"Poppa hati-hati terus, ya? Kwonnie nanti malam tidur sama momma karena jaga momma."
Taehyung terkekeh menatap sosok berpipi gembil di layar ponselnya. Ia terlihat lucu mengenakan headphone berwarna kuning dengan bentuk kepala Pikachu yang dibelikannya tadi. Surai gelapnya terlihat berwarna kecoklatan di bawah sinar matahari. Mungkin bocah kesayangan Kim Taehyung ini duduk di dekat jendela.
"Janji sama poppa untuk menjadi anak yang baik selama momma bekerja." ucap pria yang hanya mengenakan celana jeans selutut dan kaos putih polos. Sebenarnya ia merasa mengantuk, tapi memutuskan untuk tetap melek dengan alasan putra semata wayangnya melakukan video call sejak setengah jam yang lalu.
Bocah itu menceritakan apa saja; tentang kartun yang ditontonnya, atau tentang ibunya yang kerepotan karena kedai kopi mereka ramai. Kwonnie merasa kesal karena dilarang membantu. Ia juga memamerkan susunya yang diberi hiasan busa dan diberi gambar kepala Optimus Prime oleh Paman Yumi. Katanya, busa yang digunakan bukan berasal dari sabun, jadi si balita harus meminta bantuan Paman Yumi kalau ingin menghias susunya dengan busa. Yang satu ini sukses membuat sang ayah cemburu.
"Tapi paman poppa cepat-cepat pulang, nanti Kwonnie mau minta maaf karena memukul poppa waktu itu. Ya?"
Hati Kim Taehyung menghangat. Ia tersenyum lebar sambil mengangguk patuh seperti anak kecil. Bahkan ia tidak mengharapkan ucapan maaf dari sang putra, tapi jagoan kecilnya ingin melakukan itu.
"Kwonnie sayang poppa." bocah di layar ponsel mengerucutkan bibirnya, memberi gesture seolah ia sedang mencium pria dewasa yang kini terkekeh.
"Poppa juga sayang Kwonnie. Sayang sekali." pria Kim menarik nafas dalam. "Sekarang Kwonnie istirahat, hm? Pasti lelah setelah pulang dari rumah sakit. Panggil momma sebelum poppa tutup telfonnya. Ingat, jangan berteriak."
Taekwon mengangguk sebanyak tiga kali.
Setelahnya, yang muncul di layar smart phone Taehyung adalah langit-langit yang seingatnya ada di kedai Jeon. Sepertinya jagoan kecilnya menaruh ponsel yang ia pakai di meja. Ia juga sempat mendengar suara berisik yang timbul saat sang putra menarik lepas headphone yang dipakainya.
"Tuan, apa Anda ingin kembali ke rumah Anda terlebih dahulu?"
Taehyung memijit pelipisnya saat ia mendengar pertanyaan yang dilontarkan sopir di kursi depan. Membuang nafas kasar, ia lalu berkata, "Langsung ke rumah utama saja."
"Baik." ucap pria yang berusia lebih tua dari sang Tuan Muda.
Tak berapa lama kemudian, tampilan pada layarnya berubah menjadi sosok pemuda manis bersurai madu dan balita yang mencoba untuk memakai kembali headphone miliknya.
"Kwonnie tidak usah pakai ini. Momma sudah tekan tombol speaker, nanti poppa terdengar walau Kwonnie tidak pakai itu."
"Tapi mau pakai ini biar keren."
"Kalau pakai itu, nanti hanya Kwonnie yang bisa dengar poppa, momma tidak bisa dengar."
Taehyung terkekeh melihat putranya mengerucutkan bibirnya yang mungil sambil berpikir. Ia benar-benar terlihat menggemaskan. Tangan kecilnya yang menggaruk kepala sambil mendengus kesal terlihat begitu lucu.
"Ya sudah." Jungkook terlihat melirik ke arah kamera depannya, membuat Kim Taehyung merasa kekasih hatinya tengah memberikan kedipan genit padanya. Lewat isyarat mata, pemuda bermarga Jeon itu seakan memberitahukan bahwa putra mereka begitu lucu.
"Kwonnie pakai begini saja." sebelah tangan Jungkook mengalungkan headphone kuning ke leher kecil putranya. "Kwonnie sangat keren kalau begini."
Ada binar rasa senang di mata bulat putranya.
Taehyung bisa melihat itu.
Ia tersenyum simpul. "Jagoan kecil poppa memang sangat keren. Kalau begini caranya, poppa bisa kalah keren."
Dan Taekwon tersipu malu. Ia tersenyum kecil sambil memeluk tubuh ibunya, menyembunyikan wajahnya ke dada pemuda bersurai madu.
Jungkook tertawa renyah. Diciumnya singkat puncak kepala sang putra sebelum beralih menatap layar ponsel yang dipegangnya. "Ada apa, hyung? Kau sudah sampai Seoul?"
"Begitulah. Aku akan menutup telfonnya. Kau baik-baik di sana, tunggu aku menjemputmu kalau semua urusan sudah selesai."
Jungkook tersenyum lebar. Ia mengangguk senang.
"Harusnya, setelah mengontrol kesehatan Kwonnie, aku menemaninya seharian dan baru pulang besok. Maaf karena seenaknya pulang hari ini."
"Iyaaa…. harusnya poppaman pulang besok. Kalau pulang sekarang Kwonnie tidak bisa coret-coret gambar tangan karena belum pagi."
Mendengar protes yang dilayangkan putra menggemaskannya, Kim Taehyung hanya tertawa canggung.
"Pokoknya nanti kalau mau tidur, poppa temani Kwonnie lagi sama momma sampai tidur. Sambil nyanyi lagu tidur, oke?"
"Siap, Kapten Taekwon." ucap pria Kim mantab menggunakan nada tegasnya.
Sopir yang duduk di kursi kemudi saja sampai melirik ke belakang melalui kaca untuk memastikan majikannya baik-baik saja.
Bocah di layar ponsel Kim muda terlihat mengangguk puas hingga poninya bergerak-gerak lucu.
"Kau terlihat resah selama di rumah sakit, hyung. Kuharap semua baik-baik saja."
Taehyung tersenyum canggung. "Doakan aku supaya bisa menyelesaikan ini secepatnya."
Kali ini pemuda Jeon yang mengangguk lucu.
Setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan juga berbagai bujukan, akhirnya Kwonnie mau menyentuh tombol merah untuk mengakhiri sambungan walau dengan bibir yang mengerucut kesal.
Pria Kim menghela nafas berat. Ia menyandarkan punggungnya lelah di kursi penumpang, sebelah tangannya naik untuk memijit pelipisnya.
Pagi tadi ia mengantarkan Kwonnie ke rumah sakit untuk check up, bersama Jungkook tentu. Seharusnya, sepulang dari rumah sakit ia akan menghabiskan waktu bersama putranya yang menggemaskan. Bahkan Taekwon meminta Kim muda menginap di kamarnya.
