku akan mengiriminya pesan nanti."

Setelahnya, mereka hanya berbasa-basi sebelum pada akhirnya Taehyung memutuskan sambungan. Ia memijit tengkuknya yang terasa pegal. Ayahnya benar, Kim muda sudah terlalu lama liburan. Kalau dipikir-pikir, pengeluarannya hanya untuk menginap di hotel sudah sangat banyak. Jungkook beberapa kali menawarkan agar Taehyung tidur di rumahnya saja, namun namja yang lebih tua memutuskan untuk menolak. Bukan soal fasilitas wi-fi yang tidak ada di sana karena ia jelas bisa menggunakan smart phone miliknya untuk tathering. Ia lebih mengkhawatirkan kemampuan pengendalian dirinya jika pemilik surai jelaga harus tidur di kamar yang sama dengan pujaan hatinya. Terlebih, ia tidak mau membuat putranya merasa tidak nyaman dengan kehadirannya yang terus-menerus. Menginap di guest house jelas bukan merupakan pilihan karena Tuan Muda Kim tidak suka beramah tamah dengan orang asing, selain untuk urusan kerja.

Tabungan terkuras bukan masalah asal Jeon Taekwon dapat menerimanya dengan baik. Toh, hotel tempatnya menginap menjalin kerja sama dengan perusahaannya, sudah pasti Kim Taehyung mendapatkan harga spesial.

Baru saja ingin merebahkan diri, seseorang mengetuk pintunya.

Ia pun membukanya dengan tergesa.

"Masuklah." ucap Kim muda dengan senyum lebar di wajahnya kala mendapati pemuda bersurai medu yang mengenakan kemeja putih, juga skinny jeans berwarna hitam berdiri di depan pintunya.

Jungkook melenggang masuk, wajahnya terlihat kesal. Walau begitu, Taehyung yang mengikutinya tidak merasa khawatir sama sekali.

Ada aura keibuan terpancar di sana. Ia benar-benar telihat seperti seorang ibu yang memarahi suaminya yang tidak becus mengurus anak mereka.

"Makan yang banyak, lalu minum obatmu." gumam yang lebih muda dengan nada datar. Ia meletakkan tas jinjing yang ia bawa ke atas meja di tengah ruangan, lalu mengeluarkan dua buah kotak bekal dari sana. Satu berwarna biru dengan isi nasi, satunya lagi berwarna merah dengan isi sayur brokoli dan sosis saus teriyaki yang terpisah oleh sekat. Setelahnya, ia mengambil sendok dan garpu sebelum menuangkan teh hangat dari termos kecil yang ia bawa. "Bangun sesiang ini, pasti kau belum sarapan. Tidak ada kopi karena kau harus minum obat agar tidak pusing."

Dan pria Kim tersenyum lebar, ia segera memeluk tubuh ramping pemuda dambaannya dari belakang. Diciumnya lembut pipi kanan sang kekasih. "Terima kasih, momma. Kau benar-benar istri yang hebat."

Pipi pemuda Jeon bersemu, ia memukul pelan lengan lancang pria yang berusia enam tahun lebih tua darinya, memberinya isyarat agar cepat duduk dan memakan sarapannya yang agak terlambat.

"Selamat makan." Pria bersurai gelap menunjukkan cengiran kotaknya sebelum mulai menyantap.

Memang, masakan Jungkook tidak seenak masakan koki dari restoran bintang lima, tapi selalu ada perasaan hangat di dada seorang Kim Taehyung sejak pertama kali merasakan masakan Jeon Jungkook.

Oh, kue buatannya memang sangat enak.

"Jangan senyum-senyum begitu." yang lebih muda menggerutu. Tangan kanannya terjulur untuk mengelap bibir pria kesayangannya menggunakan tissue. "Poppa dan anak sama saja, makannya berantakan."

Taehyung tertawa renyah. Ditariknya kedua pipi gembil pemuda bermata bulat ke segala arah. "Momma dan anak sama saja, sama-sama menggemaskan."

"Jangan sok akrab. Aku masih marah, kalau kau lupa." Jungkook mengerang protes, ia menepis lengan pria yang sedang mengunyah di hadapannya.

