Jantung Jungkook berdetak cepat saat memasangkan plester penurun demam di dahi sang putra, tangannya gemetaran. Matanya memanas, namun ia melarang dirinya sendiri untuk membuang-buang tenaga dan menangis tanpa melakukan apapun.

"Sayang, tunggu sebentar ya, momma ambil jaket untuk Kwonnie." tangan kanannya mengusap lembut pipi balita yang terlentang di atas sofa. Ia menunggu, meminta persetujuan dari putranya yang masih saja sesenggukan,

"Poppa-ku…" gumamnya lirih dengan mata berurai. Kwonnie bahkan tak sanggup membuka kelopak matanya, namun ia masih saja memanggil sang ayah.

Pemuda bersurai madu tersenyum tipis, mencoba menenangkan walau ia tahu jagoan kecilnya tidak bisa melihat itu. "Kita ke tempat poppa. Perasaan momma tidak enak, dan kita harus ke sana. Kwonnie tunggu sebentar, momma ambilkan jaket agar tidak kedinginan, ya?"

Dan dengan anggukan kecil dari Jeon Taekwon, sang ibu melesat ke kamarnya, mencari jaket paling tebal yang ia punya. Setelahnya, Jungkook masuk ke kamar balitanya untuk mengambil jaket dan celana panjang untuk melapisi piyama yang dipakai malaikat kecilnya.

"Apa di sini sakit?" Jungkook bertanya hati-hati saat memakaikan celana training putranya. Sebelah tangannya menyentuh dada bocah berpiyama biru.

Sang putra menggeleng pelan. Baru saja Jeon muda akan menghela nafas lega, ia mendengar suara parau si kecil kesayangannya.

"Tapi sakit… tapi tidak sakit…"

Awalnya, Jungkook merasa bingung, namun kata yang selanjutnya ia dengar membuatnya tersenyum simpul.

"Poppa-ku…"

"Iya. Kita ke tempat poppa sekarang. Kwonnie pegangan momma yang kuat."

Semoga saja, yang dimaksud sang putra adalah rasa rindu yang tak ia mengerti…

Semoga.

Mungkin, hari ini adalah hari dimana Jeon Jungkook bersikap sangat-sangat sembrono sebagai seorang ibu. Ia menggendong putranya yang sedang demam di depan. Walau telah mengenakan jaket, Kwonnie bisa saja menggigil karena terpaan angin malam. Apalagi mereka cukup dekat dengan pantai.

Jaket miliknya yang super tebal itu tidak ia pakai, melainkan ia lilitkan ke tubuh sang putra, memakaikannya sedemikian rupa sampai ia merasa tubuh Kwonnie benar-benar terlindungi.

Setelahnya, Jungkook menyambar first aid kit miliknya, memasukkannya ke tas selempang yang ia punya, lalu mulai berjalan cepat meninggalkan rumahnya menuju hotel tempat Kim muda menginap.

"Sabar, sayang. Poppa pasti akan memelukmu."

Dan Kwonnie mengangguk patuh seraya menenggelamkan kepalanya ke dada sang bunda.

Jungkook kepayahan walau hanya berjalan sekitar satu blok. Bagaimanapun, menggendong putranya yang kini berusia empat sambil berjalan cepat membuat lengannya benar-benar pegal. Nafasnya bahkan sempat tersengal, namun ia terlalu panik untuk peduli.

Jantungnya berdegup kencang. Ia bahkan mengabaikan resepsionis yang menyapanya di lobby hotel, dan hanya membalas dengan senyum tipis walau nyatanya, raut wajahnya mengatakan bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Jungkook mengetuk pintu kamar Taehyung berulang kali, memanggilnya dengan suara keras tanpa mempedulikan penghuni hotel yang lain.

"Hyung, kumohon jawab aku!" pekiknya setengah frustasi. Tangan kanannya terus saja menggedor pintu, sedangkan yang kiri hampir mati rasa karena ia gunakan untuk menyangga tubuh balita kesayangannya.

"Persetan!" umpatnya tanpa sengaja. Kwonnie bisa saja mendengarnya dan menanyakan apa maksudnya di kemudian hari, tapi itu akan dipikirkannya nanti. Sekarang, ia lebih memilih untuk mengambil ancang-ancang sebelum menendang pintu kamar pria Kim, tepat di atas handle pintunya sebanyak tiga kali, dan itu sukses membuat kunci slot yang dikaitkan pria Kim dari dalam patah.

Dan pemandangan yang dilihatnya saat pintu terbuka benar-benar membuat Jeon Jungkook kehilangan kata-kata.

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for the Taekwon.

Ambigu, typo tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part V: The Brushed Canvas

"Hyung, kumohon katakan sesuatu." gumam Jungkook lirih. Suaranya bergetar, seluruh tubuhnya mengalami tremor.

Tangan kirinya menyentuh dahi pria Kim, tidak panas.

Namun wajah pucat itu benar-benar membuat Jungkook panik luar biasa. Ternyata benar, perasaannya yang tidak enak menjadi pertanda bahwa pria pujaannya sedang tidak baik-baik saja.

Ia mendudukkan dirinya di ranjang, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia ulang itu sebanyak tiga kali, mencoba membuat dirinya sendiri lebih tenang.

Masih dengan Taekwon di pelukannya, Jeon muda mendekatkan wajahnya ke wajah pria Kim, dan ia bisa merasakan deru nafas pria pujaannya yang begitu lemah.

Sosok bersurai kelam tersengal dalam ketidaksadarannya, namun itu tidak mengubah apapun. Ia masih saja terpejam, tak mampu merespon panggilan dan sentuhan yang dilakukan Jungkook di wajahnya.

"Sayang, jaga poppa sebentar." pintanya saat membaringkan sang putra di samping tubuh lemah Kim Taehyung. Dilepasnya jaket tebal miliknya yang dipakai Kwonnie untuk membuat jagoan kecilnya lebih nyaman.

"Poppa…" rengek Kwonnie sekali lagi. Bibirnya mencebik, kelopak matanya bergerak-gerak, mencoba untuk membuka.

"Iya, sayang. Ini poppa." Jungkook tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan kiri pewaris Kim Enterprise, meletakkannya di perut Kwonnie, menumpuk di tangan mungil putranya. "Kwonnie jaga poppa sebentar, momma akan menelfon dokter agar poppa segera diobati."

Sekali lagi, Jeon Taekwon hanya memanggil ayahnya. Kali ini, dengan nada yang lebih tenang. Pemuda bersurai madu tahu, terselip rasa bahagia di suara lemah yang lolos dari bibir putra semata wayangnya.

Maka ia segera menyambar telefon yang ada di nakas, sepasang mata bulatnya menelusur deretan angka yang tertera di kertas yang ditempel di atas meja untuk menemukan kata front office. Ia segera menghubunginya, meminta mereka untuk memanggilkan dokter.

Ia tahu, pada saat-saat seperti ini, yang bisa dilakukannya untuk Kim Taehyung adalah menunggu.

"Apa yang kau telan, hyung…" gumam Jungkook lirih. Sejujurnya ia merasa sangat takut sekarang. Ketika masih tinggal di rumah pria Kim, ia pernah sekali mengalami hal seperti ini. Hari itu, Kim muda bahkan sampai dibawa ke rumah sakit.