Tapi Kim Taehyung harus segera pulang ke Seoul untuk menyelesaikan sesuatu. Ia meminta sopirnya untuk mengurus check out di hotel dan mengambil barang-barangnya di sana.
Ia berharap Jungkook tidak mengetahui apa yang kemarin dialami Kwonnie. Tidak sebelum ia menyelesaikannya. Dan semoga saja Jeon Taekwon tidak mengatakan apapun soal dirinya dikatai bodoh oleh seorang wanita.
Baru saja ingin memejamkan mata untuk sesaat, sopirnya memberitahukan bahwa mereka telah sampai di kediaman Kim.
Pria bersurai gelap itu menghela nafas. Ia harus bersiap menghadapi apapun yang mungkin terjadi saat ia bertemu dengan keluarganya nanti.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, typo tak tertahankan, m-preg (?)
.
.
"Painted"
Part VI: The Oil Paint
Kim Taehyung merasakan panas yang luar biasa di pipi kirinya. Pandangannya bahkan sempat mengabur.
Bukan.
Bukan karena kerasnya tamparan yang ia terima, melainkan karena hatinya terasa sakit ketika melihat wajah kecewa dari sosok wanita yang telah melahirkannya. Matanya memanas saat itu juga ketika melihat mata ibunya berkaca-kaca.
Ia adalah satu-satunya wanita yang tidak ingin Taehyung lukai.
"Eomma…" gumam Taehyung setengah berbisik. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah ibunya. "Jungkook pemuda baik-baik."
"Pemuda baik?" wanita dengan surai kecoklatan itu membeo. "Dia menjual dirinya padamu, dan kau bilang dia pemuda baik-baik?"
Taehyung terdiam.
Ia memang sudah menceritakan awal hubungannya dengan Jeon Jungkook. Pria bersurai hitam sungguh tidak mempermasalahkan apabila ia yang dianggap bajingan karena kedua orangtuanya memang sudah tahu kebiasaannya pergi ke klub malam dan minum-minum. Tentu kedua hal tersebut tak lepas dari yang namanya wanita.
"Taehyung." ucap seorang pria yang sedari tadi duduk diam di kursinya. Suaranya terdengar tegas meski dengan nada tenang. "Appa selalui membiarkanmu bermain-main di luar sana. Appa pikir kau tahu batasan."
"Aku tidak bermain-main dengan Jungkook, appa." menghirup nafas dalam-dalam, Taehyung menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan. "Well, awalnya aku memang hanya menganggapnya seperti itu. Tapi dia berbeda… aku jatuh cinta padanya. Bodohnya, aku menyadari itu setelah Jungkook pergi."
"Lihat! Ini yang terjadi jika kau memberi kebebasan kepada putramu untuk melakukan ini-itu seenaknya." nafas wanita itu tersengal saat menatap suaminya. Ia terlihat begitu marah dan kecewa. Ia menoleh, matanya yang memerah terlihat begetar ketika bersibobrok dengan manik kecoklatan putra kesayangannya. "Jika kau masih menganggapku ibumu, jauhi Jeon Jungkook murahan itu. Eomma ingin wanita baik-baik yang menjadi pendampingmu, atau pemuda dari keluarga terpandang, bukannya pemuda murahan yang menjual dirinya demi uang."
"Eomma, kubilang Jungkook melakukannya karena terpaksa. Ia butuh uang untuk pengobatan kakaknya."
"Tidak." ucap wanita berparas cantik itu final. "Tidak ada pemuda baik-baik yang menjual dirinya demi uang."
Ingin rasanya Kim Taehyung meninggikan nada bicaranya, namun ia begitu menghormati ibunya sampai-sampai mengumpat di belakangnya saja ia tidak akan tega.
Maka ia hanya bisa diam, memendam amarahnya sendirian. Berkali-kali ia menjelaskan bahwa Jeon Jungkook adalah pemuda yang membawa pengaruh positif untuk kehidupannya, namun kedua orangtuanya tidak pernah mau mendengar. Ibunya yang paling menentang hubungannya dengan pemuda Jeon, sementara ayahnya lebih banyak diam.
"Masuk ke kamarmu dan beristirahatlah. Kita bicara lagi setelah makan malam." gumam sang kepala keluarga memecah keheningan. Ia tampak menghela nafas sebelum berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati sang istri.
"Kim Junsu, aku belum selesai bicara dengan putramu. Ja -"
"Ssttt…" tangan besar pria yang masih terlihat berwibawa di usia senjanya itu menyentuh lengan istrinya. Ia mencoba menenangkan wanita yang telah melahirkan putra mereka yang kini masih diam dengan mata yang memerah. "Taeyeon, putramu baru saja sampai. Biarkan ia beristirahat sebentar."
Wanita itu mendengus kesal, namun ia diam saja saat sang suami memberi isyarat kepada putra mereka untuk keluar dari ruang kerjanya.
Keduanya kembali membisu selama beberapa saat sampai Junsu menarik lengan wanita di sebelahnya untuk duduk di sofa berwarna merah marun.
"Tenangkan dirimu, Tae. Marah-marah tidak baik untuk kesehatan jantungmu. Kau sudah berumur, kalau kau lupa."
Kim Taeyeon mendelik. Ia mencubit kuat-kuat perut suaminya yang sudah tidak six-pack lagi. Junsu tentu mengaduh dan meminta ampun kepada istri tercintanya.
"Kau lebih tua dariku, Tuan Kim." Taeyeon memukul pelan perut sang suami. "Jadi jangan berani mengataiku berumur."
Kepala keluarga Kim tertawa renyah. Ia merangkul pundak kecil Taeyeon, menyandarkan tubuhnya ke sofanya yang nyaman. Matanya terpejam dengan kepala yang menengadah ke langit-langit. "Sejujurnya aku lelah menghadapi tingkah Taehyung. Aku memberinya kebebasan dengan harapan si arogan kecil bisa belajar bertanggung jawab."
Junsu merasakan tubuh mungil itu bersandar padanya tanpa berkata-kata. Ia menghela nafas berat. "Walau ia bertindak urakan di luar sana, tapi itu sejalan dengan tanggung jawab yang dipenuhinya di kantor. Aku bangga ia bisa menggantikanku sebagai pemimpin Kim Enterprise."
"Aku tahu soal itu." sahut Taeyeon cepat. "Aku tahu soal Jeon Jungkook yang Taehyung beli. Kupikir ia akan bosan padanya. Tahu begini, aku melarangnya untuk berhubungan dengan bocah itu."