"Baiklah… Nyonya Kim. Aku mengaku salah karena mengumpat sembarangan. Dan kurasa, aku sudah menjelaskan alasannya." Taehyung memasukkan sesendok penuh nasi dan lauk ke dalam mulutnya, lalu mengunyah dan menatap Jeon muda dengan tatapan anak anjing yang dibuat semenyedihkan mungkin. "Aku benar-benar menyesal. Momma mau kan memaafkan poppa?"

Bukannya menjawab, Jungkook malah menyentil dahi yang lebih tua.

"Hoo… sudah berani padaku, hm?"

"Bodoh."

"Momma memarahi poppa karena mengumpat, tapi momma sendiri malah mengumpat."

"Kim Taehyung menyebalkan."

"Kim Jungkook menggemaskan."

"Astaga… hyung! Bisa-bisanya kau malah bercanda padahal putramu mengingat dengan jelas umpatan yang kau katakan! Kau mau dia hobi mengumpat sepertimu, huh? Mengatakan shit, bajingan, bangsat, dan teman-temannya saat tersandung batu? Orangtua macam apa kau?"

Taehyung tersenyum lebar di sela kegiatan makannya, benar-benar tersenyum sambil mengamati wajah memerah pemuda yang telah melahirkan buah hati yang lucu dan menggemaskan untuknya.

Jungkook marah, ia tahu itu. Tapi semburat kemerahan di pipinya jelas disebabkan karena rasa malu akibat ia yang memanggil si pemuda dengan panggilan momma.

"Aku tahu… aku akan menjelaskan ke Kwonnie agar dia tidak mengucapkan kata itu." Taehyung menjulurkan tangan kanannya, mengusap pipi Jeon muda yang tengah bergerak-gerak karena si empunya tengah berbicara, lebih tepatnya mengomel.

Pemilik surai sewarna madu hanya mendengus, malas menepisnya. Padahal ia berniat memasang poker face dan bersikap acuh agar Kim Taehyung memohon-mohon padanya dengan raut wajah melas karena mengira Jeon Jungkook marah besar. Nyatanya, si tuan muda malah menunjukkan sikap menggemaskan dengan puppy eyes yang ditunjukkan sambil mengunyah makanan.

"Menyebalkan."

Pewaris Kim Enterprise hanya terkekeh ringan melihat perubahan sikap namja manis yang menurutnya lucu. Ia berujar pelan. "Aku sungguh menyesal, Kook."

"Kwonnie mengira bangsat itu temannya bakteri."

Baru saja Taehyung ingin tertawa, Jungkook sudah terlebih dahulu memelototinya.

"Jangan tertawa!"

Percuma, pria Kim sudah berusaha menahannya namun ia tetap terbahak, bahkan hingga terbatuk sampai-sampai Jungkook harus membantunya minum dan memberikan pijatan ringan di tengkuknya.

"Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalanya, tapi sepertinya ia berpikir seperti itu karena kau mengucapkannya saat terjatuh." menghela nafas berat, Jungkook sama sekali tak menghentikan kegiatannya memijit tengkuk pria yang lebih tua. "Untung aku bisa meyakinkannya agar tidak mengucapkan kata itu atau seseorang akan terluka."

"Hah… putraku benar-benar lucu." gumam Taehyung lirih, tatapannya menerawang jauh, membayangkan bagaimana nantinya ia akan menghabiskan hari-hari menyenangkan jika si bocah menggemaskan sudah memaafkannya.

"Katakan hal penting apa yang ingin kau bicarakan. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan kedai dan Kwonnie sendirian. Pegawaiku pasti kerepotan." Jungkook memberikan sebutir obat sakit kepala kepada pria Kim, membiarkannya meminum benda itu dengan air.

Ia menunggu dalam diam saat raut wajah Kim Taehyung berubah. Ada perasaan resah di sana, Jeon muda entah bagaimana bisa mengetahuinya.

Kalau boleh jujur, ia merasa takut kalau-kalau pria yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan sebagai atasannya itu mulai bosan membujuk putra mereka. Apalagi barusan Jungkook malah menambah bebannya dengan memberikan larangan untuk menemui si balita.