Kim Taehyung itu terlihat kokoh, sangat.

Tapi ia juga rapuh dan sangat lemah di saat-saat tertentu. Ia bahkan alergi berbagai jenis obat. Paracetamol saja harus dengan dosis tertentu, tidak boleh kurang, apalagi lebih.

Sembari menunggu dokter tiba, Jungkook membetulkan posisi tidur pria Kim. Ia sengaja tidak memakaikannya bantal. Ditarik, lalu ditahannya dagu tegas Taehyung sehingga jalur pernafasannya dari hidung ke paru-paru berada pada satu garis lurus agar udara lebih mudah masuk ke sana.

Tangan yang satunya mengusap dahi Kwonnie lembut. Ia sempat membantu sang putra meminum syrup penurun demam, juga air putih.

"Tuan, maaf menunggu lama." ketukan di pintu yang diikuti oleh suara seorang pria menarik seluruh atensi Jeon muda. "Saya membawa dokter Hwang."

Jungkook berjalan tergesa menuju pintu, lalu membukanya. Seorang pegawai hotel berdiri di sana. Di belakangnya, pria tinggi dengan jas putih panjang dan tas besar yang ditenteng tersenyum simpul.

Setelah mengucapkan terima kasih secara singkat kepada pegawai hotel, Jeon muda segera meminta sang dokter untuk memeriksa pria bersurai jelaga yang tengah terlelap dengan deru nafas lemahnya.

"Biasanya dia begitu kalau alerginya kambuh, Dok." ucap pemuda bermata onyx tanpa ditanya ketika sang dokter menempelkan stetoskopnya ke dada pasiennya. "Dia memiliki alergi pada beberapa obat juga."

Sang dokter mengangguk. Ia masih setia mendengarkan penjelasan Jungkook sambil terus memeriksa tubuh Kim Taehyung.

Jungkook menjelaskan makanan atau minuman apa saja yang bisa membuat Taehyung alergi, termasuk beberapa jenis obat yang tidak bisa diterima tubuhnya. Ia juga menyebutkan nama obat alergi yang biasa tersedia di kotak obat yang ada di rumah Taehyung. Sialnya, Jeon muda tidak memiliki itu di kotak obatnya.

"Saya akan memberikan injeksi. Obat yang akan saya berikan tidak memiliki bahan yang membuatnya alergi. Semoga saja reaksinya cepat."

Jungkook hanya mengangguk. Matanya masih memperhatikan wajah Taehyung walau kedua tangannya kini tengah menggendong Taekwon yang merengek sejak dokter mengambil lengan sang ayah dari atas perutnya.

"Ssttt… setelah poppa disuntik, poppa akan memeluk Kwonnie lagi. Jangan menangis, hm?" bisik Jungkook sebelum memberikan kecupan singkat di dahi putranya. Setelahnya, ia beralih menatap dokter Hwang yang telah selesai menyuntikkan obatnya. "Dok, apa reaksinya tidak berlebihan untuk sebuah kasus alergi? Seingatku, reaksi alerginya kadang lambat, tapi bisa sangat parah."

Pria berjas putih menegakkan tubuhnya. Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke manik obsidian Jungkook, setelahnya ia tersenyum ramah. "Saya tidak akan meminta Anda untuk tidak panik karena kondisinya memang mengkhawatirkan, tapi suami Anda baik-baik saja sekarang."

Jungkook mengeratkan pelukannya ke tubuh sang putra, berusaha menyembunyikan rona merah di pipi saat sang dokter mengatakan Kim Taehyung sebagai suami dari Jungkook.

"Gejala alergi pada setiap orang memang berbeda. Ada yang ringan, bahkan sampai ke berat. Suami Anda tergolong memiliki reaksi yang cukup berat karena menyangkut masalah pernafasan. Untungnya, kita tidak terlambat memberikan penanganan." dokter itu lalu mengambil secarik kertas, menuliskan nama beberapa obat untuk pasiennya. "Sepertinya suami Anda juga mengalami kelelahan. Saya akan menuliskan resep obat. Dia harus meminum obat ini sesuai dosisnya. Saya juga menyarankan untuk pergi ke rumah sakit dan melakukan check up dengan peralatan yang lebih lengkap. Anda bisa mendapatkan saran yang lebih jelas untuk alerginya setelah dokter mengetahui kondisi suami Anda melalui hasil lab."

Jungkook tersenyum sambil membungkukkan badannya usai menerima secarik kertas berisi daftar obat yang harus ia beli, masih dengan menggendong Kwonnie.

"Sepertinya putra Anda juga sedang sakit. Apa perlu saya memeriksanya juga?"

"Ahh.. tidak. Tidak perlu. Dia hanya ingin bersama ayahnya. Demamnya juga sudah turun setelah aku memberinya obat." Jungkook menyentuh dahi Kwonnie, memastikan. Setelahnya, ia merebahkan tubuh sang putra di samping poppa-nya sebelum kembali berbincang dengan dokter yang menangani suaminya. "Aku benar-benar berterima kasih karena Anda bersedia datang."

Jeon Jungkook tidak membawa apapun selain first aid kit dan ponsel pintarnya. Maka ia dengan lancang menyambar dompet Kim Taehyung yang tergeletak di atas meja yang, untungnya, tersedia lembaran-lembaran uang cash yang ia gunakan untuk membayar biaya dokter.

Hampir setengah jam sejak sang dokter undur diri, Jeon Jungkook baru bisa merasa sedikit lebih tenang saat deru nafas teratur Kim muda terdengar lebih jelas.

Masih lemah. Tapi setidaknya, tidak selemah yang tadi.

Ia tersenyum simpul saat mengambil termometer yang ia selipkan di ketiak putranya. Angkanya sudah tidak setinggi yang tadi walau belum normal.

"Kalian benar-benar bersekongkol untuk membuat momma panik." bisiknya sebelum memberikan kecupan sayang di dahi sang putra lama. Perlahan ia membuka jaket dan celana training Kwonnie, menyisakan piyama birunya. Setelahnya Jungkook menarik selimut tebal di ranjang pria Kim, melindungi tubuh kedua lelaki yang paling disayanginya hingga sebatas dada.

"Poppa juga." Jeon muda beralih ke pria dewasa yang masih memejamkan matanya. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap rahang tegas Taehyung. "Aku tidak tahu apa yang kau konsumsi, tapi lain kali jangan menelan yang aneh-aneh."

Dan sebuah kecupan lembut di bibir sang pujaan hati ia berikan sebelum memutuskan untuk merebahkan diri di samping sang putra. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga bahagia dengan Taekwon yang tidur di antara kedua orangtuanya.

Jungkook mengulum senyum. Sepasang matanya berair, namun ada rasa lega yang terukir di wajahnya. "Lain kali tidur bersama lagi, ya? Tapi kalian jangan membuatku panik."