Mereka sama-sama bungkam setelahnya, lagi-lagi larut dalam pikiran masing-masing. Kim Junsu memikirkan masa depan perusahaannya. Jika berita mengenai putranya yang telah memiliki seorang anak dari pemuda dengan latar belakang tidak jelas tersebar, tentu para investor, juga konsumen akan merasa terganggu. Jika para pesaing mengetahui hal ini, bisa jadi mereka memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan, atau paling tidak, menggoyahkan posisi Kim Enterprise.
Sementara sebagai seorang ibu, Kim Taeyeon jelas menginginkan yang terbaik untuk sang putra. Pendamping hidup seorang Kim Taehyung haruslah ia yang berasal dari keluarga yang jelas, memiliki latar pendidikan yang mumpuni. Sehingga ketika berada di sutuasi sulit, ia bisa membantu putranya..
Dan Jeon Jungkook jelas berada jauh dari harapannya.
Sejak sang istri memberitahunya prihal bocah yang memanggil putra mereka dengan sebutan papa, Kim Junsu langsung mencari informasi tentang kegiatan berlibur Taehyung di Busan. Semalaman ia memikirkan tindakan bodoh apa yang dilakukan putra tunggalnya sampai-sampai ada bocah yang mengakuinya sebagai ayah.
Dan hasilnya benar-benar membuat pusing.
Memang ia hanya mendapatkan informasi dari pihak hotel tempat putranya menginap. Namun itu cukup untuk membuatnya yakin bahwa Taehyung benar-benar menganggap bocah itu sebagai putranya.
Soal Jungkook… mungkin Taehyung benar-benar menyukai pemuda itu karena setahu kepala keluarga Kim, putranya paling malas berhubungan dengan mantan teman kencannya.
"Siapa namanya?" gumam Junsu masih menyandarkan tubuhnya, seakan lelah memikirkan nasib perusahaannya, sekaligus masa depan Kim Taehyung.
"Jeon Jungkook?"
"Bukan." Junsu membuka mata. Ia menghela nafas panjang sebelum memutuskan untuk menggeser tubuhnya hingga berbaring di atas sofa, menggunakan paha kecil sang istri sebagai bantal.
"Ohh.. Taekwon." menyisir surai pria yang sudah puluhan tahun menjadi suaminya dengan jemari. Taeyeon tersenyum simpul. Rambut Kim Junsu yang dahulu berwarna hitam, kini perlahan memutih di beberapa bagian.
"Seperti apa rupanya? Apa dia mirip Taehyung?"
"Matanya bulat. Hidungnya terlihat mungil seperti Taehyung ketika masih kecil, bibirnya juga mirip." jawabnya berusaha mengingat wajah balita yang ketakutan saat melihatnya marah melalui sambungan video call. "Dia menangis saat aku mengatainya bodoh. Persis seperti Taehyung yang cengeng saat masih balita."
"Taehyung anak yang keras kepala. Dilarang pun ia pasti akan tetap memaksa untuk bersama si Jungkook itu." sebelah tangan Junsu terulur untuk membelai pipi istrinya. "Jadi kita buat ia sadar bahwa Jeon Jungkook tidak pantas untuknya."
Taeyeon tampak berpikir. "Taekwon bagaimana?"
"Lakukan tes DNA. Kalau benar dia cucu kita, kita akan mengambilnya. Lagipula ada kemungkinan bahwa Taehyung ingin menikahi Jungkook hanya karena keberadaan Taekwon. Kau tahu, putramu itu selalu menyukai anak kecil. Ia pasti kegirangan saat tahu dirinya memiliki seorang anak yang lucu. Jadi kita ambil Taekwon untuk tinggal bersama kita. Berikan saja sejumlah uang untuk ibunya supaya dia pergi dan menutup mulutnya."
Nyonya Kim memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Aku setuju. Kita tunjukkan kepada Taehyung bahwa si Jungkook itu bukan pemuda yang baik untuknya."
.
.
.
.
.
"Momma… ayo telfon poppa. Katanya mau temani kita tidur. Poppa sudah janji."
Jungkook tersenyum mendengar sang putra merengek manja. Ia mengusap lembut kepala putranya sebelum memberikan ciuman kupu-kupu di bibirnya.
Kwonnie malah mencebik. Tangan mungilnya menarik-narik bagian lengan dari pakaian yang dikenakan ibunya.
"Poppa bilang sedang ada urusan, nanti pasti menelfon. Sekarang Kwonnie tidur dulu, ya? Nanti momma bangunkan kalau poppa menelfon."
Balita yang mengenakan piyama bergambar Optimus Prime menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tapi tadi janji mau menemani Kwonnie sebelum tidur. Katanya tidak akan bohong. Nanti kalau tidur dulu, nanti tidak bisa bangun."
Jungkook tersenyum tipis sembari memeluk putranya.
Mereka berdua berbaring di kasur Taekwon, bersiap untuk tidur. Sang putra bahkan memaksa ibunya untuk mengenakan piyama dengan warna yang senada dengan miliknya agar mereka terlihat kompak karena bagaimanapun, ini adalah untuk pertama kalinya mereka akan tidur bersama dengan sang ayah.
Momma bilang, ia sudah memberi tahu poppa agar memakai piyama biru juga.
Kwonnie merasa kecewa, tentu saja. Ia sudah menunggu sangat lama tetapi ayahnya belum juga menelfon.
"Ayo telfon poppa duluan." rengeknya sekali lagi. Balita yang poninya kini berantakan itu mendongak untuk mengamati wajah teduh sang bunda.
Jungkook menggeleng pelan. "Tadi poppa mengirim pesan suara. Kwonnie dengar sendiri kalau poppa sedang ada urusan penting. Poppa juga bilang akan menelfon jika urusannya selesai. Sekarang anak momma yang pintar tidur dulu, hm?"
Taekwon menggeleng sekali lagi.
Ini pukul setengah sembilan, sudah memasuki jam tidur Kwonnie. Apalagi si balita tidak tidur siang, ia pasti sangat mengantuk sekarang.
Tapi mau bagaimana? Kwonnie tidak mau memejamkan matanya sebelum melakukan video call dengan ayahnya. Ia bahkan berusaha keras untuk membuka matanya yang mulai berat.
Berkali-kali tangan mungilnya menggaruk kaki, lengan, bahkan wajahnya. Khas seorang anak yang mengantuk. Jungkook bisa bernafas lega karena kuku putranya rapi dan tidak panjang sehingga tindakan menggaruk itu tidak menimbulkan luka. Namun tetap saja, ia berusaha memegangi tangan putranya agar tidak terus menggaruk.
Tentu Jeon Taekwon mengerang protes. Ia bahkan mulai terisak dan memukul pelan ibunya.
"Ssttt… jagoan momma. Sini tidur sama momma." dengan hati-hati pemuda Jeon memeluk putranya. Ia mengusap lembut kepalanya yang menggeleng pelan, sementara sebelah tangannya menepuk-nepuk pelan pantat Kwonnie.