"Lusa aku harus kembali ke Seoul." gumam Taehyung pada akhirnya, nada bicaranya terdengar serius.

"Kau tidak bersungguh-sungguh kan? Lalu aku bagaimana? Kwonnie bagaimana?"

"Ssttt…" Taehyung beranjak dari duduknya, menuntun pemuda kesayangannya untuk duduk di ranjang yang masih berantakan. Ditariknya tubuh berbalut kemeja putih itu hingga kedua kakinya menindih paha Kim muda, mereka duduk berhadapan. "Aku tidak meninggalkan kalian, sungguh."

Jungkook meremat lengan pria Kim yang memeluk pinggangnya. "Jangan tinggalkan aku dan Kwonnie."

"Aku tidak meninggalkan kalian, itu janjiku. Hanya saja aku harus pergi ke Jepang lima hari lagi. Tapi sebelumnya aku akan pulang ke rumah utama karena eomma merindukanku. Aku juga harus pergi ke kantor untuk mengambil beberapa berkas dan melakukan evaluasi. Mungkin hanya tiga atau empat hari aku berada di Jepang, tapi pulang dari sana, aku harus menghabiskan beberapa hari di Seoul untuk menjelaskan masalah kita kepada kedua orangtuaku, juga keluarga besar."

Tubuh Jungkook menegang mendengar alasan terakhir yang membuat Taehyung harus meninggalkan Busan.

Ya… Kim Taehyung memiliki orang tua, juga keluarga besar yang begitu terhormat, tidak seperti dirinya yang tidak punya siapa-siapa.

Jeon muda terkekeh ringan, menertawakan dirinya yang, bisa-bisanya, melupakan fakta itu.

Mendadak ia merasa begitu takut. Kim Taehyung menyatakan perasaan cintanya kepada Jungkook, mereka akan bersama. Min Yoongi, yang merupakan salah satu keluarga sang CEO, lebih tepatnya, sepupunya, sudah menerima Jungkook, bahkan sejak dulu. Yoongi sendiri yang bilang padanya.

Tapi bagaimana dengan kedua orang tua Kim Taehyung? Bagaimana dengan keluarga besar Kim yang begitu terhormat itu?

"Aku akan meyakinkan mereka." suara bernada rendah itu terdengar begitu yakin, sekaligus meyakinkan. Seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran sang kekasih, Taehyung dengan segala sikap tenang yang ia miliki langsung berucap tegas.

Jungkook balas memeluk erat ketika tubuh kekar di hadapannya merengkuhnya dalam sebuah dekapan hangat. Kedua lengan pria Kim bergerak perlahan, membawa Jungkook agar duduk di pangkuannya. Yang lebih muda semakin merapatkan tubuhnya, menenggelamkan wajahnya ke pundak sang tuan muda. "Aku takut, hyung."

"Ya… kau wajib merasa takut karena appa pasti akan menghajarku." Taehyung terkekeh ringan. Sebelah tangannya membelai punggung Jungkook lembut. "Makanya aku butuh waktu paling tidak, agar luka yang kudapat nanti mendingan sebelum aku bertemu kalian lagi, terutama Kwonnie."

"Apa kami merepotkan?"

"Hm?" yang lebih tua mencoba memastikan. Ia ragu dengan apa yang ditanyakan pemuda manisnya.

"Kau jadi harus di Busan lama, Kwonnie juga rewel jika bersamamu sekarang. Apa pekerjaanmu terbengkalai dan kau merasa kerepotan?" masih menenggelamkan wajahnya, Jeon muda bergumam. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin dari tubuh pria pujaannya. Aroma favoritnya.

"Bohong kalau aku bilang tidak kerepotan, tapi aku menikmatinya. Kau jangan khawatir karena semua masih bisa kukendalikan."

Jungkook mengangguk singkat. Mereka lalu terdiam selama beberapa saat. Aroma wangi buah apel dari rambut Jungkook benar-benar segar, ia menyukainya.