Jeon muda benar-benar merasa lelah, namun ia bisa menghela nafas lega karena keadaan kedua orang kesayangannya mulai membaik. Obat untuk Taehyung juga telah ia dapatkan. Lebih tepatnya, ia meminta pegawai hotel yang tadi memanggilkan dokter untuknya, entah siapa tadi namanya, untuk mencarikan obat di apotek. Uang tip yang diberikannya, juga uang untuk membeli obat pasti diambilnya dari dompet pewaris Kim Enterprise.

Jungkook bahkan tidak peduli jika besok Kim Taehyung akan mengatainya pencuri. Yang penting, sekarang semuanya baik-baik saja.

"Selamat tidur, poppa dan Kwonnie." gumamnya seraya memejamkan mata.

.

.

.

.

.

Jungkook terbangun saat mendengar suara ponsel. Dari nada deringnya, jelas sekali itu bukan miliknya. Ia meraih benda persegi di nakas, memicingkan mata untuk melihat siapa yang pagi-pagi menghubungi ponsel pintar milik pria yang berjanji akan menikahinya.

Melihat nama yang sangat familiar, Jeon muda segera mendudukkan diri, lalu menggeser ikon berwarna hijau di layar.

"Yoongi hyung, ini Jungkook."

Jeda beberapa detik sebelum suara di seberang sana terdengar. "Kau bersama Taehyung, Kook? Kwonnie bagaimana? Kau tidak meninggalkannya sendirian kan?"

"Ceritanya panjang, hyung." Jungkook jelas tahu apa yang dipikirkan Min Yoongi saat ini. Apalagi nada bicaranya terdengar penuh selidik. "Sebentar."

Ia menyentuh dahi putranya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Setelahnya, Jungkook mendekatkan jarinya ke hidung Taehyung, mencoba merasakan deru nafasnya. Setelah memastikan keadaan keduanya baik, ia bangkit dari ranjang, berjalan menuju balkon dan melanjutkan perbincangannya dengan pria berkulit pucat agar tidak mengusik tidur ayah-anak yang masih terlelap.

.

.

.

"Uhh…" keluh sosok kecil yang menggenggam jari telunjuk sang ayah di tangan kirinya. Kelopak matanya bergerak-gerak sebelum terbuka secara perlahan.

Tangan kanannya yang mungil mengucek matanya, sementara bibirnya terbuka lebar saat menguap. "Mommaaa!"

Kwonnie mengeryitkan dahi. Biasanya sang ibu akan langsung menjawab saat ia memanggilnya di pagi hari. Tapi kini, suara televisi yang selalu terdengar dari luar kamarnya bahkan sama sekali tidak ada.

Maka sepasang mata bulatnya mengedar ke segala arah, mengamati sudut-sudut ruangan yang tampak begitu asing baginya. "Bukan kamar Kwonnie."

Bocah itu mengeluh. Ia hampir menggelindingkan tubuhnya dan melakukan landing kala ia menyadari ada sesuatu di tangan kirinya. Maka ia mengangkat benda yang terasa sangat berat itu.

"Tangannya poppa Tae." gumamnya lirih. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum memutuskan untuk melepas jari ayahnya.

Taekwon lalu mendudukkan diri, menyingkap selimut di tubuhnya. Ia mengeryit saat melihat sebuah kaos putih kebesaran yang membalut tubuhnya. Kaos itu benar-benar besar, bahkan sampai menutup lututnya. Iseng ia menarik kaosnya, mendapati celananya juga berubah menjadi besar, berwarna merah marun.

"Bukan punya Kwonnie." bibirnya ber-pout. Ia merasa kesal karena piyama kerennya berubah menjadi kaos dan celana polos tanpa gambar.

Lengan besar itu bergerak, kini memeluknya ringan.

Taekwon tidak melawan. Ia hanya menatap wajah terlelap sang ayah sambil sesekali menusuk-nusuk pipinya dengan jari. Ia akan tertawa gemas setiap kali poppa-nya mengerang kesal dan menautkan alisnya yang keren. "Menggemaskan seperti Kwonnie."

Ya. Momma selalu bilang Taekwon menggemaskan setiap kali ia melakukan hal-hal lucu atau menanyakan sesuatu. Sekarang, poppa juga terlihat menggemaskan untuk Kwonnie.

"Jangan mengganggu poppa."

Sebuah suara mengagetkannya, membuat Taekwon menoleh ke arah kanan. Ia semakin membeku kala menangkap tubuh ibunya mendekat, lalu memeluknya gemas.

Uhh, ketahuan main sama poppa.

"Poppa sedang sakit. Jangan bangunkan poppa." ucapnya lembut sambil memberikan sebuah kecupan singkat di pipi buah hatinya. "Kwonnie merasa baikan? Apa di sini sakit?"

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala saat ibunya menyentuh dahi. Setelahnya, ia mengeryit tak nyaman saat plester penurun demam dilepas dari keningnya. Rasanya seperti kulitnya ditarik.

"Poppa tidak ditanya masih sakit atau tidak." gumaman bernada berat menarik perhatian kedua orang yang tengah berkomunikasi.

Tersenyum tipis, Kim Taehyung semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh sang putra yang tengah duduk di sampingnya. "Mmn… poppa dapat guling yang hangat."

"Kwonnie bukan guling!" pekik si balita kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dengan mata yang melotot.

Taehyung yang melihatnya malah terkekeh.

"Kau baik-baik saja, hyung?"

Menoleh ke arah namja kesayangannya, pria Kim mengangguk pelan. "Terima kasih kau sudah datang."

Jungkook balas tersenyum saat merasakan tangan besar Kim muda mengusap puncak kepalanya.

"Jagoan poppa juga datang untuk menemani poppa." Taehyung mencuri sebuah ciuman di pipi gembil putra kesayangannya. "Terima kasih banyak."

"Umm.. sama-sama." cicitnya hampir tak terdengar.

"Momma minta room service untuk mengantar sarapan. Kalian berdua makan bubur, ya?" Jungkook bangkit dari ranjang, berdiri di samping nakas dengan tangan yang sudah memegang gagang telefon.

"Kwonnie mau kue." rengek bocah kesayangannya.

"Nanti di rumah momma berikan kue. Sekarang sarapan dulu sama poppa."

"Tapi mau nasi pakai nugget."

"Baiklah, tunggu sebentar."

Setelahnya, Jeon muda tampak berbincang dengan seseorang melalui sambungan telefon.

Taehyung diam, mengamati buah hatinya yang tengah memainkan kaos berwarna putih yang ia kenali sebagai miliknya. Ia melirik ke tubuh bagian bawah Kwonnie yang tertutup kaos. Namun ia bisa memastikan bahwa bocah itu memakai trunks ketat miliknya. Tentu saja kebesaran di tubuh sang putra, dan itu sukses membuatnya bertanya-tanya mengapa putranya memakai pakaiannya.

Seingatnya, ia merasa sesak kemarin malam. Dirinya jelas tahu apa penyebabnya, tapi untuk kejadian setelah sesak nafas yang dialaminya, ia benar-benar tidak bisa mengingatnya.

"Kook, kenapa Kwonnie memakai bajuku?" tanya pria Kim pada akhirnya kala melihat Jungkook mendudukkan diri di ranjang dan mulai bermain dengan Kwonnie.