"Tidak mau tidur… po -koknya mau poppa-ku… uhh… benci tidur!"
Si balita memang tidak menangis keras, tapi ia menendang selimut kesayangannya, lalu menyingkirkan tangan sang bunda kasar. Wajahnya yang berurai air mata memang terlihat menggemaskan bagi Jungkook, tapi ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk tertawa. Malahan, ia mencium lembut kening Kwonnie sambil terus berusaha membuat sang putra nyaman.
"Tidak mau tidur!" pekik Taekwon keras. Tangan mungilnya memukul kepala sang ibu tanpa sengaja. "Pokoknya tidak mau!"
Jungkook menghela nafas.
Taekwon memang beberapa kali rewel dan tidak ingin tidur, tapi kali ini, bocah kesayangannya benar-benar menguras kesabaran pemuda Jeon.
Bukan apa-apa, ia hanya sedang lelah.
Pikirannya lelah.
Ia tahu betul Kim Taehyung menyembunyikan sesuatu darinya. Ketika mengantar putra mereka check up di rumah sakit, pria Kim terlihat beberapa kali melamun. Ia juga sering menatap ponselnya seolah menunggu sesuatu.
Jungkook memilih untuk tidak bertanya. Pikirnya, jika sang kekasih tidak menceritakan apapun kepadanya, lebih baik ia tidak usah ikut campur. Namun keputusan penyandang marga Kim kembali ke Seoul hari ini, padahal semula ia berencana untuk kembali esok, benar-benar membuat Jungkook kepikiran.
"Sayang, jangan nakal, ya? Momma sedang lelah, jangan buat momma marah."
Bukannya tenang, Jeon Taekwon malah menangis semakin keras. Ia kembali menepis lengan sang ibu yang coba memeluknya.
Baru saja ingin kembali mengucapkan kalimat penenang, ponsel yang ditaruhnya di nakas berbunyi. Pemuda Jeon segera meraihnya. Ia tersenyum lebar saat melihat nama, juga foto yang tertera di sana.
"Lihat, siapa yang menelfon Kwonnie?" Jungkook menunjukkan layarnya kepada sang putra, membuatnya bisa melihat foto Kim Taehyung yang menatap tajam ke arah kamera. "Momma angkat, tapi Kwonnie berhenti menangis, oke?"
Si balita mengangguk. Ia masih terisak, bibirnya pun mencebik, namun kedua tangannya bergerak untuk mengusap asal pipinya yang basah.
Perlahan pemuda Jeon menggeser ikon berwarna hijau, dan muncullah wajah pria Kim yang tersenyum simpul. Ia langsung menyentuh tanda loudspeaker di sana.
"Hallo, jagoan? Kenapa belum tidur? Ap -" Taehyung memotong kalimatnya sendiri saat melihat kekasihnya memejamkan mata selama dua detik sambil menggelengkan kepalanya ringan, memberi tanda padanya agar tidak menanyakan keadaan Kwonnie yang sedikit kacau.
"Kwonnie menunggu poppa." sang ibu yang menjawabnya. Ia mencium ringan kepala putranya. "Iya, kan, sayang?"
Si balita mengangguk beberapa kali. Matanya masih sembab tapi ia berusaha menunjukkan senyumnya agar terlihat keren. "Poppa lama…"
Pria Kim tersenyum canggung. "Poppa sedang ada urusan. Ini poppa masih di luar, belum bisa pakai piyama. Tapi poppa akan temani Kwonnie tidur. Tidak apa-apa, kan?"
Kwonnie terdiam.
Poppa-nya memang tidak terlihat seperti sedang tiduran, berbeda dengan dirinya dan sang momma yang tiduran di kasur. Momma baru saja meletakkan ponsel pintarnya dalam keadaan berdiri, disangga mengguanakan bantal, agak jauh dari kepala Kwonnie yang miring ke arah kiri.
"Tidak apa-apa. Asal nanti poppa menyanyikan lagu tidur untuk Kwonnie." lagi-lagi Jungkook yang menjawab. Ia hanya tidak ingin balitanya kembali rewel, maka ia mengajukan alternatif yang sekiranya dapat membuat putranya senang tanpa merepotkan Kim Taehyung.
Sejujurnya ia menyadari bahwa bernyanyi adalah salah satu kegiatan yang paling tidak digemari oleh penyandang marga Kim. Tapi biarlah… Toh, Taehyung pasti juga akan lebih memilih untuk menyanyikan sesuatu daripada pergi ke kamar dan mengganti bajunya dengan piyama karena sepertinya pria bersurai kelam belum ingin tidur.
"Tapi lagunya yang lama."
Taehyung terlihat mengangguk. "Baiklah, tapi Kwonnie tidak boleh protes kalau suara poppa jelek."
Si balita tertawa geli menunjukkan gigi susunya yang rapi, terutama yang bagian bawah. Ia menarik selimut yang tadi ditendangnya, lalu memeluknya erat. Kepalanya mengangguk. Ia tak lagi menolak lengan Jungkook yang sekaang memeluknya dari belakang sambil menepuk-nepuk pelan pantatnya.
"Jadi, kenapa jagoan hebat poppa belum tidur?"
"Uhh…" Jeon Taekwon mengerucutkan bibirnya. "Kwonnie tunggu paman tapi lama."
Pria Kim menunjukkan senyumnya. Ia terlihat menyandarkan dirinya di sebuah kursi kayu. "Maaf, tadi poppa ada pekerjaan, tapi sekarang sudah selesai jadi bisa menemani Kwonnie."
"Bilang terima kasih kepada poppa karena meluangkan waktu untuk Kwonnie." bisik Jeon muda masih terdengar melalui sambungan. Ia merapikan rambut putranya yang berantakan.
"Terima kasih, poppa." ucap Kwonnie menunjukkan senyum kotaknya yang menggemaskan.
"Sama-sama, sayang." pria Kim balas tersenyum. "Nah, sekarang berdoa, lalu pejamkan mata. Poppa akan mulai bernyanyi kalau Kwonnie sudah memejamkan mata."
Taekwon mengangguk patuh. Ia segera menangkupkan tangannya di depan dada, berdoa bersama sang bunda. Setelah selesai, ia menatap ayahnya dengan mata berbinar. "Kwonnie senang karena poppa nyanyi untuk Kwonnie. Sekarang Kwonnie memejamkan mata, poppa nyanyi yang lama, oke?"
"Tentu. Peluk dan jaga momma, oke?"
Jeon Taekwon segera menarik lengan momma yang sedari tadi menepuk-nepuk pantatnya. Ia memeluknya bersamaan dengan selimut kecilnya. Setelah itu, ia berucap sebelum memejamkan mata. "Selamat malam, poppa."
"Selamat malam, jagoan."