Dikecupnya singkat pipi Jeon muda sebelum Taehyung memutuskan untuk melepas dekapannya. Ia menjauhkan tubuhnya dari badan Jungkook, lalu menatap dalam sepasang manik kelam sang kekasih. "Jadi, apa kau masih akan melarangku bertemu dengannya? Paling tidak, kita tidak akan bisa bertemu selama dua minggu. Kuharap bisa lebih cepat, tapi bisa lebih lama juga, tergantung urusanku di Jepang, juga reaksi keluargaku nanti."

"Jadi sedari tadi, intinya hanya ingin bertemu Kwonnie?" namja bersurai madu mem-pout-kan bibirnya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada, pipinya menggembung.

"Ayolah… jangan cemberut begini." pria Kim mengecup singkat bibir menggemaskan Jungkook. "Jangan cemburu kepada putramu. Kau tetap si menggemaskan nomor satu buatku."

Dan pukulan main-main mendarat di bahu sang tuan muda.

"Aku hanya ingin berpamitan padanya, sekaligus membujuknya seperti biasa. Boleh, ya?"

"Tidak."

"Astaga, momma…" Taehyung mendengus, melepas pelukan di pinggang sang kekasih, lalu memalingkan muka.

"Hari ini kau istirahat."

Sebuah kecupan hangat mendarat di kening pewaris perusahaan Kim. Setelah itu, beban di pahanya perlahan menghilang.

"Yang namanya hukuman, tetap hukuman. Hyung sendiri yang bilang padaku." gumam Jungkook seraya berdiri dan merapikan pakaiannya. "Boleh mendapat keringanan, tapi tidak boleh dihapuskan."

"Kumohon, Kook. Berhenti bicara begitu atau aku akan mengikatmu sekarang."

"Apa?" Jeon muda mengeryit heran, dengan wajah bingungnya menatap penuh tanya ke arah pria yang menarik selimutnya hingga ke pinggang.

Taehyung menggeleng ringan. "Kau ingat hukuman seperti apa yang biasa kau terima? Merindukan hukumanmu, hm?"

Dan wajah berkulit putih susu itu langsung memerah seketika.

Membicarakan kata itu dengan Kim Taehyung adalah sebuah hal tabu karena konotasinya akan langsung mengarah ke sesuatu yang sensual. Ya, hukuman yang biasa ia terima adalah hukuman ranjang.

"Po -pokoknya tidak boleh bertemu." pemuda manis tentu gugup. Ia buru-buru memberesi kotak bekal dan teman-temannya, bersiap pulang. Baru melihat pria Kim bergerak untuk membantunya, Jeon muda telah terlebih dahulu bersuara. "Jangan bergerak! Aku tahu kenapa kau tarik-tarik selimut. Diam dan biarkan aku menyelesaikan ini, lalu pulang."

Taehyung menyeringai. Sepertinya ia bisa membuat namja kesayangannya mencabut hukumannya. "Tidak, sebelum kau cabut larangan untuk bertemu Taekwon-ku."

"Besok pagi."

"Besok pagi?" pria bersurai gelap membeo. Sebelah alisnya terangkat naik.

"Hari ini kau istirahat, katanya pusing. Besok pagi saja datang ke rumah dan ikut sarapan." Jungkook menghela nafas, mulai memasukkan kotak bekal yang sudah kosong ke dalam tas jinjingnya. Ia mengulum senyum saat melihat semua masakannya ludes, termasuk nasi yang tadi sengaja ia bawa banyak-banyak.

Diam-diam pria Kim bangun dari ranjang, lalu memeluk sang kekasih dari belakang. Tangannya melingkar di perut Jeon muda, mengusapnya lembut. Bibirnya memberikan kecupan kupu-kupu di tengkuknya. "Aku ingin benda ini segera menggembung dan berisi bayi."

"Language, Mr. Kim. Gunakan bahasa yang lebih manusiawi."

Dan pria yang lebih tua hanya terkekeh. "Tapi aku kangen putraku sekarang…"

Jungkook menghela nafas. Ia berbalik perlahan, lalu balas memeluk Taehyung. Saat tubuh bagian bawah mereka menempel, ia berusaha mati-matian mengabaikan sesuatu yang mengganjal dari selangkangan sang tuan muda. "Hari ini Kwonnie ingin ikut Paman Yumi-nya mencari kado ulang tahun untuk keponakannya."