"Semalam putra kita demam. Lewat tengah malam, demamnya sudah reda, tapi tubuhnya berkeringat. Aku yang tidak ingin dia merasa gerah langsung menggantinya dengan bajumu. Tidak apa-apa kan?"

Sepasang mata bulat itu menatap penuh harap kepada Kim muda.

"Tidak apa-apa. Tapi kenapa kau tidak membangunkanku, dan.. oh! Bagaimana kau bisa masuk? Apa aku membukakan pintu?"

"I -itu…" Jungkook terlihat gugup. Ia melirik ke arah kunci slot di pintu, lalu menundukkan kepalanya dalam. "Maafkan aku."

"Astaga…" gumam pria bersurai jelaga saat melihat kuncinya patah. Ia jelas tahu sebesar apa tenaga Jungkook ketika pemuda yang enam tahun lebih muda darinya itu bersungguh-sungguh.

Ia tidak mengucapkan astaga untuk kunci yang sudah patah, ia mengucapkannya untuk menyayangkan Jungkook yang malah minta maaf.

"Jangan marah-marah sama momma-ku!" teriak Kwonnie dengan nada galak. Tangan-tangan mungilnya mendorong lengan yang memeluk perutnya kuat-kuat. Setelahnya ia merangkak di ranjang, lalu memanjat tubuh ibunya sebelum memberikan sebuah pelukan erat. "Jahat!"

Kata itu sungguh menyakiti Kim Taehyung, tapi ia tahu alasan jagoan kecilnya mengatainya jahat. Maka yang ia lakukan adalah mendudukkan dirinya, lalu mendekati tubuh Jungkook dan memberikan sebuah pelukan hangat juga, dengan Jeon Taekwon berada di tengah-tengah kedua orang dewasa tersebut.

"Poppa tidak marah. Poppa hanya merasa kaget karena momma-mu hebat." gumam Taehyung sebelum memberikan ciuman lembut di puncak kepala Kwonnie. Ia menatap teduh wajah yang langsung mendongak dengan mata bulat yang mengerjab lucu.

"Kenapa momma hebat?"

Sang ayah jelas tidak mau memberitahukan tindakan brutal Jeon Jungkook kepada putra mereka, tapi ia juga tidak akan mengatakan sebuah kebohongan. "Semalam Kwonnie sakit, poppa juga sakit. Momma hebat karena bisa merawat kita berdua sampai sembuh."

Setelahnya, hanya anggukan puas yang pria Kim dapatkan dari putranya. Sepertinya si balita setuju dengan ucapan pria bersurai kelam.

Room service sudah datang. Jungkook memesankan bubur untuk pria pujaannya, juga sup ginseng yang hangat. Sedangkan Kwonnie mendapatkan nasi dan nugget-nya, ditambah sup yang sama, juga segelas susu vanilla hangat.

"Kau tidak makan?" tanya pria Kim ketika menyadari pemuda manisnya hanya membantu sang putra untuk makan di atas kasur.

"Aku nanti saja." Jungkook tersenyum tulus, menyendok bubur di tangan Kim Taehyung, lalu memberikan suapan pertama untuknya, memberi isyarat agar ia segera menyantap makanannya sebelum menjadi dingin. "Apa yang kau makan sampai-sampai alergimu kambuh seperti itu, hyung?"

Sejujurnya, pria Kim hampir tersedak. Hanya saja, ia berhasil menahan dirinya. Ia hanya memberikan sebuah senyum canggung, dan Jeon Jungkook tahu ada sesuatu yang tidak beres di sini.

"Hyung, jangan coba-coba membohongiku. Apa yang kau telan?" Jungkook memasang ekspresi mengintimidasi. Bagaimanapun, ia harus tahu apa yang sudah membuat Kim muda hampir mati.

Walau menurut pria Kim, itu terlihat manis, tetap saja ia tidak bisa meremehkan Jeon Jungkook yang sedang marah. Lihat saja nasib kunci yang patah di pintu sana.

"Kata momma-ku, anak yang baik selalu berkata jujur." sahut Kwonnie yang sedang asyik memakan nugget-nya. Ternyata si bocah mengamati interaksi kedua orangtuanya dari tadi. "Kalah sama Kwonnie… Kwonnie tidak pernah berbohong sama momma."

Sial.

Kim Taehyung diejek oleh bocah empat tahun yang dengan santainya membanggakan diri.

Kalau urusan berkata jujur, pewaris Kim mendapat nilai nol besar. Ia sadar dirinya harus mulai berubah demi sang putra, tapi ia sungguh tak yakin kalau sekarang adalah saat yang tepat. Apalagi yang membuatnya sesak nafas sampai tak sadarkan diri semalam adalah…

"Uhu, poppa payah." celetuk Kwonnie sambil menyendok supnya, kali ini dengan bantuan momma agar tidak berantakan.

"Biarkan saja, poppa memang payah karena kalah sama Kwonnie."

Si bocah mengangguk bangga karena mendapat pujian dari ibunya. Apalagi ia berhasil mengalahkan seorang Kim Taehyung yang keren. Itu artinya, Jeon Taekwon berkali-kali lipat lebih keren.

Sementara itu, pria Kim merasa benar-benar payah mendengar percakapan ibu-anak yang meremehkan dirinya. Tapi ia merasa gengsi juga jika harus jujur.

Tapi biarlah…

Toh ia akan jujur kepada calon istri dan anaknya, jadi sedikit terlihat tidak keren juga tidak apa-apa.

"Kemarin aku memakan paprika."

"Paprika?" Jungkook membeo.

Kim Taehyung memang tidak bisa memakan paprika. Tubuhnya akan memberikan reaksi yang berlebihan, bahkan hingga ke tingkat sesak nafas hanya karena sepupu dari cabai itu.

Dan ingatan Jeon muda langsung meluncur ke makan siang mereka yang terlambat kemarin. Memang dalam steak yang dipesan terdapat beberapa potong paprika berukuran besar.

Seharusnya, Kim Taehyung tidak memakannya karena pria itu jelas tahu dirinya bermusuhan dengan paprika.

Lalu kenapa masih nekat menelannya?

"Poppa makan cabai gendut di makanan Kwonnie." sela sosok mungil yang telah selesai menghabiskan sarapannya. Kedua tangannya mengelus perutnya yang terasa penuh. "Katanya paman Tae itu namanya papika tapi Kwonnie tidak mau makan karena seperti cabai jadi Kwonnie meminta paman makan cabai gendutnya saat momma pergi ke kamar mandi. Katanya anak keren makan papika, jadi Kwonnie janji lain kali makan papika juga."

"Astaga… Kim Taehyung."

Jeon Jungkook tahu betul gengsi Kim Taehyung setinggi langit. Bahkan ia dengan bodohnya memakan sesuatu yang membuatnya alergi parah hanya karena putranya bilang itu keren.

Pria Kim hanya terkekeh sambil meletakkan mangkuk buburnya yang telah kosong di atas mangkuk sup yang juga tak lagi berisi, setelahnya ia bergeser untuk memeluk namja pujaannya. "Jangan marah, sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi. Janji."

"I can't believe you almost killed yourself! Stupid poppa!"