Setelahnya, Kim Taehyung menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Dan ia mulai bernyanyi.
Suaranya yang rendah begitu tenang mengalun ketika ia melantunkan lagu yang tidak Kwonnie ketahui. Meski begitu, putra kesayangan pria Kim ini menyukai nyanyian ayahnya.
Ia merasa sedang dipeluk di malam yang gelap dan sepi, merasa diharapkan dan disayangi.
Ayahnya seolah tengah mengatakan padanya bahwa ia akan melindungi Taekwon, menyayanginya sepenuh hati, dan berada di sampingnya selalu.
"Ngg…" gumam Jeon kecil sambil mengeratkan pelukannya pada lengan sang ibu.
Taehyung tersenyum simpul, masih lanjut menyanyikan lagu tentang penantian di pagi buta.
Ya. Dirinya memang sedang menunggu, sekaligus memperjuangkan Jeon Jungkook juga putra kesayangannya, Jeon Taekwon.
Ia benar-benar menepati janjinya untuk terus bernyanyi. Memang hanya sebuah lagu yang dilantunkannya, namun ia mengulangnya sebanyak lebih dari tiga kali.
Pria Kim baru berhenti saat sang kekasih menyuruhnya. "Sudah, hyung. Kwonnie sudah tidur."
"Hm? Benarkah?"
Jungkook mengangguk singkat. Perlahan ia melepaskan lengannya, lalu memakaikan selimut ke tubuh sang putra. "Suaramu bagus, Kwonnie menyukainya."
Terkekeh ringan, pewaris Kim Enterprise terlihat merebahkan tubuhnya di kursi panjang. Ia menggunakan sebelah lengannya sebagai bantal, sementara satu lainnya memegang ponsel pintar. "Aku ingin bicara berdua."
"Sebentar." Jungkook menyaguhi. Ia terlebih dahulu menata bantal di belakang punggung putranya, lalu memberikan kecupan lembut di dahi balita kesayangannya yang telah terlelap.
Setelahnya, ia mengambil ponselnya dan berjalan keluar kamar. Perlahan-lahan ditutupnya pintu kamar sang putra hingga hampir tak menimbulkan suara.
"Kau tidak sedang di rumah, hyung? Atau kau beli perabot baru? Kursimu terlihat berbeda." pemuda Jeon penasaran. Seingatnya, di rumah Kim Taehyung tidak ada kursi kayu seperti yang digunakan pira Kim sekarang.
"Kau benar-benar mengingat semuanya." bukannya menjawab, yang ditanya malah memberikan pernyataan yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kursi atau perabot rumahnya. "Jangan bilang kau juga mengingat perlakuan burukku padamu. Termasuk saat aku memaksamu melakukan itu."
Pemuda Jeon terdiam.
Ia memang mengingat hari-hari buruknya di kediaman Taehyung. Meski begitu, jelas ia tidak ingin membicarakan hal yang bisa memperkeruh keadaan saat ini.
Ia merasa kekasihnya sedang menghadapi masalah, dan mengungkit hal-hal buruk di masa lalu pastinya akan merusak mood-nya. Jungkook mencoba mengerti keadaan pria yang ingin menikah dengannya. Ia akan berusaha membuatnya merasa lebih baik.
"Kalau ada masalah, poppa bisa menceritakannya kepada momma."
Dan pria Kim tersenyum.
Jeon Jungkook yang bertingkah manja kepadanya sungguh sangat manis dan menggemaskan. Ia tidak akan pernah bisa mengabaikannya. Dan tanpa terasa, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
Mereka terdiam setelahnya, namun pemuda Jeon dengan sabar menunggu karena ia yakin, sang kekasih akan bercerita padanya.
Tidak apa, asalkan Kim Taehyung bisa merasa lebih tenang, ia akan dengan senang hati menunggu.
"Maafkan aku." bisik pria Kim lirih. Ia terlihat memindahkan ponsel ke tangannya yang lain karena merasa pegal. Setelahnya, ia menghirup nafas dalam-dalam. "Kemarin saat kutinggal ke kamar mandi, ada video call dari eomma. Kwonnie mengangkatnya."
Perasaan pemuda bersurai madu mendadak tidak enak. Tapi ia tak mau berburuk sangka. Menyamankan duduknya di sofa yang ada di depan televisi, ia memberi isyarat kepada Taehyung untuk melanjutkan.
"Kwonnie memanggilku poppa, dan eomma tidak menyukai itu." pria Kim mengacak surai kelamnya hingga benar-benar berantakan. Ia lalu menghela nafas kasar. "Maaf, eomma memanggil putra kita bodoh. Kau tahu sendiri bagaimana ibuku jika sudah menyentuh masalah status sosial dan sejenisnya. Kumohon maafkan dia. Aku janji akan membuatnya mengerti."
Taehyung hanya tersenyum kecil.
Tentu bukan karena putranya yang dikatai. Tidak ada orangtua yang senang jika anaknya mendapat julukan yang buruk, dan ia sungguh tidak akan senang karenanya.
Namun ia juga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya kala sang kekasih menceritakan apa yang terjadi kemarin. Pemuda bersurai madu menebak inilah alasan yang membuat pria Kim resah sejak pagi.
"Tidak apa, hyung. Aku tahu Nyonya Kim hanya ingin yang terbaik untuk putra kesayangannya. Memiliki cucu dari orang sepertiku jelas bukan hal yang diinginkannya."
"Kook… tolong hentikan." potong pria Kim cepat. Ia mendudukkan diri, lalu melipat kedua kakinya di atas kursi. Diletakkannya ponsel canggih miliknya di atas paha sebelum memijit tengkuknya sendiri yang terasa sangat berat.
"Maaf karena membuatmu semakin merasa bersalah. Tapi sejujurnya, itu juga yang mengganggu pikiranku." Jungkook terkekeh, menatap layar smart phone miliknya yang menunjukkan gambar rahang tegas Kim Taehyung dari bawah. Ia merebahkan diri, membayangkan bahwa dirinya kini tengah tiduran di paha pria yang ia cintai. "Aku takut kau menemukan seseorang yang lebih pantas untuk bersanding denganmu."
"Astaga, Jeon…" Taehyung mendengus kesal. Ia menunduk untuk menilik layar ponselnya. Dan ketika ia menyadari Jungkook-nya tengah berbaring di sofa, ia membiarkan gadget-nya tetap berada di atas paha. "Hentikan pikiran konyolmu itu."
Pemuda Jeon mengulum senyum. Ia meggigit bibir bagian bawahnya, menunjukkan sepasang gigi kelincinya yang menggemaskan. Ia tahu Taehyung-nya tidak akan meninggalkannya. Setidaknya, Jungkook mencoba percaya. Toh, percuma ia berburuk sangka. Lebih baik berpikiran postitif sambil berusaha.