Taehyung menautkan kedua alisnya. "Paman Yumi? Siapa dia?"

"Pegawaiku. Hari ini shift-nya hanya sampai jam tiga. Sejak pagi Kwonnie sudah menempelinya karena tidak mau ditinggal."

Oh, Taehyung baru ingat. Pagi tadi ia sempat mendengar Jeon Taekwon ingin minum susu bersama si Paman Yumi. Memang sekeren apa si Yumi ini sampai-sampai jagoan kecilnya menempel sejak pagi? Kalau hanya jalan-jalan, Taehyung juga bisa mengajak Taekwon. Kenapa harus ikut yang lain kalau si bocah punya poppa sekeren Kim Taehyung?

"Jangan cemberut begitu." tegur Jungkook lembut, sebelah tangannya membelai rahang tegas pria Kim, lalu mengecupnya singkat. "Kau tidak marah kan?"

"Mau bagaimana lagi? Kwonnie sudah terlanjur excited untuk ikut kan? Mungkin besok aku yang akan mengajaknya jalan-jalan. Kau ikut, ya? Agar dia mau ikut juga."

Jeon muda nampak berpikir sejenak. Ia menimang beberapa hal, seperti kepada siapa harus menitipkan kedainya selagi ia pergi.

"Apa aku bisa meminta Yoongi hyung menjaga kedaiku selagi kita pergi?"

Taehyung menggeleng ringan. "Aku lupa bilang, tapi Yoongi kembali ke Seoul besok pagi."

Yang lebih muda mendesah kecewa. "Nanti kutanyakan apa ada yang bisa masuk seharian untuk besok. Kukabari nanti malam, ya?"

Mengangguk antusias, Kim muda mencium gemas pipi pemuda Jeon sebelum melepas pelukannya dan menghempaskan diri di kasur. "Sudah. Aku ingin sekali mencium bibirmu tapi takut kelepasan karena Taetae junior mulai bangun. Sampaikan salamku untuk pangeran kecil kita. Bilang pada si Yumi Yumi itu untuk menjaganya baik-baik."

Jungkook terkekeh ringan menyanggupi permintaan tuan muda Kim. Diam-diam ia mengagumi betapa Kim Taehyung yang sekarang benar-benar ingin menjaganya. Bahkan ia takut kehilangan kendali dirinya. Padahal, Kim Taehyung yang dulu benar-benar egois. Ia akan dengan suka rela telat pergi ke kantor hanya karena ingin menggagahi Jeon Jungkook sampai puas.

Tapi sekarang?

Kim Taehyung bahkan seolah takut menyakiti Jungkook, tidak mau membuat namja manisnya meninggalkan putra semata wayangnya di kedai bersama para pegawai.

Dan Jeon Jungkook berpamitan usai memberikan sebuah kecupan singkat di bibir pria yang ia harapkan menjadi suaminya kelak. "Aku mencintaimu, hyung. Jangan berhenti mengejar putra kita ya?"

Taehyung tersenyum lebar, lalu mengangguk mantab.

.

.

.

.

.

Pagi harinya, Kim Taehyung benar-benar datang ke rumah Jeon Jungkook, kekasih manisnya yang sangat menggemaskan walau sudah memiliki seorang anak berusia empat.

Seharusnya, ia merasa amat bahagia karena semalam dirinya menerima pesan berisi konformasi bahwa sang kekasih menyetujui ajakan jalan-jalannya. Sialnya, Min Yoongi yang pagi itu memergoki pria Kim yang tengah bersiap di kamarnya merasa curiga. Dan setelah mengetahui bahwa sepupu menyebalkannya akan sarapan di kediaman Jeon, ia memutuskan untuk ikut.

Sekalian pamit kepada si keponakan gembul, katanya. Ia bahkan langsung cepat-cepat mandi dan bersiap, untung seluruh barangnya sudah dikemas ke dalam koper semalam, jadi ia tinggal memasukkannya ke mobil.