Kim Taehyung melotot mendengar umpatan dan kalimat kasar keluar dari bibir Jeon Jungkook. Bahkan ada Kwonnie di sana, dan Jungkook seolah tak peduli.

"Momma bilang apa? Pil apa?" tanya bocah itu penasaran. Sungguh ia tak mengerti dengan apa yang ibunya ucapkan.

"Poppa harus segera minum pil agar cepat sembuh." ucap sang ibu memasang senyumannya. Ia segera mengambil obat dia atas nakas, juga segelas air minum, lalu menyerahkannya kepada pria Kim.

"Clever. Saying things in English so our son wouldn't be able to recognize the words."

Taehyung berdecak. Ia segera meminum obat yang disodorkan untuknya dengan hati yang merasa kesal. Jungkook hanya mendengus.

"Kwonnie tidak mau supnya. Rasanya aneh." keluh si bocah sambil mengaduk mangkuk supnya. Ia menatap melas ke arah ibunya. "Momma yang habiskan ya?"

Jungkook hanya mengangguk sambil mengusap rambut sang putra. Ia tahu, bukan sup ginsengnya yang terasa aneh, melainkan Jeon Taekwon yang sudah kekenyangan. Apalagi segelas susu hangatnya juga sudah ia habiskan. Kalau begini, ia tidak akan memaksa sang putra untuk menghabiskan makanannya.

Mereka lalu diam. Jeon Jungkook masih tak habis pikir kenapa Kim Taehyung yang, katanya, mendapat gelar Ph.D -nya pada usia ke dua puluh tiga bisa melakukan hal konyol , bahkan hampir membuat dirinya sendiri mati hanya demi mendapat predikat keren dari putra mereka. Ia duduk dengan tenang sambil menghabiskan sup milik Kwonnie, sementara itu sang putra asyik menonton televisi besar yang ada di kamar tersebut.

Sungguh, Kim muda tidak tahan dengan kesunyian diantara dirinya dan sang kekasih. Ia terbiasa mendengar suaranya yang merdu, dan keheningan di antara mereka benar-benar mengganggu.

Maka ia dengan tiba-tiba merebahkan dirinya, menggunakan paha pemuda Jeon sebagai bantal. Ditatapnya wajah manis itu dari bawah. Jungkook sudah menyelesaikan kegiatan makannya, tapi ia tidak mau sedikit saja menunduk dan menatap wajah pria Kim.

"Kook, aku akan pulang hari ini. Kau tega mendiamkanku hanya karena kejadian semalam?"

Jeon Jungkook refleks menundukkan kepalanya, menatap wajah tak berdosa Taehyung dengan tatapan tak percaya.

"Hanya, katamu? Kau tidak tahu betapa takutnya aku semalam. Alergimu itu mengerikan, hyung. Makanan sepele bisa membuatmu sesak nafas dan lemas seperti orang yang hampir mati. Bagaimana bisa kau menganggap itu sebagai hal sepele? Kau tidak memikirkan perasaanku?"

Mendengarnya, pewaris Kim malah tersenyum. Ia mengusap lembut pipi sang kekasih yang menahan suaranya agar tak terdengar oleh sang putra.

"Aku memang sembrono untuk masalah seperti ini. Aku sungguh ingin Taekwon menganggapku sebagai sosok ayah yang keren." ia bangkit, lalu kembali merengkuh tubuh Jungkook ke dalam dekapannya. Kali ini ia menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Jeon muda karena tidak ada Kwonnie di antara mereka. Kecupan-kecupan lembut ia berikan di sana. "Karenanya, poppa sangat membutuhkan momma."

Dan namja bersurai madu tak bisa menahan rona merah di pipinya.

"Hyung.." cicitnya saat Taehyung mulai mendekatkan wajah mereka. Sepasang matanya melirik ke arah Kwonnie, memberi isyarat bahwa bocah menggemaskan itu bisa saja memergoki mereka. "Ada Kwo -mwhh…"

Jungkook membelalakkan matanya tak percaya saat pria Kim nekat meraup bibirnya, lalu mengulumnya rakus. Kedua tangan besarnya bahkan dengan kurang ajar meremas pinggang Jeon muda tanpa aba-aba.

Yang bisa dilakukannya hanya memejamkan mata, meremat lengan pria yang lebih tua agar berhenti mencumbunya.

"Mwm…"

Kim Taehyung menyeringai di sela kulumannya, ia sengaja tak menggunakan lidah dan hanya menghisap bibir lembut sang kekasih.

"Menggemaskan." bisiknya setelah melepaskan tautan bibirnya. Ia lalu memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Jeon muda.

"Dasar gila." umpat Jungkook dengan suara lirih. Ia langsung mencubit perut Kim muda tanpa ampun, membuat Taehyung menahan teriakannya.

"Kau tidak akan pulang hari ini." imbuh Jeon muda kesal saat melepaskan perut pewaris Kim. "Tadi Yoongi hyung menelfon, menanyakan apakah kau jadi pulang hari ini. Jadi, kuceritakan saja apa yang terjadi. Aku mengusulkan agar Yoongi hyung meminta salah satu sopir dari rumah utama untuk datang ke Busan agar dia saja yang menyetir saat kau pulang nanti, jadi kau tidak akan kelelahan. Katanya, sopir akan sampai di sini nani sore."

Jungkook menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Besok jadwal kontrol Kwonnie, sekalian saja kau periksa ke dokter, lakukan uji lab untuk mengetahui sejauh apa alergimu. Pulang ke Seoul-nya sore, atau besok lusa saja."

"Astaga, Jeon Jungkook…. bisa-bisanya kau seenaknya memutuskan sesuatu."

Tidak. Kim Taehyung tidak marah. Ia tahu Jungkook melakukan ini demi kebaikannya. Hanya saja, ia sudah janji akan pulang hari ini.

"Seenaknya?" karena suatu hal, Jungkook merasa tersinggung. "Kau perlu tahu aku menggunakan uang di dompetmu untuk membayar dokter dan membeli obat karena aku tidak membawa dompet. Kalau menurutmu itu juga seenaknya, aku akan menggantinya nanti."

"Bukan itu maksudku." Taehyung mengambil nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Ia tidak ingin sang kekasih salah paham. "Aku janji pada eomma untuk pulang hari ini. Ia pasti menungguku."

Jungkook memilih diam. Ia tahu betul Kim Taehyung seperti apa. Percuma saja ia membujuk berulang-ulang jika sang tuan muda sudah memutuskan. Lebih baik diam ketimbang membuang-buang tenaga.

"Ya sudah."

Kalimat bernada pasrah dan helaan kasar menarik atensi Jeon muda. Ia menatap pria Kim tak percaya.

Ya. Pendengarannya pasti terganggu karena setahunya, Kim Taehyung adalah sosok yang benar-benar kepala batu. Namun kalimat selanjutnya yang ia dengar membuatnya mau tak mau meyakini bahwa pemilik tatapan setajam elang telah mengubah keputusannya.

"Aku akan pulang lusa. Besok aku ikut ke rumah sakit, tapi hanya untuk mengantar Kwonnie. Aku akan check up, tapi setelah sampai di Seoul karena aku tidak mau Kwonnie bosan berada di rumah sakit. Nanti akan kuberi tahu eomma agar tidak menungguku hari ini."