Melihat itu, Kim muda menelan salivanya kasar. "Berhenti menggodaku. Aku tidak ingin memaksamu melakukan video call sex seperti waktu itu. Jangan buat aku terangsang seenaknya. Disini tidak ada kau, aku tidak mau bermain solo."
Dan Jeon Jungkook menghentikan senyumnya. Ia langsung mendudukkan dirinya, menatap wajah pria Kim dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia memekik cukup keras. "Mesum!"
"Kau yang paling tahu seberapa mesum aku. Kalau boleh jujur, selama di Busan aku benar-benar sangat mati-matian sekali menahan diriku agar tidak kelepasan."
"Hentikan!"
Kalimat hiperbola yang diucapkan Taehyung sukses membuat wajah pemuda Jeon bersemu. Ia benar-benar malu mendengar pengakuan dari si mesum Kim Taehyung. Dan ia semakin memerah kala pria Kim malah terkekeh sambil mendekatkan wajahnya ke layar ponsel.
"Aku ingin selalu melihat wajah bersemu yang seperti itu. Hanya Jeon Jungkook yang memilikinya. Maka dari itu…" Taehyung tampak berpikir selama beberapa saat sebelum mengatakan sesuatu yang membuat jantung pemuda Jeon hampir melompat keluar dari rongga dadanya. "Setelah menyelesaika urusan bisnis di Jepang, akan ada makan malam bersama keluarga besar. Appa memintaku untuk mengajakmu juga Kwonnie. Aku belum tahu tepatnya kapan, tapi kuharap kau bersedia datang."
Jungkook terdiam, tentu saja.
Ia pernah bertemu dengan Tuan dan Nyonya Kim beberapa tahun lalu. Saat itu, tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Dipandang sebelah mata, dianggap jijik, Jeon Jungkook sungguh tidak mempermasalahkannya. Tapi sekarang ia memiliki Taekwon.
Bocah kesayangannya yang tak berdosa sungguh tidak pantas jika harus mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang didapatkannya dulu.
Jungkook memang murahan, tapi tidak dengan putranya.
Bagaimana jika putra kesayangannya yang tak tahu apa-apa dipandang jijik dan diremehkan?
Ia bukanlah ibu yang baik jika membiarkan hal itu terjadi.
Matanya yang bergetar seakan mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin hal itu terjadi terus saja menatap wajah pria yang berkata akan melindunginya melalui layar datar ponselnya.
"Aku tahu ini terlalu cepat." bibir tebal itu bergerak meloloskan gumaman bernada rendah. "Aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau. Aku tahu ayah dan ibuku merencanakan sesuatu, entah apa itu. Dan aku berjanji untuk menyelamatkan dirimu, juga putra kita dari rencana mereka."
"Aku… butuh waktu." Jungkook berucap ragu. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan dipertemukan dengan keluarga besar Kim secepat ini.
Sejujurnya ia sama sekali belum siap.
"Aku mengerti." ucap Taehyung maklum. "Sekarang tidur, jangan terlalu memikirkan yang tadi karena kau masih punya banyak waktu untuk itu."
Pemuda Jeon hanya mengangguk. Ia menunjukkan senyum yang sedikit dipaksakan. "Selamat malam, hyung."
"Selamat malam, momma. Mimpikan yang indah-indah tentang poppa, hm?"
Tak berapa lama setelah menjawab permintaan konyol pria Kim dengan sebuah ya singkat, Jungkook memutuskan sambungan.
Ia berjalan gontai ke kamar putranya. Ia ingin tidur dengan Kwonnie malam ini. Pemuda Jeon ingin memastikan bahwa pangeran kecilnya baik-baik saja, dan akan baik-baik saja.
Perlahan dipeluknya tubuh kecil yang tak berdosa itu. Diciumnya berkali-kali puncak kepalanya lembut sembari merebahkan dirinya perlahan.
Si bocah tampak terusik. Ia mengerang lirih sebelum akhirnya berbalik ke kanan dan memeluk leher bunda kesayangannya.
"Mwommaa…"
Jungkook terkekeh mendengar putra tunggalnya bicara dalam tidurnya. Diusapnya lembut kepala Kwonnie. "Iya sayang. Maafkan momma, hm? Momma sepertinya membawamu ke dalam masalah besar."
Tentu saja, Jungkook sangat mengkhawatirkan Kwonnie kecilnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti ketika mereka berdua, terutama Taekwon berada di tengah-tengah keluarga besar Kim yang terhormat.
"Mungkin, memilih untuk bersama poppa bukanlah keputusan yang tepat."
.
.
.
.
.
Kim Taehyung mengumpat.
Lebih tepatnya, mengumpati Min Yoongi yang menyerahkan setumpuk pekerjaan kepadanya seorang. Ia beralasan sedang sakit sehingga tidak bisa masuk ke kantor.
Ini adalah hari ketiga pria Kim bekerja di kantor setelah libur panjang yang seenaknya ia ambil. Beberapa dokumen penting dan surat perjanjian memang telah ia periksa. Bahkan ia bisa menghadiri rapat ketika masih di Busan. Namun hal-hal kecil tentu saja banyak yang tertinggal dan harus segera ia kerjakan.
Hanya saja, Kim Taehyung tidak menyangka akan sebanyak ini.
CEO Kim harus berangkat ke Jepang besok pagi karena ia ternyata harus mengunjungi proyeknya sebelum mengurus kerja sama baru di sana. Sialnya, pekerjaan di Korea masih menumpuk. Memang hanya mengecek dokumen dan beberapa data, namun ia tidak mau meremehkan semua itu.
"Tae, ada masalah dengan produksi dress musim panas. Bagian produksi menggunakan warna benang yang berbeda dengan design yang semula disetujui bersama." seorang pria masuk begitu saja. Ia membawa sebuah map berisi tumpukan kertas yang ditempeli contoh kain, contoh benang, juga design dari beberapa pakaian. Selain itu, sebuah dress setengah jadi tersampir di pundaknya.
Ia seenaknya menaruh kedua benda itu di atas tumpukan dokumen yang tengah diperiksa atasannya.
"Oh, shit! Siapa keparat sialan yang bertanggung jawab untuk itu?"
"Kau." jawabnya pria yang mengenakan kemeja biru muda itu enteng. Lengannya digulung hingga ke siku, sementara rambutnya terlihat sedikit berantakan.
Tanpa dipersilakan, ia mendudukkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan singgasana Kim Taehyung.
"Kata asistenku, kau menunjuk benang ini ketika rapat. Oh, saat itu kau di Busan."
"Mati aku." Kim Taehyung yang baru saja memeriksa benang yang digunakan pada dress-nya, membandingkannya dengan contoh yang tertempel di dalam map, langsung mengacak rambutnya drustasi.