Dan disinilah sepupu Min dan Kim berada, menunggu di depan pintu kedai Jeon setelah memencet bel.

Dua mobil berwarna hitam terparkir di depan. Satu milik Yoongi yang akan dibawanya kembali ke Seoul, satu milik Taehyung yang akan dikendarainya untuk jalan-jalan nanti.

"Tungguuu… tungguuuu!" teriak sebuah suara melengking dari dalam rumah.

Melalui pintu kaca, Taehyung bisa melihat balitanya berlari kecil sambil mem-pout-kan bibirnya. Agak berjinjit ia memutar kunci dan membukakan pintunya.

Kim Taehyung tersenyum lebar, bersiap menyambut sang putra.

"Paman Yoon Yoon!" pekik Kwonnie senang. Ia langsung merentangkan tangannya lebar-lebar untuk memeluk paman bersurai pirang kesayangannya. Katanya, rambut Paman Yoon Yoon seperti permen kapas, makanya ia suka.

Pria bersurai hitam cemberut seketika.

Min Yoongi benar-benar merusak acara sarapan keluarganya.

"Menyebalkan." gumam Kim muda lirih. Ia berjalan miring dan langsung masuk ke rumah begitu saja, mengabaikan sepupu dan putranya yang saling bertukar pandangan.

Pria berkulit pucat terkekeh ringan, ia menggendong Kwonnie dan mulai berjalan perlahan. "Jangan begitu kepada poppa-mu. Poppa pasti sedih kau mengabaikannya."

"Uhh…" keluh si balita. Mata bulatnya mengerjab lucu, bibir bawahnya mengerucut maju.

"Kudengar hari ini kau akan jalan-jalan sama poppa. Memangnya tidak senang?"

"Sama Paman Yoon Yoon juga?"

Yoongi menggeleng ringan. Ia menurunkan Kwonnie agar bisa melepas sepatunya sambil bicara, "Paman hari ini kembali ke Seoul, makanya poppa mengajak paman ke sini agar bisa berpamitan dengan Kwonnie. Poppa baik sekali, ya?"

Pria bersurai pirang tahu yang dikatakannya tidak sepenuhnya benar, tapi tidak sepenuhnya salah juga. Tadi saat penyandang marga Min ragu apakah akan bergabung untuk sarapan, walau dirinya tidak diajak, atau sarapan di hotel lalu berangkat, sepupu Kim langsung mendengus sambil bilang, mandi dan bersiap atau aku akan meninggalkanmu. Kwonnie pasti sedih kalau kau tidak pamit secara langsung.

Dan Min Yoongi menganggap itu sebagai ajakan tersirat.

Kwonnie menunduk, masih dengan wajah cemberutnya. Sebenarnya ia tidak mau mengacuhkan pria yang mengaku sebagai poppa-nya. Lagipula ia sungguh kasihan karena kemarin lusa, Kim Taehyung terkena bangsat, jadi sekarang mungkin masih sakit. Tapi ada sesuatu yang membuatnya enggan untuk menyapa pria tinggi yang menjadi role model-nya.

Ia masih diam saja ketika Yoongi menggandengnya menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ada empat kursi makan di sana, salah satunya dengan dudukan yang lebih tinggi, jadi tubuh Kwonnie yang kecil tetap bisa menghadap meja makan tanpa harus mendongak.

Jungkook mengeryit saat melihat Taehyung duduk diam tanpa menyapanya. Pria yang memakai kaos lengan pendek berwarna hitan yang dimasukkan ke dalam celana jeans senada yang sobek di bagian lutut kanan itu sibuk dengan ponselnya, bermain tetris.

"Hyung, kau masih sakit?"

Bukannya menjawab, pria yang lebih tua hanya bergumam lirih, lalu meng-close aplikasi permainannya sebelum menyimpan ponsel pintarnya ke saku jaket kulit, yang juga warna hitam, yang tersampir di belakangnya.