Reaksi Jungkook diluar dugaan. Pemuda manis itu langsung memeluk erat kekasihnya, menenggelamkan wajahnya ke dada bidang pria Kim sambil menggumamkan terima kasih berulang kali seolah Taehyung baru saja menyelamatkan hidupnya.

Yang dipeluk hanya tersenyum simpul, sebelah tangannya mengusap bahu sempit Jungkook. Ia sungguh tidak tahu jika Jeon muda benar-benar mengkhawatirkannya sampai pada tingkatan merasa sangat bahagia hanya karena Taehyung tidak nekat menyetir mobil ke Seoul setelah kejadian semalam.

"Hih… Kwonnie juga mau ikut!" pekik sebuah suara menggemaskan.

Selanjutnya, sesosok balita menyelipkan tubuhnya sendiri di antara orangtuanya yang tengah berpelukan. Susah payah ia mendorong tubuh ayahnya demi mendapatkan sedikit ruang. Taehyung tentu saja tertawa. Ia melepaskan lengannya dari pinggang Jungkook dan langsung mengangkat tubuh gembul putranya.

"Mau dipeluk poppa sama momma, hm?"

Taekwon mengangguk polos. Dan ia langsung mendapatkan keinginannya.

Sang ayah memeluknya gemas, mencium pipi kanan dan kirinya bergantian, sementara ibunya memeluk dari belakang.

Si balita tertawa riang.

"Aku sayang poppa sama momma."

Kim Taehyung membeku.

Hanya beberapa detik karena sentuhan Jungkook di lengannya membuatnya tersadar. Mereka sama-sama tahu, kalau anak semata wayangnya yang menggemaskan akan bersikap awkward jika menyadari ekspresi terkejut yang dibuat Taehyung barusan. Maka pewaris Kim segera memasang senyum kotaknya sebelum menggesekkan ujung hidung mancungnya ke ujung hidung mungil Kwonnie.

"Momma pulang dulu, ya? Momma mau membuka kedai dan mengambil kue untuk Kwonnie. Kwonnie di sini dulu sama poppa." Jeon muda memainkan tangan kanan putranya, membuatnya menatap sang bunda dengan bibir yang mengerucut.

"Nanti momma lama…" keluhnya berburuk sangka. Ia suka bermain dengan paman Tae-nya. Tapi harus dengan momma juga kalau sekarang.

"Tidak akan. Momma juga harus mandi, setelahnya mengambil baju untuk Kwonnie. Bagaimana?" Jungkook melirik kekasihnya sebentar, memberikan isyarat bahwa ia ingin memberi kesempatan untuknya berpamitan kepada sang putra sekali lagi.

Taehyung yang mengerti maksud namja bersurai madu langsung menyahut. "Di sini ada tempat berendam di kamar mandi. Baknya seperti kolam renang kecil."

"Kolam renang?" Taekwon membeo. Matanya berbinar saat menatap pria bersurai jelaga.

Kim muda mengangguk mantab. "Kwonnie bisa berenang di sana."

"Tapi Kwonnie tidak bisa berenang, nanti hap hap begitu terus airnya masuk ke perut Kwonnie." keluhnya sedih sambil mengelus perutnya yang penuh. "Kwonnie tidak mau hap hap."

Taehyung mendesah kecewa, lirih. Tapi ia tidak mau menyerah. Maka diangkatnya tubuh sang putra, lalu dibawanya masuk ke kamar mandi. Ia menunjukkan bathtub di dalamnya. "Lihat. Kwonnie tidak akan tenggelam di sana, karena nanti poppa akan mandi bersama Kwonnie. Hmm… bagaimana kalau kita tambahkan busa? Kwonnie bisa bermain busa sambil mandi."

Si balita memanjat tubuh ayahnya, melirik sang ibu yang tengah melipat jaket tebalnya di ranjang. Setelahnya ia mendekatkan wajahnya ke telinga poppa. "Nanti momma marah-marah kalau mandi main-main sabun."

Kim muda terkikik geli. Ia balas membisikkan sesuatu kepada jagoan kecilnya. "Mandinya sama poppa, momma tidak akan tahu. Bagaimana?"

Jeon Taekwon diam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum lebar. "Jangan bilang-bilang momma."

"Jangan bilang momma." ulang sang ayah sambil menunjukkan senyum kotaknya.

Jungkook yang sebenarnya mendengar percakapan ayah-anak itu hanya mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia berbalik untuk mendapati putranya yang berjalan ke arahnya sambil mengerucutkan bibir.

Bocah itu menunduk, memperhatikan kaos bagian bawah yang ia pegangi dengan kedua tangan. Sesampainya di dekat kaki Jungkook, Kwonnie mendongak dan menatap sang bunda dengan sorot serius. "Bawakan baju yang keren. Kwonnie mau yang gambar Pororo."

"Baiklah, momma akan ambilkan kaos Pororo. Mau yang gambar Pororo sendirian atau yang bersama teman-temannya?"

"Bersama teman-teman." sahut si balita cepat.

Namja bermata onyx yang langsung menyanggupi, mendapat sebuah kecupan di pipi sebagai hadiahnya. Setelah itu Jungkook pamit untuk kembali ke rumahnya dengan membawa piyama kotor Kwonnie beserta jaket dan kawan-kawannya.

Si balita kembali menonton televisi. Kali ini sambil tengkurap, bersebelahan dengan sang ayah. Taehyung sendiri tidak menonton televisi sama sekali. Ia sibuk mengamati ekspresi wajah putranya yang berubah-ubah, juga kaki yang ditekuk ke atas, lalu digerak-gerakkan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan tokoh kartun yang mereka tonton.

"Kwonnie."

Panggilan itu sukses menarik seluruh atensi bocah berusia empat. Mata bulatnya mengerjab penasaran saat menatap wajah pewaris Kim yang balik menatapnya. "Ada apa, paman?"

Paman lagi.

Taehyung tersenyum tipis.

"Kwonnie marah sama poppa karena poppa bilang akan pergi?"

"Uhh…" si bocah mendudukkan dirinya. Ia menunduk sambil memainkan ujung kaosnya. Ia sungguh merasa ragu, tapi akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibir mungilnya. "Tidak usah pergi."

Kim Taehyung tersenyum penuh arti. Ia segera bangun dan mengangkat tubuh putranya. Kwonnie lalu didudukkan di pangkuannya. Punggung kecil yang menempel di perut pria Kim terasa hangat. Helaian halus di kepala Kwonnie yang menyentuh dagunya saat ia menunduk terasa begitu lembut.

Kim Taehyung menyukainya.

"Poppa pergi untuk bekerja. Hanya beberapa hari." janjinya. Kedua tangannya mengusap masing-masing lengan kecil Kwonnie, lalu memainkan jemarinya.

"Tapi nanti lama lagi."

Jeon Taekwon mulai merengek. Kim muda tidak melihatnya, tapi ia yakin mata sang putra kini tengah berkaca-kaca.