Ia tidak bisa menyalahkan Kim Seokjin, kepala bagian produksi yang juga merupakan sepupunya ini. Bagaimanapun saat itu ia tidak bisa hadir. Menyalahkan asisten Seokjin tentu bukan tindakan bijak karena ia telah menanyai Taehyung lebih dari tiga kali mengenai yakin atau tidaknya sang atasan atas warna benang yang ditunjuknya.
Menyalahkan dirinya sendiri tentu ia tidak mau.
Bisa jadi pencahayaan di kamarnya, atau resolusi laptopnya, yang membuat benang yang kini terjalin pada dress terlihat sama dengan benang yang semula direncanakan.
Memang shade-nya hanya berbeda satu angka. Tapi tetap saja, warnanya berbeda. Untuk Vante, kesalahan seperti ini adalah sesuatu yang kelewat fatal.
"Berapa banyak yang sudah diproduksi menggunakan benang ini?"
"Seratus."
Kim Taehyung menggeram kesal. Ia hampir saja melempar map yang dipegangnya, namun urung karena pria bermata bulat mendecakkan bibir tebalnya dan memberikas isyarat supaya Taehyung tidak banyak tingkah.
"Itu yang ke seratus satu. Aku langsung meminta mereka berhenti memproduksi begitu menyadarinya."
Taehyung tidak mau mengganti warna benangnya. Itu sama saja melecehkan design yang sudah disetujuinya. Lagipula, pemotretan untuk gaun pendek ini sudah dilakukan di Busan. Ia sendiri yang mengawasinya. Bisa saja ia membuang seratus satu potong pakaian yang telah diproduksi, namun pasti ada jalan lain untuk memanfaatkan sampah ini.
Kebiasaan Kim Enterprise adalah memproduksi beberapa potong pakaian terlebih dahulu untuk 'diuji'. Biasanya, jika pakaian-pakaian ini memenuhi standard, pemotretan akan segera dilakukan. Proses produksi sendiri akan dilaksanakan bersamaan dengan proses pengeditan dan percetakan catalog atau majalah fashion yang memuat pakaian tersebut.
"Kenapa juga kau mengecek ulang persiapan produksi saat rapat? Asistenku tidak berani bertanya lebih jauh karena kau terlalu galak sebagai atasan. Beruntungnya proses pengiriman benang yang baru sedikit terhambat sehingga membuat proses produksi molor. Karenanya, sampai detik ini baru seratus potong yang jadi." Seokjin berkomentar. Ia membuka toples kecil berisi permen kopi yang ada di meja atasannya. Pria yang berusia lebih tua dari Taehyung itu memang hanya memakan satu, namun ia sudah memasukkan empat bungkus ke dalam saku celananya.
"Suruh bawahanmu melanjutkan produksi menggunakan benang sesuai rencana awal. Untuk seratus potong sampah yang sudah ada, aku akan memikirkannya nanti. Kau awasi bagian produksi supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi."
Kepala bagian produksi hanya mengacungkan ibu jarinya. Ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil map miliknya, namun meninggalkan dress setengah jadi di meja kerja atasannya.
"Terima kasih atas kejelianmu, hyung."
"Bukan masalah." pria bersurai kecoklatan yang sudah menarik pintu ruangan itu berbalik, ia tersenyum ke arah Taehyung. "Belikan aku berbagai macam camilan sebagai oleh-olehmu dari Jepang."
Dan yang diajak bicara hanya terkekeh. Saudaranya yang satu ini memang tidak bisa jauh-jauh dari makanan.
Ia kembali berkutat dengan dokumen yang harus ia periksa dengan masih membiarkan gaun musim panas di atas mejanya, supaya ia ingat dengan sampah yang harus ia daur ulang.
Ketika hampir memasuki waktu makan siang, ponselnya berdering. Ia tahu betul siapa yang menghubunginya siang-siang begini.
Dengan senyum di bibir, pria Kim menaruh ponselnya pada holder yang kemarin ia pasang di atas meja. Setelahnya, ia menggeser tombol berwarna hijau.
"Poppaaaaa!" pekik bocah memakai kaos berwarna merah dengan gambar Iron Man. Di depannya terdapat piring dengan berbagai macam lauk, tentu dengan nasi untuk porsi balita. "Lihat lihat Kwonnie makan apa?"
Taehyung hanya terkekeh melihat putranya yang sibuk mengambil sepotong sayur berwarna kuning dengan sendoknya.
"Sayang, jangan berteriak ketika makan." tegur pemuda bersurai madu yang baru saja datang. Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk sangat dekat dengan putranya.
"Uhh… tapi Kwonnie mau bilang poppa kalau Kwonnie makan papika." si bocah mengerucut, ia menaruh kembali sendoknya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Wah… jagoan poppa benar-benar keren karena bisa makan sayuran pedas." puji Taehyung. Sesekali ia melirik dokumennya, namun tetap memperhatikan tingkah menggemaskan putranya yang langsung tersenyum lebar begitu mendapat pujian darinya.
"Benar, kan… Kwonnie keren. Rasanya pedas sedikit tapi Kwonnie bisa makan. Paman Yumi saja bilang pedas. Tadi makan masakan momma, terus bilang huhh.. hahh.. pedas pedas, begitu. Tapi Kwonnie bilang habiskan karena momma yang masak. Lalu paman Yumi habiskan." celoteh sang putra panjang lebar sambil menyantap makan siangnya.
Kali ini, Kim Taehyung yang cemberut.
Yugyeom memakan masakan pemuda kesayangannya, sementara ia kelaparan di kantor.
"Jangan cemberut begitu, hyung. Tadi Yugyeom tidak sempat sarapan. Aku tidak tega membiarkannya kelaparan saat bekerja."
"Pokoknya mulai sekarang panggil aku poppa, tidak boleh hyung." bukannya menanggapi omongan Jungkook, pria Kim malah membicarakan sesuatu yang lain. "Iya, kan, Kwon? Momma harus panggil poppa dengan sebutan poppa?"
Yang ditanya mengangguk dengan semangat. Ia masih sibuk mengunyah.
Jeon Jungkook menghela nafas pasrah. Terkadang, Tuan Muda yang kini bicara dengannya melakukan tingkah kekanakan yang lebih bocah dari putra mereka.
"Baiklah… poppa kenapa belum makan?"
Kali ini Taehyung yang menghela nafas. Ia mengingat seratus summer dress-nya. "Aku salah memilih benang saat rapat, dan ada seratus potong gaun yang sudah jadi, yang tidak sesuai dengan design awal. Ini memang hanya masalah benang, tapi kau tahu, ini tetap saja merupakan sebuah kesalahan. Aku harus berpikir keras untuk memanfaatkan sampah-sampah ini. Bagaimanapun, jumlahnya ada seratus."