"Nah… Kwonnie duduk sendiri." gumam Yoongi memecah kesunyian. Ia mengangkat tubuh bocah yang mengenakan kaos v-neck warna abu-abu gelap dan jeans hitam panjang yang digulung di ujungnya ke kursi miliknya. Sang paman lalu mengusak rambutnya sebelum duduk di sebelah Taehyung, berhadapan dengan Kwonnie. Sementara Jungkook duduk di sebelah sang putra, tepat di hadapan Kim muda.

Makanan telah tersaji di meja dengan berbagai lauk kesukaan Kwonnie, juga kesukaan ayah si bocah.

"Kwonnie makan sayur?"

Si balita mengangguk saat sang bunda membantunya memasang celemek makan di leher mungilnya. Setelahnya, Jungkook mengambilkan nasi untuk Taehyung, lalu untuk Yoongi yang langsung menggodanya, mengatakan bahwa Jeon Jungkook adalah istri yang baik. Terakhir, ia mengambil nasi untuk sang putra, lalu dirinya.

Aneh.

Pria pirang melirik ke sebelahnya, mendapati sang sepupu hanya diam tanpa menanggapi candaannya barusan. Padahal biasanya Taehyung akan langsung mengomel, bahkan memarahinya karena berani menggoda pemuda manis kesayangannya.

"Paman paman ayo selamat makan, lalu kita makan." celoteh yang paling muda. Tangan kirinya sudah memegang sendok, bersiap menyantap chicken pop kesukaannya, juga sosis gurita favoritnya, ditambah sup wortel yang kata momma baik untuk matanya.

Sejujurnya Kwonnie berharap nanti matanya bisa menyala seperti mata Optimus Prime.

"Selamat makan…" ucap mereka bersemangat, kecuali Kim Taehyung yang hanya bergumam malas.

Mereka pun mulai makan dengan Yoongi yang masih bertanya-tanya kenapa mood sepupunya tiba-tiba anjlok.

"Momma. Momma kita mau jalan-jalan kemana? Kemarin Paman Yumi mengajakku ke toko mainan, aku dibelikan mobil-mobilan yang mirip Bumble Bee. Biar kuambil." Taekwon memasukkan sesendok penuh sarapan ke mulut, lalu melompat dan berlari ke kamarnya.

Kim muda menghela nafas berat. "Siapa Yumi?"

Jungkook terdiam mendengar nada datar yang keluar begitu dingin dari mulut pewaris Kim Enterprise. Kalau boleh jujur, ada perih yang terasa kala ia mendengar pertanyaan yang tertuju padanya.

"Tch!" pria Min berdecak kesal. Ia menggeplak keras kepala sepupunya, lalu menatapnya tajam. "Kau ini kenapa bad mood dari tadi? Kalau begini caranya, mana mau Kwonnie dekat-dekat denganmu? Yang ada dia malah ketakutan."

Taehyung mendengus. Ia meletakkan sendoknya, setengah membanting, lalu meminum air putih di gelas rakus. Dengan kasar ia meletakkan gelasnya hingga Jeon muda terlonjak.

"Taetae hyung, kau ti -"

"Dengar, Min Yoongi." ucapnya dengan nada memerintah mengabaikan Jungkook yang coba menegurnya. Sepasang mata elangnya balas menatap sang sepupu tak kalah tajam. "Kau baca grafik tadi pagi? Harga saham kita turun, dan itu membuatku pusing. Kau sebagai wakil CEO harusnya ikut memikirkan ini. Bukannya malah acuh."

Helaan nafas lega keluar begitu saja, baik dari mulut penyandang marga Min, maupun pemuda Jeon. Jungkook merasa lega karena mengetahui fakta bahwa Kim Taehyung tidak marah padanya maupun Taekwon, sedangkan Yoongi merasa lega karena alasannya hanya sepele.

"Kita tidak berada di dunia ajaib dimana harga sahammu naik dan terus naik tanpa pernah turun, Tae. Lagipula saham kita memang naik-turun akhir-akhir ini karena dollar sedang tidak stabil. Apa yang kau pusingkan?"

Menggeram kesal, Taehyung mengacak rambutnya asal. "Aku harus mendapatkan hasil memuaskan untuk kerjasama kita dengan perusahaan kain dari Jepang. Well, walau mereka yang mengajukan proposal, kalau harga saham begini, kita tidak akan bisa maksimal."