"Poppa hanya pergi selama dua minggu. Kalau bisa, poppa akan pulang cepat. Nanti poppa bawakan oleh-oleh. Kwonnie mau apa? Robot-robotan? Atau diecast mobil yang keren?"

Si balita menggeleng. "Dua minggu itu berapa lama?"

"Hmm.. empat belas hari."

"Apa empat belas hari sama seperti umur Kwonnie yang empat?"

Ingin rasanya Taehyung mengacak rambutnya karena frustasi, namun kedua tangannya tengah sibuk dimainkan oleh putranya sekarang. Maka yang ia bisa hanya mengumpat dalam hati karena kebodohannya. Tentu saja Jeon Taekwon belum bisa berhitung.

Kim muda memaksa dirinya sendiri untuk memikirkan cara agar bisa mengajak putranya berhitung tanpa menggunakan angka. Menyuruhnya melihat kalender pun sepertinya akan percuma karena bocah itu belum mengerti cara kerjanya.

Menyuruhnya mencoret setiap tanggal? Tapi ada terlalu banyak tanggal disana. Yang ada, Jeon kecil akan bingung memilih angka yang mana untuk dicoret, atau seberapa banyak angka yang harus ia coret.

Atau… Kim Taehyung bisa membuat sesuatu yang bisa dihitung Taekwon tanpa bocah itu mengetahui angka.

Ia melirik tas kerja yang diletakkannya di kursi. Kim muda mencondongkan tubuhnya, berusaha meraih tas berwarna hitam itu dengan sebelah tangan. Kwonnie yang tubuhnya ikut miring tentu langsung menoleh dan menatap ayahnya dengan sorot bingung.

"Paman poppa, hentikan. Nanti jatuh-jatuh kalau duduk miring-miring. Itu kata momma."

Taehyung tertawa renyah. Setengahnya karena ia dipanggil paman poppa, selebihnya karena sang putra yang lagi-lagi menceramahinya dengan nada polos.

"Dasar menggemaskan." gumamnya sembari menegakkan kembali duduknya. Di tangan kirinya sudah ada tas kerja dengan laptop dan beberapa dokumen di dalamnya.

"Itu apa?" tanya Kwonnie penasaran saat sang ayah mulai mengeluarkan beberapa kertas dan mulai membacanya. "Kenapa tidak ada gambarnya? Itu bukan buku cerita."

"Ini memang bukan buku cerita, jagoan…" Kim muda mengambil selembar kertas yang dianggapnya tidak penting. Ada kurva x y tercetak di sana, menunjukkan penjualan Vante secara keseluruhan. Itu adalah brand yang diusung Kim Enterprise sebagai nama dari produk fashion yang mereka hasilkan. Tidak masalah membuangnya, Taehyung masih memiliki salinannya di laptop. "Kwonnie mau mencetak tangan Kwonnie?"

Si balita hanya mengeryit saat sang ayah meletakkan laptop di atas paha kecilnya, menjadikannya alas untuk kertas tipis berwarna putih yang di baliknya sudah ada coretan garis-garis. Setelahnya, tangan kanan Taehyung meletakkan telapak mungil sang putra di atas kertas dengan posisi melebar.

"Jangan bergerak. Nanti gambarnya jelek."

Kwonnie mengangguk, membiarkan ayahnya menyelipkan pulpen di sela jemarinya, lalu menariknya menelusur di sisi tangannya yang kecil. Kim muda melakukan hal yang sama kepada tangan satunya.

Setelah itu, yang ia lihat di kertas putih itu adalah gambar kedua tangan kecilnya.

Taehyung lalu mencetak tangan kirinya juga agar jumlah jemarinya ada lima belas. Paling tidak, itu mendekati empat belas.

Baru saja meletakkan pulpen yang ia pakai, suara protes malaikat kecilnya terdengar sangat manja.

"Yang ini juga." rengek Kwonnie seraya menyentuh punggung tangan kanan Taehyung. Ia menatap sang ayah dengan bibir yang mengerucut. "Biar sama-sama seperti ini."

Pria Kim tersenyum saat putra semata wayangnya mengangkat kedua tangannya di udara, lalu menunjukkan itu kepadanya. Mau tak mau, Taehyung melakukan keinginan balita kesayangannya.

Sekarang ada sepasang tangan Kim Taehyung tergambar di kertas berwarna putih, dengan sepasang tangan mungil Kwonnie terhimpit di antara kedua tangan ayahnya.

"Besok, poppa akan mengantar Kwonnie ke rumah sakit untuk diperiksa."

"Apa Kwonnie akan disuntik lagi?"

"Tidak." Taehyung menggeleng yakin. Ia menyentuh ujung hidung putranya gemas. "Dokter hanya akan menanyakan beberapa hal, Kwonnie hanya perlu menjawabnya. Mengerti?"

Kali ini Taekwon mengangguk.

"Malamnya, kita tidur. Lalu setelah bangun, kita akan sarapan. Setelah sarapan, poppa harus berangkat kerja jauh."

Kali ini Kwonnie kembali merengut. Bibirnya melengkung turun membentuk segitiga.

"Gambar dan pulpen ini untuk Kwonnie." tersenyum simpul, Taehyung meletakkan pulpennya di tangan kiri sang putra. "Ketika poppa pergi, Kwonnie akan mencoret satu jari sampai warnanya hitam."

"Tapi jarinya ada banyak, kenapa cuma satu?"

Kim muda tersenyum semakin lebar. "Pagi setiap Kwonnie bangun tidur, Kwonnie akan mencoret satu. Ini… lalu ini, dan ini. Setelahnya ini…"

Mata bulat Kwonnie mengamati dengan saksama ayahnya yang menyentuh jemarinya satu per satu, dimulai dari yang paling ujung, lalu merembet ke sebelahnya hingga seluruh jemari yang ada tersentuh. Tapi Kwonnie merasa tidak suka.

"Kwonnie mau yang ini dulu." protesnya sembari menyentuh gambar ibu jarinya yang sebelah kiri, setelahnya ia menyentuh gambar kelingking kanan ayahnya yang ada di paling ujung. "Lalu ini, ini, baru ini, ini dan ini."

Bocah berusia empat itu menyentuh random jari-jari yang ada secara asal. Bahkan ia menyentuh jari yang sama lebih dari dua kali.

Taehyung hanya tersenyum kecil. "Boleh. Kwonnie boleh mencoret yang mana saja. Tapi jari yang sudah dicoret tidak boleh dicoret lagi. Mengerti?"

"Itu oke. Nanti Kwonnie minta momma taruh di tembok kamar agar setiap kali Kwonnie bangun bisa langsung mencoret."

"Anak pintar." gumam poppa sebelum mencium gemas pipi putra kesayangannya. "Poppa janji, sebelum semua jarinya tercoret, poppa sudah pulang membawa oleh-oleh."

Mata Jeon Taekwon berbinar penuh antusias. "Kalau begitu nanti Kwonnie sering tidur siang biar banyak kali mencoretnya. Ehehe… biar poppa cepat pulang."