Jungkook tahu betul Kim Taehyung sangat perfeksionis untuk urusan pekerjaan. Tentu ia tidak akan memaafkan keteledoran, bahkan jika itu dilakukan oleh dirinya sendiri.
"Seperti apa?"
Taehyung mengangkat gaun setengah jadi yang ada di mejanya, menunjukkan bagian jahitannya ke arah kamera. "Benang yang seharusnya digunakan tidak mengarah ke warna emas seperti ini. Mungkin setelah makan siang aku akan mengadakan rapat mendadak. Kalau sampai malam ini tidak ada ide, terpaksa seratus potong ini kami buang."
"Astaga…. seenaknya saja membuang pakaian bagus seperti itu."
"Huuu…. tidak boleh buang-buang yang bagus. Celana Kwonnie yang bolong karena jatuh sudah ditempeli momma menggunakan wajah senyum. Sekarang bisa dipakai dan menjadi keren." Taekwon yang tidak tahu apa-apa, ikut berkomentar. Ia menatap wajah poppa-nya sambil meminum air yang momma sediakan.
Kim Taehyung memang tidak akan memaafkan kesalahan pada produknya, tapi ia juga memiliki otak bisnis yang cemerlang. Jadi mungkin, ia bisa menambahkan sesuatu pada dress gagalnya.
"Tambahkan saja bordiran kupu-kupu khas logo Vante." usul Jungkook, ia mengusap wajah putranya yang belepotan nasi.
Sepertinya si balita terlalu bersemangat untuk menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia adalah bocah keren yang bisa makan paprika sampai-sampai makannya saja berantakan, padahal biasanya lumayan rapi.
"Sudah ada, Kook. Semua produk Vante memiliki bordiran kupu-kupu."
"Wiii… Kwonnie suka kupu-kupu!" sahut si balita cepat. Dengan bersemangat ia mengangkat kedua tangannya, membuka jemarinya lebar-lebar lalu menyilangkan ibu jari kiri dan ibu jari kanannya. Digoyangkannya kedua tangannya yang menempel seolah itu adalah kupu-kupu yang sedang terbang. "Ini seperti kupu-kupu tapi seperti burung."
Taehyung terkekeh melihat tingkah menggemaskan putranya. Sejak kemarin Taekwon selalu bersemangat setiap kali mereka berbicara melalui video call.
"Habiskan dulu makan siangmu, Kapten." tegurnya supaya sang putra makan lebih rapi.
"Kwonnie makan, momma juga sudah makan. Poppa makan?"
"Iya, nanti poppa makan. Sekarang poppa mau temani Kwonnie dan momma dulu."
Si bocah mengacungkan jempol dengan tangan kiri yang masih memegang sendok. Sang ibu tentu mengerang protes karena jagoan kecilnya membuat meja makan semakin berantakan.
"Kwon, makan yang tenang agar lebih rapi, oke?"
Walau mencebik, Jeon kecil kini tidak lagi bermain-main dengan tangannya. Ia pun mengunyah perlahan, tidak lagi tergesa seperti tadi.
"Tapi Kwonnie suka kupu-kupu yang kecil. Seperti yang hinggap di pohon bunga depan rumah."
Jungkook meng-iya-kan perkataan sang putra. Dengan telaten ia kembali memberi tahu untuk tenang ketika makan.
Kupu-kupu kecil yang hinggap di bunga
Frasa itu mengingatkan Kim Taehyung pada sesuatu. Ia segera meraih pulpen di mejanya, juga note yang selalu berada di sampingnya. Ia lalu menggoreskan tulisan Vante dengan sedikit hiasan pada huruf V yang membuatnya menyerupai kupu-kupu.
Logo awal Vante yang terlihat begitu sederhana dan klasik.
Jika sekarang Vante dikenal dengan kupu-kupu bersayap indah yang merupakan kaligrafi dari huruf v -a -n -t -e, logo awal yang dimiliki hanyalah sebuah tulisan sederhana dengan sedikit ornamen pada huruf V-nya.
Ia tersenyum simpul melihatnya.
"Nah, itu bagus juga untuk dibordir di bagian pinggang atau punggung. Seingatku itu logo lama brand pakaianmu, kan? Bawa saja tema klasik atau semacamnya. Kurasa orang-orang yang sejak dulu mengenakan Vante akan merasa senang memilikinya. Kau tahu, semacam nostalgia."
Taehyung melirik pemuda menggemaskan yang kini tengah mengunyah makanan dengan pipi menggembung yang bergerak-gerak lucu. Balita di sampingnya juga tengah melakukan hal yang sama. Kwonnie terlihat seperti miniatur ibunya.
Pria Kim tahu sifat pemuda Jeon seperti apa. Ia adalah sosok yang cerdas dan mampu mengambil keputusan dengan cepat.
Bahkan pikiran mereka sejalan untuk yang satu ini.
Ia akan mematangkan konsep, memutuskan dimana ia akan meletakkan unsur nostalgia di gaun ini. Seratus bukan jumlah yang sedikit, maka ia tidak akan menggunakan embel-embel eksklusif atau semacamnya. Biar nanti tim pemasaran yang memikirkannya.
Paling tidak, ide yang ia miliki, yang ternyata juga diusulkan oleh Jungkook, cukup menarik. Target pasarnya pun jelas, jadi kemungkinan berhasilnya besar. Dengan design yang universal, tidak terlalu kekinian maupun terlalu jadul, gaun ini bisa dikenakan oleh remaja hingga wanita seusia Nyonya Kim.
Ia tentu harus membicarakannya dengan semua pihak yang berperan dalam produksi hingga ke pemasaran gaun ini, tapi itu bukan masalah besar.
Jungkook ikut terdiam karena sedaritadi Kim Taehyung terus memandanginya sambil tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sementara Jeon Taekwon menatap bingung ke arah sang bunda. Sesekali ia akan melirik wajah ayahnya yang ada di layar ponsel.
Ia mengeryit bingung. Kedua orangtuanya sama-sama terdiam sambil senyum-senyum sedikit.
Kwonnie bahkan menarik-narik lengan ibunya, namun pemuda itu tidak menggubris sama sekali.
Ia merasa kesal karena diabaikan.
Sangat kesal.
Menarik nafas dalam-dalam, Jeon Taekwon kemudian membuyarkan lamunan kedua orangtuanya dengan suara yang melengking keras.
"Mommaaaaa! Popppaaaaaaa! Jangan diam-diam teruuuuussss!"
.
.
.
TBC
.
.
Logo 'katrok'-nya Vante pas jaman penjajahan Tiger upload di ig story. Aslinya keren, cuma goresan tinta CEO Kim seperti itu, jadi yha… maklumi sajalah ya :3
Chap ini nampaknya membosankan
Apakah ada yang masih kecipratan berita hubungan Junsu dan Taeyeon di sini?
.
Review please,
Tiger