"Astaga… kenapa juga kau mengkhawatirkan itu?" kali ini Yoongi yang mengacak surai hitam sepupunya gemas. Jungkook sampai tertawa melihat interaksi dua manusia yang sama-sama hobi mengumpat di hadapannya. "Mana Kim Taehyung yang biasanya arogan? Kau lembek gara-gara takut dibilang tidak keren kalau Kwonnie tahu harga saham di perusahaanmu turun? Ayolah… turunnya juga cuma sedikit sekali."

"Bukan itu. Aku harus cari muka agar mudah membujuk appa dan eomma untuk membiarkan aku menikah dengan Jungkook."

"Nah, sekarang terbongkar alasan yang sesungguhnya." pria pirang tersenyum meremehkan. Ia menjitak kepala sepupunya sebelum kembali fokus dengan sarapan. "Santai saja soal saham, dan berhentilah uring-uringan."

"Lihat! Lihat Bumble Bee-ku!" celoteh sebuah suara cempreng menyedot perhatian ketiga orang dewasa di sana.

Jeon Taekwon dengan tangan kanan membawa mobil-mobilan berwarna kuning cerah tengah memanjat kursinya. Setelah itu, ia meletakkan mobil itu di meja. Dengan penuh semangat, ia membuka kedua pintu mobil berjenis Lamborghini Aventador itu dengan antusias.

"Lihat! Pintunya bisa dibuka!" tangan mungilnya lalu memaju-mundurkan mobil-mobilannya. Mulutnya yang baru saja disuapi sarapan oleh sang bunda tidak bisa membuat suara tiruan mobil dan hanya menggumam seadanya.

"Itu namanya diecast." gumam pria bersurai hitam. Ia kembali memakan sarapannya, kali ini dengan raut wajah yang lebih rileks.

"Apa?" Kwonnie menoleh ke arah ayahnya, terlihat antusias.

"Mobil-mobilan itu namanya diecast." Taehyung mencondongkan tubuhnya ke arah sang putra, lalu berusaha mengucapkan dengan pelafalan yang jelas. "Dai-kest (die-cast). Daikest (diecast)."

"Dai…kes. Daikes?" ualng Taekwon perlahan.

Tangah kanan sang ayah terulur untuk mengusap puncak kepala putranya. Bibirnya tersenyum simpul. "Anak poppa pintar."

Kwonnie balas tersenyum lebar. Bibirnya meloloskan kekehan lirih, menunjukkan betapa ia senang mendapat pujian dari ayah, yang masih enggan diakuinya.

Dan rasa gelisah akibat saham yang turun langsung sirna dari pikiran seorang Kim Taehyung. Yang ada hanya rasa senang dan hangat di hatinya melihat sang putra kembali tersenyum padanya.

"Mobil Bumble Bee yang ini namanya Lamborghini Aventador."

"Aventador?"

Taehyung mengangguk semangat. Tangannya yang masih bertengger di puncak kepala Taekwon semakin nyaman mengusap. Mumpung putranya tidak menolak.

Ia jadi ingat kalau di rumah ia juga memiliki beberapa koleksi diecast. Yah, walau hanya sekedar membeli dan menyimpannya di dalam kemasan, alias tidak mengurusnya, tuan muda Kim sempat menggandrungi miniatur-miniatur mobil berbagai model sebagai penghilang stress. Alasannya simple, karena membeli yang asli akan memakan tempat.

Dengan senyum yang masih bertengger di bibirnya, ia kembali berucap. "Poppa punya banyak diecast di rumah poppa yang ada di Seoul."

"Sungguh?" mata bulat itu berbinar penuh minat, bibirnya membentuk huruf o menunjukkan kekagumannya.

Setelahnya, Jeon Taekwon menghentikan jantung seorang Kim Taehyung hanya dengan satu tarikan nafas. "Poppa punya banyak diecast? Kwonnie boleh lihat?"

Poppa…

Jeon Taekwon memanggilnya poppa.

.

.

TBC

.

.

For those who missed Kwonnie so much, enjoy this story….

.

Akhir kata,

Review pleaseee