Hati Kim Taehyung berdenyut. Ada perasaan haru di sana saat ia menyadari jagoan kecilnya benar-benar tidak mau ditinggal terlalu lama. Ia sangat tahu Taekwon bukan tipe yang suka tidur siang, bahkan beberapa kali ia menolak mentah-mentah ketika sang ibu mengajaknya tidur siang hanya karena si bocah asyik bermain. Tapi sekarang, demi agar sang ayah cepat pulang, bocah itu bilang akan sering-sering tidur siang.

"Nanti Kwonnie tidur siang, bangun, lalu mencoret. Setelah itu Kwonnie tidur lagi, bangun lagi, mencoret yang besar. Lalu tidur lagi terus terus sampai semua cepat tercoret.' ucapnya heboh sambil mengusap kertas bergambar tangannya dan tangan sang poppa.

Kim muda tertawa renyah. "Tidak boleh seperti itu, jagoan. Mencoretnya hanya setiap bangun pagi."

Kwonnie mendesah kecewa. Tubuhnya bersandar lemas ke perut sang ayah. "Itu lama sekali. Jarinya banyak."

"Tidak akan selama itu. Nanti poppa bilang ke momma agar momma membantu Kwonnie. Ya?"

Yang ditanya hanya diam. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.

Melihat itu Taehyung hanya terkekeh. Ia memindahkan dengan hati-hati laptop, juga kertas dan pulpen yang tergeletak di atasnya, menaruh ketiganya di atas nakas. Setelahnya, ia memutar tubuh bocah yang sedang ngambek.

"Kwonnie akan ditemani kapten Optimus dan Bumble Bee, juga Chimchar, jadi jagoan poppa tidak akan kesepian saat menjaga momma." Taehyung mencium gemas pipi putranya. "Nanti poppa telefon setiap hari agar kita bisa ngobrol, hm?"

"Mau yang ada gambarnya." cicit si balita. Ia mendongak, mengulurkan tangannya untuk bermain dengan daun telinga sang ayah. "Kalau yang ada gambarnya nanti Kwonnie mau. Tapi harus yang bergerak sambil kita bicara."

"Ohh.. oke. Poppa janji." Kim muda mengulurkan kelingking kirinya setelah mengambil kesimpulan bahwa malaikat kecilnya meminta ia melakukan video call setiap hari.

Kelingking mungil Kwonnie bertaut dengan milik sang ayah. "Benar, ya? Sebelum jarinya dicoret semua, poppa harus sudah pulang."

Taehyung mengangguk mantab. Ia tersenyum lebar, lalu memeluk erat putranya. Mereka berguling-guling di atas kasur dengan Kwonnie yang tertawa keras karena merasa kegelian. Ia senang bisa membuat ranjang berantakan karena jika ada momma, ia pasti dimarahi.

"Ish!" keluh sang ayah tiba-tiba. Ia menurunkan putranya sebelum bangkit dari tempat tidur. "Kwonnie nonton kartun lagi, ya? Poppa mau pipis sebentar."

"Jangan ngompol karena sudah besar."

Kim Taehyung mengacungkan jempolnya mendengar wejangan bocah berusia empat tahun. Ia lalu melesat ke kamar mandi, meninggalkan balita yang anteng menonton serial kartun untuk anak-anak.

Sungguh Kwonnie sedang menikmati acara nonton TV-nya, namun dering ponsel benar-benar mengganggunya. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, merangkak di atas kasur untuk mengikuti sumber suara. Ia menemukan sebuah ponsel yang diingatnya sebagai milik Kim Taehyung di bawah bantal yang berantakan.

Momma selalu bilang kepada Kwonnie untuk mengangkat telefon jika momma sedang ke kamar mandi atau tidak ada di dekat ponsel. Kwonnie juga sudah tahu caranya, hanya tinggal menggeser tombol hijau di sana.

Maka yang ia lakukan adalah menggeser ikon berwarna hijau. Baru saja ingin menempelkan ponsel itu di telinga, wajah seseorang yang asing baginya muncul di layar.

Seorang wanita cantik tampak terkejut di seberang sana.

"Taehyung? Kau ada di sana? Hei… kenapa ada bocah memegang ponselmu?"

Kwonnie yang masih memegang ponselnya merasa bingung. Ia senang jika seseorang menelfonnya dengan gambar bergerak seperti sekarang. Tapi wanita di layar benar-benar asing, dan ekspresi kagetnya membuat si balita takut.

"Po -poppa sedang pipis. Kwonnie disuruh nonton TV sendirian."

"Papa?" wanita itu terlihat marah mendengar panggilan si bocah lancang untuk pewaris Kim. Alisnya bertaut dan suaranya meninggi. "Apa kau baru saja memanggil Taehyung dengan sebutan papa? Bodoh! Kau masih kecil, jadi jangan berbohong padaku. Cepat kembalikan ponselnya kepada Taehyung! Jangan mencurinya!"

"Kwonnie tidak mencuri!" balasnya dengan berteriak. "Kwonnie juga tidak bodoh! Poppa-ku bilang, Kwonnie anak pintar…"

"Sayang, ada apa? Kenapa berteriak?" Taehyung yang baru keluar dari kamar mandi langsung panik ketika melihat wajah putranya memerah. Ia langsung berlari dan memeluk bocah kesayangannya. "Ssst… ada poppa di sini."

"Katanya Kwonnie bodoh. Dia bilang Kwonnie bodoh seperti Jimin bilang." si bocah mengadu. Ia menunjuk ponsel pintar yang kini tergeletak di atas ranjang.

Taehyung meraihnya segera. Ia sungguh ingin tahu putranya mendengar kata bodoh dari mana sampai-sampai bocah itu kembali mengingat perlakuan buruk si brengsek Jimin.

Dan wajah Kim Taehyung memucat begitu ia melihat seseorang yang kini tengah melakukan video call dengannya. Wanita itu terkejut, marah, dan kecewa. Pria Kim jelas tahu semua itu.

"Poppa.. Kwonnie anak yang pintar kan?"

Sebelah tangan Taehyung refleks memeluk erat tubuh jagoan kecilnya, menyembunyikan wajah yang memerah itu di dadanya. Bibirnya bergerak kelu, lalu berucap lirih. "Kwonnie anak yang pintar."

"Jadi benar dia memanggilmu papa. Aku tidak salah dengar." gumam wanita yang kini menatapnya kecewa. "Kau bilang ke Busan untuk bekerja dan sedikit refreshing. Pantas saja refreshing-mu lama sekali. Kau menyembunyikan banyak hal dariku, Kim Taehyung?"

"A -aku tidak bermaksud… sungguh. Aku bisa jelaskan ini."

"Cukup. Aku benar-benar kecewa."

Dan sebelum Kim muda sempat mengatakan apapun lagi, sambungan itu telah diakhiri secara sepihak.

.

.

.

TBC

.

.

Awalnya berencana menggunakan Kim Exclusive untuk fashion brand dari Kim Enterprise. Namun semua berubah setelah Kim Taehyung mendeklarasikan Vante sebagai namanya versi seniman. Dan sebertinya itu terdengar lebih wah untuk fashion brand. Mehehe…

Oh, beberapa adegan diambil dari pengalaman pribadi dengan keponakan dan beberapa kenalan, meheheh….

Dan sepertinya chap ini kepanjangan dan membosankan, hmm

.

Review please,

Tiger